
"Eeuuuu!"
"Eeuuu!"
Keduanya berbalas sendawa, kemudian tertawa bersama, hingga membuat para penghuni kios nasi pecel bebek menganggap keduanya ngga beres, cuma sendawa aja senengnya kaya dapet lotre, kampungan, ck! Tak ada jaim-jaimnya sama sekali. Bahkan keduanya sudah tak segan saling cicip mencicipi milik satu sama lain dengan tangan, padahal menunya sama, yang buat juga sama, harga dan piring juga warnanya sama, lantas apa hang beda? Jawabannya dari tangan yang berbeda, mungkin Zahra abis ngupil jadi lebih gurih, atau Dewa yang bekas garuk ketombe jadi lebih asin.
"Ra, aku anter ke rumah kamu ya..jangan ke kost'an." Dengan mulut yang komat-kamit pedas karena sambal.
Alis gadis itu bertaut dalam, "kenapa? Biasanya juga ke kost'an. Aku lagi ngga mau pulang ke rumah abi sama umi, sepi...udah pada pulang, cuma ada umi sama abi...baru juga tadi pagi pergi dari sana,"
"Soalnya aku mau sekalian pamit ke luar kota, besok aku mau cek proyek. Jadi mau nitipin kamu sama keluarga kamu," jawabnya cerdas! Memang tak akan ada orang yang lebih cocok daripada keluarganya sendiri. Dewa belajar dari pengalaman, bahkan bersama calon ipar saja bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Maka pilihannya adalah menitipkan Zahra pada keluarganya sendiri.
"Tapi--" Zahra berniat menolak namun Dewa memotongnya.
"Oke, setuju ya!!" Dewa berucap sepihak membuat Zahra manyun, padahal biasanya apa-apa juga sendiri, ngga perlu dititip-titip kaya helm.
Dewa dan Zahra sudah berada di depan rumah Ananta.
"Sadewa? Masuk," ajak umi Salwa.
"Makasih tante," ia kembali masuk ke dalam ruang tamu, dimana beberapa hari yang lalu ruangan ini menjadi ruangan eksekusi untuknya. Untung saja ia tak kapok.
"Minum apa?" tanya Zahra menaruh tasnya sembarang.
"Air," jawab Dewa.
"Hey kisanat, dimana-mana minum ya air masa minyak atau karbol!" dengus Zahra mendelik.
"Kan kamu nanya nya minum apa, masa mau kujawab minum cairan...kalo kamu bawanya cairan pembersih toilet atau cairan infus gimana?"
Zahra menyipitkan mata dengan tanpa aba-aba ia menyarangkan kepalan-kepalan pelannya di badan Dewa hingga lelaki itu tergelak dan terjengkang diatas sofa.
Umi Salwa melihat tingkah kekanakan keduanya, rasanya kok ikut gemas saja, kepengen juga balik muda lagi!
"Bibi, coba tolong bikinin minum buat tamu,"
"Eh, ngga perlu mi! Biar Zahra aja yang bikin, mau Zahra taruh asam klorin di minumannya..." Zahra mendesis, menghentikkan pukulannya dan beranjak dari sana.
"Tumben banget kamu mau pulang kesini? Biasanya juga kalaupun umi sama abi di Jakarta kamu pulangnya ke kost'an?" cebik umi menemani Dewa, sementara Zahra melengos ke arah dapur.
"Dipaksa Dewa," jawabnya singkat sayup-sayup terdengar.
Dewa mengangguk singkat dan tersenyum sopan, "om Zaky kemana tante?" basa-basinya.
"Oh, ada. Barusan baru beres solat isya," jawab Salwa.
__ADS_1
"Gimana kabarnya bu Ica, pak Alvian?" tanya Salwa basa-basi.
"Baik tante, alhamdulillah. Masih waras buat ngadepin anak-anaknya," kekeh Dewa.
"Siapa mi?" Zaky yang mendengar suara laki-laki selain supir ataupun asisten rumah tangga, ikut melangkah ke ruang tamu.
"Malam om,"
"Malam, Sadewa..."
Zahra kembali membawa secangkir kopi membuat Zaky melayangkan protesnya, "Dewa doang yang dibikinin? Abi mana?"
"Abi kan ada umi, abi mau gituh jadi bahan percobaan Zahra? Ini kan kali pertama Zahra bikin kopi setelah yang kemaren-kemaren gagal..." Dewa mengangkat kedua alisnya tak percaya.
