My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
PENGACAU SUASANA


__ADS_3

Kalo bisa Dewa bakalan ngajak seluruh penduduk Indonesia buat goyang asarehe saat ini, kopi dan sirup jeruk kok ya berasa air paling mujarab dan terenak di dunia sekelas dengan air zam-zam saat ini, memang sesat pikirannya! Otaknya koslet waktu Rayyan, Zaky dan daddynya menentukan tanggal pernikahan tak kurang dari seminggu lagi, bener-bener kalo do'a anak soleh mah diijabahnya juga cepet, kaya punya jalur orang dalam.


Mengingat kondisi negri yang dilanda wabah virus bukan tidak mungkin pemerintah akan melarang seluruh kegiatan yang melibatkan banyak orang apalagi dalam ruangan, lagipula ada kemungkinan keluarganya dan keluarga Ananta hanya akan mengundang orang-orang penting saja, wong keluarga Ica saja sudah seperti menghabiskan separuh penduduk bumi kok ramenya!


Tempat yang dipilih adalah salah satu hotel milik JILO corp. Dengan kelas Luxury, tentu saja pernikahan presdir anak pemilik perusahaan mestilah meriah setara dengan anak sultan.


Dari odong-odong sampe kereta kencana akan ia sewa jika Zahra mau naiknya, kebayang kan penganten naik odong-odong?!


Al Fath tersenyum tipis, benar-benar tipis antara percaya tak percaya jika kini si bungsu akan menikah, padahal rasanya baru kemarin ia lulus smp, lalu sma dan masih nemplok-nemplokin punggungnya dan Rayyan.


"Dek Ra udah gede bang, udah mau nikah...abang sedih?" tanya Fara, kedua tangannya menyusuri dari atas pundak hingga ke depan dada sang suami.


Kalau ditanya sedih, sudah pasti sedih, apalagi ia yang belum pasti bisa hadir atau tidak.


"Kalau pake pesawat militer sambil numpang pesawat pasokan ransum dari Jakarta gimana? Katakanlah saat ini abang pake kekuasaan abang untuk kepentingan pribadi, tapi hubungan keluarga dan pernikahan dek Ra cuma sekali seumur hidup bang, dia pasti pengen kita hadir..."


Al Fath terlihat berpikir keras, "entah dek. Nanti coba abang hubungi komandan resimen, atau kawan di sana,"


Fara mengangguk, "pasti ngasih! Apa sih yang engga buat si mata garuda dan berlian dari timur?!" godanya.


Al Fath menarik pelan pinggang Fara yang sudah mulai membuncit dan mengusapnya, "Fara masih bingung, kenapa abang bisa nerima Sadewa, bukannya abang bilang ngga suka sama gaya urakannya?" tanya Fara melingkarkan tangan di leher Al Fath, mengusap ujung rambut Al Fath yang terasa geli di telapak tangan.


"Dia pemuda bertanggung jawab, tangguh, dapat memecahkan masalah tanpa emosi meskipun tak ada orang yang percaya padanya, memikirkan orang lain bukan hanya perut dan kehidupannya saja, sayang keluarga, mentalnya bukan tempe apalagi temperamental...kamu bisa liat waktu lamaran kita tunda, tak ada amarah ataupun dendam yang dia tunjukkan baik itu pada keluarga Ananta atau adiknya sebagai biang dari masalah, segala rumor tentang dia di luaran hanya kamuflase..itu artinya dia cerdik." Jawab Al Fath mengingat laporan dari Rayyan dan tentunya meminta Mardian untuk mengikuti kegiatan Dewa.


Fara sampai melongo, "abang sampai nyuruh om Dian stalkerin Sadewa?!" Al Fath mengangguk, Fara mendadak menautkan alisnya dan melepas tautan tangannya dari leher Al Fath, "kok Fara jadi takut sama abang ya?! Jangan-jangan dulu waktu Fara lagi ngeden di toilet sama mandi abang suruh orang juga buat ngikutin Fara? Ngaku!" tuduhnya membuat Al Fath terkekeh, "mana ada, kalo untuk urusan telan jang lebih baik abang yang ikutin sendiri!"



Tak ada moment yang paling membahagiakan bagi Dewa saat ini. Mendadak si powerfull dan pecicilan berubah jadi diam dan tak banyak tingkah, entah kalau nanti.



Begitu pula dengan Zahra, riasan cantik ala putri Aceh melekat di badan indahnya, umi Salwa sendiri yang mempersiapkan semua termasuk WO miliknya. Semua yang terbaik tumpah disini.



