My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
DEWA PENGUSIK JIWA


__ADS_3

"Sebentar," Zahra menaruh mangkuk di meja. Dewa sungguh tak terima, se-tidak terima kalo kamu disela orang waktu lagi antri sembako murah.


"Lo ngga boleh pergi! Mana ada perawat nelantarin pasiennya gini, gue ngga terima!" ujarnya manyun tak mau kalah dari pasien lain. Sejenak ego Dewa muncul persis anak kecil yang tak mau mengalah untuk apapun dan demi siapapun itu.


"Tapi itu di depan ribut Wa, sebentar."


"Angkasa...Angkasa Gumintang?" tembak Dewa, Zahra mengangguk sekaligus membuat raut wajah kebingungan, "tau? Apa kenal?"


"Jadi dia pasien yang pengen dimandiin sama lo?" tanya Dewa dengan nada bicara meninggi, mendadak ia meradang, radang tenggorokan, radang paru, radang sela put len dir, radang usus. Apa ini? Perasaan apa yang bikin kamu jadi penyakitan, Dewa merasa dirinya aneh akhir-akhir ini, apakah ia kena guna-guna?!


Zahra mengangguk lagi untuk kedua kalinya.


"Kalo gitu, sini! Gue yang mandiin!" Dewa bangkit dari posisinya meski ia kepayahan dan meringis membuat Zahra ikut bereaksi, "eh! Lo mau kemana, by the way lo masih dalam keadaan pasca operasi loh!" Zahra sampai melongo dibuat tak percaya, dia kira manusia super hanya ada di dalam cerita saja, rupanya cemburu yang tak disadari membuat kekuatan seseorang berkali lipat.


"Bantuin gue!" pinta Dewa membuat Zahra tertawa, "lo so so'an mau mandiin orang lain, buat bangun aja lo ngga bisa," Zahra menggeleng dan melengos tak habis pikir dengan ulah Dewa.


"Ra!"


"Ra!"


"Zahra! Gendut!" teriak Dewa memanggil saat Zahra tak jua menurut patuh padanya.


"Ra, lo lebih milih si Angkasa gue lompat nih Ra dari jendela ke bawah gedung?!" ancamnya tak diindahkan Zahra, "lompat aja,Wa. Biar nanti lo masuk lagi IGD, gue masih kerja disini kok," Zahra tertawa, tapi apa itu? Wajah Dewa mendadak jadi buah cerry.


Gadis perawat itu justru memilih keluar ruangan dan masuk ke ruangan Angkasa.


"Cih! Baru kali ini ada cewek kaya gini sama gue. Ngga bisa jadi!"


"Ada apa?" suara Zahra membuat Angkasa menoleh.


"Sus, darimana aja sih? Saya kan udah pesen pengen diurusin suster Zahra."


"Ini ada apa sih?"


"Ada apa?"


"Ada pasien ngamuk?"


Kejadian ini memantik atensi keluarga pasien dan pasien bangsal Kenanga. Bak sesuatu yang viral, mereka melongokkan kepala ke arah ruang rawat Angkasa.


"Maaf ya bang, dek atau saya harus panggil apa? Semua perawat disini sama saja, sudah melewati pendidikan yang sama, lulus dengan standar yang sudah ditetapkan, sudah mengucap sumpah dan melakukan perawatan pasien dengan SOP yang sama, jadi dengan siapapun nanti maka sama saja," jawab Zahra memberikan pengertian pada Angkasa.


"Loe kira disini warteg, pake pesen--pesen segala!" akhirnya mau tak mau Rosa menuruti pasien VIP lainnya yang sama-sama bandel.


Rosa mendorong kursi roda yang membawa Dewa ke ruang rawat Angkasa, benar! Dia Angkasa, adik laki-laki almarhumah Cyara, yang beberapa hari lalu ia kirim ke IGD, dan ternyata disinilah ia berada.


"Dewa?"


Angkasa cukup terkejut dengan keberadaan Dewa disini, tapi kemudian ia tersenyum miring, "lo tau kan sekarang, gimana temen-temen gue bakalan balas dendam sama lo?!"


Dewa menatapnya sengak, "lo bocah ngga tau diri! Lagipula mau lo kerahin anak buah sebanyak apapun, this is Dewa dude! Ngga akan mati cuma karena cecunguk kaya lo," desis Dewa tersenyum smirk.

__ADS_1


"Stop! Ini rumah sakit, bukan pengadilan atau arena tinju!" lerai Zahra.


"Silahkan abang kembali ke ruangan," sengit Zahra pada Dewa.


