My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
SI MAMAUNG SI MAMACAN


__ADS_3

Dewa menguap beberapa kali, emang kalo dasarnya pemalesan mah kebiasaan lama suka nyempil-nyempil kaya biji cabe di gigi. Ia membuka semua kancing jas agar meloloskan diafragma yang terkekang oleh ketatnya jas, biar bisa nafas lega. Selepas mengecek proyek dan tak menemukan lagi kecurangan ia bersama Axel lantas melesat menuju hotel. Lalu apa kerjanya Syailendra? Dia mah cuma pelengkap biar dikata kubu Armillo hadir aja, ngga cuma ikut nyicip duitnya aja.


Terlihat aura lelah di wajah Dewa, Axel menyunggingkan senyuman seraya melirik ke arah luar jendela mobil. Menjadi pewaris tahta perusahaan memang begini resikonya, usia muda sudah memiliki tanggungan besar di pundak, bukan hanya nasib keluarga tapi nasib seluruh keluarga para karyawan yang bernaung di perusahaannya.


Langkah Dewa memasuki lobby hotel," kunci sudah di kamar tuan Lendra, tuan.."


"Ya. Lain kali lo ngga usah manggil tuan---tuan lah! Geli gue dengernya mirip tuan takur!" jangan salahkan Dewa jika tau si tuan Takur karena pekerjaan Ica sekeluarga yang sering nobar mega bollywood tuan Takur di rumah jika weekend, jangan tanyakan mengapa, sudah pasti karena jawabannya tv di rumah yang segede papan baligho biar jelas nontoninnya. Tapi belakangan ini keluarganya lebih sering beli kaset film horor luar negri, film-film yang mengusung paranormal activity. Sebagai pengangguran sejati ia tak bisa untuk tak ikut menonton.


"110..." Axel dan Dewa mendongak melihat ruangan.


"Ndra!" Dewa mencoba menghubungi Lendra, sayangnya lelaki itu malah terlelap. Setelah dicoba mengetuk beberapa kali dan menghubungi Lendra berkali-kali, akhirnya lelaki itu keluar dengan muka bantalnya.


"Ck! Enak-enakan lo tidur jam segini! Kaya bocah aja, mana kunci kamar gue, sekalian koper gue?!"


"Nih!" Lendra menyerahkan kunci kamar milik Dewa dan koper Lendra.


"Kebablasan gue, sorry! Xel, ntar kirim laporan barusan lah, mau gue baca!"


"Siap tuan,"


Dewa menempelkan kartu di sensor pintu lalu membuka kamarnya, menggeret koper masuk, tak banyak meneliti karena keadaan suntuk nan lelah yang ia tuju hanya kamar mandi untuk meluruhkan seluruh daki, keringat dan kotoran yang menempel biar badannya seringan kapas.


"Mandi dulu !" ia membuka resleting koper dan mengambil peralatan mandi miliknya meskipun di sini sudah tersedia, tanpa ia sadari ada seseorang yang tengah terlelap di bawah selimut sana.


Dewa bukan tipe manusia yang senang mandi berlama-lama sampe ngabisin air satu hotel, atau ngabisin sampo satu botol. Ngga perlu luluran apalagi berendem susu kambing ettawa, hanya membutuhkan waktu sekitar 13 menit saja ia sudah keluar dengan handuk yang melilit di bagian bawah. Kebiasaannya memang, sebelum benar-benar meraih kaos miliknya ia lebih memilih mengecek notifikasi ponsel untuk mengabari Zahra.


Posisinya yang membelakangi ranjang berhadapan langsung dengan layar televisi besar membuatnya mempu melihat pantulan kondisi di belakangnya. Mata Dewa tak bisa untuk tak melihat pergerakan selimut di belakang, disusul suara seperti orang menggeram. Ingatannya melayang sesaat adegan menyeramkan di film yang sering di tonton oleh Ica sekeluarga. Siapa sangka Dewa cukup penakut untuk hal ini.


Tanpa basa-basi lagi, ia lantas mengambil jurus jitu, langkah seribu menuju pintu kamar hotel dengan menahan handuknya agar tak jatuh bersama ponsel di genggaman, peduli bang sadh dengan kopernya di dalam, biar nanti si Miki saja ia tumbalkan untuk masuk mengambil kopernya.


"Anj immm, ni hotel banyak hantunya!"


"Ndraaa! Ndraaa!"


"Miki! Mikiiiii!!!!" teriaknya mengetuk pintu kamar di samping kanan dan kirinya sekencang mungkin, lama-lama jika para penghuninya tak keluar ia hancurkan juga pintu kamar itu.


