My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
DONATUR


__ADS_3

Lain kondisi rumah sakit dan rumah sakit darurat, lain pula dengan kekacauan negri. Meski tetap sama chaosnya, ribuan warga negara di putus kerja, ekonomi dunia lumpuh seketika. Mendadak bumi menangis karenanya.


Sudah tak terhitung nyawa yang hilang, hingga hampir setiap harinya bunyi sirine ambulans membawa serta pasien baik itu hidup ataupun sudah dalam peti mati, sirine ambulans bak suara terompet kematian. Bikin trauma untuk sebagian orang, kini bumi sedang menangis, ratusan bahkan ribuan keluarga tak dapat menyaksikan anggota keluarga tekasih untuk terakhir kalinya hingga ke haribaan sang pencipta.


Sudah 2 hari Zahra berada di rumah sakit tanpa pulang ke rumah.


Puluhan kali Dewa menelfon nomor Zahra, ia bahkan tak sempat merapikan kasur tempatnya tidur barusan, "angkat sayang..."


Ponsel Zahra berdering lemah, karena Zahra yang menyetelnya begitu. Si empunya ponsel sedang memejamkan mata barang sekejap, padahal posisinya bersandar di pojokan tembok dekat dengan nurse station tanpa alas, pertanda jika ia benar-benar lelah.


"Mbak, itu ponsel Zahra bunyi terus...my husband.." ucap Ineke membaca sekilas nama penelfon.


Berulang kali mbak Nuning memanjangkan lehernya, "takut ngga sopan kalo ngangkat..."


"Tapi nanti suaminya khawatir mbak, takutnya nih anak belum bilang sama keluarga..." balas Ineke.


Hufftt! Mbak Nuning mencoba meraih ponsel Zahra dan menggeser icon hijau ragu-ragu.


"Sayang, kamu masih ngga pulang hari ini? Apa aku perlu jemput, kirim makanan, atau apa?" tanya Dewa, tapi ada yang berbeda dengan Zahra, kenapa perawakannya Zahra berasa menuhin layar?


"Maaf mas, ini sama rekan Zahra...maaf udah lancang angkat telfon takutnya Zahra belum kabarin keluarga kalo dalam beberapa hari ke depan tim kami masih harus di rumah sakit," jelas mbak Nuning.


Syukurlah, ternyata bukan Zahra yang badannya lebaran dan wajahnya mendadak tua.


"Oh, terus istri sayanya kemana kalo boleh tau?" tanya Dewa.


"Anu mas, Zahra..." mbak Nuning mengarahkan layar ke arah Zahra yang meringkuk di pojokan dan terlelap.


Sungguh pemandangan yang membuat hati suami siapa saja hancur melihat sang istri tersayang sampai tidur tak layak tanpa alas. Padahal di rumah ia sendiri dapat tertidur dengan nyenyak di kasur empuk, tapi lihatlah para tenaga kesehatan disana.


"Ya Allah," hembusan nafas sesak nan pedih lolos.


***


Zahra menggeliat sadar, ia merenggangkan otot-otot yang sudah kebas, sudah tak bisa merasakan apakah ini hanya sekedar pegal atau sakit yang lain.


"Ra, tadi suami mu vicall. Maaf udah lancang angkat, soalnya sampe puluhan kali, mbak takutnya kamu belum bilang, terus bikin orang rumah khawatir." Mbak Nuning merasa tak enak hati.


Zahra tersenyum, "oh ngga apa-apa mbak, makasih. Tapi suami aku ngga marahin mbak kan? Soalnya hobby dia ngomal-ngomel," tawa Zahra dibalas tawa mbak Ninung.


"Engga, suami kamu baik malahan! Ganteng," selorohnya tertawa.


"Ha-ha-ha, ganteng kalo lagi kalem. Kalo mode senggol bacok lumayan serem," akui Zahra.


"Tumben ngga ngomelin orang baru!" Zahra menggidikkan bahunya acuh. Dengan tak berniat menelfon balik, Zahra lantas beranjak dari posisi duduknya.


"Butuh perawat buat di IGD!"

__ADS_1


"Biar Zahra aja,"


"Sama saya sama Ineke juga!" angguk mbak Ninung.


Ketiganya kembali bekerja.


Rupanya bukan Sadewa saja yang mencoba menghubungi sang Ners, berulang kali umi Salwa berdecak kesal saat sang putri tak ada kabar setelah memberikan pesan jika pasien di rumah sakit semakin banyak, ia mengadukan rasa lelah yang mendera namun sejauh ini masih dalam kendali, ia juga mengaku belum pulang beberapa hari.



