
Sekitar 3 jam perjalanan pesawat Dewa akhirnya sampai di Jakarta, ia langsung pulang ke rumah. Raganya sudah begitu lelah, ditambah rindu yang semakin menggebu berasa pengen langsung peluk guling. Enak saja, karena pekerjaannya ini ia harus menunda acara lamaran dengan Zahra, kali ini tak boleh ditunda-tunda lagi, takut jika keluarga Zahra berubah pikiran. Dewa sudah membayangkan harus memakai jas mana, kemeja mana rasanya tak ada jas dan kemeja yang baru di lemarinya, haruskah ia membeli yang baru? Tapi kan belum lebaran! Untuk ukuran orang kaya Dewa sedikit pelit. Entah ajaran sesat mana, yang jelas pasti bukan dari keluarga Jihad.
"Asaalamu'alaikum!"
Momy Ica tersenyum getir dengan kedatangannya, "wa'alaikumsalam. Udah pulang...momy bikinin minum ya," Ica melengos ke dapur membuat es teh manis lemon favorit Dewa.
"Kamu pasti cape, langsung istirahat aja," ucap Ica, sadar ada yang tak beres Dewa mengerutkan dahinya, "mii, ada apa?"
Ica sudah berusaha begitu kuat tapi tetap saja, melihat putra pertamanya itu kesedihan kembali membayang, ia lantas menumpahkan segala kesedihan dengan menghambur memeluk Dewa.
Dewa sontak terkejut sampai melepaskan pegangan dari koper miliknya, jarang sekali bahkan ia pun tak ingat kapan ibunya ini melow-melow begini terhadapnya, "kenapa?!"
"Mi, Dewa ngga kemana-mana, ngga kenapa-napa juga...sehat wal'afiat...apa selama itu sampe momy mewek gini ditinggal Dewa?" kekehnya menyebalkan, tapi Ica tak ada niatan untuk membalas kelakar putranya itu.
"Ca..." Kara yang baru saja datang dan tau dengan masalahnya terlihat berwajah khawatir nan panik.
"Ada apa tan?" tanya Dewa membeo, ia bahkan sudah membalas pelukan ibunya yang memeluk Dewa erat tanpa mau melepaskan putranya itu dengan bahu yang bergetar karena menangis.
Kara hanya mengulas senyuman getir seraya mengusap lembut punggung Ica memberikan kekuatan.
"Ganesha..." bisik Kara, membuat Dewa menautkan kedua alisnya tak mengerti, entah efek jetlag atau memang otaknya yang sudah limit dengan urusan pekerjaan dan Zahra.
"Ganesha dibawa ke kantor polisi," ujar Ica bergetar.
"Apa?"
"Kok pulang dari proyek anak momy jadi budeg gini?"
"Bukan gitu mii, maksud Dewa seriusan?" tanya Dewa memastikan.
"Ganesha terbukti ada kaitannya dengan pak Difta, Wa. Semua bukti mengarah ke Ganesha atas dugaan korupsi uang perusahaan...ya walaupun Ganesha bukan korup uang proyek Miracle, tapi Ganesha membantu pelarian dan menyembunyikan tersangka, selain itu Ganesha juga yang mendanai hidup pak Difta selama bersembunyi dengan menggelapkan uang perusahaan," jelas Kara, Ica semakin sesenggukan ia mengeratkan pelukan pada Dewa seolah mencari tumpuan.
"Mi, Dewa yakin daddy, om Milo, sama om Raka dan yang lain pasti ngga akan diem..." ucap Dewa mencoba menenangkan sang ibu. Dewa sudah berusaha semampunya untuk menolong Ganesh, tapi memang sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, begitupun Ganesha, hanya saja ia bingung sejak kapan adiknya berubah jadi seekor tupai. Sebagai seorang kakak ia pun tak bisa menolong Ganesha terus menerus, Ganesha memang perlu belajar bertanggung jawab.
Kara mengangguk, "daddy kamu sama yang lain lagi ngurusin masalah ini,"
Dewa meloloskan nafasnya lelah, berkali-kali ia mencoba menyadarkan adiknya itu, tapi rupanya hanya sebuah akibat yang mampu menampar Ganesha, setidaknya Ganesh akan jera setelah kejadian ini.
"Momy duduk dulu," pinta Dewa karena sejujurnya ia pun pegal dan letih, belum sempat duduk dan istirahat sudah harus dihadapkan dengan kondisi rumah yang sedang tak kondusif. Momy Ica tetap tak bergeming, hingga akhirnya Dewa menggendong momy'nya itu langsung ke kamar kedua orangtuanya, "momy sambil rebahan aja di kasur deh mi,"
"Momy mau ketemu Ganesh, Wa..." pintanya.
Dewa menggeleng, ia menurunkan momy'nya di kasur lalu menyelimuti kaki Ica setelah sebelumnya membuka sandal rumah ibunya itu, tak ada kecanggungan di diri Dewa menyentuh kaki sang ibu dan memijatnya lembut, bukankah surga ada si telapak kaki ibu, apapun jabatan sang anak.
Kara menyusul dengan membawakan teh manis hangat dengan lemon.