Merasa cukup terganggu dengan suara ketukan dan teriakan, Miki dan Lendra keluar.

__ADS_1


Mata mereka tersaji dengan pemandangan sesosok lelaki bertubuh atletis yang handukan setengah bawah dan rambut gondrong sepundak yang masih basah sepaket wajah paniknya kaya dikejar debt collector.


Lendra tertawa renyah, "apa-apaan lo, mau pamer otot? Keluar sambil handukan gitu? Gue juga punya!" tanya Lendra dengan masih memakai kaos dan celana selutut.


Miki bukan lagi, ia merasa takjub, "awww pak Dewo sore-sore malah ngegoda, mau Miki olesin lotion pak, sambil pijet plus-plus?"


"Kamar gue ada setannya saravvv, lo reservasi hotel gimana sih?! Masa milih yang ada hantunya!" sewot Dewa menggeplak lengan Miki, Axel sampai keluar mendengar ribut-ribut di depan kamar.


"Alahh, masa sore-sore gini ada setan?!" Lendra lupa jika tadi ia memasukkan Sandra kesana.


"Ya kan pak Dewo yang nyuruh, katanya yang paling deket sama proyek, ya ini lah! Lagian hantu apa yang takut sama hantu?" ujar Miki.


"Kamvrettt bos sendiri disamain hantu."


Dewa menarik tangan Miki dalam sekali gerakan kasar, hingga lelaki sebesar itu ikut tertarik.


"Sini ! Lo liat sendiri!" sengit Dewa.


Lelaki itu membuka pintu kamar dengan sekali sentuhan kartu, lalu menarik Miki untuk masuk. Karena penasaran Axel ikut masuk mengekori mereka, namun tidak dengan Lendra yang baru saja sadar jika tadi ia memasukkan Sandra ke kandang Dewa, "mamposss gue!" niat hati menyembunyikan Sandra dari semuanya, kini malah terjadi keributan.


"Tuh!" Dewa menunjuk ranjangnya yang menggelembung tanda ada sesosok makhluk di dalamnya, geliatan-geliatan kecil ditunjukkan disana.


Mereka cukup terkejut dan memundurkan posisi.


"Tenang pak! Miki hafal ajian mujarab buat usir setan!" ia menepuk-nepuk dadanya.


Miki mulai membacakan mantra yang entah apa artinya, "Si mamaung...si mamacan, jin, setan, arwah, lelembut mulang ka asal, lemah cai lemah indung....ta'ya kawasa nu ngalangkungan gusti pangeran!!!"


Axel sampai tertawa tertahan melihat tingkah keduanya, seumur-umur bekerja bersama Armillo ia baru menemukan bos atasan macam Dewa dan Miki.


"Halah udah timpuk aja lah!" ujar Dewa, jika beramai-ramai gini ia berani lain halnya jika sendiri. Dewa meraih remote tv di meja lalu melemparnya keras ke arah kasur.


Lendra sampai terkejut dibuatnya, tapi tak dapat mencegah karena Dewa yang spontan begitu saja melempar.


Plukkk!


"Awww!"

__ADS_1


"Siapa sih?! Lempar-lempar kepala gue?!"


Ketiga lelaki itu terkejut, karena rupanya ada yang menjawab dari dalam sana. Sandra membuka selimut dan kemudian bangkit.


"Aaaaaaa!"


"Aaaaa!"


Sandra terkejut begitu pun Dewa dan Miki, hingga suara gaduh jeritan menggema di kamar ini.


"Lo siapa?!" pertanyaan sama yang mereka lemparkan.


"Pak Dewo! Nakal kamu ya, bawa-bawa cewek malah bilangnya setan?!" Miki menepuk lengan Dewa.


"Apaan?!! Mana gue tau di dalem kamar gue ada cewek!"


Sandra mengedarkan pandangan ke arah Lendra, dengan wajah bantalnya ia bertanya, "baby! Mereka siapa?"


Axel melirik atasannya dengan alis terangkat.


"Sandra...kenalin, ini Dewa, Miki dan ini...."


"Gue tau baby, dia Axel sekertaris lo..."


"Baby?!" Dewa mendelik sinis pada Lendra yang menatapnya seraya nyengir, lelaki itu bahkan memijit tengkuknya yang mendadak pegal.


"Saravvv, lo bawa betina lo kesini? Terus lo masukkin ke kamar gue, Ndra?!"


"Mungkin," jawab Lendra.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2