
Dewa dan Zahra baru saja keluar dari mobilnya, tapi beberapa warga menghadang langkah mereka.
"Maaf!" dengan jarak yang cukup jauh mereka berteriak, sontak Zahra dan Dewa menghentikan langkahnya dicegat begini.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, sebaiknya dek Zahra keluar dari kost'an bu haji Hindun..."
Dewa mengerutkan dahinya dengan wajah yang mulai keruh, ia refleks menarik Zahra ke belakang badannya agar terhindar dari orang-orang yang ada di depan, "memangnya kenapa pak? Istri saya ada buat salah selama disini? Tadi kan fine-fine saja waktu masuk,"
"Istri situ perawat di RSCM kan?" tanya pemuda kampung lain.
"Iya, terus?!" Dewa mulai terpancing emosi mendapatkan pertanyaan dengan nada sengak.
"Nah ntu die! Dia pasti banyak interaksi sama pasien wabah, jangan-jangan dia bawa virus nih kemari, iye ngga warga?!" ujarnya mengompori, disetujui yang lain. Dewa mengeraskan rahangnya, Zahra tau sifat suaminya itu seperti apa, ia lantas mencengkram lengan Dewa, "abang ngga usah dilayanin, toh kita juga emang mau pergi kan,"
"Ngga bisa! Mereka udah terlanjur mancing emosi, sembarangan mereka nuduh kamu bawa virus,"
Terlambat! Dewa sudah menatap tajam warga yang hadir satu persatu.
"Abang..." bisik Zahra menahan.
"Istri saya memang tenaga kesehatan, kerjaannya merawat orang sakit...dengan prosedur level tinggi, tentunya dengan alat pelindung diri...ngga sembarangan,"
"Alahhh, kita kan ngga tau! Wong virus ngga bisa dilihat dengan mata. Sorry, daripada lo nantinya menjangkiti warga disini, mendingan pergi dari sini..."
Sungguh ucapan pedas itu bikin kuping Dewa mendadak panas.
Mendengar ribut-ribut di luar si pemilik kost'an bersama beberapa anak kost keluar dari pagar.
"Ada apa ini?"
"Zahra? Ya Allah! Sehat kamu nak?" ibu paruh baya berjilbab itu hendak memeluk Zahra, namun beberapa warga seolah menghadang.
"Bu haji, anak kost bu haji yang satu ini kan perawat, banyak kontak sama penderita, jangan dipeluk-peluk. Sementara untuk kebaikan bersama siapa saja yang kerjanya di rumah sakit atau relawan wabah virus harus ninggalin kampung ini!" seperti orang paling benar dan suci si bapak berkopiah itu bicara begitu bersungut-sungut.
Bugghhh!
"Ya Allah!"
"Woyy!"
"Abang!" Zahra menahan Dewa yang sudah melayangkan bogeman mentahnya di tulang pipi si bapak hingga tersungkur.
Tulang pipinya langsung memerah, pasti sebentar lagi akan berubah jadi lebam, "dari tadi gue sabar denger lo banyak cingcong karena lo orangtua, tapi di diemin omongan lo malah makin bikin naik darah!" Dewa menyugar rambut yang mulai berantakan, karena memang tadi saat pergi ia hanya mengikatnya asal.
"Lo denger baik-baik! Dalam kurun waktu 14 hari dari sekarang, kalo diantara para penghuni kost bu Hindun ada yang kena wabah virus...gue tanggung biaya hidup satu keluarganya, gue fasilitasi dia di hotel gue yang ada di Kemang! Tapi kalo ngga kebukti, maka siap-siap besok tanah yang di depan sana, tempat lapangan yang biasa dipake anak-anak lo maen gue beli! Ngga akan gue kasih akses jalan buat warga disini!"
"Hah mamposs lu!" bisik Defia ikut kesal.
__ADS_1
"Lagian Zahra bukan ngga punya rumah pak, rumah Zahra justru bisa nampung satu er..."
"Fi," tegur Zahra menukikkan alisnya, membuat Defia mengatupkan mulutnya.
"Sayang, bawa barang-barang kamu keluar sekarang!" titahnya tak sedang ingin bercanda, lantas ia kembali menyorot tajam pada si bapak yang ia tonjok tadi.
"Iya--iya." Angguk Zahra tak mau membantah.
"Bu, fia...semua, Zahra kesini memang sebenernya mau pamit, Zahra sekarang tinggal di rumah mertua," ucap Zahra.
"Yaaa, gue bakalan kehilangan sobat gue...kalo gue minta lotion kemana Ra? Gue bakalan kangen sama lo, Ra!" Defia merengut memeluk Zahra setelah mereka masuk ke dalam.
