My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
TES NGAJI ALA CIMOY


__ADS_3

Dewa sudah gemas dengan bocah ini, kalau bisa akan ia lipat bocah ini dan menaburkan keju juga susu diatasnya, akan ia kunyah cimoy, melihatnya kok jadi ingat....ia melirik Zahra.


"Kakak...kok minta maafnya gitu, coba yang bener, minta maaf sama om-nya..." imbuh Eyi melambaikan tangan pada cimoy agar mendekat.


"Kebanyakan nelen petuah bapaknya nih!" tawa Zahra duduk di samping Panji, ia mencubiti pipi gemoy Panji yang sedang mengunyah, sementara Dewa membungkukkan badan ke arah cimoy, "om kunyah nih kamu!"


Cimoy yang pada dasarnya adalah anak pemberani itu tidak menangis, ia justru menginjak kaki Dewa keras,


Grekk!


"Aduh," aduh Dewa.


"Lasain tuh!" ucap cimoy.


"Eh!" Zahra tertawa sementara Eyi menunjukkan wajah tak enaknya pada Dewa, "kakak, itu omnya diapain?"


"Cuma say hay, umi! hay om !! Salam kenal!" serunya menampakkan wajah gemas bak bidadari kecil, namun menyimpan tawa devil bagi Dewa, bocah itu berlari menuju uminya, Eyi membawanya untuk duduk, lalu membuka kid meal untuknya, "tangan kaka diem, biar umi suapin." Eyi meniupi nasi dan mencicipi rasa makanan itu untuk kemudian diberikan pada Cimoy.


Kesan pertama Dewa bertemu cimoy adalah, pertengkaran!


Dewa sudah gemas, ia terkalahkan oleh bocil, ngga bisa jadi! Disana Syailendra pasti akan menertawakannya jika tau.


Dewa mendesis dan duduk di samping Zahra, menatap penuh sorot mata menguliti...namun bukannya takut, anak perwira ini bermental baja. Ia malah memeletkan lidahnya pada Dewa, membuat Dewa gemas.


Berantem dengan bocah 3 tahun, oh ayolah! Dunia pasti sudah lelah dengan para penghuninya. Terbiasa beradu kemampuan dan berebut tender kini harus beradu otot beserta otak dengan bocah yang pipis saja masih perlu ditemani.


Bukannya takut atau merasa di sisihkan Daliya dengan sengaja mengusili Dewa yang sejak tadi melemparkan tatapan rival padanya. Baginya menghadapi om-om begini sudah biasa, ia biasa menyebutnya bermain-main.


"Kak, kenalin ini Dewa..."


"Saya Dewa," Dewa mengangguk singkat pada Eyi, perempuan itu tersenyum asin namun melemparkan tatapan mengernyit pada Zahra.


Bukannya Ganesha?


"Zahra bisa jelasin kak," jawab Zahra bergumam seraya mengerjapkan matanya pada Eyi, "oh oke," anggukan Eyi singkat.


"Saya Eirene, istri Teuku Al-Rayyan...kakak kedua dari Zahra," jawab Eyi.


"Aku Cut Daliya Clemila..." tambah cimoy memperkenalkan diri.


Ngga pengen tau, suerrr. Dewa mencibir.


Sesosok bertubuh tegap datang dengan seragam loreng dan jaket kesatuannya, berjalan lurus ke arah mereka, Dewa yang melihat itu duluan berdehem dan membenarkan posisi duduknya, itu pasti abang Zahra yang kedua.


Dewa meneliti dari atas hingga bawah, ngga lebih ganteng dan lebih tegap darinya. But, kesan pertama harus bagus!


Belum dijelaskan dan buka suara, ia sudah berinisiatif memperkenalkan dirinya.


"Sore bang, saya Sadewa...pacar Zahra...pekerjaan saya seorang presiden direktur di salah satu perusahaan, saya sayang sama adik abang, salam kenal bang Rayyan...." Dewa mengulurkan tangannya membuat Maliq melongo datar.

