My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
SAYA TERIMA....


__ADS_3

Sulit tidur, terlalu excited dan gejala gugup hebat adalah sebagian penyakit dadakan yang menyerang calon-calon pengantin, biasanya kalo nervous gini bawaannya pengen bolak-balik kamar mandi, ngga tau mau ngapain.


Guncangan mobil tak menyurutkan niat Dewa untuk menghafal kalimat ijab kabul, setiap katanya ia cermati layaknya isi jawaban ujian nasional. Pokoknya ia meminta jangan ada manusia di dalam mobil ini yang buka suara mengganggu ia menghafal, suara nafas sekalipun.


Ganesha yang berhasil pulang dini hari tadi tak ingin ketinggalan mendampingi sang kakak.


"Saya terima nikah dan kawinnya...." Dewa harus mengingat nama Zahra dan jangan sampai salah.


Cut Aisyah Zahra Ananta...


Lendra yang berada satu mobil dan kini duduk di kursi pengemudi tertawa tertahan melihat Dewa sedang menghafal, mirip bocah SD mau ujian, dari kaca spion mobil ia melipat bibir kencang-kencang, tapi otak usilnya itu tak bisa dikontrol.


"Saya terima nikah dan kawinnya Cut---" imbuh Dewa tapi Lendra segera memotongnya.


"Fulan binti Fulan..." potongnya membuat Dewa mengikuti ucapan Lendra, Ganesha bahkan sampai menyemburkan tawanya diantara suasana hening mobil, hanya suara Dewa yang sedang menghafal mereka harus di kejutkan nama Zahra yang berubah jadi Cut Fulan.


"Kamvrett!" sarkas Dewa menepuk sandaran jok Lendra.


"Ya lagian lo nama Zahra ngga hafal-hafal! Dari tadi bolak-balik saya terima nikah dan kawinnya terus! Kawinnya siapa? Kambing?!" sewot Lendra.


Jihad berdecak, bahkan disaat seperti ini Dewa tak pernah ada warasnya. Sepertinya gen absurdnya dan Ica mengalir deras di anak pertamanya itu kaya keran air.


"Yang bener abang! Jangan sampe nanti kamu ngulang ijab terus, malu! Masa daddy aja dulu sekali ucap langsung sah, inget ngga bisa diulang-ulang terus!" Ica mewanti-wanti.


Rombongan mobil mewah berderet ke area hotel, pihak keamanan yang disewa oleh kedua keluarga pengusaha ini layaknya pernikahan sultan Brunei. Polisi dan tentara yang disewa memakai seragam jas hitam dengan alat komunikasi jarak jauh lengkap.


Mia dan Ineke sampai berdecak, "sumpah demi apa, ini nikahan temen gue udah kaya nikahan sultan!" ia menganga dengan pengamanan acara terbatas ini, padahal dari rumah keduanya yakin kalo mereka udah berasa mewah, tapi saat datang ke tempat acara kini tingkat percaya diri mereka menciut sebesar upil.


Berulang kali Mawar juga mengecek amplop yang dibawa, amplop putih yang ia tulis namanya sendiri mendadak jadi tak pede, "ini amplop ginian diterima ngga sih? Kok gue malu ngasiinnya ya?!" tanya nya bergumam sukses memancing tawa sesama teman Zahra. Kini satu fakta baru yang teman-temannya tau, jika Zahra adalah anak konglomerat yang lagi cosplay rakjel. Defia bukan lagi, kini ia menyesali tak mempercayai Zahra jika teman satu kost satu nasib sepenanggungannya dulu ternyata anak juragan kopi, bahkan suaminya pun bukan dari kalangan biasa.


Dimana ada keluarga EyRay maka disitu ada bidikan kamera.


"Ring tiga, rombongan jalak sudah masuk area steril one!" ucap ketua pengamanan yang ada di jalanan jarak 50 meter. Semua tamu undangan harus men-scan barcode.


Karpet merah digelar di gerbang awal hotel, mobil rombongan Dewa telah sampai di depan sana.


Dewa menghembuskan nafas panjang nan berat, mengucap janji setia di depan Tuhan nyatanya tak semudah bilang i love you pada manusia, padahal tak ada kata puitis ataupun romantis apalagi bahasa yang sulit dimengerti biar keliatan keren, tapi rasanya lidah terasa memikul beban berat, karena kesakralannya.

__ADS_1


Ruang acara terbuka layaknya istana negri dongeng 1001 malam, memang totalitas WO umi Salwa, sekalian ajang promosi juga!


Kursi-kursi berderet begitu mewah kayaknya sayang kalo didudukin sama pan tat kotor. Akad nikah sengaja diadakan sebelum tamu undangan resepsi hadir, agar kapasitas orang di dalam ruangan tak begitu banyak dan membuat Dewa grogi, hanya terisi keluarga besar dan kerabat saja.


