My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
RESTUI LANGKAHKU, BANG...


__ADS_3

Dewa bangkit dari posisinya dan melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Zahra tanpa bicara sepatah katapun lagi setelah itu, apakah ini kali pertamanya ia merasa jengkel? Tapi pada siapa ia harus melampiaskannya? Dewa menyalakan shower demi menyirami tubuhnya terutama kepala yang terkena efek kesal, cemburu, kecewa. Wajar, ia hanya seorang manusia...laki-laki egois yang ingin memiliki istrinya sepenuhnya.


Siapa pula yang menaruh si co vid di negeri ini? Apa perlu Dewa samperin terus ia gebukin sampe babak belur?!


"Abang," Zahra kini berada di balik pintu kamar mandi, menyenderkan kepalanya. Rupanya begini marahnya seorang Dewa. Suara lembut itu seketika mendobrak jiwa angkuh Dewa, membuatnya luruh di atas lantai kamar mandi.


Zahra menunggu keputusannya, ia memainkan kedua kuku telunjuknya yang bersih tanpa sentuhan nail art ataupun hena sambil tetap berdiri disana, hanya terdengar gemericik air saja dari dalam sana, apa yang sedang Dewa lakukan?


"Sejak awal kamu nyatain perasaan sama aku, kamu sudah tau resikonya...aku adalah tenaga kesehatan, aku ngga seperti perempuan lain yang bisa nempelin kamu kemanapun, dimanapun setiap waktu, kamu akan ku'nomor duakan meski bukan berarti kamu itu ngga penting, kamu sangat penting buatku Sadewa, sejak diucapkannya ijab kabul kamu adalah imamku, apapun yang kamu ridoi itulah jalan yang akan kuambil..." Zahra seolah berbicara dengan pintu saat ini, tapi ia tau jika Dewa sedang mendengarnya saat ini.


"Tapi ada saatnya kamu harus ikhlasin langkah aku buat mengabdi..." nada bicaranya semakin melemah. Zahra menimbang-nimbang resiko jikalau ia sampai terpapar, adalah nyawa taruhannya, bukan hanya nyawanya namun nyawa orang sekitar. Jika kedua abangnya berjuang melawan musuh yang terlihat secara kasat mata lain hal dengan Zahra, melawan organisme kecil yang bahkan tak bisa dilihat dengan mata telan jank. Bukan dengan granat bukan pula tembakan.


Shower terdengar dimatikan disana, membuat Zahra menatap lurus ke arah pintu kamar mandi, berharap Dewa akan menjawabnya, meskipun hanya sekedar berdehem, ya ataupun tidak.


"Restui langkahku bang..." cicit Zahra berat berucap.


Dewa memejamkan matanya seraya mengusap butiran air di kulitnya dengan handuk. Berulang kali dering di ponsel Zahra berbunyi membuat Zahra tak tenang, tapi ia hanya melirik saja tanpa berani mengangkat panggilan ataupun sekedar meraihnya.


Dewa yang masih terdiam disana meloloskan nafasnya lelah, sabar dan ikhlas itu memang sulit...dan saat ini ia sedang belajar itu.


Ia memantapkan hatinya, merelakan belahan jiwa pergi berjuang itu begitu sulit, jikalau boleh memilih ia akan memilih Zahra hanya menjadi ibu rumah tangga saja, menunggunya di rumah, mengurus dirinya dan anak-anaknya kelak.


Pintu terbuka perlahan, menyuguhkan pemandangan lelaki yang tampak segar dengan rambut acak-acakan dan basah.


Cup!


Dewa menangkup wajah Zahra dan mengecup keningnya lama, "Aku ijinin kamu," meski dengan berat hati, Dewa akhirnya meloloskan kalimat itu.


Zahra memeluk tubuh segar Dewa, aroma sabun maskulin begitu menusuk penciumannya, dan mungkin akan ia simpan di memori terdalam otaknya sebagai obat rindu dan lelah.


"Maafin aku yang ngga bisa kasih kamu kado pernikahan, malah ninggalin kamu...aku ninggalin kewajiban aku sebagai seorang istri buat urusin kamu," ujar Zahra, suaranya sudah bergetar, hari ini tak semudah hari kemarin, dimana untuk mengabdikan diri pada masyarakat rasanya begitu berat.


"Hm, makanya jangan lama-lama...kamu betah amat di rumah sakit, kamu tega ninggalin aku cuma sama Lendra atau Miki?" Zahra terkekeh dan menyerot cairan bening yang hampir meluncur keluar dari hidung. Rupanya perempuan ini sudah menangis.


"Kamu jangan main serong, jaga hati...jangan banyak main sama Melody atau cewek-cewek lain lagi, aku ngga suka...takut kamu selingkuh!" imbuh Zahra terang-terangan. Ia tak mau ada drama Dewa yang mencari kasih sayang atau perhatian di luar saat ia sedang berjuang.


Dewa menggeleng, "masa baru nikah sehari udah main serong, lagian hati aku udah diambil semuanya sama suster keramas, dapetinnya aja susah, harus ngadepin 2 gatot kaca dulu.." tawanya sukses membuat Zahra mencebik, suaminya sendiri menyebutnya suster keramas, karena saban waktu keramasan, "yang bikin aku jadi suster keramas beneran ya kamu lah!" kini Dewa yang tertawa.

