My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
SIAP MENGACAUKAN HARI


__ADS_3

Berkali-kali pipi chubby itu menggembung, entah se-berapa sering oksigen yang bertukar dengan karbondioksida dari mulut Zahra dalam beberapa menit ini, mungkin kali ini ia benar-benar butuh pasokan oksigen banyak, karena rasanya ia begitu gugup, butuh menghirup oksigen lebih banyak dari biasanya.


Ia kembali menghirup udara dalam-dalam dan rakus, kembung-kembung deh tuh!


"Lo kenapa Ra?" tanya Defia memperhatikan ketegangan gadis ini berulang kali saat ia masuk meminta lotion untuk kulitnya agar tak kering dan berisik saat tersentuh, biar kenyel-kenyel glowing! Kebetulan miliknya telah habis dan ia belum sempat membelinya lagi.


"Lagi latihan niup balon, siapa tau bisa gantiin pompaan balon PIN polio," jawabnya, Defia menyemburkan tawanya.


"Emang bikin gugup siii kalo mau ketemu camer sama calon suami, apalagi udah lama ngga ketemu, bawaannya terlalu excited!" ia mengusapkan lotion Zahra tanpa belas kasihan, mumpung gratis ye kan! Defia hanya terkadang tak habis pikir, berapa gaji perawat seperti Zahra...rasanya barang-barang di kamar ini cukup bikin kantong batuk rejan, kaya kena tbc.


"Iya kayanya," jawab Zahra menggidikkan bahunya acuh.


"Ra, gue penasaran deh! Bau-baunya lo tuh orang kaya!" celetuknya menutup botol lotion milik Zahra, menyudahi acara minta tak berbudinya. Dari pantulan cermin ia menatap Defia, bau orang kaya memang kaya gimana? Apakah bau asem sepet lembaran uang baru?


"Ck, dulu lo ngga percaya, dibilangin gue anak juragan kopi!" jawab Zahra, mungkin memang dasarnya Zahra adalah gadis yang senang bercanda, jadinya teman satu kost tak percaya jika ia sedang berkata jujur.


"Cih," Defia berdecih membuat Zahra memutar bola matanya, "kan ngga percaya, ya udinnn..."


Zahra merapikan kembali pakaiannya yang sebenarnya sudah rapi, hanya saja ia merasa belum cukup siap bertemu dengan tante Ica dan Ganesh.


Suara klakson mobil terdengar di halaman kost Zahra, membuat kedua gadis ini menyudahi obrolan unfaedahnya.


"Tuh jemputan datang, Ra. Ciee---orang kaya, kenalin kite napa Ra sama orang kaya, kali aja berbakat jadi nyonya!" ujar Defia menaik turunkan alisnya seraya mesem-mesem jijay, ia beranjak keluar diikuti Zahra. Gadis ini pun sudah meraih sepatu karena sebentar lagi sudah harus pergi untuk mencari sesuap nasi di toko punya orang.


Tawa Zahra serenyah wafer coklat mendengar ucapan Defia, seraya mengunci kamar ia memakai flatshoes miliknya yang barusan ia tenteng dari rak sepatu kecil di kamar.


Zahra menyibakkan rambut panjang yang sengaja ia gerai begitu saja tanpa jepitan ataupun ikatan, nampak indah hitam legam nya rambut abi Zaky.


Kedua gadis ini keluar dari kost'an, melihat sebuah mobil dengan seorang pria yang sudah beberapa hari ini tak ia temui sedang berdiri di depan kap mobilnya, menanti Zahra. Tidak dengan stelan jas dan celana sopannya, hanya kemeja lengan panjang berwarna navy dan celana katun, sedikit lebih santai ketimbang outfit yang biasa ia pakai.


Ada seulas senyuman lebar dari wajah Ganesha untuk Zahra.


"Cieee..." sikut Defia.


