My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
ASSALAMU'ALAIKUM SLEEPING CHARMING...


__ADS_3

Daddy Ji telah mengusap wajahnya berkali-kali dengan kasar, begitupun Ganesha yang meremas rambutnya.


"Jalan lain untuk menghemat budget dan uang perusahaan, ya mau tak mau merumahkan karyawan dad, om..." Dewa kembali mencetuskan idenya membuat urat yang ada di pelipis ayah dan adiknya kembali menegang.


"Kita ngga tau sampai kapan ini berakhir, pendapatan juga bener-bener turun drastis. Dana darurat yang dimiliki harus dihemat-hemat," lanjutnya kini menjadikan kedua tangannya bantalan ia bersandar di sofa.


"Itu artinya kita harus memangkas jumlah karyawan?"


"Mau tidak mau," bukan Dewa melainkan Jihad.


Ica dan Zahra sedang mengobrak-abrik dapur rumah dengan segala bumbu dapur dan bahan makanan.



"Kalo abang tuh sukanya makanan pedes ya mom? Soalnya dulu aku pernah bawa ayam Woku ke kantor, yang makan bukan Ganesh, tapi abang..." imbuh Zahra melirik sekilas ibu mertua di tengah-tengah aktivitasnya menghaluskan bumbu.



"Iya, makanya mulutnya kalo ngomong pedes!" tawa Ica dibalas tawa Zahra.



"Kalo Ganesh kan anteng-anteng kalem tuh, bawaannya kaya apa ya...kaya makanan rumah sakit.. hambar gitu yang adem ayem berair, kalo Dewa lebih ke nyerepet-nyerepet bikin nyelekit, bawaannya bikin yang denger kepedesan,"



Zahra tergelak diantara suara desisan masakan yang matang. Ibu mertuanya ini ternyata lebih absurd ketimbang umi Salwa. Pake segala nyamain anak-anaknya sama masakan.



*Greupp*!



"Wah, wangi banget! Istri aku pinter masak ya mii," Dewa menyesap aroma Zahra rakus diantara ceruk leher, kemudian tangannya yang tak bisa diam menyentuh spatula dan mengaduk-aduk masakan Zahra dengan posisi menempel di belakang istrinya itu.



"Iya dong, kaya mertuanya!" seru Ica jumawa membuat Ganesha dan Jihad yang baru saja keluar menyusul tak bisa untuk tak mendengar.



"Yang wangi masakannya tapi idung kamu nyasar ke leher aku! Modus!" gerutu Zahra.



"Kamu awas ih, bapak-bapak mah ngga usah ikut-ikutan. Kalo kata umi, kebanyakan tangan suka jadi ngga enak..." tegur Zahra menepuk punggung tangan Dewa.



"Aku belum bapak-bapak, tuh yang bapak-bapak mah...yang baru keluar dari ruangan! Mukanya itu loh awet tua!" tunjuknya pada daddy Ji dan Ganesha.



"Sembarangan!" balas Jihad, sementara Ganesha memilih membiarkan saja, daripada harus ikut gila.



"Oh iya, kamu kan suami-suami pecicilan ya!" tawa Zahra. Dewa menjiwir hidung Zahra dan agak sedikit menariknya, "biar mancuuuung!" membuat perempuan ini membalasnya dengan menjambak rambut suaminya itu, "biar rontoookkk!"



"Awas dulu ih! Itu gosong masakan aku!" teriak Zahra melepas cengkraman tangannya di rambut Dewa.



"Sini biar chef Sadewa yang aduk, gini nih cara ngaduk yang bener, biar masakan lebih top!" jumawanya meraih spatula.



"Adek cantik liat abang!" ucapnya mendapat kekehan dari Jihad dan Ganesha, "so-so'an adek!" decih Ganesha.



Dewa mengaduk-aduk sesuka hatinya terkesan berantakan, sontak bumbu ayam Woku terciprat-ciprat, ia juga berniat mencicipi bumbu itu langsung dari spatula ke telapak tangannya layaknya Rudy Choerudin, namun naas karena terlalu excited ia lupa jika spatula dan bumbu itu masih sangat panas.



