My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
TES PSIKOLOGI


__ADS_3

"Ra! Buruan ini rujaknya enak nih! Bu Nopi bisa banget bikin bumbunya!" suara panggilan nyak Fatimah menyelamatkan Fara dan Eyi dari tatapan menginterogasi para penghuni ruangan dalam.


"Mau!" teriak Fara.


"Eyi juga mau ihhhh! Eyi lagi ngidam kayanya!" Fara sudah berlalu duluan disusul Eyi bangkit dari jongkoknya, "misi ya...terusin deh terusin!" ucapnya.


"Ha? Eyi lagi ngidam juga Ray?" umi Salwa sampai melongo dibuatnya. Masalahnya anak-anak keduanya masih pitik, masa iya mau punya lagi?!


Rayyan menggeleng sama-sama tak tau dengan wajah tak berdosa, "hobby amat bikin istri mabok ih!" Zahra beranjak memeriksa teras samping yang terdengar begitu riuh, begitupun Kara, Salwa dan Ica.


"Masya Allah!" Salwa melihat para anggota keluarga yang kini tengah menggelar karpet bersama layaknya piknik di teras samping, Galih bahkan baru saja turun dari pohon mangga yang sengaja ditanam di rumah ini.


"Umma, sini!" ajak Cimoy yang ceria bersama Panji dan cucu keponakan Ica.


"Bu, maaf--maaf nih, mau ijin minta mangga tapi takut ganggu," ujar Novi diangguki nyak Fatimah, tapi tak lama nyak menepis udara, "kagak ngapa neng, besan aye mah baek orangnya, apalagi cuman mangga begini dikasi ma kebon-kebonnye...ya kan bu?" Salwa mengangguk, "iya nyak."


"Uhuuuuu! Gue suka sama bumbunya mpok! Top lah, dibikin usaha cocok nih mpok," imbuh honey.


"Honey ih! Itu sampe netes-netes gitu ke jas! Laundry sana," Eyi menunjuk jas mahal honey.


Sementara Fara, ia makan dengan khidmat tak ingin diganggu, mencolekkan mangga muda, jambu klutuk, buah timun yang ada di kulkas dan sudah dikupas ke bumbu yang ada di dalam cobek, buatan kak Novi.


"Ini tuh tadi terasinya di bakar dulu?" tanya Fara.


"Lah iya Ra, masa dikempit di ketek lo?!"


Lendra sedang dikelilingi oleh cimoy, panji dan cucu keponakan Ica. Sementara Galih ikut bergabung dengan grup emak-emak.


"Pake kecombrang lebih mantep nih!" Novi kembali mengupas buah mangga yang baru saja dipetik lagi oleh Galih dan Dante menunggu di bawah. Salwa tak ingin kehilangan moment merakyat begini, ia menanggalkan sendal rumahnya dan ikut duduk disana bersama para menantu, " umi coba dong!"


"Coba! Coba!" Zahra ikut bergabung. Ingin sekali Dewa ikut bergabung tapi ia lebih memilih diam sebagai rasa hormat pada kedua kakak dan ayah Zahra.


Kara pun tak kalah tersenyum melihat Lendra jadi idola anak-anak, "Lendra udah siap punya anak, lo siap ngga punya cucu?" senggol Ica.


Ujungnya acara lamaran ini malah jadi ajang rujakan kedua keluarga.


"Hadeuhhh emak-emak!" Rayyan berdecak.


Terdengar suara sayup-sayup adzan ashar berkumandang, ternyata sudah selama itu mereka bersama. Mulai dari rujakan, ributin makanan, gibahin orang dan semuanya.


Salwa terlihat begitu senang melihat keramaian ini, Zaky dapat melihat itu.


"Ditinggal solat dulu, kalau keluarga Alvian mau menunaikan ibadah solat bisa di mushola rumah..."


"Sadewa, pernah mengimami solat?" tanya Al Fath, membuat Dewa mendongak. Jujur saja ia sering bolong-bolong, pernah membaca lantang bacaan solat pun waktu praktek solat SMA, entah bacaannya benar atau tidak, Dewa menelan saliva tapi ia tak boleh sampai menolak, itu akan menjadi nilai minus untuknya.


"Bisa bang, insya Allah..." mantapnya, membuat Ganesha, Milo dan Jihad mengangkat kedua alisnya. Ah yang bener?!


"Kalo gitu mari kita berjama'ah," ajak Al Fath.


"Hey ladiest udahan, ashar dulu!" teriak Rayyan.


"Abi! Abi! Kakak main sama ini!" tunjuknya pada rekan barunya.

__ADS_1


"Sip! Kakak punya banyak temen nak," jawab Rayyan.


"Kemonlah ashar dulu!"


