
"Kamu ngga liat berita apa gimana?!" Umi Salwa langsung menyalakan televisi sebesar baligho di ruang tengah itu dan memindahkan channel, dimana berita terkini tengah menayangkan kondisi negri yang kacau gara-gara virus.
"Liat!" tunjuknya tegas, biar para penghuni di ruangan ini dan dunia tau jika virus ini begitu ganas.
"Yang terpapar tuh makin banyak! Jumlah yang meninggal meningkat pesat! Kamu ngga liat pemerintah aja bilang stay at home," Momy Ica sudah menekan pundak Salwa mencoba meredakan mental emosional besannya.
"Bu Sal,"
"Ada apa?" Abi Zaky merasa mendengar suara istrinya yang berteriak, ia segera masuk ke dalam bersama Rayyan.
Zahra tau hal ini sudah pasti akan terjadi, sementara Dewa masih bingung mencerna situasi di depannya, apakah umi Salwa yang marah dan histeris melarang memang sering terjadi di dalam rumah ini jika Zahra akan bertugas?
"Dewa jawab umi! Apa kamu ijinin Zahra buat nugas?" tanya nya dengan tatapan nanar.
"Iya mi, bukankah memang sudah tugas Zahra?" jawab Dewa bertanya balik.
"Kamu ngga takut istri kamu kepapar gitu, taruhan nyawa!" tembak umi, tak perlu umi Salwa jabarkan pun Dewa sangatlah takut.
"Mi," jika sudah begini abi Zaky sudah pasti turun tangan. Tanpa bangkit dari duduknya Zahra merosot dari kursi dan berjalan dengan lututnya menghadap umi Salwa.
"Bismillah, saya bersumpah bahwa....saya akan membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan tanpa membeda-bedakan kesukuan, kebangsaan, keagamaan, jenis kelamin, golongan, aliran politik, dan kedudukan sosial..." dengan menatap umi lembut Zahra mengulang sumpah profesinya, membuat air mata umi Salwa tak bisa untuk tak menetes. Begitupun Ica yang ikut melow bersama Eyi.
Memang beginilah jalan yang anak-anak Zaky ambil, menjadi seorang abdi negara, maka pasangannya pun mau tak mau harus mengerti. Baru kali ini Dewa merasakan pukulan yang teramat sakit dan tak bisa membalasnya.
"Umi tau! ! Ngga usah kamu ulang lagi sumpah kamu sebagai perawat," ia memeluk anak perempuannya itu erat-erat.
"Abang udah kasih ijin dan restu buat Zahra, imam Zahra insya Allah ikhlas mi...sekarang Zahra mau minta restu dan do'a nya dari umi, abi sama momy...do'akan langkah Zahra buat nolong sesama..." lirihnya bergetar.
Diam-diam di kursi sana Dewa sudah mengelap hidung dan ekor matanya tanpa suara, ia berjanji...setelah ini akan membuat Zahra hamil anaknya dan pensiun dini!
Rayyan tiba-tiba membuat gerakan menghormat di sana, "selamat bertugas, Ners... Jagalah kesehatan, karena kalian adalah garda terdepan."
Zahra bangkit dan menghampiri Rayyan, ia menempelkan tangan kanannya menyilang di dada kiri membalas hormat kakaknya itu. Eyi menghambur memeluk adik iparnya, "ngga kuat lah! Pengen mewek!"
"Selamat bertugas, nak..." abi bergantian memeluk Zahra, sementara umi masih mencebik sebal disana saat Zahra bergantian memeluk yang lain.
"Mi," colek Zahra.
__ADS_1
"Kamu ngga sayang umi!" ujarnya memalingkan wajah seperti anak kecil. Zahra tersenyum dan meraih tangan umi untuk kemudian mengecup punggung tangannya, "iya, tapi sayang banget...Zahra cinta umi..." jawabnya.
"Kapan berangkat nak?"
"Malam ini bi. Insya Allah kalo diijinkan pulang, Zahra usahakan buat pulang," jawab Zahra.
"Pulang. Kamu punya kewajiban sebagai seorang istri.." anak gadis yang sudah berubah status ini mengangguk.
Zahra pamit dari kediaman Ananta bersama Dewa yang setia mengantarnya, "aku anter sampe parkiran rumah sakit, kalo bisa sampe depan IGD, eh engga--engga! Sampe depan bangsal!" ucapnya seraya mengemudikan mobil menuju kost-an Zahra untuk mengambil seragam dan kebutuhan Zahra lainnya.
Zahra tertawa kecil. "Eh, atau aku temenin kamu kerja aja ya?! Siapa tau rumah sakit butuh relawan juga, bawa-bawa troli emergency gitu misalnya? Pokoknya aku mau nemenin kamu, kalo bisa aku jadi bayangan kamu!"
"Ngaco, terus kerjaan kamu gimana! Kamu itu presiden direkturnya, masa malah ngintilin istri," Zahra terkekeh.
"Kok aku jadi ngga ridho gini ya?!" celoteh Dewa lagi.
