My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
HITAM TAK BERARTI BURUK


__ADS_3

Zahra sudah berganti pakaian dengan stelan casualnya, tidak mencerminkan ia yang anggun, keibuan dan kalem seperti saat dalam balutan pakaian perawatnya, tapi juga tak seperti seorang anak konglomerat, hanya gadis biasa pada umumnya, anak uminya dan abinya.


Celana jeans skinny, sepatu sneaker, swetter dan kuvluk merah tanpa ada embel-embel mewah meski merk memang tak akan menipu.


"Gue mau saat waktunya tiba, nanti semuanya siap. Kalaupun Ganesh tetep kekeh pertahanin pak Difta, kita udah pegang dia, hal ini udah terlalu lama gue biarkan, karena gimana pun daddy sama om Milo pasti bakal curiga, gue ngga mau Ganesh kena amukan daddy sama om Milo."


"Adek lo itu Wa, ck!" Lendra berdecak mengganti tumpuan kaki menjadi kanan yang diatas kiri, sementara ia bersandar di kursi dengan kaki yang ia naikan ke atas ranjang Dewa.


"Romantic hopeless. Gamonnya kebangetan," ujar Lendra mencibir Ganesha. Selalu satu kubu, selalu satu rombongan dari mulai mandi hingga berbagi rasa mules tak menjadikan Ganesh satu frekuensi dengannya ataupun saudara kembarnya sekalipun. Tak jarang orang-orang akan mengatakan jika ialah kembaran Dewa yang tertukar.


Dewa melirik penuh hujatan, "itu juga gara-gara lo bank kee. Si Cyara berkali-kali patah hati setelah lo php in, jadilah mereka deket!" balas Dewa mendesis pada Lendra yang diduga sebagai biang keroknya.


"Sebenernya Cyara tuh baik, yang kurang akhlak tuh bapak sama adeknya si Angkasa!" jawab Lendra mencebik, matanya nyalang mengingat almarhumah Cya kecil hingga remaja yang selalu menempelinya, gadis manis yang sayangnya hanya berumur sebentar.


"Nah ini! Lo bisa kaya gini! Gue yakin yang kemarin itu anak-anak genk si Angkasa," pandangan Lendra beralih pada luka-luka di sekujur badan Dewa.


"Gue Dewa! Ngga akan mati kalo cuma ngadepin gerombolan cemen kaya gitu! Kalo gue ketemu tuh anak lagi, gue pastikan dia hancur lebur," jawab Dewa dengan sombongnya.


"Hm," Lendra mengangguk setengah mencibir dengan bibir melengkungnya, jika tak ada dirinya mati aja lo di kubangan Wa.


"Lagian lo ngga ada kerjaan banget ganggu tuh bocah lagi mabok, orang diem lo ganggu trus lo kirim ke UGD," Lendra tertawa tergelak mengingat kejadian lalu, saat Dewa mendatangi Angkasa yang sedang pesta miras di sebuah club malam.


"Gue ngga suka aja liat dia, anak bau kencur kerjaannya cuma jadi sampah----ngga liat bokapnya sampe korupsi cuma buat biaya hidup termasuk menuhin kebutuhan nakalnya doi," jawab Dewa.


"Nah duit lo tuh yang doi pake buat mabok plus ngobat, dikasih dengan sukarela ma adek lo!" balas Lendra.


"Sebenernya niat pak Difta baik, hanya pengen menuhin semua kebutuhan kedua anaknya, hanya saja caranya yang salah. Dia korupsi dana proyek Miracle," pandangan mata Dewa lurus namun pikirannya jauh menatap masa depan JILO corporation.


"Sekali jelek ya tetep jelek Wa, ngga ada niat baik dalam perbuatan jelek. Gue ngga ngerti apa yang ada di otak Ganesh, sampe tega ngorbanin keluarga sendiri...Ganesha terlalu baik dari dulu sama orang lain, dari masih zigot, beda sama kembarannnya, yang ada titisan algojo neraka!" Lendra kembali menyemburkan tawanya.


"Terlalu baik dan bo doh, beda tipis!" balas Dewa datar.


Dewa melihat Lendra, "lagian lo ngga akan ngerti masalah hati, karena lo mainannya pan tat!" sarkas Dewa, membuat Lendra tergelak, "sarav njirrr."


🍃 Pikiran Dewa melintasi lorong waktu


"Bang, tolongin gue!" Ganesha membuka pintu kamar Dewa, dimana kakak kembarnya itu tengah duduk di kursi belajar yang ada di kamarnya berhadapan langsung dengan sebuah layar laptop.


"Daddy sudah mengendus perbuatan bokap Cya," ia menutup pintu kamar agar obrolan keduanya tak terdengar orang rumah.


Dewa menaikkan alisnya, semalam Jihad baru saja memberikan selembar surat pengalihan jabatan atas dirinya untuk Dewa sebagai pemegang kekuasaan setelah dirinya dan Milo. Dewa meloloskan nafas beratnya dan memejamkan mata, tangan kekarnya mere mas kertas berharga itu hingga berbentuk bola.


