
Zahra berlari kecil menuju jalanan depan rumah sakit, dari gawang rumah sakit saja sosok itu sudah paling berbeda, entah ia yang memang tak suka memakai jas, hanya saja outfit Dewa memang tak serapi dan sesopan presdir pada umumnya. Ia lebih memilih menanggalkan jas dan memakai jaket kulitnya dengan gaya khas urakan Dewa.
Lelaki itu bersandar di kap mobil yang tampak mengkilap. Dewa belum melihat kedatangan Zahra, membuat senyuman usil di wajah gadis itu terbit bak sinar mentari di jam 8, melebarrrrr.
Zahra kini melangkah berjinjit mengendap-endap ke arah pepohonan, kemudian gadis itu berjongkok diantara tanaman pagar pembatas rumah sakit, dipungutnya beberapa kerikil kecil yang ada disana. Tawanya begitu jahat nan usil dalam diam.
Mungkin sebagian orang yang melihat mengerutkan dahinya menyaksikan aksi usil dan kekanakan Zahra, ia bahkan menaruh telunjuk di depan bibir pada security rumah sakit saat akan menyapanya.
Zahra menyembulkan kepala sedikit demi melihat Dewa di depannya yang sedang melirik ke arah gawang ruang IGD dan pintu utama rumah sakit mencari Zahra, ia bahkan merogoh ponselnya untuk menghubungi gadis itu.
"Ck, Zahra mana?! Gendut---gendut, lama amat!" omelnya membuat Zahra terkikik tanpa suara.
Pluk!
Sebuah kerikil mendarat di punggung Dewa, membuatnya langsung menoleh ke belakang mencari asal dari benda yang terlempar ke arahnya.
"Apaan tuh?"
Zahra cekikikan senang di balik pagar.
Dewa kembali menolehkan kepalanya, Zahra kembali melihat dengan memanjangkan leher Dewa kemudian kembali melempar kerikil itu ke arah Dewa.
"Woy! Se tan. Siapa sih?! Usil banget, nantangin!" kini Dewa sudah emosi, lelaki itu bahkan beberapa kali mencari-cari asal benda yang mengenai punggung dan kepala bagian belakang, sementara Zahra tertawa tanpa suara dalam persembunyiannya.
Dewa menyapu pandangan, ia bersumpah jika menemukan pelakunya akan ia piting lehernya sampai patah. Netra hitam itu mengedar hingga pandangannya tertumbuk ke arah sebuah mobil hitam sejuta umat yang terparkir tepat di samping pohon, entah milik siap yang sembarangan parkir disana. Dewa tersenyum smirk menemukan bayangan putih yang memantul dari pintu mobil.
"I got you!"
Dewa masuk ke dalam halaman rumah sakit dengan mengendap-endap dan hati-hati, ia menahan tawa melihat Zahra yang sedang berjongkok disana sambil cekikikan, "oh, ini rupanya suster ngesot...kaya gini penampakannya. Pantes aja orang-orang bilang rumah sakit suka ada hantu usilnya!"
Zahra menyembulkan lagi kepalanya demi melihat Dewa, namun alisnya berkerut karena tak menemukan Dewa.
"Loh! Kemana dia? Mobilnya masih disitu?"
Dewa membuka ikatan rambutnya dan mengacak-acak rambut gondrongnya hingga mirip odgj, lelaki itu mendekati Zahra dari belakangnya.
"Saya haus da rah perawan," bisiknya seketika membuat Zahra tergelonjak kaget.
"Astagfirullahaladzim!" jeritnya memegang dada, tapi kemudian ia tertawa tergelak begitupun Dewa yang menyingkapkan rambutnya.
"Mirip odgj tau ngga! Bukan kunti," akui Zahra belum usai tertawa.
"Usil!" Dewa menangkap Zahra, rupanya Sharukh khan dan Kajool terlalu lebay harus selalu beradegan romantis di taman bunga dan kuil. Buktinya halaman rumah sakit saja bisa jadi tempat romantis untuk keduanya.
Dewa mendekap gadis itu, memasukkan kepalanya ke dalam jaket, membuat Zahra dapat sepenuhnya dengan rakus menghirup aroma tubuhnya.
"Dewaaa!" jeritnya dalam dekapan sambil tertawa-tawa.
"Jailnya calon gue," Dewa mengeluarkan kepala Zahra dan mendekap Zahra memangkas jarak kedua wajah mereka.
"Abisnya aku udah keluar aja kamu ngga sadar, lamunin apa?" tanya Zahra. Tidak biasanya seorang Dewa sampai melamun panjang dan berpikir keras begitu.
Dewa menggeleng, "mikirin kamu," keduanya tertawa, "bohong banget," cebik Zahra.
"Emang," bales Dewa, menggenggam tangan Zahra dan membawanya keluar dari halaman rumah sakit.
Keduanya masuk ke dalam mobil, "sini, aku iketin rambutnya!" Jika biasanya lelaki lah yang akan berucap begitu, maka kali ini Zahra yang menawarkan Dewa untuk mengikat rambut sepundak lelaki itu.
Zahra tergelak saat Dewa memberikan karet seperti bekas nasi uduk, "apaan ini?! Kamu ihh! Ngga modal amat ih! Masa presdir iket rambutnya beginian, malu sama hidrant tuh! Sampe merah gitu saking nyaksiin presdir pelitnya naudzubillah!"
"Terus sejak kapan hidrant warnanya pelangi, ndut? Dia emang merah sejak penjajahan!" jawab Dewa membuat Zahra tergelak.
__ADS_1
Zahra mengeluarkan ikatan rambut yang lebih bagus dari dalam tasnya, lalu meminta Dewa membelakanginya, ia mengikat rambut Dewa.
