
Dewa ikut keluar dari mobil demi melihat Zahra, ada rasa berat mengantar istrinya kali ini. Suasana rumah sakit bak gerbang neraka, semuanya sibuk penuh waspada dan mencekam. Dewa dan Zahra lantas menoleh ke arah ramai-ramai di depan gerbang.
"Maaf mas, mau anter siapa? Tidak boleh bergerombol..." sapa seorang security pada pasien dan keluarga yang tertahan di gerbang rumah sakit.
"Istri saya mau melahirkan pak,"
"Iya bapak, maaf...hanya boleh diantar suami, itu pun perlu pemeriksaan rapid tes dan swab..."
"Tapi ini istri saya sudah...." perempuan dengan perut buncit itu sudah meringis kesakitan tanda jika ia sudah mengalami kontraksi hebat.
"Bang, aku harus masuk." Zahra menaikkan masker miliknya lalu membetulkan masker Dewa, "jaga protokol kesehatan, jangan sampai lepas kalo abang lagi di luar...minimalkan keluar rumah kalo ngga penting, besok kalo ngga terlalu penting kerja di rumah aja," pesan Zahra. Dewa kembali memeluk Zahra, apakah ini firasat?
Gerakan Zahra menoleh kembali dan tersenyum padanya dengan tas ransel di punggung bak pukulan terberat untuk Dewa, "assalamu'alaikum."
Perempuan ini terlihat begitu cantik berkali-kali lipat malam ini. Ia mendadak jadi manusia bisu, karena sejak tadi semua ungkapan cinta, tak ikhlas dan semua pengharapan tertahan di kerongkongan. Kemana Sadewa yang pecicilan, berani dan cerewet?
"Mari ibu saya bantu," ajak Zahra mencoba membantu, melihat perawat bahkan tenaga kesehatan lain sibuk.
"Lebih sedikit orang yang berada disini lebih baik bapak, ibu...bantu kami dengan menjaga satu sama lain ya. Jangan khawatir, kami ada disini buat nemenin ibunya, yang lain boleh pulang saja ke rumah ya," ucapnya menenangkan. Ucapan Zahra seolah mantra sihir untuk siapapun lawan bicaranya, menenangkan, penuh solusi hingga sekejap kepanikan security teratasi.
"Bapak bisa masuk ke pos yang disana untuk sterilisasi dan rapid tes," tunjuk Zahra.
"Mari, ibu ikut saya.." lanjut Zahra.
"Makasih banyak sus," jawabnya. Dewa melihat itu semua hanya bisa tersenyum getir, menyadarkan diri jika Zahra bukan miliknya sepenuhnya.
Ditatapnya langit malam dengan wajah menengadah ke atas, lantas ia menendang ban mobilnya demi melampiaskan kekesalan. Tak tau harus menyalahkan siapa, hingga akhirnya kesal sendiri.
Ia menghembuskan nafas kasar lalu masuk ke dalam mobil.
Kini terindikasi ada sekitar belasan penderita virus ini di RSCM entah sejak kapan datangnya mereka, tiba-tiba saja langsung berjumlah belasan. Namun seiring dengan bergulirnya waktu...dalam hitungan menit, jam, pasien terpapar berlipat ganda. Jumlah *ODP, PDP, dan Suspect* sukses membuat para tenaga kesehatan berlarian.
...*Sumpah pengabdian diatas segalanya, inilah jalan yang dipilih*......
Zahra disambut oleh perawat kepala di ruangan aula bersama para relawan lain.
"Panggilan tugas sudah memanggil...disinilah sumpah profesi saya, kalian dipertaruhkan, bekerjalah dengan hati."
\*\*\*
"Ra, suami kasih ijin? Kalian penganten baru loh. Kok gue yang ngenes sih," bisik Mia membuat Zahra tersenyum miris akan nasibnya dan Dewa.
"Mau ngga mau harus kasih," jawab Zahra menggulung rambutnya dengan benar, kemudian matanya menatap nyalang pada cincin nikah yang baru saja kemarin disematkan oleh Dewa, dan malam ini harus ia lepaskan terlebih dahulu saat bertugas.
Zahra mengecup benda yang terbuat dari emas putih bertahtakan safir lalu memasukkannya ke dalan kotak cincin. Dipakainya sepatu dan boot cover, lalu sarung tangan dalam.
Suara rekatan plester kontras dengan keheningan para nakes saat memasangnya, mungkin mereka tengah bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Ra, tangkap!" seru Ilham, salah satu rekan sejawatnya melemparkan plester, Zahra refleks menangkapnya.
"Weheyyy! Calon kiper timnas lah!" sedikitnya selorohan dapat membuat suasana tegang jadi cair.
"Hahaha, dasar! Ham, bagian instubasi?" tanya Zahra.
"Bukan, bagian mencintaimu dalam diam!" jawab Ilham.
__ADS_1
"Hahaha, njirrr! Minta di tembak suaminya," jawab Mia.
"Awas siah Ham, suaminya Zahra mah punya kuasa!" ujar Mawar.
"Yoi, ngga nyangka lah temen gue ternyata anak juragan istri direktur pula, wah asli Ra! Kalo gue mau langsung pensiun dini lah, harta ngga akan abis 7 turunan 7 tanjakan. Padahal aku udah siapin lamaran loh, Ra buat kamu! Siapin mahar kerbau sama sapi," gombalnya memancing tawa yang lain.
"Ah telat lah! Cuma ghosting doang, yok! Yang siap kemon!" ajak dokter Arfan.