"Yang ini emang lebih kalem, Ra. Tapi kok aku lebih sreg yang pake motor, kayanya lebih caur!" bisik Defia, mendadak senyuman Zahra berubah jadi getir mengingat Dewa.


Umi, Zahra harus gimana? Ia sudah terjebak diantara si kembar kembara nakal. Zahra memegang dadanya sendiri, merasa jika semua ini salah. Seharusnya ia jatuh cinta pada Ganesha, karena pria inilah yang dijodohkan dengannya....


"Sana samperin, kalo gitu gue duluan! Jangan lupa, titip martabak!" tawa Defia setengah berbisik.


"Duluan bang," sapanya mengangguk dalam sekaligus pamit pada Ganesha, Ganesh mengangguk ramah pada Defia yang mulai menyalakan motor matic miliknya dan pergi dari sana.


"Hay, udah berapa hari ya kita ngga ketemu?" sapa Ganesha. Entahlah! Zahra sampai tak ingat kapan terakhir ia bertemu atau sekedar berkabar dengan Ganesha.

__ADS_1


Seperti biasa, lelaki ini memang selalu mentreat orang lain dengan ramah, Ganesha membukakan pintu mobil untuk Zahra.


Gadis itu menggeleng, "lupa," katanya meringis.


Nesh, kita batalin perjodohan. Aku suka sama Dewa!


Kamvvret lo Ra, bughh---bughh!


Atau


Nesh, perjodohan kita batal. Aku sayangnya sama Dewa, gimana dong?!


Srekkk! Srekkk! Ganesha langsung mengasah pisau dapur dengan tatapan jahatnya.


Zahra memejamkan mata, mencoba membayangkan visualisasi beberapa menit berikutnya, kok ngeri ya! Biasanya kan yang pendiem lebih menyeramkan, ia segera mengenyahkan pikiran buruk itu.


Sepanjang memasuki mobil yang cuma 3 langkah saja otak Zahra sudah berkelana kemana-mana, sepertinya bicara di dalam hati memang lebih mudah karena lidahnya terasa begitu kelu untuk mengatakan itu, seperti mendadak lumpuh. Hanya 2 kalimat tegas namun terasa bak memikul beban Atlas, begitu berat!


Setiap detiknya bersama Ganesha hanya kekakuan yang dirasakan Zahra, bahkan sejak tadi jantung Zahra berdegup kencang bukan karena merasakan vibes, namun merasa tak nyaman saja. Kedua tangannya sampai berkeringat tak jelas, bahkan rasanya pan tatnya mendadak mengalami ambeien.


"Nesh,"


"Ra,"


"Ladiest first," ucap Ganesha.


"Aku..cuma mau nanya...." Zahra menggantung ucapannya membuat Ganesha melirik sekilas dengan dahi berkerut.


"Nanya apa?"


"Kamu----" Zahra membalas tatapan Ganesha, ada rasa bersalah yang begitu mendalam jika ia bertanya dan melanjutkan isi hatinya, tak terbayang Ganesha yang baik harus ia sakiti belum lagi keluarga Dewa dan Ganesha. Sehari saja, tak bisakah ia menjadi orang jahat? Minimalnya, pinjamkan hati tega milik Dewa untuknya hari ini, berikan keberanian untuknya, tapi Zahra se-tidak tega itu pada Ganesha.


"Kamu...apa kabar?" ia benar-benar pecundang sejati, Zahra meleyot di sandaran mobil.


Ganesha tertawa kecil, "kirain apa. Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana? Beberapa hari ngga ketemu aku, ngapain aja?"


Ngurusin Dewa, jatuh cinta sama Dewa. Arggghhhh!


Mungkin Ganesha tak tau di dalam sana hati Zahra sedang berperang hebat, makanya bau-bau api peperangan. Apakah secepat itu Zahra jatuh cinta? Tidak! Jawabannya adalah secepat itu Dewa membuat Zahra nyaman, menjadi dirinya sendiri tanpa kekakuan, merasa dihargai dan dibutuhkan, karena yang baik akan kalah dengan yang bikin nyaman dan bikin ketawa tiap hari.