"Mi, Zahra masih sibuk banget kayanya..." ujar abi Zaky, memindahkan channel televisi, kesemua berita yang sedang ditayangkan rata-rata mengabarkan berita terkini dari seluruh negara yang memuat angka jumlah kematian, suspect wabah virus, bikin ngeri. Jujur saja jiwa ayahnya sedikit terguncang, apakah disana putrinya baik-baik saja?



Terakhir umi Salwa menelfon Sadewa, meminta kondisi terkini dari Zahra.



Dewa bingung mengatakannya, tak mungkin ia menjelaskan bagaimana mirisnya keadaan Zahra saat istirahat. Hingga ia hanya mengatakan kalau Zahra baik-baik saja, dan saat ini tengah sibuk menangani pasien.



*Miki, gue mau donasi ke RSCM dalam bentuk barang, oksigen, selimut sama kasur, sama yang lain*.



*Siap pak! Kapan*?




Pimpinan rumah sakit dan pejabat daerah akan menerima tamu donatur siang ini.


"Guys, rekan-rekan! Siang ini alhamdulillah pasien, para nakes disini dapet rejeki....ada donatur yang ngga kaleng-kaleng mau donasi alat kesehatan, uang, sama kebutuhan para nakes yang menginap saat bertugas!" ujar dokter Arfan.


"Alhamdulillah!" sekecil apapun donasinya sangat dibutuhkan saat ini.


"Alhamdulillah, uhuk--uhukkk!" Mbak Ninung berujar seraya batuk.


"Kalem mbak, kalem, saking tercekat dan terharunya sampe batuk!" tepuk Dani.


"Tapi guys, pihak rs mau minta perwakilan beberapa perawat dan dokter yaa...buat formalitas serah terima bareng pejabat daerah sama pimpinan rumah sakit,"


"Saya akan tunjuk beberapa perawat dan dokter buat ikut ke depan ya,"


Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan, nama Zahra ditunjuk oleh dokter Arfan dan prof. dr. Vano, pimpinan dokter disini.

__ADS_1


"Cie elah suster Zahra, kayanya kepelem nih, masuk ke berita..say chis Ra!" goda Ilham.


Langkah Zahra bersama beberapa perawat lain ke arah halaman depan rumah sakit seperti penyegaran untuknya, meskipun masih dalam area yang sama, setidaknya pemandangan yang dilihat berbeda, tak melulu ventilator, pasien, tabung oksigen, suntikan dan infusan juga tangisan dan rasa sesak.


Dengan APD lengkap yang telah berganti mereka menyusuri jalanan, bahkan Zahra sudah merasa setengah kulitnya belang. Setelah semua ini selesai, ia harus segera mengambil cuti untuk nyalon sepuasnya.


Dari kejauhan suasana halaman sudah disterilkan, tak ada awak media yang berarti, hanya paling 1 atau 2 saja media masa nasional.


"Seneng kalo ada warga kaya yang peduli sesama gini tuh! Ngga melulu pamer kekayaan sama liburan, giliran warga lain kesusahan bak hilang ditelan bumi!" ujar Ineke.


"Tah!Tah kan, mulai neti julid mah!" cibir Mawar.


Lumayan segar udara pagi menuju siang hari ini, tak terlalu pengap seperti di bangsal, ditatapnya langit biru meski bumi pertiwi tengah menangis. Bersyukurlah Tuhan masih memberikan atap sebiru ini, pertanda hari esok yang cerah akan datang menyinari kembali senyuman tanah air.


Bendera merah dan putih berkibar bebas ditengah lapangan yang mendadak disematkan di tiang depan gedung rumah sakit.


Mata Zahra menyipit di balik kacamata dan faceshield, melihat beberapa mobil truk bergerak ber-arak masuk ke arah gerbang rumah sakit diikuti 3 mobil mewah.


"Edyannn, kayanya donatur memang keluarga terpandang, ngga kaleng-kaleng!" bisik dokter Junita yang berdiri tak jauh dari Zahra.


"Iya dok," angguk Zahra.


"Asikk, katanya kirim kasur juga buat kita bobo!" kekeh Ineke bertepuk tangan.


"Yuk, bobo gohan Ke," seloroh Ilham.


"Fix, udah kalian pacaran aja lah! Nanti Zahra nyumbang buat selametan!" ujar Zahra berseru.


"Tuh, Ke...denger ngga, yuk pacaran yuk!" ajak Ilham.


"Idih, cinta bersemi diantara pandemi!"


"Nanti kalo berlanjut sampe kawin, nama anaknya Corona!" balas dokter Arfan ikut berseloroh.


"Amit!" Ineke bergidik geli.


Tap--tap--tap


Zahra tercengang melihat siapa saja yang keluar dari dalam mobil mewah yang baru saja masuk. Pantas saja ia tak aneh dengan mobil-mobil itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Note :


*Bobogohan : pacaran (sunda)


__ADS_2