My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
ADA MANIS-MANISNYA


__ADS_3

...Tangguh bukan berarti hanya kuat fisik saja, tapi lebih dari itu...mampu bersabar dan mampu mengontrol situasi menjadi kondusif tanpa mengedepankan emosi....



Sudah 3 hari sejak acara lamaran berujung piknik, bahkan Al Fath saja sudah kembali ke timur, tapi tak ada sepatah katapun atau ajakan, "*Wa, saya undang ke batalyon*!" dari kedua kakak Zahra itu. *Why brothers? Ini sebenernya niat ngetes apa cuma gertak sambel lagi*?



Dewa menghentikkan sepeda motornya di parkiran rumah sakit, benar-benar sampai depan ruang IGD, takut Zahra kenapa-napa, padahal jarak dari parkiran ke sana tak sampai puluhan kilometer. Tapi, Zahra dirangkul bak manten sunat yang takut nginjek ee ayam atau kulit pisang.



"Hati-hati, kerja yang bener..." jiwirnya di hidung Zahra.



"Kamu juga," Zahra membalas dengan menjiwir hidung Dewa.



"Abang kamu yang pertama udah balik ke timur?" tanya Dewa.



"Bang Fath? Udah. Kenapa, kangen? Kangen dipelototin? Atau kangen disuruh jadi imam solat magrib?" Zahra terkekeh menepuk-nepuk jaket Dewa sekedar membersihkan dari debu jalanan yang nempel-nempel takut jadi pelakor, ia akan tetap selamanya menjadi Dewa-nya, si presdir dari Mars. Tak pernah mau memakai mobil yang katanya kurang keren dan jantan, cupu! Takut kotor atau panas, lelaki itu kulitnya eksotis, kotor-kotor dikit bikin ngiler, bukan putih lembut kaya marshmallow.



Dewa ikut tertawa, namun tawanya garing, *lihat saja nanti! Ia akan sekalian panggil hafidz qur'an terbaik di Indonesia untuk menjadi guru ngajinya*, "tapi makmumnya kamu doang, aku sih yes!" jawabnya.



"Kalo gitu aku pergi ya," lirikan mata Dewa jatuh pada arlojinya, waktu begitu berharga baginya sekarang, jikalau nantinya restu dari keluarga Zahra turun, otomatis ia harus serius mencari nafkah dari sekarang atau sekedar modal buat biaya kawin, bukan ongkang-ongkang kaki karena momy---daddy orang berada, tapi ia ingin menikahi Zahra dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri, malu gillaaa kalo kalah sama abang-abang Zahra.



"Ada masalah yang harus aku urus di kantor," jawab Dewa menatap nyalang ke arah tangan Zahra yang sedang digenggam Dewa, lembut...


Sadar jika Dewa sedang tidak baik-baik saja, Zahra memiringkan kepalanya, "masalah serius?"



Dewa tersenyum, "bukan. Cuma masalah kecil, ini Dewa loh Ra..."



"Bukan hamba..." lanjut Zahra menyamai ucapan Dewa, lantas keduanya tertawa.



"Kalo gitu, aku pergi! Nanti pulangnya kujemput!" ia menepuk-nepuk pucuk kepala Zahra.



"Dah!"



Disela-sela kesibukannya Dewa tetap berusaha sebisa mungkin mengantar jemput Zahra.

__ADS_1



*Tap--tap---tap*!



Langkah sepatu pantofel menapaki koridor ruangan, Daddy Ji kembali mengambil alih posisi CEO di kantor.



Ganesha dengan segala kerendahan hati, menerima semua konsekuensinya.



"Sorry,"



Lirih Dewa menatap adiknya sekilas lalu memberikan semua file keuangan yang asli, sebelum laporan keuangan itu dimanipulasi oleh Yahya.



"Guffy, coba mana laptop gue!" pinta Dewa. Tanpa bermajsud menjatuhkan Ganesha, ia begitu bekerja keras untuk mengatasi masalah yang sempat dibuat Ganesha tanpa sepengetahuan Ganesh, ditambah waktu lalu tak ada yang benar-benar mempercayainya selain, Armillo dan Lendra.



Dewa memang baru bergabung disini, namun kinerjanya sudah tak perlu diragukan lagi, "Miracle sudah kembali berjalan dad, meski ada sedikit kendala sebelumnya karena pernah mangkrak dan menggantungkan nasib para pekerja, para pekerja yang melakukan demo memperjuangkan nasib juga sudah diatasi, jadi sekarang sudah berjalan lagi seperti semula, jika sesuai planning maka Miracle akan beres 4 bulan dari sekarang," Dewa menyerahkan rincian proyek, mulai dari bahan bangunan yang digunakan, dana proyek yang digelontorkan, alat berat milik JILO corp. Yang dipakai dan sebagainya.



