
Memang tenaganya tak akan kuat melawan tenaga Dewa, satu persatu jari yang mencengkram gawang pintu kamar mandi akhirnya menyerah untuk terus melawan. Udah fix, rejeki suami sholeh ngga akan kemana!
"Ayo, katanya mules?!" tantang Dewa menurunkan Zahra di dalam kamar mandi, membuat istrinya itu diam seraya menggigit bibir bawahnya, jika sudah begini ia tak bisa bohong lagi atau mencari-cari alasan.
"Udah ilang mulesnya, ya udah kalo kamu mau mandi duluan aku keluar! Awas permisi," Zahra mencoba keluar namun Dewa menghalangi jalan pintu keluar.
"Udah masuk, tanggung!" sedikit demi sedikit Dewa menutup pintu kamar mandi.
"Dewa aku takut," akhirnya untuk pertama kalinya sejak dulu, baru kali ini Dewa mendengar Zahra bilang takut, dan itu pada dirinya...apakah ia bertaring? Suka isep da rah? Pemakan sesama? Ataukah....
Dewa terkekeh, diambilnya handuk dan peralatan mandi dari tangan Zahra, yang sejak tadi di genggam perempuannya hingga kusut. Tanpa berniat membuka pakaian yang masih membalut tubuh Zahra, Dewa menyalakan shower hingga membuat keduanya basah di bawah guyuran air shower.
"Dewa!" seru Zahra terjengkat kaget saat air mulai menyentuh permukaan kulit. Tangan Dewa merambah menyentuh pinggang Zahra dan menariknya mendekat, semuanya ia lakukan dengan penuh kelembutan, membuat Zahra merasa nyaman, bukankah memang seharusnya begitu? Memperlakukan wanita kesayangan secara lembut, sentuh hatinya dengan penuh perasaan. Dewa tau jika Zahra adalah gadis baik-baik, tak memiliki pengalaman se-in tim ini bersama lawan jenis, maka yang ia lakukan adalah memberikan pengalaman pertama yang menyenangkan bersamanya. Setiap kucuran air shower lolos di kulit putih itu menjadikan Zahra pemandangan yang paling eksotis saat ini. Dewa mengunci pergerakan mata Zahra membuatnya mau untuk menyerahkan seluruh miliknya tanpa harus merasa takut lagi.
Sepasang tangan Zahra yang semula mengepal kini mulai terbuka memegang dan menyusuri dadha Dewa, "aku buka ya," Zahra menunduk malu seraya meloloskan dengusan tawa gugup, sementara sebelah tangan Dewa sudah menari-nari mahir di atas kancing pakaian Zahra, membukanya satu persatu hingga terbuka semua. Kaki telan jank Dewa melangkah maju seiring Zahra terpundur karena dorongan Dewa membuatnya terperangkap di kungkungan badan Sadewa dan tembok kamar mandi, dan saat itu pula ia tau jika tak ada tempatnya untuk berlari lagi dari kewajiban.
There's nowhere to run now.
Zahra menelan saliva sulit saat lembaran-lembaran basah yang mencetak tubuhnya mulai teronggok di bawah kaki hingga kini ia polos. Kelopak mata indah itu mengerjap dengan ekspresi terkejut, membuat Dewa menyeringai menaikkan dagu Zahra, netra kelam Dewa meredup memandang bibir merah Zahra yang sedikit memberikan celah untuknya masuk, dan semua itu terasa melenakan untuk keduanya saat kembali bersentuhan dalam status halal, tak akan ada lagi yang melarang atau bawa satpol PP buat grebek.
"Eungh!" Leng uhan Zahra tersamarkan oleh suara gemericik air dari shower yang berjatuhan ke lantai keramik kamar mandi, tak ada nafas terengah meskipun air terus mengaliri lekukan wajah dan tubuh, keduanya benar-benar menikmati syahdunya bersentuhan, jemari lentik yang biasa mengurus pasien itu terus merambah tengkuk Dewa dan bermain-main disana membuat si empunya semakin memperdalam sentuhan di bibir, mencecap semua rasa dan mengabsen deretan gigi mentasbihkan diri sebagai penghuni tetap yang akan senantiasa singgah setiap saat atas nama cinta. Da rah keduanya berdesir hangat menciptakan gai rah baru yang tak bertepi. Dewa memang curang, ia telah melucuti seluruh pakaian Zahra sementara ia sendiri masih setia dengan bo xernya.