"Baik, alhamdulillah. Ya--gitu-gitu aja ngga ada lagi cuma ngurusin pasien."


"Oh," jawab Ganesh singkat, hanya itu. Jika Dewa mungkin sudah nyeroscos berisik kaya sirine damkar dan ujung-ujungnya bikin Zahra ketawa lalu keduanya berdebat panjang sepanjang bulu ketek buto ijo.

__ADS_1


🍃 Di rumah sakit tempatnya orang-orang sakit pada kumpul.


"Lo telfon gue, bilang darurat, ganggu gue yang lagi kroscek lapangan cuma buat nyariin dokter terus paksa dia biar lo bisa pulang sekarang?! Lo saravv!" cerca Lendra, lelaki ini bahkan sudah rapi dengan stelan kemeja jas dan sepatu mahalnya. Axel hanya bisa mengulum bibirnya di belakang Lendra melihat kelakuan atasan dan Dewa yang sudah seperti tumor dan kanker, kembar tapi tak seiras, kenapa harus kanker dan tumor? Karena sama-sama bikin orang lain ngelus dada, kehadirannya bikin orang semaput bahkan sekarat. Jika ia akan dipusingkan dengan Lendra saat Armillo mencari keberadaan putranya itu, ia sudah tau Lendra pasti berada bersama Dewa.


"Tolongin gue lah Ndra, gue mesti pulang sekarang. Dari awal kan lo yang ngurusin admin, jadi mohon bantuannya kaka!" mohon Dewa terkikik.


"Tau gitu gue suruh si Miki kesini, buat urusin atasannya!" decak Lendra mendengus, tangan yang semula masuk ke dalam saku celana kini meraih ponsel di dalamnya.


Dewa mendelik, "ohh, pantes! Gue udah curiga, kalo si Guffy bawaan lo, ngga mungkin si Ganesh kenal sama makhluk bawah tanah gitu kalo bukan dari lo, lo biang keroknya!" tunjuk Dewa menuduh.


Lendra tertawa, "gimana, cocok bang?"


Dewa menendang selimut di atas ranjangnya hingga jatuh teronggok di lantai, "si alan lo!"


"Ada urusan penting apa lo sampe maksa balik?" tanya Lendra.


"Gue mau ngobrak-abrik hubungan Ganesh sama Zahra!" sengaknya, Lendra kembali tertawa, "emang abang lak nat nih orang. Salah lo sendiri, awalnya lo yang nolak dijodohin sama Zahra sekarang giliran Zahra sama Ganesh lo mau rebut, emejing! Minggat sana lo ke neraka," ucapan Lendra memang terdengar begitu keji tapi memang pada kenyataannya seperti itu.


"Emang. Karena gue mau Zahra! Gue suka, gue sayang sama dia."


"Really?" tanya Lendra memastikan, pasalnya di jidat Dewa tertulis jika ia adalah seorang playboy, tukang mainin perasaan wanita, penuh tipu daya.


"Gue ngga pernah se serius ini Ndra, buru kamvrett! Mereka mau ketemu momy buat ngomongin rencana pertunangan, sebelum kabar ini sampe ke telinga keluarga Zahra," jelas Dewa begutu ngotot plus sewot.


"Oke." Angguk singkat Lendra.


"Sekali lagi kita gemparkan dunia dengan teriakan momy Ica, kita kacaukan hari-hari sibuk kota Jakarta." Lendra menekan tombol calling.


"Apa dokter Farhan sudah datang?"


(..)


Ada seulas senyuman di bibir Lendra, "bisa saya ke ruangannya sekarang?"


Lendra mengangguk paham, "lo siap-siap, buka baju pasien lo itu. Mau ngacauin hari pake baju gituan, bad idea brother!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2