"Iya nak, maafin warga ya. Selamat bertugas, jaga kondisi, kesehatan, jangan sampai telat makan, minum, konsumsi vitamin nak...salam buat keluarga, bu Salwa?"
"Umi alhamdulillah sehat bu," jawab Zahra.
"Alhamdulillah,"
"Fi, bu haji...sehat-sehat ya, lo semua jaga kesehatan!"
"Iya Ra," satu persatu dari mereka bercipika-cipiki pada Zahra.
Seraya menggusur koper, tas dan beberapa kotak miliknya Zahra menatap pandangan yang meremehkan, menganggapnya seolah ia adalah manusia hina yang harus dijauhi. Seolah ia adalah manusia paling berlumur dosa dan biangnya semua kekacauan. Ada rasa kecewa, sedih melihat stigma yang melekat pada garda terdepan wabah virus ini, padahal di balik pakaian hazmat yang terpasang rapi penuh dengan peluh dan rasa lelah selalu ada cinta, do'a dan sholawat untuk kondisi negri.
"Kamu ngga usah kesini lagi! Abang ngga akan ijinin kamu datang kesini!" Dewa menutup pintu bagian kursi Zahra.
Dewa menatap satu persatu, "akan saya ingat wajah-wajah kalian..."
Kini tatapannya beralih ke arah kost'an, "bu, Defia, semuanya kami pamit..." ujar Dewa.
Dewa melajukan mobil cepat, yang ia pikirkan adalah cepat-cepat membawa Zahra keluar dari sana, "abang, ngga usah dimasukkin ke hati..."
"Ngga bisa gitu! Mereka tuh udah kasih stigma negatif, usir kamu seolah-olah malaikat penolong kaya nakes tuh layaknya malaikat pencabut nyawa yang perlu di jauhi," bahkan urat-urat tangan yang mencengkram stir masih jelas terlihat bergetar sesekali memukul stir mobil.
"Abang ngga serius kan, mau beli tanah lapang disana?" tanya Zahra menatap Dewa dengan raut khawatir, tangannya bertaut memegang box di pangkuan lalu berpindah mengusap lembut lengan Dewa, "orang sabar disayang Tuhan."
Dewa membalas tatapan Zahra, "kamu tau aku...aku ngga pernah main-main dengan ucapanku, sayangnya aku ngga sesabar itu," ia menyeringai.
"Abang...aku minta jangan ya..kasian anak-anak disana kena imbasnya nanti..." tapi Dewa tak menggubris permintaan Zahra.
Dewa mengeluarkan seluruh barang Zahra dari dalam mobil dan memasukkannya ke dalam rumah.
__ADS_1
Momy Ica terlihat tengah berada di halaman rumahnya, ngurusin tanaman yang udah lama ngga pernah diurusnya sendiri.
Ia berjalan dari satu pot ke pot lain, begitu pula yang sudah menancap di tanah halamannya, kali aja kan daunnya kusut ngelipet-lipet biar nanti dia setrika, atau ada ulet bikin perkampungan baru disana mau dia gusur.
Suara mesin mobil Dewa yang memasuki halaman rumah tak mungkin tak dilihatnya, hanya saja ia mengernyit saat melihat ekspresi dan air muka Dewa begitu keluar dari mobil, satu yang ia tau, *something wrong*!
"Ra, Dewa kenapa?" Zahra menghampiri momy Ica dan bergabung melakukan hal yang sama, ngelusin daun yang jelas-jelas ngga kenapa-napa.
"Mii, apa bang Dewa kalo marah mesti sekasar itu, dia kalo buat keputusan ngga bisa di ubah lagi gitu?" adu nya bertanya.
Ica menautkan alisnya, "kasar?! Kamu dikasarin Dewa, neng? Ya Allah! Yang mana! Biar momy bejek-bejek tuh anak!" mertuanya itu sudah menaruh gunting stek di rerumputan hendak menghampiri putranya.
"Bukan mii, engga---abang ngga pernah kasar sama Zahra. Tapi..."
Zahra mengadukan kejadian tadi pada mertuanya. Bukannya mendapat dukungan, Ica malah setuju dengan tindakan Dewa, "kenapa ngga langsung geret kesini aja orang-orangnya! Biar momy tampol pake wajan!"
"Biar aja Dewa kaya gitu! Biar tau rasa itu orang-orang, bukannya saling dukung saling support, kalo sampe mereka yang jadi pasien momy cuma pesen sama kamu, jangan diurusin! Lelepin aja ke laut, kasih aja racun, biar cepet matinya!" Momy Ica justru lebih bar-bar dan berapi-api.
Oke, Zahra kini tau darimana sifat ambekan dan bar-bar Dewa, rupanya ia salah mengadu.
.
.
.
.
.
__ADS_1