My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
PRESDIR VS CHEF


__ADS_3

Dewa cengar-cengir sendiri sepanjang jalanan kembali dari apotik, tak menyangka jika bibitnya seunggul ini. Padahal bisa dihitung jari mereka tidur bersama, tapi hasilnya setok cer itu.


Nyatanya, hanya mendengar perkiraan jika Zahra hamil saja rasanya udah berasa jadi lulusan akademi orang ngga waras.


"Calon bapak, gue..." ia terkekeh sendiri seraya memutar stir untuk memarkirkan mobil di carport. Ditentengnya kresek putih berisi 5 alat tespek dengan riang hati, persis anak kecil dapet permen.


"Udah bi, cukup. Udah enakan..." Zahra duduk meluruskan kakinya diatas sofa, ternyata begini rasanya morning sickness, pantas saja Fara terlihat lemas dan tak berga irah. Ngomongin Fara, kakak iparnya itu mungkin usia kandungannya sudah sekitar 6 atau 7 bulan.


"Sayang, masih mual?" tanya Dewa, Zahra menggeleng, "cuma lemes aja, ngga ada yang mesti dikeluarin lagi soalnya, perut aku kosong..." masih terasa rasa pahit di lidahnya karena ia muntah hingga cairan kuning di dalam perut ikut keluar.


Dewa duduk di samping Zahra, "kalo gitu makan dulu,"


Zahra menggeleng, "aku mau cek dulu, penasaran.." ia menyambar kresek dari tangan Dewa lalu bangkit menuju kamar mandi di bawah.


Dengan gerakan cepat Zahra menyobek bungkusan alat tes kehamilan itu, lalu memelo rotkan celananya.


Jantungnya berdegup kencang, tapi rasanya campur aduk, segaris merah tampak jelas saat alat itu masuk ke dalam uri_ne'nya. Lantas segaris lainnya menyusul, hampir saja Zahra memekik tertaha melihatnya, tapi sejurus kemudian ia terdiam seperti menerawang.


"Kemarin aku kena wabah, terus resikonya?" tatapannya berubah nyalang melihat benda pipih bergaris dua itu.


Terlihat pintu kamar mandi dibuka, Dewa yang turut harap-harap cemas segera menyambut di ambang pintu, "gimana?!" wajahnya antusias.


Zahra menyerahkan ke-5 alat itu, yes, garis 2, plus. Dewa langsung bersorak, "emang kalo benih unggulan mah mau sekali juga langsung jadi, wohoooo! Aku calon bapak sayannngggg!" Dewa menangkup wajah Zahra yang membeo melihat selebrasi Dewa, mirip-mirip selebrasi gol piala dunia.


"Bi! Bi!" teriaknya.


"Iya den,"


"Ngga mau nyelamatin saya?! Istri saya hamil!" teriak Dewa dari tempatnya, dasar ko nyol!


"Alhamdulillah! ! Selamat aden, ibu..." ujar bibi lantas kembali pada pekerjaannya, takut jika masakannya gosong.


Zahra tertawa renyah seraya memukul punggung Dewa, "malu-maluin!" tak terbayangkan lelaki sepecicilan Dewa akan jadi ayah, bagaimana nasib anaknya kelak?!


"Makasih!" bisik Dewa memeluk Zahra erat, hingga badan Zahra terangkat ke udara, "abang ih!"


"Kita kasih tau orang rumah! !" serunya senang.


"Bentar dulu, mendingan diperiksain dulu." Zahra menunduk memainkan kuku jarinya, "tapi abang...aku khawatir, aku kemarin kena virus, aku takut itu berpengaruh dan beresiko buat pertumbuhan janin..." raut wajah Zahra tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Diraihnya rahang Zahra oleh Dewa dengan lembut, "suthhh! Jangan ngomong kaya gitu, kalo kata abi tuh semua harus disyukuri, insyaAllah--- semua bakalan baik-baik aja...bibit aku ngga mungkin gagal...biar aku pupuk terus biar dia sehat!" kekehnya menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Apa tuh maksudnya?!" kernyitan di dahi Zahra mencium aroma-aroma kemesuman. Sejurus kemudian badannya terasa terangkat dalam gendongan Dewa.


"Sekarang calon momy duduk manis, biar calon daddy siapin makanan sehat buat calon anak...udah gitu kita pergi buat periksa," langkahnya menuju ruang tengah.


"Emangnya bisa?" tanya Zahra sangsi.


"Heyyy...jangan salah, chef Dewa gini-gini sering masak buat makanan di hotel! Kamu mau makan apa? Makanan western, chinesse, Sunda, Minang, Padang, Aceh, atau Betawi," tawarnya seperti pelayan restoran.