"Apa lo bisa handle?" Ganesha mengangguk.


"Berapa lama?"


"Kasih gue waktu 2 tahun bang,"


"Oke."


Dewa menyambar jaket kulit dan celana jeans robek-robek di bagian lutut tanpa banyak berkata.


Paginya Jihad dan Ica mendengar Dewa terjaring razia diskotik bersama Lendra, belum lagi kasus balapan liar dan biang onar.


Bughhhh!!!


Sebuah bogeman keras mendarat di pipi Dewa dari tangan besar Jihad membuat Ica tergelonjak, "abang!" ia meraih Dewa.


"Ganesha lebih baik dari kamu, bang! Apa yang ada di otak kamu Dewa?!"


Dari balik pintu ruangan kerja Jihad, Ganesha mendengar dan melihat semuanya.

__ADS_1


"Sorry bang," ia menghela nafasnya begitu berat.



Untung saja saat Zahra kembali ke dalam kamar Dewa, pembicaraan itu sudah selesai.



Terdengar pintu diketuk dari luar,


"Masuk!"



"Sutth! Ndra," gadis itu menyembulkan kepalanya dari gawang pintu kamar yang dibuka perlahan, kedua pria itu sontak menoleh bersamaan.



Jangankan Lendra, Dewa saja sampai terkesima melihat wajah Zahra. Gadis itu mengurai rambut panjang nan bergelombangnya dan sedikit memoles wajah yang terkesan chubby namun imut-imut meski jauh dari kata mungil bak kurcaci.



"Buru ih! Gue lagi ngumpet dari pasien depan!" bisiknya masuk secara sembunyi-sembunyi.



"Kenapa?" tanya Dewa.



"Pengen dimandiin," jawaban Zahra membuat Dewa dan Lendra kompak mengumpat, "njirrr!"




"Abis itu gue mau minta masuk ruang VIP juga disini," lanjut Lendra.



"Lo mau masuk VIP apa sekalian kamar mayat?" tanya Dewa.



"Si alan!" tawa Lendra.



"Abang suka gitu ah," colek Lendra.



"Ndra, for your information siapa tau lo amnesia, lo sama gue lebih tua lo!"balas Dewa menarik tangannya dari Lendra kasar.



"Oh, jadi kerjaan lo gini kalo di rumah sakit? Gue laporin kalo lo perawat mesum yang le cehin pasien!" omel Dewa galak pada Zahra, membuat gadis itu kebingungan, apakah pemuda itu sebo doh kelihatannya? Karena memang itu menjadi bagian dari perawat meski sedikit terlihat ekstrem.



"Bo do tuh jangan di borong semua, Wa--- kalo bukan perawat mau siapa? OB?" tanya Zahra.

__ADS_1



"Tos?!" ajak Lendra pada Zahra.



"Elah, kaya yang ngga pernah dimandiin cewek aja!" santai Lendra membalas membuat Zahra dan Dewa bereaksi berbeda bersamaan.



"Masa?!"



"Sembarangan!"



"Kompak! Kalian keluarga berencana!" jawab Lendra, membuat Zahra dan Dewa saling pandang.



"Lo....kalo liat orang emang kaya gitu amat ya Wa, kaya minta dicolok gunting! Semalem aja lo jerit-jerit kaya tikus digigit kucing!" ujar Zahra menggerutu.



"Hayuk Ra, kita balik! Kita tinggal aja nih Dewa kematian!" ajak Lendra meraih kunci mobil dan merangkul Zahra membuat Dewa semakin meradang. Lendra memutar kepalanya pada Dewa dan memeletkan lidahnya.



"*Awas lo kalo macem-macem*!" Dewa membuat gerakan bibir dan kepalan tangan mengancam pada Lendra yang tertawa tanpa suara.



Pria itu ingin marah, ingin kesal tapi hatinya bertanya, *emangnya lo siapa Wa*? Jadinya ia hanya bisa geram sendiri.



Tapi kemudian alisnya menukik, mengingat pasien yang ingin dimandikan Zahra tadi, dengan tertatih ia mencoba turun bertumpukan kaki yang sehat. Dewa terlihat kepayahan hanya untuk sekedar turun dari ranjang, "br3nk sek, tau aja perawat cakep!" gumamnya.



Namun belum ia melangkah seorang staf bagian gizi datang membawa troli berisi makanan para pasien.



"Eh, mas-nya mau kemana?! Tidur aja mas, kan ada tombol emergency, bisa ditekan biar nanti perawat datang," ucapnya membantu Dewa kembali.



Lendra mengantarkan Zahra hingga ke depan gerbang Markormar.


"Yakin lo ngga salah alamat Ra? Lo lagi ngga bikin dosa kenegaraan kan?" tanya Lendra.


Zahra tertawa kecil, "engga. Makasih Ndra, biar nanti gue berangkat kerja dianter abang gue aja," jawab Zahra.


"Abang kandung?" tanya Lendra.


Zahra mengangguk, "iya."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2