
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
"Selamat datang di gubuk Ananta," honey menyapa keluarga Alvian yang baru saja turun dari mobil, kini gestur dan perawakan om madu ini sudah berubah, ia membuat gaya rambut harajuku berwarna biru, lalu memakai kaos dilapisi jas dan celana skinny juga anting di sebelah telinganya, badannya pun tak segempal saat pertama bertemu keluarga Ananta, pokoknya yahud!
"Terimakasih," jawab Milo terkekeh. Meta melirik rombongan keluarga Dewa yang macam mau anter orang berhaji.
"Segini disebut gubuk, lah apa kabar rumah gue yang seuprit?" bisik Galih pada Riski.
"Saung derita," jawab Jian, mereka memuntahkan tawa tertahan di belakang lalu berdehem saat semua pandangan menyorot para om-om sableng, Ica sudah melotot sejak tadi pada kakaknya itu dan memberikan peringatan keras agar tak berulah yang bikin emak malu. Jihad melipat bibirnya dengan kelakuan keluarganya yang di moment apapun selalu sekamvreet ini.
"Harap bertenang ibu-ibu, bapak-bapak..di dalem ada sate sama sambel goreng kentang kok!" ujar Riski. Dewa dan Ganesha sampai terkekeh, sementara Jihad--Ica, Armillo dan Kara berbasa-basi dengan Salwa, Meta dan Honey.
"Umma...umma!" gadis dengan dua cepolan di kanan dan kiri itu berlari ke arah Salwa, tapi langkahnya terhenti melihat orang ramai kaya lagi mau ngajak tawuran, ia terpaku di tempat. Syok? Melihat kedatangan orang-orang asing cukup bikin cimoy ngerut jidat, tapi itu tak berselang lama saat Dewa menaik turunkan alisnya dan melambai pada bocah ini,
"Om gondlong?!!" ia melongokkan kepalanya walaupun kedua tangannya masih bergelayut manja di gamis Salwa.
"Hay cewek!" sapa Dewa langsung saja Ica menyikut putranya itu. Syailendra tertawa melihat itu, "bro itu masih bocil, lo kesini mau lamar bocil apa Zahra?"
"Selamat datang pak Alvian, pak Armillo...." Zaky keluar dengan menggandeng Sagara, bocah kalem dengan kemeja lengan panjang.
"Pak Zaky, maaf kami datang ramai-ramai,"
"Ah tidak apa-apa, kenapa masih disini, Redi...umi...tamunya dipersilahkan masuk!"
"Yu..yu masuk yukkk!" ujar Riski, ingin mendahului manten sunatnya.
"Gue ngadem disini aja lah, enak sambil piknik!" jawab Novi, sontak saja membuat Salwa tertawa.
"Bang, udah kaya mau nikah aja ini pada bawa seserahan?!" Salwa berucap di dekat telinga Zaky.
"Biar aja dek,"
Dewa berdehem sedikit tegang saat melangkahkan kakinya lebih dalam, ayah Zahra memang lebih tua dari daddy'nya namun wibawa dan kharismanya begitu kental terasa.
Ica menahan keluarganya barang beberapa detik, "inget! Jaga sikap! !"
"Iye..iye cot!" jawab Galih.
"Buruan pegel berdiri terus disini, kalo di dalem kan langsung dijamu!" baru saja Ica berucap tapi seolah telinga abangnya ini disumbat dengan gedebong pisang, ia tak bergeming dengan ucapan Ica.
"Bang, ni orang satu lempar aja lah ke laut!" pintanya frustasi pada Riski, mereka yang ada disana tertawa.
"Bu Ica, jangan sungkan disini, ngga apa-apa, bukan keluarga menteri atau presiden kok," imbuh Salwa.
"Busettt, ini rumah apa istana?! Rumah tante icot aja kalah," kekeh Momo.
Hawa sejuk menyambut mereka dengan gemericik air dari kolam, ruang tamu terlihat begitu mewah dan beraroma wangi kopi, mentang-mentang juragan kopi, parfum ruangan saja kopi, ruang tamu pernah mengalami renovasi sebanyak 2 kali. Bukan tanpa alasan, Zaky dan Salwa melakukannya, tapi untuk nilai plus di depan partner bisnis.