__ADS_1


Bwahahahahaha! Bukan Zahra ataupun Eirene, melainkan Cimoy disusul tawa Panji, bocah satu tahun itu ikut tertawa menggemaskan karena melihat kakaknya tertawa. Sementara Eyi dan Zahra terlampau keram pipi menahan tawa.


"Om gondlong gimana sih! Itu bukan abi, itu om Maliq!"


Asem! Diketawain bocah!


"Oh," Dewa tertawa garing.


"Pasti malu deh!" ucap cimoy tepat sasaran.


Bocah!


"Wa, itu ajudan abang...namanya om Maliq..." jelas Zahra. Telat, Dewa mendesis menarik kembali tangannya.


"Abang lagi nugas di luar kota, Dewa. Beliau ngga akan ada di ibukota selama 3 hari...sampai acara tunangan Zahra..." jawab Eyi.


"Oh," Dewa berohria, niat bersikap sopan malah salah orang.


Maliq membungkuk singkat, "maaf lama bu," ia duduk di samping Eirene.


"Ngga apa-apa om. Eyi udah pesen banyak nih! Dimakan yuk," ujar Eyi.


Kini di meja itu tersaji menu makan paketan ayam, nasi dan minuman menemani obrolan santai mereka, Zahra bahkan tak segan menjelaskan siapa Dewa sebenarnya, membuat alis Eyi naik dan turun mengangguk paham.


Cimoy menerima suapan-suapan nasi dari ibunya besar-besar sambil menunjuk-nunjuk, "sama ayam aja, jangan pake itunya umi..." ucapnya, sebenarnya ada senyum gemas dari Dewa melihat bocah ini...bocah memang makhluk menggemaskan di dunia, manusia bejat manapun pasti akan gemas melihat bocah, termasuk dirinya, melihat ia makan saja rasanya pengen gigi tuh pipi gembul...hanya saja Dewa memang tak menyukai tingkah bocah yang suka bikin pusing.


"Umi udah, kakak kenyang." Ucapnya mendorong kotak makan itu, Eyi memberikan air mineral untuk cimoy, lalu memberikan es krim pesanan putrinya itu agar anteng.


Sementara ibunya berbelanja, cimoy ikut memilih-milih barang yang ia inginkan, "umi! Umi, kakak mau ini!" teriaknya berlarian menunjuk barang yang diinginkan sambil melompat-lompat karena posisi barang yang tinggi, padahal uminya sibuk memilih barang bersama Zahra, dan Panji dipegang oleh Maliq.


"Umiiiii!" teriak cimoy tak di dengar, Dewa tertawa mengejek, "yaaa...kasian ngga di dengerin..." cibirnya.


"Om gondlong ngeselin! Anak kecil itu dibantuin om bukan dizolimin! Aku bilang abi, bial om ditembak, ditenggelemin di laut," ujarnya mengancam, pitik-pitik udah pinter ngancem, udah gede mau jadi apa, cil?!


"Bilang aja, om ngga takut!" jawab Dewa semakin mengejek, anak kecil bisa apa?


"Benel yah?!" Ia sudah meraup nafas dalam siap-siap berteriak dan menangis, ia juga sudah menunjukkan jam tangan dengan gps dan dapat melakukan panggilan suara, bahkan matanya sudah berkaca-kaca, sadar dengan apa yang akan dilakukan cimoy, Dewa meloloskan nafasnya berat, berabe juga kalau bocah ini ngadu yang iya-iya sama bapaknya.


"Oke--oke! Mau yang mana?! Om beliin!" jawab Dewa, cimoy tertawa, tak tanggung-tanggung...ia menunjuk banyak barang yang diinginkan dan Dewa menurut saja daripada ia mengadu, jangan sampai nanti restu tak turun.


"Yang itu om!"


"Yang itu, kakak mau yang itu!" ia berjingkrak-jingkrak kesenangan, kapan lagi iye kannn ngerjain sambil malakin presiden direktur minus akhlak gini.


"Yang itu juga!"


"Udah kan? Om bawa ke kasir ya?" tanya Dewa, cimoy menggeleng, "mau itu juga om!" tunjuknya pada boneka besar.