"Dan kamu! Jadilah pasien yang baik," Zahra menunjuk satu persatu dari keduanya yang kini malah jadi tontonan para perawat lain.


"Tapi sus, ini saya gimana? Saya belum mandi dari pagi?! Bukankah pasien adalah prioritas utama?"


"Lo mau mandi, sini gue mandiin pake sikat toilet! Asal lo tau, Zahra adalah calon...." Dewa menelan salivanya sulit membuat mereka termasuk Zahra mengerutkan dahi menunggu kelanjutan ucapan Dewa.


"Calon apa? Calon perawat lo, calon dokter, atau calon istri gue?!" tanya Angkasa membuat Zahra tergelonjak kaget. Dewa semakin meradang, "wah! Bener-bener nih bocah ngga tau diri! Sini lo! Kali ini gue bakalan bikin lo masuk kamar mayat!" Dewa mendorong roda kursinya demi mendekati Angkasa, begitu pun Angkasa melakukan hal yang sama.


"Eh---eh!!" Rosa dan perawat lainnya melerai pertikaian itu sementara Zahra sendiri lebih memilih pergi saja dari sana, menyelesaikan tugasnya.


"Ck, biar aja saling bunuh, bikin pusing aja!"


Pertikaian kedua pasien ganteng tapi gila itu menjadi trending topic di kalangan perawat, dokter, dan staf karyawan rumah sakit.


Zahra mendelik beberapa kali saat geng suster ngesot menertawakannya dan menjadikannya bahan bullyan entah itu secara langsung ataupun di forum chat.


"Cieee! Suster kece direbutin pasien-pasien ganteng!"


Ia mengaduk-aduk kopi panasnya di dapur rumah sakit, demi mengusir rasa kantuk. Hingga pada akhirnya Zahra memiliki 2 pasien khusus selain oma Sopi saat ini di bangsal Kenanga.


Oma Sopi? Tiba-tiba saja Zahra rindu pada pasien kesayangannya itu, apakah beliau sudah pulang? Oma Sopi adalah pasien langganan RSCM yang sering bolak-balik jika diabetes, hipertensinya kambuh.




Ia memutuskan untuk menutup pekerjaannya dengan mengunjungi pasien dengan membawakan air hangat, baskom dan waslap.



"Nih, khusus suster Zahra pasien kesayangan---" kekeh usil Mawar.



Gadis itu meloloskan nafas lelahnya, "gue masuk dulu kamar Angkasa deh, biar ngga ribut kaya kemaren, bikin malu!" ujar Zahra pasrah mendorong roda troli.



Brak!


Pintu terbuka lebar dengan dorongan troli, membuat Angkasa melebarkan senyuman. Ia dengan sukarela mempertontonkan bentukan tubuh yang menurutnya seksehhh dan selama ini ampuh bikin cewek klepek-klepek. Ia sudah membayangkan bagaimana jantung suster cantik ini akan berdegup kencang, mana berduaan pula.



"Pagi, saya seka dulu badannya ya," sebenarnya malas, namun tuntutan pekerjaan harus dibuat dengan ikhlas.


__ADS_1


"Pagi suster cantik, boleh sus---"



Baru saja dibikin melayang karena hanya ada dirinya dan Zahra, keduanya kini menoleh bersamaan saat pintu terbuka kembali.



"Misi! Sepada! Gue mau nengokin tetangga!" Dewa masuk tanpa diundang.



"Kata orang, berduaan itu berbahaya! Gue rela dianggap se tan deh!" ia menaik turunkan alisnya dan tertawa jahat.



*Ga akan gue biarin lo tenang disini, apalagi lo mau ambil sesuatu yang sedang ingin gue kejar*!



Dewa memang sekuat Dewa, baru kemarin ia menjalani operasi, pagi ini ia sudah bisa mendorong kursi rodanya sendirian, meski ia harus memaksa, mendesak perawat lain untuk membantunya turun dari ranjang dan duduk di kursi roda.



Zahra mengerjap tak percaya dengan aksi Dewa.



"Apa-apaan nih! Mana boleh, lo ngga sopan masuk ruang rawat orang!" ujar Angkasa sewot, jelas saja ia tak terima, impiannya untuk berduaan dengan Zahra harus kandas di tangan Dewa. Alisnya bahkan menukik setajam tikungan istri orang.



"Bener kan suster Zahra? Apalagi kalo yang satunya punya otak ngeres?!" tanya Dewa melihat Zahra.



"I----iya sih, ya udah serah kamu aja, Wa! Yang penting kamu ngga ganggu aku kerja,"



Seketika lobang hidung Dewa mengembang kaya lubang sarang ular python, *eh apa nih?! Aku---kamu*?!


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2