"Kerjaan aku di belakang layar pun jadi sayang, cuma bisnis pasti bakalan ikut terdampak. Daddy sama yang lain juga harus siap-siap buat kerja keras, puter otak, secara ekonomi dunia bakalan kacau..." Dewa sudah bisa menduga dan menghitung bagaimana nasib bisnis ke depannya.
"Selamat berjuang, bapak presiden direktur, jaga kestabilan perusahaan dan bertahan sampai waktu yang belum bisa ditentukan..." Zahra menepuk-nepuk pundak Dewa dari samping.
"Aku yakin perusahaan daddy Ji akan survive dengan adanya abang, aku percaya suami aku itu pinter yaa...walaupun absurd--absurd gini," tawa Zahra renyah.
Kehadiran pengantin baru di kost'an membuat para penghuni yang tengah berada di kost'an geger, "loh Ra, cepet amat honeymoonnya?"
Zahra menyunggingkan senyumannya, "panggilan tugas.."
"Yahh! Ngga asik dong, ditinggal ngurusin pasien.."
Dewa ikut nyelonong masuk ke dalam kost'an putri ini merasa dirinya sudah halal untuk Zahra, ia penasaran dengan keadaan tempat tinggal istrinya selama ini.
"Eh, bang..." mendadak para penghuni ruang tamu membetulkan posisi duduknya melihat kehadiran Dewa. Posisi enak sambil rebahan dan selonjoran terpaksa harus duduk sikap sopan, emang si Dewa mirip-mirip guru killer jaman sekolah! Begitu datang bikin jiper orang. Zahra menyadari sikap teman satu kost'nya hanya bisa tertawa. Jutek sih mukanya, nyeremin mirip Dewa kematian ngga tau bandit psycopath.
Dewa mengangguk sebagai balasan sapaan, lalu masuk begitu saja ke dalam kamar Zahra saat istrinya sudah masuk, ia meneliti keseluruhan ruangan berukuran 4 × 5 meter yang menjadi tempat tidur Zahra selama beberapa waktu ini.
"Kamu ngga usah nge kost lagi, kapan abis tempo? Biar nanti ku beresin barang-barang kamu terus pindahin ke rumahku," Dewa merebahkan badannya di atas kasur Zahra.
"Bulan ini masih ada dua minggu lagi, udah kubayar lunas. Terserah abang, aku ngikut aja.." jawabnya melipat seragam, name tag dan beberapa barang pribadi ke dalam tas.
__ADS_1
"Kuncinya abang pegang aja, jadi abang bisa nyicil bawain barang aku," lanjutnya menarik resleting tas gendong dan menyerahkan kunci kamar kost'nya itu.
"Udah yuk!"
Dewa mengangguk dan bangkit dari sana.
Setelah pamit pada teman-temannya, ia pergi. Niat hati menunggu Defia akhirnya ia urungkan, mengingat jam pulang gadis itu masih cukup lama, dan ia tak punya waktu sebanyak itu.
"Nanti deh aku balik sini buat pamitan," ia dan Dewa keluar dari area kost'an, meski tak semua warga sekitar yang melintas memakai masker, namun beberapanya terlihat patuh dengan anjuran pemerintah.
Sepanjang waktu menuju rumah sakit, Dewa tak lepas memegang tangan Zahra seakan ia kini menyesal memberikan restunya.
"Inget kan syarat dariku?" tanya Dewa menarik tangan Zahra ke depan bibir lalu mengecupnya.
"Syarat mana? Syarat yang mirip ancaman itu?" tanya Zahra dengan wajah penuh cibiran.
"Yap!" angguknya.
"Inget. Ngga janji," jawabnya.
Kenapa jarak dari kost'an terasa begitu dekat? Padahal Dewa sudah melambankan laju mobilnya, biar dikata siput yang penting ia bisa berlama-lama bersama Zahra. Mobil pun sudah berhenti mentok di parkiran rumah sakit.
"Nanti aku anterin makan buat kamu, kamu harus selalu kabarin aku. Kalo ngerasa ada yang janggal sama badan kamu jangan nunggu sampe kerasa parah, bilang aku! Kalau butuh apa-apa juga harus bilang! Aku sama orang-orangku akan siap 24 jam," ucapnya mulai mengeluarkan sikap bossy'nya, apakah seorang dengan jabatan tinggi akan selalu sebossy Dewa?
"Hm, iya bapak Sadewa yang terhormat," ejek Zahra. Dewa meraih kepala Zahra dan mengecupnya posesif, "please Ra, kamu harus selalu sehat demi aku!"
Zahra memejamkan matanya merasai kehangatan seorang Sadewa, "insya Allah, Allah bersamaku. Kamu do'ain aku, aku bukan mau berangkat ke medan perang dalam waktu lama, kalau bisa pulang ya aku pulang tiap hari jadi kamu ngga perlu khawatir..." balas Zahra mencoba menenangkan suaminya, meski ia pun tak yakin, karena semua itu hanyalah harapan semu.
"Selamat bertugas sayang," Dewa meraih dagu Zahra dan tak sungkan mema gut bibir istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1