
DEG
Hati Dewa mencelos demi melihat tampilan sang pujaan hati di layar ponsel, ia bukan pria bo doh yang mesti bertanya terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan Zahra, ia juga bukan orang yang kurang kerjaan yang mesti bertanya keadaan hanya untuk berbasa-basi.
Dari pandangan yang meredup, Zahra yakin kalau Dewa sudah tau keadaannya.
Zahra tak pernah melepaskan APD'nya apalagi hanya untuk sekedar menelfon, mata memerah, begitupun hidung, suaranya yang bindeng atau sumeng juga wajah kuyu, sudah dipastikan jika istrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Maafin Zahra, abang---"
Dewa tersenyum usil, "cantiknya istriku..definisi bidadari surga."
"Zahra ngga bisa penuhin aturan abang, ngga bisa pulang dalam waktu dekat juga," matanya sudah berkaca-kaca, menahan sesak, sedih, kecewa, terlebih rindu dan rasa bersalah.
"Beruntungnya aku dapetin kamu. Hey cantik, jadi sekarang kamu punya banyak waktu dong buat pacaran jarak jauh sama abang? Pacaran yuk!" tanya Dewa mengerling, bukan jawaban yang Dewa berikan untuk Zahra, melainkan rayuan dan gombalan buaya putihnya.
Ia hanya berpikir so-so'an nyerempet-nyerempet religi efek kebanyakan ngobrol sama abi Zaky, bukankah setiap musibah selalu ada hikmahnya? Anggap saja musibah ini adalah suatu rejeki yang Allah beri, diberikannya waktu untuk berpacaran meskipun berjauhan. Jika bukan karena Zahra yang sakit, mereka akan sulit berkomunikasi, mengingat Zahra yang sibuk merawat pasien.
Zahra tak bisa untuk tak terharu dengan ucapan Dewa, "abang apaan sih, aku sakit loh ini...." perempuan ini sudah hujan air mata digombali kaya cabe-cabean perempatan.
"Itu artinya Allah kasih kita kesempatan buat pacaran. Ngga apa-apa cuma lewat telfon, itung-itung nabung rindu, biar nanti pas ketemu sayangnya poll!" jawab Dewa terkekeh.
"Abanngggg..." gumam Zahra menyeka hidungnya dengan punggung tangan.
"Bilang sama aku sekarang, dedek cut butuh apa, mau apa? Mars aja bakalan ku kasih buat dek cut.." rayunya menggombal.
Zahra tak bisa untuk tak tertawa, "jijik banget dedek!! Beneran deh, kayanya pacar kamu banyak!"
Dewa terlihat berjalan ke arah kamar mandi sambil tertawa dan memegang ponsel.
"Abang mau kemana?"
"Ke kamar mandi, buang hajat!" jawabnya.
"Ihhhh jorokkkk! Matiin ah panggilannya!" Wajah Zahra bergidik geli. Sementara Dewa tertawa, "kan susah senang bersama, kemana-mana ada aku ada kamu juga..."
"Ya engga ke kamar mandi juga kali! Udah ah, abang mandi dulu! Nanti aku kabarin lagi, ada kemungkinan aku bakalan pindah ke Wisma atlit,"
Dewa terlihat menaruh ponsel di kaca kamar mandi, dimana wastafel berada, "kenapa dipindah?"
Kini ia meraih sikat gigi dan mulai menggosoknya.
"Aku pasien dengan gejala ringan bang, jadi tempatnya disana."
"Kalo... sgskfiegsmla mmgsyenak wrhegsjebdheken----"
Zahra tak bisa untuk tak tertawa dengan bahasa alien yang diucapkan Dewa, memang suaminya itu benar-benar presdir from the Mars. Mood boosternya...
"Abang kalo mau gosok gigi, gosok aja...aku ngga ngerti abang bilang apa!"
Dewa berkumur-kumur lalu membuangnya, "ya udah. Aku mandi dulu, apa kamu mau liat aku mandi?" tanya nya menawarkan.
"Ih engga, nanti aku pengen!" kelakar Zahra geli sendiri dengan ucapannya, halal kan yahhhh?!
"Nanti aku kirim makanan kesana, kabari umi sama abi...mereka pasti khawatir. Mau kujemput?" tanya Dewa, wajah itu kini basah oleh air.
"Kemana?"
"Biar kamu isolasi di villa yang di puncak? Biar semuanya kuurus sekarang?" Dewa tak mau memaksa dan mengambil keputusan tanpa persetujuan dan keinginan Zahra. Jika mau ia bisa saja langsung menjemput istrinya itu tapi ia bukan suami penjajah yang tak kenal sikap demokratis, may be.
Zahra menggeleng, "disana aku bakalan sendiri, kalo di Wisma nanti aku banyak temennya..." jawab Zahra, sudah Dewa duga Zahra akan menolak. Jika ia menolak untuk dibawa maka Dewa yang akan ikut.
__ADS_1
"Ya udah, aku mandi dulu," Dewa telah menanggalkan kaosnya menampilkan badan atletis yang menggoda, seketika Zahra mematikan panggilannya sebelum otaknya condong ke arah mesum.
"Dasar laki minus akhlak!" pipinya menghangat karena merona.