__ADS_1
"Malu," cicit Zahra di dalam dekapan Dewa, tak taukah Zahra, ia yang malu-malu begini membuat Dewa semakin gemas. Tak mungkin Dewa tak menyentuh amunisi sumber kehidupan yang begitu nampak indah menggantung di depan sana, apalagi dialiri air ia nampak semakin segar, mirip-mirip air gunung ya Wa?!
Zahra cukup terkejut saat Dewa mendaratkan bibirnya di aset pribadinya lalu menyesap rakus hingga meninggalkan bekas yang orang sebut itu kiss mark, tak ketinggalan jemari milik Dewa yang mengeksplore bagian paling inti darinya, menelusupkan satu jemari nakal untuk masuk ke dalam to say hello pada sang dewi, "Dewaaa---" Zahra kembali mele nguh menahan rasa menggelitik di bawah sana, bahkan Zahra sudah merapatkan kakinya menjepit tangan Dewa, hingga tak sadar meloloskan gletser hangat di bawah sana.
"Say my name..."
Dadha Zahra bergerak naik turun meraup nafas sebanyak mungkin, layaknya orang sedang berlari estafet. Dewa menarik senyumannya, dirasa pemanasan sekaligus pendinginan ini cukup membuat mata Zahra menjadi sayu, ia mematikan shower. Membuka bo xer miliknya dan melilitkan handuk di pinggang, Zahra ingin meraih handuk miliknya namun Dewa menahan tangannya.
"Biar aku," Zahra sudah senang, ia pikir Dewa akan membelitkan handuk itu di badannya dan menyudahi permainan mereka, karena ia sudah cukup panas dingin, namun perkiraan Zahra salah, Dewa hanya mengelap rambut dan badan Zahra saja dari air yang mengucur, dengan tanpa permisi ia menggendong Zahra keluar dari kamar mandi, "pemanasannya cukup, sekarang kita masuk ke adegan utama..." senyumnya lebar setengah tertawa.
"Ngga bisa dicicil dulu gitu, Wa? Aku baru pertama kali loh..." Zahra mengalungkan kedua tangannya di leher Dewa.
"Samaaaa, aku juga! Kompak ya kita, tos dulu dong! Aku mah penasaran rasanya perawan, kamu penasaran ngga rasanya perjaka?" tanya Dewa membuat Zahra mati kutu dalam gendongan Dewa. Ingin rasanya Zahra meng-katapel mulut pria yang menjadi suaminya itu, kalo ngomong kok ya ngga di sensor.
"Kamu tau peribahasa lebih cepat itu lebih baik ngga?" balasnya tak kehabisan akal, Zahra tersenyum kecut. Hingga akhirnya Dewa membuka pintu kamar mandi.
"Udah dingin-dinginan, sekarang kita panaskan suasana kamar!" Sadewa menaik turunkan alisnya.
Entah salah perhitungan ataukah memang ceroboh, memang manusia itu tak ada yang sempurna, perhitungan mungkin sudah benar namun eksekusi kurang rapi, niat romantis yang sudah Dewa susun sejak sebelum menikah dengan niatan agar malam pertama mereka berkesan, penuh kelembutan, tak meninggalkan trauma dan beda dari yang lain malah berujung tragis.
Baru saja Dewa menjejakkan kakinya di lantai kamar, memang salahnya yang tadi menyingkirkan keset agar tak menghalangi langkah, memang salahnya juga tak memakai sandal yang disediakan oleh pihak hotel, kakinya licin menginjak lantai kamar yang juga mulus.
__ADS_1
Sretttt
Gubrakkk
"Awww! Dewaaa sakittt!"
Keduanya jatuh bersama di depan kamar mandi, Zahra memang tau secara materi malam pertama itu menyakitkan, tapi ia tak menyangka bisa semenyakitkan dan se-memalukan ini.
"Aduhhh njirrr, maaf sayang...kesalahan teknis,"
"Ini mah bukan salah teknis, human error, abang! Besok-besok kalo mau belah duren jangan so so an mandi berdua dulu lah!" omel Zahra, mana telan jank ya jatoh, untung ia jatuh di gendongan Dewa, ngga kebayang tuh pan tat Dewa kaya apa?!
Tapi sejurus kemudian keduanya tertawa puas masih dengan posisi yang sama, Zahra di pangkuan Dewa.
"Sakit ngga? Mana sini aku liat pan tat kamu?!" Zahra tertawa hingga perutnya sakit melihat suaminya meringis.
.
.
.
__ADS_1
.
.