Sementara honey dan Zaky bertindak menyambut dan menjadi jubir, maka Salwa mulai menyiapkan perjamuan.
__ADS_1
"Kayanya kalo ruang tamu ngga akan cukup ini..." ujar Salwa. Sebenarnya cukup-cukup saja, namun kursi yang di tata disana tak akan mampu menampung orang-orang.
"Sekat ruang tengah dibuka aja mi, ngga apa-apa, toh ruang tengah juga cukup rapi dan estetik, biar mereka tau kita apa adanya," ujar Al Fath datang dari kamar bersama Faranisa, Fara sampai melirik Al Fath horor, apa adanya? Yang benar saja, segini tuh disebut apa adanya? Lalu mewahnya kaya apa?
Rayyan keluar dengan menggendong Panji bersama Eyi.
"Ray, bantu buka sekat ruang tamu," pinta Al Fath. Tak ingin mengandalkan asisten rumah tangga dan security.
"Oke deh!" jawab Salwa.
Rayyan dan Al Fath membuka sekat penghalang yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran jepara setinggi 2,5 meter sepanjang 4 meter.
Anggota keluarga Dewa yang mulai masuk satu persatu dibuat berdecak kagum melihat rumah Ananta.
Begitupula saat sekat ruangan terbuka hingga terpampanglah kini ruangan tengah dengan segala kehangatan keluarga, foto-foto keluarga Ananta menjadi wall bagian tengah rumah ini.
Ica merasa begitu kerdil, "Ra, edannn dong...apa kabar sama anak gue, Ra. Kayanya paling nol.." bisiknya dekat Kara, mereka bahkan sudah duduk nyaman di sofa. Kara tertawa melihat rasa frustasi Ica, "sabar Ca, Dewa ngga nol-nol banget lah! Lulusan luar negri," imbuh Kara menghibur Ica.
Fara dan Eirene tersenyum hangat menyambut kedatangan keluarga ini, Ganesha sampai spechless melihat begitu disambutnya keluarga Alvian oleh keluarga Ananta, hingga timbul rasa kembali bersalahnya.
"Waduhh, maaf merepotkan pak Zaky..." tandas Jihad.
"Oh engga-engga, perkenalkan ini putra-putra dan menantu-menantu saya," abi Zaky memperkenalkan Kolonel Teuku Al-Fath Ananta dan Mayor marinir Teuku Al-Rayyan Ananta dan para istri.
"Busettt, isian rumahnya juga engga zonk! Bidadari semua," bisik Riski melihat Eirene dan Fara.
"Welcome!"
"Ibu Caramel, pak Armillo?" ia masih ingat jika pernah menjalin kerjasama waktu lalu.
"Ini yang artis itu kan ya?!" tunjuk Novi pada Eirene, tangannya langsung diturunkan Dante, "tangannya dek."
"Eh, maaf--maaf.."
Eirene terkekeh, "mantan kak. Sekarang saya sudah jadi ibu rumah tangga."
"Oh, jadi...ya Allah, kok gue baru sadar nih cut Daliya Clemira yang di tik tok itu!" Novi kembali berseru.
"Kampungan--kampungan!" decak Riski. Ica menepuk jidatnya, koyo--mana koyo!
"Iya ih! Aslinya lucu banget masyaAllah!" Ara yang notabenenya sudah punya anak bayi pun kini melirik cimoy. Tentu saja bocah ini senang menjadi sorotan, "aku Cut Daliya Clemila!" ucapnya salim takzim mendahului yang lain termasuk Sagara.
"Abang Saga! Sama olangtua salim dulu!" ia menarik Sagara dari genggaman abi Zaky yang mengekor saja diperintah adik sepupunya itu dan menyalami seluruh anggota keluarga Dewa.
"Iya Cle," jawab Sagara pasrah saja, sebagai seorang abang ia menurut saja daripada cimoy ngomel-ngomel.
"Salam kenal om, Teuku Bumi Sagara," ucap Saga.