Dewa mematikan mesin mobil tepat diluar gerbang rumah sakit. Saking seringnya ia datang kesini, bahkan satpam RSCM saja sudah hafal dengan wajahnya, pagi--sore orang ini lagi, orang ini lagi. Rupanya sampai saat ini Zahra tidak dipindah tempatkan di Wisma Atlit, apa alasannya?
Status pasien suspect tak serta merta dapat menghapus sumpah profesi yang Zahra lafalkan dalam sanubari, gejala ringan yang di alaminya tak membuat si tangguh bungsu keluarga Ananta hanya berbaring di kasur.
"Relax pak, tarik nafasnya jangan diliat...ya bagus!" ucap Zahra menusukkan jarum di lengan pasien, diantara gejala ringan yang mendera, Zahra menyempatkan dirinya membantu rekan perawat lain. Statusnya saat ini adalah pasien tapi pun perawat pasien lain yang satu barak dengannya. Menurutnya kondisi badannya tak terlalu parah, ia tak tega dengan rekan-rekan sesama perawat yang bahkan untuk istirahat saja sulit.
"Ners, jangan terlalu dipaksakan. Ners pun masih harus istirahat dan menyembuhkan diri..." ujar salah satu perawat di barak C. Zahra tersenyum, "tak banyak yang bisa saya bantu karena keterbatasan kemampuan saya saat ini, tapi saya membantu sebisanya..." angguk Zahra. Bukankah memang ia sudah terjangkit, jadi tak perlu lagi khawatir akan terpapar dengan menyentuh mereka (pasien). *Menunaikan tugas hingga hembusan nafas terakhir*.
"Pak Sadewa," angguknya segan, ia tau siapa Sadewa selain dari suami salah satu perawat disini.
"Antar makanan pak?" tanya satpam melirik barang bawaan Dewa, umi Salwa dan momy Ica selalu sigap membawakan makanan untuk Zahra.
"Iya pak," jawab Dewa di balik maskernya. Ia merogoh ponselnya, dan mendial nomor Zahra.
Drtttt----
Ponsel yang tergantung di lehernya bergetar.
*My husband from the Mars* ❤
"Sudah pak, suster Lia..." Zahra menyerahkan sisa tugasnya pada suster barusan.
"Udah diambil, tinggal masuk lab. Semua datanya udah saya tulis..." ujar Zahra, lantas ia mencuci tangan di wastafel dan mengangkat panggilan dari Dewa seraya berjalan menuju kaca gedung.
"Monggo pak," ia mempersilahkan Dewa masuk ke dalam pelataran rumah sakit, bukan untuk masuk ke gedung rumah sakit, melainkan berdiri di luar halaman tepat belakang gedung 1 dimana Zahra dirawat.
"Aku udah di luar..."
__ADS_1
Tak lama dari balik kaca lantai 2 sesosok wanita cantik melambai ke arah Dewa, begitulah rutinitas pagi hari Zahra selama 3 hari ini. Meski jarak memisahkan keduanya dapat melihat satu sama lain, inilah yang membuat Zahra bisa sekuat dan setangguh ini, ia memiliki support system yang kuat, pikirannya selalu positif, ia selalu bahagia, dan gizinya tercukupi.
"Umi bawain rujak Aceh, momy bawain kamu cake labu. Oh iya kak Eirene juga titip ayam sama ikan dimasak balado...kak Fara kirim kue lontar dari timur sama air nira, dia juga kirim ekstrak buah merah.." ucap Dewa di ujung telfon dengan menunjukkan tas kain di tangan yang full of asupan makanan, terkadang Zahra membagikannya untuk pasien lain dan rekan perawat.
"Iya, nanti ada Ineke sama kak Mia yang ambil ke bawah, sambil bawain hasil tes punya abang. Makasih abang..."
"Sama-sama sayang, get well soon istrinya gue..." balas Dewa.
Keduanya saling menatap meski berjauhan, Zahra menautkan jarinya membentuk love disana.
"LOVE YOUUU TOO!" teriak Dewa membuat Zahra melongo terkejut jika Dewa se-bo doh itu untuk berteriak, sampai-sampai tangannya refleks menutup mulut biar ngga dimasukkin nyamuk.
Bukan Dewa yang malu melainkan Zahra, pak satpam, bahkan Ineke dan Mia sampai merona karena mesem-mesem sendiri.
"Cieeee!" teriak mereka yang sudah sampai bawah dengan APD lengkap.
"Aduhhh jantung gue ikutan melehoy nihhh, pengen jadi ners Zahra!" ujar Ineke, langsung dihadiahi dorongan kepala oleh Mia.
"Titip buat istri tercinta," imbuh Dewa menyerahkan 3 buah tas kain pada keduanya.
"Wah banyak banget bang, ners pasti langsung sembuh ini mah...obatnya luar dalam!" kekeh Ineke.
"Aamiin, biar cepet balik ke rumah..."
"Congrats bang! Hasil bang Dewa negatif...imun abang kuat!" Ineke menyerahkan lembaran hasil tes rapid, swab dan PCR milik Dewa.
Tangan besar Dewa menerima lembaran dari Ineke, "thanks."
.
.
.
__ADS_1
.
.