*Grombyank*!



*Pluk*!



"Ha-ha-ha!" Ganesha, Jihad dan Ica tertawa, sementara Zahra langsung menggembungkan pipinya kesal.



"Abang ih! Tuh kan jadi tumpah, berantakan, spatulanya jatoh! Ayamnya lompat, bumbunya berantakan. Pake so-soan chef-chef'an! Panas kan! Rasain, awas ah! Abang pengacau," omelnya gemas, ia bahkan sampai menjewer kuping Dewa, suaminya itu begitu pecicilan, centillll! Kaya cimoy! Segala dimainin.

__ADS_1



"Senjata makan tuan, abang bro?!" kekeh Ganesha ditertawai Jihad, "kualat dia, bilang daddy awet tua, masa ganteng begini disebut awet tua!"



"Aduhhhh! Pusing momy mah ahh!" seru Ica.



"Abang sana ah! Tunggu aja beres! Malah ganggu," ketusnya sewot. Bukannya sakit hati, Dewa malah tertawa, "kesalahan teknis sayang..."



"Udah--udah abang duduk aja, nambah-nambahin kerjaan tau ngga, daddy iket dong dad anaknya ih!" Zahra mematikan kompor dan mendorong Dewa dari dapur agar tak merecokinya masak.



Dewa tak kehabisan akal untuk bermanja-manja ria dengan Zahra, disaat istrinya itu memintanya untuk pergi, ia malah berbalik dan menggendong Zahra layaknya sekarung gabah, hingga Zahra terjerit-jerit.



"Aaa... abang ih! Aku lagi masak! Momyyyy! Abang Dewa mii!"



"Ampunnn! Rumah rame kaya nampung orang sekampung!" desis Ica melanjutkan pekerjaannya.



Jihad tertawa melihat Ica mengomel-ngomel, sementara Ganesha ikut bahagia melihatnya, ia memutuskan untuk duduk di teras belakang saja melanjutkan pekerjaannya.



Zahra memasukkan beberapa pakaiannya, lebih tepatnya kaos tanpa sepengetahuan Dewa. Ia juga memasukkan alat mandi dan handuk juga charger ponsel. Diliriknya ke arah belakang, dimana kamar mandi masih terdengar gemericik air tanda jika Dewa masih mandi disana.


Ponselnya tak berhenti berdenting tanda begitu banyaknya pesan masuk, sekilas Zahra melirik puluhan notifikasi dari grup suster keramas, dan beberapanya adalah keluhan teman-teman perawat yang akhirnya harus mondok di rumah sakit dan lembur, itu artinya kemungkinan besar ia pun begitu.


Suara engsel pintu dibuka mengejutkan Zahra yang segera menarik resleting tas dan menaruh ponselnya.


"Sini aku keringin rambutnya!" Zahra menepuk-nepuk kasur sampingnya dan meminta suaminya itu mendekat.


Dewa meraih t shirt dan memakainya cepat, ditatapnya wajah Zahra yang sibuk menggosok-gosok rambutnya telaten.


"Abang ngga niat cukuran? Eh jangan deh! Ilang dong Sadewanya, aku suka abang yang gini, tapi jangan terlalu panjang juga nanti ngalahin aku!" tawanya renyah.


Cup!


"Abang kalo keluar jangan lupa maskernya double, jangan bersentuhan sama orang lain. Jarak aman, mulai sekarang ngga usah banyak nongkrong-nongkrong dulu," pesannya.


"Siap sus.." kembali ia mengecup bibir yang menjadi candunya membuat si empunya bibir melemparkan tatapan tajamnya.


"Aku tunggu jam 3," ucap Dewa, karena baginya waktu ngapel ala-ala mereka ya jam 3 dini hari.


Zahra mengulas senyuman, "abang tidur aja, aku ngga bisa janji bisa telfon jam berapa nya..." ia sudah benar-benar menahan air mata yang sudah menumpuk, dan segera beranjak dari sana agar Dewa tak bisa melihatnya berkaca-kaca.


"Udah ah! Aku takut telat." Balasnya menggerutu sambil melengos mengusap ekor mata.