"Aaaahhh gemes banget gue! Jadi pengen Lendra kecil lagi," Kara greget dengan tingkah cimoy. Dewa dapat melihat jika Sagara adalah tipe anak yang pendiam, aman Wa!
"Mih...mih..." colek Lendra.
__ADS_1
"Bikin lagi aja by," kekeh Milo.
"Cle," Ray menggeleng memperingati anak perempuannya itu. Sementara Salwa hanya tersenyum melihat tingkah lucu cucu-cucunya yang dapat mencairkan suasana. Bahkan cimoy sudah ngaler ngidul berkenalan dengan anak Ara.
"Ini namanya siapa?" tanyanya so kenal so akrab ciri khas cimoy, sementara anak Ara merengut bersembunyi.
"Clemira, adeknya takut itu," kini Al Fath yang bersuara rendah.
"Iya abi Fath," angguknya singkat merengut kembali.
Lendra mengedarkan pandangan dimana foto yang terpajang memang tak main-main, Eirene saat menjadi brand ambassador Hermes, Faranisa saat di istana negara, lalu kedua putra abdi negaranya, tidak lupa Zahra yang cantik dengan kebaya dan toga saat wisuda, dan foto keluarga resmi terpampang nyata sebesar-besar dinding.
"Mantu disini ngga main-main, lo mau nyerah disini, tinggal lambaikan tangan ke kamera bro? Tuh di luar tadi ada cctv," bisik Lendra mencibir pada Dewa.
"Kamvrettt, gue juga punya kelebihan!" sengak Dewa.
"Kelebihan bandel!" balas Lendra tertawa.
Pandangan Dewa kini terfokus pada Fath dan Ray, kedua abang tentara Zahra.
Untung saja ada nyak Fatimah, jadi Salwa merasa terbantu dalam hal menyiapkan kudapan dan masakan.
"Nyak, ke depan dulu yuk!" ajak Salwa. "Masa besan di dapur terus kaya asisten rumah tangga,"
"Iya dah!" jawabnya mengelap tangan.
Salwa membawa troli untuk sajian minuman bersama nyak Fatimah, Eyi dan Fara.
"Ini hanya kudapan ala kadarnya saja, silahkan dicicip kudapan dari Sabang sampai Merauke," ucap Salwa terkekeh, jelas saja ia dari Aceh dan Al Fath dari timur. Satu indonesia ada disini.
"Ya allah, ngga usah repot-repot bu, kami juga tidak membawa apa-apa" basa basi blekok Ica. Padahal di sampingnya keluarga Ica sudah mencicipi sejak tadi, dengan tak ada akhlaknya mengkhianati ucapan Ica.
"Emhh, enak."
Al Fath dan Rayyan sudah duduk di samping Zaky bersama Redi, disusul Salwa. Tapi sejak tadi Dewa belum melihat Zahra. Yang ada hanya jejeran orang-orang berwibawa tepat di depan Dewa.
"Kedatangan kami kesini...." Jihad menatap satu persatu anggota keluarga Ananta, ia melirik Armillo yang mengangguk singkat meyakinkan Jihad jika ia mendukungnya.
"Atas nama keluarga Alvian dan perwakilan dari orangtua Ganesha, kami mohon maaf sebesar-besarnya, tanpa mengurangi rasa hormat pada keluarga Ananta...kami tidak bisa melanjutkan perjodohan antara Ganesha dan Cut Zahra," Milo meneruskan.
Rayyan dan Al Fath kini mengerutkan dahinya, alis keduanya sudah menukik tajam. Jika Al Fath masih bisa menahan sampai Jihad selesai berucap tidak dengan Rayyan.
"Jadi maksudnya---" Rayyan sudah meninggikan suara membuat semua yang ada disana terkejut termasuk Dewa.
"Abang...gantengkuh...cintaku! Sebentar dulu, di dengerin dulu sebelum pak Armillo dan pak Alvian selesai ngomong," Eyi menahan bahu Rayyan di belakangnya. Fara sampai melipat bibirnya mendengar rayuan Eyi menahan Rayyan padahal tangannya pun sudah mencengkram kuat lengan Al Fath agar tak bangkit.
.
.
.
__ADS_1
.