
Zahra mandi berulang kali, menanggalkan pakaiannya, "bi, baju aku jangan ada yang sentuh ya.." pesannya pada asisten di rumah momy Ica.
Dewa langsung menjemput Zahra dan membawanya pulang ke rumah momy Ica.
"Kamu mandi berapa kali sayang?" tanya Dewa mengingat waktu yang dipakai Zahra untuk mandi adalah 1,5 jam.
Dalam keadaan rambut yang masih basah, ia turun minum air jahe hangat, "3 kali."
"Luntur ngga?" kekeh Dewa.
"Apanya? Biar ngga bawa virus, aku khawatir aja bawa ke rumah..."
"Dosanya maksudku..." tawa Dewa membuat Zahra mencebik.
"Makan dulu nak, ngga usah di dengerin suami gila kamu," ajak momy Ica.
"Iya mii,"
"Gimana Ra di rumah sakit aman?" tanya daddy Ji, mereka kini berada di meja makan untuk sarapan bersama.
Zahra mengulas senyuman getir, tak mungkin ia mengatakan keadaan sebenarnya, namun sejauh ini semuanya baik, aman terkendali.
"Aman dad,"
"Ini tuh ada obatnya ngga sih?" Ganesha bersuara setelah sekian lama tak angkat bicara.
Zahra menggeleng, "belum, kita ngobatin gejala-gejala yang timbul aja. Emang yang paling bagus tuh mencegah," jawabnya mulai menyendok nasi di piring Dewa, "abang mau makan sama apa?"
"Makan kamu," jawabnya menatap istrinya usil.
"Ck, gombal! Akunya ngantuk bang, jadi gombalan kamu ngga akan masuk ke otak aku," jawabnya. Ica mengu lum bibirnya dan menggelengkan kepala, "bisa ae daki hulk!"
Zahra tertawa ditengah sarapannya. Sebelum benar-benar tidur, Zahra mencuci pakaiannya terlebuh dahulu dan menjemurnya di halaman belakang, terik matahari yang masih terasa hangat sengaja ia buru.
Zahra mengambil kursi untuk sejenak merasakan hangatnya sinar mentari menyorot punggung seraya memejamkan matanya.
Seulas senyuman kagum terlukis di wajah Dewa di ambang pintu, demi melihat pemandangan cantik itu. Ia berjalan mendekati istrinya dan berjongkok di depan Zahra, menggenggam tangan yang sudah kembali terpasang cincin nikah keduanya.
"Pasti capek, mau kubawain kasur kesini?" selorohnya.
Dengan perlahan Zahra membuka matanya, "Abang ngga ke kantor?"
"Abang, daddy, sama Ganesha ikutin anjuran suster pribadi...stay at home, jadi kita kerja di rumah, mikir sama ngatur perusahaan di rumah. Terlebih pemerintah udah ngasih anjuran perusahaan meminimalkan pertemuan kerja kan, jadi kita atur-atur jadwal masuk...kalo yang sekiranya bisa dikerjain di rumah, kita kerjakan di rumah."
Zahra tersenyum tipis, "hm..kalo gitu abang ngga kerja?"
"Oh kerja dong, nunggu Miki sama Melody kirim file buat dipelajarin sama diperiksa. Justru kerja kita lebih keras sekarang, puter otak...belum lagi perusahaan start up punya momy, lumayan sih lagi pandemi gini kalo kebutuhan pasar, cuma kitanya aja harus pinter-pinter, semua serba online..."
"Iya, sukses terus abang. Abi juga pasti kena dampaknya, padahal abi ngga bisa balik ke Aceh..." Zahra tak terlalu khawatir dengan bisnis abi juga uminya, ia percaya mereka adalah pebisnis handal melewati beberapa zaman. Tadi saat pulang ia sempat berkabar dengan umi dan abinya.
__ADS_1
"Nanti siang, Zahra mau pamitan sama anak-anak kost.." ucap Zahra, Dewa membalasnya dengan anggukan, "iya, sekalian kita beresin barang di kost'an."
"Ya udah, aku tidur dulu...abang juga mau kerja kan?" Tapi belum Zahra beranjak Dewa sudah menggendongnya masuk ke dalam rumah.
"Hh...abang ih! Malu!" Zahra terkikik kecil ditutupi sebelah tangannya.
"Biar aja mereka mupeng, daddy punya momy...Ganesha? Siapa suruh gagal move on!" jawabnya melangkah masuk.
Zahra cukup trauma dengan gendong-gendongan, membuatnya melirikan kepala ke arah langkah Dewa, "abang awas ah jalannya hati-hati, ntar kepeleset lagi!"