Jantung Dewa rasanya sudah lepas dari tempatnya kini. Disana...pak penghulu sudah duduk, bersamaan dengan ia yang berjalan atas tuntunan pembawa acara, abi Zaky dan kedua abang Zahra masuk ke dalam ballrom.


Tap...tap...tap!


Di balik usia yang sudah tak muda lagi, abi Zaky tetap ia segani. Salwa yang duduk bersama ketiga cucunya tersenyum simpul melihat sang suami, terlintas bayangan Zaky muda tepat saat mengucap janji setia di depan Allah, tiba-tiba saja air matanya tak terbendung, suka duka telah mereka lewati bersama, hingga kini ketiga putra-putri mereka sudah besar dan memiliki keluarga sendiri, Salwa mengusap air matanya dengan tissue.


"Om honey, om honey! Liat abi kaka!! Abba sama abi Fath udah kaya BTS!" tunjuk cimoy. Siapa lagi guru sesat bocah gemoy ini jika bukan Eirene sang ibu, di usia segini sudah hafal BTS. Salwa memuntahkan tawanya mendengar pengakuan sang cucu.


"Saravv emang si Eyi, aturan mah anak dikasih si pororo gitu!" omel Honey pelan.


"BTS apa?!" tanya Sagara tak terima abinya disebut BTS, ben conk taman samping?


"Ih abang Caga ngga gaul, itu BTS...boyband, ganteng-ganteng! Keleeenn!" angguk Clemira pasti.


"Si Markodew bisa kagak ya, duh! Kok jadi gue yang mules!" ujar Galih tak enak duduk.


"Ponakan gue pasti bisa!" balas Jian. AC ruangan tak lantas membuat Dewa merasa segar, tangannya mendadak berkeringat.


"Oke, sudah siap?" tanya penghulu, mereka mengangguk. Kini penghulu melirik para saksi yang kemudian mengangguk juga.


"Oke, silahkan saudara Sadewa jabat tangan pak Zaky," abi Zaky yang berada di depan Dewa, mengulurkan tangan dan mengangguk meyakinkan Dewa. Pemuda itu merasa jika abi Zaky sedang memberikannya kepercayaan dan kekuatan, ia mengangguk yakin dan menarik nafas, tapi entah kenapa rasa gugup itu tak mau pergi dan malah semakin menggelayut manja.


Penghulu menuntun Zaky untuk mengucapkan kalimatnya, lalu saat giliran anggukannya beralih pada Dewa lelaki itu tersentak kaget.


"Saya terima nikah dan kawinnya Teuku Aisyah Zahra Ananta binti Cut...astagfirullah!"


"Ulangi,"


Rayyan menepuk jidatnya, ingin menyemburkan tawa namun Al Fath menyenggolnya. Lendra bahkan sudah tertawa dalam jasnya.


"Kamu bisa ketawa, liat ntar kamu kaya gimana!" decak Kara sang ibu.


"Jangan tegang, lihat saja abi...Dewa...yakinkan diri kamu, jangan pikirkan yang lain, pikirkan Zahra..." ucap abi Zaky mencoba mengurai kegugupan Dewa.

__ADS_1


Hofft! Ternyata sesulit ini, benar! Menikah bukanlah untuk dipermainkan!


"Sekali lagi," imbuh penghulu.


Lalu kembali abi Zaky mengucapkan kalimatnya, Dewa meraup nafas sebanyak-banyaknya, memejamkan mata yang terlintas di pikirannya adalah Zahra, kebersamaan keduanya bahkan soul kissing mereka yang singkat.


I Love You....


"Bismillah..."



"Bagaimana saksi?" Dewa menatap harap-harap cemas, saat anggukan para saksi menjadi tanda kini Zahra sudah resmi menjadi miliknya, Dewa refleks berselebrasi, "yes! Sah gue Ndraaa! Sah gue Miki!!! Gue udah jadi suami, Nesh!" teriaknya kaya mon yet dapet pisang.



Eyi dan Fara tertawa melihat sosok Dewa di ujung koridor sana bersama Zahra yang diapit keduanya. Sementara Zahra sendiri sudah menutup mukanya malu dengan kelakuan Dewa.



"Saravv tuh bocah!" desis Lendra, momy Ica bahkan sudah menggertakan gigi, "bang Dewa!"



"Udah kawin masih aja kelakuan bocah!"



Cimoy berlari saat Eyi melambaikan tangannya, Zahra menunduk saat pintu semakin dilebarkan, jalanan berkarpet merah dengan aksen gold itu dipijakinya menggunakan hak tinggi, Cut Clemira berjalan tepat di depan Zahra membawa sebucket bunga cantik dengan pakaian princessnya, sementara ia sendiri berjalan didampingi Fara dan Eirene.



Semua mata kini tertuju pada Zahra yang berjalan, termasuk Dewa, senyumnya mengembang dengan hati menghangat, *my nurse*....


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2