"Janganlah! Kamu sama boneka itu juga lebih gede bonekanya, nanti tiba-tiba malem bonekanya jadi setan," jawab Dewa.

__ADS_1


"Ah, masa iya?! Kata abi se tan itu takut sama olang beliman, kalo tiba-tiba ada setan itu altinya om yang ngga pelnah solat sama ngaji, soalnya selama ini kakak ngga pelnah diganggu se tan..." jelasnya panjang lebar membuat Dewa menggigit mainan puzzle yang ia bawa. Sejak kapan ia kalah debat sama bocah, mana dikata orang tak beriman!


"Sembarangan, om suka solat sama ngaji...." balas Dewa tak terima.


"Coba kakak tes om sulat an-nas!" tantang bocah ini. Sial, ia ditantangin ustadzah kecil.


"Oke!" Dewa berjongkok menerima tantangan cimoy demi gengsinya, harga diri lelakinya dipertaruhkan...karyawan toko sampai mengulum bibirnya melihat drama tes ngaji dadakan itu.


"Udah kan? Gue gitu, segitu mah kecil!" jumawanya menjentikkan jari.


Tak!


Cimoy menyentil bibir Dewa," Shadaqallahul-'adzim'nya mana om?" tanya gadis itu.


Dewa memutar matanya jengah, hari ini ia mimpi apa, diospek bocah begini, Dewa pun tak urung menurut.


"Pokoknya kakak mau itu!" gadis itu merengut bersidekap.


Haduhhh, Wa. Jadinya ngapelin ponakan bukan tantenya.


Sementara Maliq membawa belanjaan atasannya yang didominasi barang cimoy yang tahun ini masuk Tk A, lain halnya dengan Zahra, gadis itu tak berbelanja apapun. Dapat Eirene lihat tautan tangan Zahra dan Dewa, meski tak mengikrarkan keduanya saling mencinta, tapi bukti ini sudah cukup nyata untuk Eirene. Dewa seperti tak melepaskan Zahra barang sedetik saja.


Eyi mendorong stroller Panji, sementara cimoy di gandeng Zahra.


Gadis itu menggosok-gosok matanya seraya menguap, mungkin karena sudah seharian capek lalu ikut berbelanja dan ngerjain Dewa, matanya jadi sedikit kesat.


Hoammm!


"Ma cut, umi...." cicitnya tak begitu terdengar oleh keduanya yang asik mengobrol.


Dewa dapat melihat itu, bocah itu mengantuk dan lelah. Tak tega akhirnya Dewa luluh, pada dasarnya lelaki ini memang baik...hanya kelakuan usil dan covernya saja yang bikin orang-orang pengen cekek.


"Ra, anak kakakmu capek kayanya!" tunjuk Dewa dengan dagunya, membuat Zahra menoleh, ia menghentikkan langkahnya, "kakak cimoy kenapa?"


"Ngantuk, capek ma cut..." keluhnya menggosok-gosok mata dan tiba-tiba berjongkok, padahal ibunya sudah berjalan terus.


"Eh, sebentar lagi...ini kan mau keluar mall, tuh ditinggal umi...masih kuat ngga? Ma cut gendong ya?" tawar Zahra, tapi belum Zahra menggendong cimoy, tubuh gadis kecil itu langsung terangkat berada dalam gendongan Dewa.


"Yuk! Jangan kamu tawarin, kasian dia, udah oleng...." balas Dewa, gadis kecil itu tak melakukan perlawanan lagi, justru ia dengan sukarela menaruh kepalanya di pundak Dewa, tangan mungilnya melingkar di leher Dewa. Zahra melebarkan senyumannya melihat pemandangan akur kedua rival ini, beberapa menit yang lalu keduanya bahkan masih melemparkan balasan sikap keusilan, tapi kini malah main gendong-gendongan.


"Kamu punya keponakan berapa?" tanya Dewa.


"3, calon 4 deh...kak Fara lagi hamil lagi..." jawab Zahra.


Tobat Dewa!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2