"Aku mau nasi goreng aja," jawab Zahra.


"Loh nasi goreng?! Anak aku mau makanan sederhana gitu, sayang?! Masa anak presdir maunya sesimple itu?" tanya nya sombong.


"Emangnya anak presdir makanannya apa? Kertas file?" tanya Zahra.


"Oke--oke. Kecil itu mah, kalo cuma mau nasi goreng aku bikinin satu wajan raksasa biar kamu puas!!" Dewa menjentikkan kelingkingnya.


"Biar daddy yang bikin!" lalu menepuk-nepuk dadanya jumawa membuat Zahra tertawa, daddy somplak!


"Bukannya abang harus meeting sama daddy, Ganesha, om Milo, Lendra, sama beberapa pimpinan divisi juga?" tanya Zahra.


Dewa menepis udara, "ah gampang itu! Lagian aku bisa meeting sambil masak! Cuma dengerin laporan si Ganesh aja," jawabnya enteng. Inilah Dewa yang selalu menganggap segala sesuatunya hal mudah nan kecil, his fault. Jika Zahra saja bisa merawat dirinya sendiri yang sakit sekaligus merawat orang lain, kenapa ia tidak bisa mengerjakan dua hal dalam satu waktu juga?


Dewa langsung menyerbu dapur, "bi! Aku mau masak," ujarnya pada bi Wiwin yang terlihat sibuk menyiapkan makanan.


Ia menoleh pada majikannya, "loh, den..ini bibi lagi masak...aden di depan saja biar bibi yang siapkan," balasnya tak enak hati.


"Tapi aku mau masak, bumil mau nasi goreng!" jawabnya mengikat rambutnya dengan benar, lalu kemudian memakai hairnet khawatir rambutnya rontok atau mengenai makanan, kemudian celemek yang tersedia disana.


"Oh, gitu den. Yo wes...ta siapin dulu bahan-bahannya. Ibu mau pake tambahan apa den?" tanya bibi.


"Emhh, seafood atau ayam?! Bentar aku tanyain dulu bi,"


"Sayanggg! Nasi gorengnya mau seafood atau ayam baso?" tanya Dewa.


"Apa aja terserah," jawab Zahra.


"Oke. Seafood katanya bi..." ucap Dewa meneruskan ucapan Zahra pada bibi, perempuan paruh baya itu melipat bibirnya kuat-kuat, karena jelas-jelas ia mendengar Zahra berteriak terserah...emang telinga Dewa ini terbuat dari baja jadinya budeg!


Langkah Zahra membawanya memperhatikan Dewa, sungguh ia tertarik dan penasaran melihat suami gesreknya itu memasak.

__ADS_1


"Ini apanya dulu bi?" tanya Dewa yang memang tak mengerti dengan urusan dapur.


"Katanya chef hotel berbintang, tapi masaknya masih nanyain bi Wiwin..." cibir Zahra membuat lelaki dengan stelan cihuy ini mendongak.


"Eh, kamu ngapain kesini? Udah tunggu di luar...nanti ketauan kalo aku lagi naburin bubuk pelet sama perindu," jawab Dewa mendorong Zahra untuk kembali duduk di sofa.


Tapi baru saja ia mendudukan Zahra ponselnya berdering, daddy...


"Hallo?!"


(..)


"Oke,"


Sebelum benar-benar kembali ke dapur, chef jejadian ini mengambil laptop miliknya terlebih dahulu dan menaruhnya di meja pantry, menyambungkan aplikasi teleconference miliknya ke ruang meeting.


"Siapa yang belum hadir?" terdengar suara Milo dari sebrang sana.


"Tinggal bang Dewa," jawab Ganesha yang memakai kemeja navy polos dengan lengan panjang. Sementara para pimpinan divisi lain sudah lengkap dengan kemeja, dasi dan jas, hanya saja tak terlihat bagian bawahnya.


"si Dewo lagi, si Dewo lagi...Wa! Itu udah tersambung tuh!" ujar Lendra yang memakai jas meski dalamnya t-shirt hitam. Dewa yang awalnya belum berada di layar, kini duduk tepat di depan laptop, "yok! Meeting, gue udah siap!"


Semua mata langsung menatapnya, mendadak mereka hening tapi kemudian menyemburkan tawanya.


"Woyyy kamvrettt!" umpat Lendra.


"Pak Dew-dew, gusti nu agungggg!" seru Miki.


Para pimpinan divisi sangat berusaha keras untuk tak tertawa meski akhirnya gagal juga menertawakan atasan mereka. Ganesha dan Milo tertawa renyah sementara Jihad sudah menegur putra pertamanya itu. Ia sudah tak aneh dengan sikap nyeleneh Sadewa, "Dewa astaga..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2