"Oke, kamu langsung cek proyek, lihat situasi disana!"




"Sementara pak Difta sedang diperiksa polisi..." Jihad menatap Ganesha yang diam.



"Kamu! Diam di rumah, bantu bisnis start up momy!" tunjuk Jihad diangguki Ganesha.



"Tapi jika polisi mulai merembet membawa namamu, sesuai ucapanmu kamu harus mempertanggung jawabkan, meskipun nanti om Kean dan om Raka akan bantu kamu." Jihad menutup pembicaraan dengan kedua putranya.


Dewa membelokkan motor besarnya ke arah rumah sakit, tak pernah terbayangkan jika rumah sakit kini menjadi rumah keduanya, pagi--sore gedung ini menjadi tempat tujuannya menjemput sang pujaan hati.


IGD terlihat sibuk sore ini, tapi ia tau jika Zahra bukan sedang disana, melainkan di bangsal Kenanga.


"Sorry ih! Ada banyak pasien di IGD, ada juga yang nantinya masuk bangsal Kenanga..ada yang bisa cover di IGD ngga?" tanya pihak perawat IGD di sambungan telfon.


"Oke," jawab Mawar.


"Biar Zahra sama Rosa aja," keduanya kemudian turun ke IGD, tidak ada aku melayani, atau kamu melayani disini tapi kami siap melayani!


Suara sirine ambulan semakin memekakkan telinga dengan laju cepat terparkir di depan ruang IGD, Dewa sampai berjalan menepi terlebih dahulu agar tak menghalangi jalan. Matanya jatuh melihat ke arah dua orang perawat yang berjalan cepat menyerbu pintu ambulans.


"Zahra," bak superhero wanita yang siap menolong, Zahra dan seorang suster lain menarik brangkar dan membawa pasien dari dalam ambulans. Kedua suster ini sigap membawa masuk seseorang dengan luka yang cukup serius.

__ADS_1


Security terlihat ikut sibuk membantu keluarga pasien dan pasien lain. Tanpa sungkan Dewa membantu seorang pasien yang baru datang dari sebuah mobil untuk duduk di kursi roda, sepertinya orang sakit setiap harinya selalu ada, kecelakaan juga terjadi setiap hari di jalanan ibukota. Belum lagi orang-orang yang menderita sakit parah, semua berkumpul di instalasi gawat darurat ini.


"Eh, makasih bang!" ucap keluarga pasien.


"Sama-sama," Dewa tersenyum.


Ada rasa bangga membantu orang lain, apakah ini rasanya menjadi seseorang yang berguna? Beginikah rasanya menjadi abdi negara dan melayani masyarakat, kok kaya ada manis-manisnya gitu?! Selama ini ia terlalu cuek pada dunia, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.


"Misi," ucap seseorang permisi padanya saat posisi Dewa menghalangi.


Ia memilih keluar dari ruangan instalasi gawat darurat, menunggu Zahra di luar.


Cukup lama, bahkan lelaki ini sudah sempat kalah 4 kali bermain game mario bros di ponselnya.


"Eh," Zahra keluar dengan pakaian putih-putihnya dan terdapat sedikit noda darah di bagian lengannya.


"Gimana tadi korban kecelakaannya?" tanya Dewa.


"Hm? Kamu tau?" tanya Zahra.


"Iyalah, aku liat kamu hebat, kaya wonderwomen lagi dorong brangkar pasien pake kecepatan flash, swiinggggg!" ucapnya membuat Zahra tertawa.


"Baik, masuk meja operasi..." jawab Zahra.


"Lapar ngga? Wonderwomen juga butuh makan loh?" tanya Dewa.


Tentu saja gadis ini mengangguk, "pecel bebek yang di lampu merah depan yuk! Enak loh!" ajak Zahra antusias.


"Buat si gendut fatty, aku borong sama gerobak-gerobaknya!" jawab Dewa.


"Berangkat!" angguk Dewa yakin, semakin yakin karena si gendutnya tak seperti wanita lain yang kebanyakan pengen makan di restoran mewah, mereka satu selera.


"Lapor ndan, Cut Zahra dijemput sama cowok gondrong..."


"Sadewa,"


"Siap salah ndan! Saya tak tau namanya. Lapor, Cut Zahra di antar dan jemput oleh lelaki yang sama dengan motor berplat B 54D3w4, foto-fotonya sudah saya kirim, laporan selesai!"


"Ya sudah, cukup untuk hari ini. Kamu pulang ke markormar," Rayyan menyunggingkan senyum miring.


"Lama amat ntong, gue mesti kasih uang rokok buat junior sampe berapa juta nih," gumam Rayyan.


Mengirim.....


🍃Timur Negri


Ting...ting...ting....


Rayyan


📷 6 pesan belum terbaca


Calon adik ipar, siap-siap nyumbang catering 😁.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2