"Pokoknya telfon aku kalo sempet, aku pasti bangun!" ucap Dewa.


"Iya," tukasnya cepat.



Dewa tertidur nyenyak malam ini, begitupun ponsel yang ia taruh di samping bantal, tak sekalipun berbunyi tanda jika Zahra memanggil.



"Suster Zahra! Brangkar pasien barak A apa masih ada?"



"Penuh! Tapi Kak Mia sama Mawar lagi ambil velbed darurat buat buka barak baru suspect covid!"



*Howekkk*!!



Zahra segera menjauh dari jangkauan muntahan pasien yang berada di dekatnya, untung saja ia memakai celemek khusus agar tak langsung terkena cairan atau droplet pasien.



"Bapak, masih mau muntah?"



Lelaki yang terlihat lemah ini menggeleng, "engga sus. Maaf..."


__ADS_1


Zahra segera mengurus pasien yang kian hari kian menumpuk di RSCM.



Lelah, sudah pasti! Mengantuk, lapar, haus, sesak, gerah, pegal-pegal sudah tak ia hiraukan lagi.



"Ra, istirahat dulu gih! Kasian kamu belum istirahat, ini udah jam 4 loh Ra. Jangan nanti kamu sakit," ujar dokter Arfan.



"Iya dok, ini tanggung sebentar... Kasian ventilatornya copot karena muntah," jawab Zahra, dibalik baju hazmat itu sudah tak terhitung peluh yang mengucur.



Belum ia selesai, sebuah decitan roda di dorong dari ruang IGD menuju barak A.



"Pasien kondisi gawat, di IGD ada 4...minta status ruangan?!"



"Penuh! Coba barak B!"



"Suster, ini oksigen habis!"



Tak ada perawat yang menganggur disini, semua sibuk dengan pekerjaannya.



"Ra! Kamu belum istirahat juga? Yang lain udah giliran, sana takut kamu sakit nantinya!" kak Mia berujar cepat seraya membawa pasokan oksigen.



"Dok, stok oksigen di apotik rumah sakit habis..kemungkinan nanti keluarga pasien diminta bantu cari juga,"



"Kabari setiap keluarga pasien dengan gejala berat,"



Diantara kehebohan dan derai peluh juga rasa lelah yang terus menguras energi, rasa humor dan mood ikut menurun drastis. Otak mereka sudah mulai berkurang konsentrasinya.



"Njiir! Pasien makin sini makin bertambah!" ujar Ilham frustasi duduk di lantai keramik koridor bangsal, bahkan sejengkal ruang yang ada di dalam gedung rumah sakit begitu berharga untuk dianggurkan.



Dani yang terduduk dengan menekuk lututnya dan menenggelamkan kepala menjadi pemandangan selanjutnya, dengkuran halusnya menandakan jika ia benar-benar tertidur saking lelah.



Mata Ineke bahkan sudah berkaca-kaca di balik kacamata dan faceshield, "gue capek! Gue pengen pulang, haus! Rasanya sekuat apapun gue berjuang, pasien disini bukannya berkurang malah makin banyak!" suaranya bergetar.



"Sshhhh---" mbak Ninung memeluknya, Zahra hanya bisa diam melihat pemandangan yang membuat matanya memanas, sekujur badan yang telah letih itu kini duduk di samping rekan sejawatnya, apakah lambat laun mereka pun akan berganti status? Dari perawat jadi pasien?



"Mbak, kayanya mbak ngga usah lembur, kasian anak-anak di rumah..." ucap Zahra.



"Kita semua sama disini, Ra. Ngga apa-apa, keluarga mbak sudah tau resikonya," jawabnya menenangkan juniornya.



"Kamu sudah kabari suami kalo hari ini ngga pulang?" tanya Mbak Ninung, Zahra menggeleng.



Sejujurnya, ia berat harus mengabari Dewa. Dengan ragu, Zahra mengambil ponsel yang terbalut plastik dan mengetik pesan.



*Assalamu'alaikum sleeping charming....maaf ya, hari ini aku ngga pulang dulu! Baik-baik disana jagoan*.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2