__ADS_1


"Janji? Hati kamu cuma buat aku," Zahra mengulurkan kelingkingnya, kini ia takut jika Dewa akan macam-macam mengingat treck record suaminya itu adalah playboy sableng.


Netranya menatap jelas kelingking Zahra yang ia goyangkan lalu menautkan kelingkingnya disana, "janji kelingking..."


"Aku ambilin baju ya," Zahra melakukan tugasnya sebagai seorang istri sebelum nantinya ia akan bertugas.


"Kamu bisa pulang tiap hari?" tanya Dewa.


Zahra menggeleng tak yakin, "ngga yakin...tapi nanti coba kuusahain," Zahra menyingkirkan selimut dan meraih ponselnya, mengetik pesan demi membalas forum rumah sakit.


Ns. Cut Aisyah Zahra Ananta, S.Kep. Siap bertugas.


Dewa menatap lekat Zahra, belum apa-apa rindu ini kembali memeluk dan menyeruak di dalam rongga dada, bikin hati perih. Dipeluknya Zahra dari belakang dan didekapnya erat, "kamu harus selalu sehat! Aku ngga terima kalo kamu ikut sakit... aku bakalan tarik ijinku dan minta kamu pensiun dari profesi perawat kalo sampe kamu bikin aku kangen berat!" ancamnya kali ini menyesap aroma tubuh Zahra rakus.


Zahra mengangkat alisnya, "mana ada syarat kaya gitu..." kekehnya.


Acara menginap di hotel itu harus dipercepat dari rencana, keduanya pulang ke kediaman Ananta. Dewa memutar stir saat sampai di belokan blok perumahan.


Tit!


Zahra dan Dewa mengangguk.


"Loh, itu mobil siapa?" Zahra merasa asing dengan mobil yang terparkir di halaman rumah keluarganya.


Alis Dewa bertaut, merasa kenal dengan mobil yang dimaksud Zahra, ia terparkir rapi di samping mobil abi Zaky dan mobil dinas Rayyan.


"Momy?" gumamnya, sontak membuat Zahra memalingkan wajah, "momy Ica?" tanya nya.


"Iya, itu mobil momy...ngapain momy disini?" tanya Dewa balik, Zahra menggidikan bahunya tak tau. Emang emak-emak, ngga bisa nganggur sehari aja buat ngumpul-ngumpul, padahal situasi lagi pandemi gini, berasa punya cs baru.


Terdengar haha--hihi dari teras samping saat Zahra dan Dewa masuk, Salwa yang mendengar suara mesin mobil masuk menyerbu ruang tamu.


"Loh, ini kok udah balik lagi? Gimana seru?" pertanyaan yang ambigu, bikin wajah Zahra memerah malu.


"Umi apa sih nanya nya..." mati-matian Zahra menahan kedutan di bibir merasa malu.


"Hahay! Ini manten kok cepet banget baliknya, gimana belah durennya? Udah jadi belum calon cucu momy?!" Ica ikut bergabung disana.

__ADS_1


"Mii, kalau pun tokcer ngga langsung jangka waktu beberapa jam aja, dikira telor nyamuk!" jawab Dewa.


"Momy ngapain disini?" tanya Dewa duduk di sofa menggeser koper ke pinggir agar tak menghalangi jalan.


"Maenlah, ketemu besan!" jawab Ica santai.


"Abang, aku bikinin minum ya..." Zahra langsung melengos ke arah dapur, "abi mana mi?" teriaknya sayup-sayup kencang.


"Apa?!" lantas abi Zaky menyahut dari halaman belakang dekat dapur yang ternyata sedang bersama Rayyan disana.


"Kirain abi kemana?" Zahra mengambil kopi, gula beserta cangkir.


"Cepet amat baliknya, letoy apa gimana?!" tanya Ray vul gar.


"Idih! Enak aja, Dewa perkasa!" jawab Zahra tanpa tedeng aling-aling di depan abi. Dengan tak ada akhlaknya kedua anak Zaky itu tertawa bersama.


****


"Hay manten baru! Kok udah pulang aja?" Eyi yang baru saja keluar dari kamar menyapa keduanya, tanpa repot-repot memasukkan koper ke kamar Zahra menemani Dewa yang duduk di sofa dengan membawa secangkir kopi.


"Zahra harus nugas kak," jawab Dewa. Sontak pandangan mereka mengarah pada Zahra, "apa? Nugas? Nugas apa?" umi Salwa mulai sewot.


"Jangan bilang...." Eyi menatap keduanya bergantian.


"Mi, momy...Zahra minta do'a dan restunya buat..."


"Enggak!" sentak umi memotong ucapan Zahra, ia sudah tau kemana arah ucapan Zahra.


"Dewa, jangan bilang sama umi kalo kamu ijinin Zahra jadi relawan co vid?" tanya umi Salwa berharap jika menantunya itu akan satu kubu dengannya. Dewa diam tak bisa menjawab dan menatap ibu mertuanya itu, ia hanya meraih bahu istrinya dan mengusapnya lembut, seolah memberikan dukungan moril bagi Zahra. Zahra meneguk salivanya kering, sejak dulu umi memang paling tak terima jika ketiga anaknya harus bertugas terlebih tugas itu cukup berat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2