"Kamu simpen baik-baik, siapa tau awet sampe kakek-kakek," tawa Zahra.
"Asik, dapet hadiah dari ciki ya?!" tanya Dewa.
"Kok tua?" Zahra memiringkan wajahnya.
"Karena masa kecil Dewa yang ini bahagia, sering jajan snack rakyat jelata..." jawabnya sombong membuat Zahra tertawa. Kedua anak manusia yang sedang di mabuk asmara ini menjatuhkan tatapannya ke netra masing-masing.
Bayangan si tengil dan si bar-bar kecil terlukis jelas diantara keduanya, beberapa tahun berlalu keduanya menjelma menjadi sosok pria dan wanita yang sama-sama memukau juga mempesona. Meski Dewa tetap ke-tengilannya dan Zahra dengan sosok menggemaskannya.
Setan memang selalu nyelip dimanapun sepasang manusia bersama tanpa orang ketiga, tatapan itu semakin syahdu membuat keduanya luluh dan bertekuk lutut pada keindahan masing-masing tatapan Dewa turun pada sepasang bibir merah delima Zahra yang tampak lembab dan kenyal. Ia memang bukan pemuda baik-baik tapi pun bukan pria bejat. Bibirnya memang sudah pernah mencium bibir perempuan lain, tapi tak ada yang se spesial bersama Zahra, ia memakai perasaannya. Menyentuh garis wajah Zahra lembut, membuat Zahra terbuai.
This is soul kissing....
Hanya beberapa menit saja, Dewa melepaskan tautan si kenyal itu, menahan diri untuk lebih mengeksplore, ia bukanlah Dewa perusak.
Dengan jarak yang hanya 5cm saja, Dewa berbisik seraya menelan saliva yang sudah bertukar sebelumnya. Wajah Zahra masih tampak sayu di genggamannya, "aku bukan lelaki perusak, cuma nyicip aja...ternyata manis..."
"Dasar konyol," Zahra terkikik.
"Udah ngga beres, Ra. Aku udah ngga sabar...yuk buruan cabut! Sebelum se tan makin keliaran, berapa hari lagi orangtua kamu sampe? Aku mau langsung ngomong aja, minta langsung nikah biar sah dan halal!" ucapnya.
"Bentar, aku iket rambut kamu dulu," dengan gerakan kilat Zahra mengikat rambut Dewa.
"Done, let's go! Kak Eyi udah nunggu sama cimoy,"
Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan memasuki mall, "kakak ipar kamu dimana?"
Gadis itu mengetik pesan pada Eyi, "oh itu disana," tunjuk Zahra ke arah salah satu restoran ayam tepung cepat saji.
Dari ambang pintu Zahra mengedarkan pandangannya, dan jatuh pada seorang perempuan cantik yang sibuk menyuapi sesosok balita berusia 1 tahun lebih di kursi bayinya, lalu seorang bocah perempuan 3 tahun yang berdiri berjingkrak-jingkrak meminta makanan Kid meal bagiannya.
"Punya kakak umi! Punya kakak!"
"Iya sebentar, kakak cimoy duduk dulu, nanti umi bukain," dimanapun ia selalu di hebohkan oleh dua krucil Rayyan. Mengurus 2 anak yang masih masa-masanya aktif memang sungguh melelahkan.
"Susah umi, kulsinya ketinggian! Belum nyampe!"
"Cimoyyy!"
Bocah perempuan dengan kostum baju balet pink dilapisi swetter rajut senada dan cepolan rambut satu diatas itu menoleh seketika lalu berseru sambil berlari ke arah Zahra, poninya sampai bergerak tak karuan saking pecicilannya anak Rayyan itu.
__ADS_1
"Ma cut!"
Eyi ikut menoleh, melihat penampakan calon Zahra untuk pertama kalinya. Sebagai seorang kakak ipar dan perempuan ia langsung melemparkan tatapan meneliti.
"Oke," ia mengangguk-angguk panjang seraya melengkungkan bibirnya.
"Cie, yang baru pulang balet! Sekali-kali abinya dong ajakin balet! Biar mainannya ngga cuma pistol," ucap Zahra.
"Liat nih ma cut! Kakak bisa begini!" Cimoy membuat gerakan tari dengan kedua tangan ke atas kepala lalu berputar centil hingga posisinya meluas berniat menunjukkan hasil kursusnya, tak peduli dengan sekitar dan kemudian dengan sekali sentakan merentangkan kedua tangannya ke samping atas mendadak, namun secara tak sengaja niatan pamer itu berujung petaka.
Plak!
Bagaimana tidak Cimoy menyentakkan kedua tangannya tepat di bagian paha atas Dewa, tepat di bagian pusaka. Eyi sampai menganga dibuatnya, begitupun Zahra, Dewa meringis meski tak begitu sakit ia tetap terkejut.
*Argghh! Ini yang gue ngga suka sama bocah*! Omelnya dalam hati seraya membungkuk menutupi bagian pusaka.
"Kakak! !" teriak Eyi.
"Ha?!" Gadis itu membulatkan mata lalu menutup mulut dengan kedua tangannya, "maaf om, ngga sengaja! Lagian om gondlong ngalangin aku, siapa suruh beldili disitu," ucapnya tak ingin disalahkan.
*Jadi ini salah gue, cil*?! Giginya menggertak.
"Ngga apa-apa kan?" tanya Zahra nyengir, Dewa menggeleng, "masa depan Ra." Zahra melipat bibirnya ingin menyemburkan tawa.
"Aduhhh, maaf ya!" ucap Eyi.
*Belum apa-apa udah di ospek sama anaknya, gimana bapaknya*?!
.
.
.
__ADS_1
.