"Abi gendong abi..." pintanya.


"Abang ke atasin dulu lengan kemejanya," Fara menangkap putranya.


"Sini biar sama abi," Al Fath mengambil alih dan membantu Fara bangun dari duduknya, "jangan kebanyakan pedes nanti panas perutnya,"


"Ya beginilah pak Alvian, kelihatannya saja keluarga mewah dari luar, di dalamnya tetap saja seperti keluarga normal pada umumnya..." Ucap Zaky.


"Sama saja pak Zaky, apalagi saya...pak Zaky bisa melihat sendiri..." kedua ayah ini tertawa kalem.


"Ini beneran nih jama'ah?" tanya Lendra, Milo langsung mengetuk kepala anaknya itu.


"Bang Dewa imamnya," jawab Ganesha.


"Anjayyyy?! Seriusan, Njirrr!"


Pletak!


Dewa menggeplak Lendra, "gue maju kena mundur kena be go. Kalo gue nolak atau bilang ngga bisa, apa kata keluarga Zahra nanti...seenggaknya harga diri klan Alvian ngga jatoh kali ini! Anggap aja gue lagi mempertaruhkan harga diri klan Alvian buat dapetin hadiah cewek cantik!" ucap Dewa melinting kemejanya.



Mushola rumah ini cukup indah, karena tempat inilah, tempat tersering yang didatangi 5 kali dalam sehari, terkadang jika penghuninya melaksanakan salat di sepertiga malam maka tempat ini tak pernah sepi lebih dari 8 jam.




"Apaan?!!" keluarga Ica, bahkan Ica sendiri sampai terkejut mendengarnya.



"Bang," Ica melotot ke arah Jihad saat pria itu tak sengaja menoleh, namun Jihad mengangguk seolah berkata, *kita serahkan semuanya pada yang diatas*.



Ica hampir tak pernah melihat lagi Dewa menunaikan ibadah satu ini, entah mungkin memang tak pernah, atau ia yang tak pernah tau jika anak pertamanya tengah bermunajat, diantara rasa gusar dan gelisah Ica hanya berharap setidaknya Dewa hafal surat-surat pendek, minimalnya tak sampai salah ucap meski tak akan seindah lantunan para hafidz qur'an, kini ia menyesal abai memperhatikan iman dan taqwa kedua jagoannya.



"Lo yakin Ca?" bisik Kara.



"Meneketehe, berdo'a aja lancar jaya bacanya!" Ica meringis.



Bukan hanya Ica atau keluarga Jihad saja, Zahra sampai menggigit bibir bawahnya takut. Ia tau jika Al Fath dan abi Zaky tengah menguji Dewa.

__ADS_1



"Bismillah...." Dewa mengambil posisi di depan.



Rayyan melakukan iqomat, lalu meminta kaum hawa meluruskan shaf.



Tersisa istri Jian, Novi, dan Ara juga anak-anak di luar mengingat mereka sedang palang merah berjamaah.



Dewa mengambil nafas dalam, sekarang di saat semuanya hampir ia lupakan, maka Allah mengirimkan keluarga Ananta untuk menyadarkannya, jika ia sudah terlalu abai pada agama, tanggung jawab dan akhirat. Ia semakin memantapkan hati, Zahra begitu sulit di dapatkan padahal gadis itu telah di genggam, benar-benar berbeda dari wanita lain.



Wanita, semakin sulit dimiliki maka semakin Allah memberitahu jika ia begitu berharga.



Dewa mengambil takbiratul ihram.



Berbeda dengan Zaky, Al Fath, Fara, Rayyan, Eyi dan Salwa, maka yang lain tidak begitu khusyuk. Padahal di depan sana Dewa sudah memusatkan pikirannya hanya pada hamparan sajadah.



Ica tercekat, ia merasa kerdil begitupun Jihad yang terlalu sibuk dan luput pengawasan, Lendra bahkan sampai tak berkedip dan menghentikkan tarikan nafasnya, seolah pasokam oksigen di dunia habis detik itu juga, meski bukan dia yang sedang di depan sana, tapi ia ikut menahan nafas demi ikut tegang, bawaannya lebih tegang ketimbang keputusan pemenang tender.



"Itu suara Dewa bukan ma?" tanya Ara.



"Masa?! Coba---coba!" Novi sampai memangkas jarak demi mendengar suara imam solat.



"Iya, itu suara si kodeww..." jawab Novi.



"Masa?" tanya istri Jian.


.


.


.

__ADS_1


.


Ih, aku tuh ko geli banget liat covernya ya😅 jujur aja ngga sesuai ah! Jadi aga gimana gitu ya, sayangnya sudah dikunci pihak sini.


__ADS_2