Zahra merekatkan celah diantara pakaian dan kulitnya dengan plester, sebisa mungkin tak boleh ada celah. Kemudian dipakainya masker bersama direkatkannya tepian masker dan baju, benar-benar sesak, panas...dan mungkin entah berapa lama ia akan begini.
"Aduh, belum apa-apa gue udah kebelet pi pis euy!"
"Eh, tadi kan udah dikasih tau...yang mau pi pis, bok3r, makan, minum, dipersilahkan. Setelah itu sesuai SOP, tak boleh buka pasang APD."
"Anggap lagi puasa!" seloroh Dani.
"Kalo mau tidur dulu boleh dok? Nonton bioskop dulu, ngopi di warkop?" tanya mbak Ninung.
Sekecil apapun selorohan dan candaan akan mereka lakulan demi mengurai rasa stress, agar tetap waras dalam bertugas.
"Boleh, abis itu ntar mbak Ninung jadi ODP," jawab dokter Nasrul.
Bwahahahahaha!
"Saravv njiir ih!"
"Housten, cimeng sudah mendarat di bulan!" timpal Dani berlaga mirip astronot.
"Gov lok ahh, jangan gitu...gue pengen pipis ih kalo becanda mulu!"
Mereka saling mendukung, menghibur dan membantu satu sama lain.
"Oke, sudah rekan-rekan?" tanya dokter Arfan selaku ketua tim.
Mereka mengangguk, "ngelingker yok kaya anak tk..." pintanya lagi.
"Rekan sekalian, mulai hari ini...sumpah profesi kita dipertaruhkan...sebelum kita mulai mengabdikan diri, kita berdo'a menurut kepercayaan masing-masing, berdo'a dimulai..."
Dengan tangan yang saling berpegang mereka terpejam memanjatkan do'a begitu khusyuk bagi diri mereka sendiri, keluarga, masyarakat, negara dan dunia.
__ADS_1
"Oke, stay healthy rekan-rekan...sesuai SOP tadi dari pimpinan rumah sakit ya, bekerja dengan hati, jika lelah dan apapun jangan ditanggung sendiri, kita disini sama-sama. Oh satu lagi, jaga otak dan pikiran agar tetap waras..."
Zahra dan yang lain keluar dari ruangan menuju bagian masing-masing. Tepat di depan mata, para penderita dengan kondisi ringan hingga yang harus memakai *ventilator* kini berbaring di brangkar masing-masing.
Kondisi negara dan dunia benar-benar diguncang oleh mikroba ini, ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan orang tewas dalam tempo kurang dari sebulan.
Dewa pulang ke rumahnya ternyata momy sudah pulang ke rumah.
"Bang," sapanya.
"Momy yakin Zahra bakalan selalu sehat, jangan sampai putus dukung..."
"Iya mii. Daddy mana?"
"Sama om Milo, Ganesha, sama Lendra di ruang kerja," jawab Ica.
"Oh, nanti Dewa ke sana. Simpen dulu koper Dewa sama Zahra ke kamar." Ia melangkah menuju kamarnya demi menaruh koper keduanya, lantas masuk ke dalam ruang kerja daddy Ji, bergabung dengan mereka.
Dewa tak bisa memejamkan matanya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari saat ini.
Berulang kali ia melirik ponsel, Zahra belum menghubunginya, apa itu tandanya istrinya belum istirahat?
"Ranjang dingin Ra, ngga ada kamu..." mendadak ia jadi seorang lelaki manja. Dewa lebih memilih membuka laptop miliknya dan bekerja seraya menunggu sang istri menelfon, hingga pukul 3 dini hari, akhirnya ponsel Dewa berdering kencang.
Digesernya icon hijau yang kemudian menampilkan wajah tertutup faceshield dan baju hazmat.
"Assalamu'alaikum abang,"
"Wa'alaikumsalam, lama.." desis Dewa.
"Aku baru sempet istirahat, panggilannya langsung diangkat, abang belum tidur?"
Dewa menggeleng, "nunggu istri telfon. Ranjang dingin, sepi ngga ada kamu, sayang. Ngga ada yang jerit-jerit!" ucapnya ful gar, untung saja Zahra memilih tempat yang sedikit menjauh dari rekan lain, Zahra tertawa setengah mencebik, "pengen panas? Taroin kompor di atasnya, biar panas, biar rame!"
"Ha-ha-ha. Bisa ae upil hulk! Kamu udah makan belum sayang? Tadi bekal kan?" tanya Dewa.
Zahra mengangguk meskipun ia berbohong, jangankan untuk makan, minum pun sulit... "udah bang."
"Syukur kalo gitu, besok aku jemput! Bisa pulang kan?"
"Bisa, oke abang sayang."
"Kan aku udah telfon, abang tidur sekarang. Aku harus balik lagi nugas...see you," Zahra melambaikan tangannya ke arah Dewa.
"See you, love you sayang."
"Love you too."
Layar langsung kembali ke beranda whatsapp berikut wajah cantik di balik APD yang hilang seketika.
Zahra menunduk, "maafin aku boong Wa," ia menatap ponselnya nanar, jika Dewa bisa ia bohongi lain dengan perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi, ia tak bisa memungkiri jika ia memang lapar dan haus.
.
.
.
.
Note :
* ODP : Orang Dalam Pantauan
*PDP : Pasien Dalam Pengawasan
__ADS_1
*Suspect : pasien yang menunjukkan gejala infeksi virus
*Ventilator : alat bantu pernafasan.