Dewa mengusap air mata sang ibu, "Mi, momy tunggu di rumah aja dulu...kalo daddy bilang momy tunggu, momy ngga usah ngeyelan...hidup bareng-bareng yang udah puluhan tahun, harusnya momy udah kenal daddy seperti apa, apa yang mustahil buat daddy? Kalo daddy bilang Ganesha bisa pulang dalam waktu dekat, maka Ganesha bakalan pulang mi," jelas Dewa.
__ADS_1
"Bawa adik kamu pulang. Selama ini yang selalu momy khawatirin tuh Ganesha...yang selalu momy pantau Ganesha, bukan karena momy pilih kasih...tapi momy selalu menganggap abang Dewa itu sudah memiliki semua yang ada di diri daddy...sejak dulu abang Dewa terlihat nakal...pembangkang, absurd, tapi itu yang membuat orang-orang suka sama kamu, momy tuh ngga pernah takut kamu keluyuran malam, karena kamu punya semua keberanian! Kamu itu bukan damage...tapi kamu itu selalu bisa diandalkan...beda dengan Ganesha, dia tuh terlalu baik dan naif, gampang dimanfaatin orang...dia introvert terkesan dingin bikin dia ngga pernah punya banyak temen dan kenalan, dia hangat tapi mudah rapuh, beda dengan kamu yang punya jiwa tangguh..."
"Tapi di setiap do'a momy selalu terselip nama kalian berdua...cuma pengen kalian hidup bahagia," baru kali ini momy Ica menumpahkan isi hatinya sepanjang ini pada Dewa.
"Iya mi, Dewa ngerti..." Ica kembali memeluk putra pertamanya itu.
Lelaki itu menepuk-nepuk punggung ibunya hingga Ica terlelap dalam isakan.
"Tan, titip momy sebentar..." ucap Dewa, bahkan ia belum sempat membuka jaket yang membalut tubuhnya.
Kara mengangguk, "iya."
Dewa melepaskan dahulu jaketnya, menaikkan ikatan rambut yang sudah melorot agar sedikit kencang, lalu merogoh ponsel demi menghubungi seseorang. Seseorang yang begitu dirindukan dan belum ditemuinya selama 4 hari ini.
Senyum Dewa berganti meredup saat Zahra tak jua mengangkat panggilan darinya.
"Si gendut sibuk kayanya...nanti aja gue coba telfon lagi..." ia kembali memasukkan ponselnya, tapi baru beberapa detik ia memasukkannya, ponsel Dewa bergetar, pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Hallo cewek!" sapanya.
(..)
Zahra menutup panggilannya pada Dewa, meloloskan nafas lelah. Sepertinya acara lamaran akan kembali tertunda dengan kasus yang menimpa Ganesha, padahal tadinya ia ingin meminta Dewa mempercepat lamaran khawatir ke depannya ia akan begitu sibuk di rumah sakit mengingat kenyataan bahwa dunia sedang menghadapi sebuah pandemi virus, dan ia sebagai tenaga kesehatan sudah pasti menjadi garda terdepan perang medis (biologis) ini.
Sebuah berita mencengangkan, membuat satu tanah air cukup terkejut, kini virus yang telah memakan ribuan korban itu telah sampai di bumi pertiwi. Penerbangan dari dalam dan luar negri resmi ditutup oleh pemerintah tanah air.
"Ra!" Nadine menepuk pundak Zahra membuat gadis itu terkejut.
"Astagfirullah, ngagetin ih!"
Nadine tertawa di balik maskernya, "jangan bengong disini...nanti kesambet, yok mangan yok! Jangan nanti malah susternya yang pada sakit," ajaknya, diangguki Zahra.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jihad pulang meski tak bersama Ganesha. Pengacara keluarga mengatakan jika Ganesha harus menginap beberapa malam disana sebagai formalitas pemeriksaan, seraya ia yang mengurus berkas demi membebaskan Ganesha dari jerat hukum.
Deru mesin mobil terdengar, Ica yang tidak bisa tertidur nyenyak langsung bangkit dan menghambur ke arah sang suami, ia celingukan ke arah belakang Jihad, hanya ada Armillo saja.
"Ganesh mana bang?" tanya nya dengan wajah sembab dan pucat.
Jihad menangkup wajah yang masih tetap terlihat chubby baginya, "bakwannya gue udah makan?"
Ica kembali terisak, "Ganesha ngga pulang ya bang? Abang Dewa udah pulang, terus anak aku satu lagi mana?" seakan air matanya tak ada habisnya.
"Ganesha masih harus mondok di kantor polisi beberapa hari...anggap aja dia lagi di hotel sambil inteopeksi diri," jelas Jihad mengendurkan dasi dan melepas jasnya, menyampirkan di lengan.
"Aku ngga ngerti bang, apa sih yang ada di otak Ganesh..."
"Mii...Mi udah ya," Dewa ikut bergabung.
"Kalo udah kaya gini, yang susah kan bukan cuma dia sendiri! Dia mikirin orang lain bang, tapi dia ngga mikirin perasaan aku bang," lirihnya.
"Iya. Makanya, biarin dia disana buat belajar..." jawab Jihad.
"Tapi dia udah makan belum bang? Abang beliin Ganesha makan kan? Disana ada bantal, selimut sama kasur kan bang?"
.
.
.
__ADS_1
.
.