Salwa terkekeh, melihat ekspresi Dewa yang cukup terkejut. *Anak juragan kopi ngga bisa bikin kopi*?
"Malu-maluin, anak juragan kopi ngga bisa bikin kopi," oceh Dewa tanpa malu-malu.
"Emang anak tukang sendal harus bisa juga bikin sendal?" tanya Zahra balik bernada sengak setengah menantang.
"Sekarang aku tanya, bisnisnya om Jihad kan properti, nah kamu...apa bentukan kamu kaya griya tawang?" tawa Zahra.
Zaky melempar tatapan tak percayanya pada Salwa yang membalasnya dengan tawa, "sabar abang, Salwa suka Dewa...kalo sampai jodoh, itu artinya abang harus banyakin sabar, nambah lagi satu mantu berisiknya," bisik Salwa.
Dewa menyeringai, "beneran kamu mau tau?! Ada kok yang tegak dan berdiri nanti, mirip menara eiffel!" bisiknya. Lantas Dewa tertawa usil.
"Idihhh!" jerit Zahra, refleks ia mendorong wajah Dewa hingga lelaki ini terjengkang ke belakang.
*Gubrak*!
"Eehhh----"
"Zahra, itu anak orang kamu dorong sampe kejengkang gitu?!" seru umi.
"Awww," aduh Dewa.
__ADS_1
"Hahaha!" Zahra tertawa namun segera menolong Dewa.
"Ngga apa-apa umi, dia mah kebal sama sakit!" jawab Zahra.
Ngaler ngidul berbicara masalah bisnis dari ahlinya, Dewa tak sungkan banyak belajar dari Zaky, menerima saran, tips & triknya. Baru kali ini Zaky nyaman saat mendapatkan calon menantu, selain karena sesama lelaki, tapi pun satu frekuensi dengannya dalam hal pekerjaan, Dewa juga orangnya cepat akrab dan bisa membawa diri.
Netranya jatuh pada jam di pergelangan tangan, "udah malem om, tante, padahal sih pengennya sampe subuh. Sebenernya tujuan Dewa bawa Zahra pulang kesini, mau titip Zahra selama Dewa ke luar kota, bukan Dewa yang terlalu pelit buat nyuruh bawahan, tapi memang tak ada orang yang Dewa percaya selain dari keluarga Zahra sendiri," jelasnya.
Zaky tersenyum tipis, benar-benar tipis sampai orang tak bisa melihatnya dengan jelas. Keputusannya memang benar, pintar!
"Oh gitu, iya Dewa disana jaga kesehatan. Ngga usah pikirin Zahra disini, yang fokus aja kerjanya..." jawab umi Salwa benar-benar tersenyum senang, lain halnya dengan anak di sampingnya ada rasa getir dan terharu dari Zahra kali ini.
"Kapan berangkat?" tanya Zaky.
"Besok om,"
"Sukses Wa," balas Zaky mendo'akan.
"Ra, besok kalo ngga ada supir nanti aku kirim supirku buat antar jemput, mau?" tanya Dewa.
Zahra menggeleng, "ada supirnya abi disini. Jangan repotin kamu disana," jawab Zahra. Dewa mengangguk, "oke. Jadi ngga ada yang perlu aku khawatirin lagi,"
Zaky dapat melihat rasa tanggung jawab dari Dewa, setelah Dewa pamit undur diri, ia menghubungi kedua putranya, *ABI DAN UMI OKE*. Begitu kiranya pesan singkat abi Zaky.
Lain halnya dengan Ganesha waktu itu, Zahra sejak subuh sudah pergi dari kediaman Ananta dengan diantar supir menuju rumah Alvian, hanya untuk melepas Dewa pergi. Layaknya serdadu yang akan berperang kali ini ada rasa rindu yang ia titipkan di koper Dewa.
"Hati-hati! Disana kamu sama siapa?"
"Ada Lendra, ada Miki juga.."
"Ada Melody?" tanya Zahra, Dewa tersenyum menyeringai, namun sadar akan reaksi marah berbalut cemburu Zahra, ia menggeleng, "Melody ngga kubiarkan nempelin aku."
Zahra mencerukkan kepalanya di dekapan Dewa. Ica dan Jihad saling melemparkan tatapan, sejak mengikrarkan diri bahwa ia menyukai Zahra, Dewa banyak berubah. Entah memang karena Dewa yang sudah membongkar kamuflasenya.
"See you again, beauty...sampai ketemu 3 hari lagi..." bisik Dewa.
.
.
.
__ADS_1
.