Keduanya tertawa, sepertinya moment itu akan jadi moment tak terlupakan, "aman, aku udah tau medan kalo disini..."
Mata Ganesha yang sedang meneguk minum di dapur tak luput melihat keduanya, ada senyuman getir darinya melihat kebersamaan mereka, namun ia mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Bahkan asisten rumah tangga pun ikut mesem-mesem sendiri melihat kelakuan keduanya saat tengah beres-beres.
"Liat bi, aku punya bayi gede!"
Bugh!
Satu kepalan mendarat di dadanya.
"Abang ih!" Zahra menggoyangkan kedua kakinya minta turun.
"Bayinya bikin kesemsem den," balas bibi mesem-mesem.
"Bayinya bisa diajakin bikin bayi!" Dewa cengengesan, ia lantas menaik turunkan alisnya melihat usil ke arah Zahra.
Bugh!
"Udah ah, aku mau tidur dulu...ngga kuat ngantuk!" jeritnya menatap sengit.
"Yuk, abang kelonin!" Dewa mengedipkan sebelah matanya genit.
"Mau kemana lo bang, kerja--kerja, daddy sama momy udah nunggu di ruang kerja, bentar lagi meeting sama yang lain." Ganesha menarik ujung kaos Dewa.
"Ah elah! Ngga ada toleransi sama manten baru emangnya? Kaya kerja rodi aja, kan JILO corp. Perusahaan gede, masa ngga tau aturan main," jawabnya mengelak.
"Ngga ada." Ganesha melengos ke arah ruang kerja daddy Ji.
"Bilangin gue ngelonin dulu istri, bentar lagi nyusul!" jawabnya tak malu.
Sudah beberapa jam Dewa membiarkan Zahra tidur, entah mungkin saking lelahnya istrinya itu hingga lepas dzuhur saja ia belum bangun. Ditatapnya lekat wajah tenang Zahra, lama-lama ia meringsek masuk ke dalam selimut yang dipakai Zahra, mengganggu tidur nyaman sang istri.
Perlahan namun pasti, kesadaran Zahra sudah kembali, hingga guncangan dan gangguan Dewa kini terasa nyata, "abang ih diem..." yang dirasakan olehnya adalah perutnya tergelitik oleh jutaan kupu-kupu saat kulitnya terasa dingin dengan sapuan bibir Dewa.
"Sayang, diperut kamu udah ada babynya belum?"
__ADS_1
Seketika pertanyaan itu membuat mata Zahra membeliak, "apa sih, ngaco...baru kemaren nikah!"
"Kalo gitu kita kasih bibit tiap hari, biar cepet tumbuh!" ujarnya, sudah jelas ia tidak sedang menunggu persetujuan Zahra, buktinya lelaki itu sudah memutar posisi Zahra dan kembali membenamkan dirinya di tubuh Zahra, kembali mengulang moment panas nan manis kemarin, mengayun dan melambungkan rasa yang dahaga akan gai rah. Zahra tak menolak, sama-sama merasakan haus akan kenik matan hingga keduanya menyatukan diri kembali diantara hari yang sudah terik.
"Abang, kita ke kost'an jam berapa?" tanya Zahra menarik selimut sebatas dada.
"Terserah, aku ayok-ayok aja...ngga usah bawa barang yang besar-besar, sekiranya susah, ngga masuk di mobil aku kasiin ke orang aja.."
Zahra mengangguk.
Lampu sen menyala dan berdetak, sekejap gerbang kampung menuju kost'an Zahra dipasangi portal dan spanduk mengenai protokol kesehatan. Warga yang masuk pun tak bisa sembarangan.
Di balik masker, Zahra meminta ijin untuk masuk pada penjaga portal, entah relawan kampung yang bergilir atau memang hansip.
"Pak, saya Zahra...anak kost di rumah bu haji Hindun..." ijinnya.
"Oh iya silahkan,"
"Makasih pak!" angguk Dewa dan Zahra. Mobil berwarna merah itu melaju pelan masuk ke dalam gerbang kampung menuju kost'an.
"Pak, siapa yang tadi?" tanya seorang warga lain.
"Zahra, anak kost bu haji Hindun..."
Ia mengerutkan dahinya, "loh pak! Kenapa dibiarin masuk, dia perawat di RSCM, disana kan jumlah pasien virus udah banyak, jangan sampe nanti nularin disini pak, bahaya!"
"Oalah, saya kira bukan nakes!"
"Disusul aja pak, diusir aja untuk sementara jangan tinggal disini!"
"Ayok---ayok!"
.
.
.
__ADS_1
.
.