Si kecil Clemira dan Panji berlarian kesana kemari di teras rumah bak bidadari kecil surga umi dan abinya, begitu lucu. Sagara, cucu tertua pun tak kalah tampan dan kalem bersama abinya Al Fath, akhirnya keluarga timur dapat hadir meski pun waktu mereka terbatas dan berdasarkan hasil menyusup.



Merah dengan campuran gold adalah seragam keluarga Ananta dan keluarga Alvian yang dibuat langsung dari boutique mewah milik Ica. Sementara catering mereka sengaja mengusung makanan khas Aceh, betawi, dan Manado.


__ADS_1


Hanya beberapa teman perawat yang diundang oleh Zahra, mengingat rumah sakit sedang sibuk sekarang.



Protokol kesehatan benar-benar diterapkan termasuk para penjaga keamanan yang dilengkapi dengan thermogun. Meski terjadi pro-kontra mereka tidak melanggar karena pemerintah belum sepenuhnya melarang. Jika saat nikahan Al Fath dan Rayyan yang hadir adalah para petinggi kesatuan militer jadi bawaannya tuh tegang, paling tamu umum yang datang rekan bisnis abi Zaky juga umi Salwa, ditambah rekan selebritis maka saat pernikahan Zahra adalah pernikahan kerajaan bisnis, mengingat keluarga Alvian dan Aditama adalah klan tersohor di bidang properti.



Tak tanggung-tanggung rekan bisnis lama Jihad menghadiahkan sebuah mobil mini bus untuk Dewa dan Zahra.



Zahra mengerjap di antara sapuan kipas angin menahan air mata yang sedari tadi siap jatuh dari pelupuk mata.



"Eits, jangan nangis dulu...nanti maha karya Eyi rusak! Belum kelar ini dek," keluh kakak iparnya itu, yap! Dengan tangan Eirene lah wajah cantik Zahra semakin manglingin. Eyi sendiri belum berganti kostum, ia masih asik melukis wajah adik iparnya itu agar menjadi ratu sehari.



"Udahlah buka MUA aja Eyi, Fara yang kelola sekalian marketing, Eyi yang rekrut karyawan sekaligus mentorin," ucap Fara.



"Boleh tuh! Jadi ladang usaha baru, lumayan buat beli SUV sama berlian!" jawab Zahra, "terus Zahra jadi apanya?"




"Done!" Eyi tersenyum.



"Honey mana honey?!" Eyi menyelipkan pensil alis di telinganya berikut lipstick di genggaman.



"Redi di luar nyiapin mobil," jawab Rayyan masuk ke dalam kamar Zahra.



"Weheyyyy, suster keramas jadi putri buckingham! Jago banget bini gue!" tawanya dibalas cebikan Zahra.

__ADS_1



"Udah ini make up'in Fara ya Eyi, ntar kita masukkin ke medsos. Fara minta modal ke abang buat buka jasa,"



"Usaha jasa apaan nih?" tanya Rayyan.



"Jasa MUA sekalian WO, mau nyaingin umi!" tawa Fara.



"Wah, kalo MUA nya Eyi, bisnis WO umi kebanting, pasti langsung melejit tuh," umi masuk ke dalam kamar.



"Masya Allah cantiknya anak umi!" seketika rasa haru menyeruak di dada. Zahra sudah selesai dirias, tatapannya jatuh ke gawang pintu kamar dimana abi dan Fath baru saja berniat masuk.



Abi Zaky tersenyum simpul disusul senyum Al Fath, Zahra langsung menghampiri dan memeluk abi Zaky, "abiii!"



Mendadak suasana jadi mengharu biru. Mungkin disana hanya Eyi yang merengut, ia mencolek dan memelintir pinggang baju Rayyan, "abang, kerjaan Eyi nambah, kayanya harus touch up lagi dek Ra nanti di hotel...itu make upnya di usek-usek ke baju abi..." bisiknya.



Rayyan tertawa kecil nan geli.



"Hihihi! Apa-apaan pada berpelukan?! Kakak juga mau ikutan!" cimoy berlari disusul Panji dan memeluk kaki abi Zaky juga Zahra. Moment haru itu harus dikacaukan oleh bocah-bocah Rayyan.



"Engga anak ngga bapak, tukang ngacauin suasana!" cebik Zahra yang sekarang malah tertawa diantara tangisnya bersama yang lain.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2