My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
BERBUNGA-BUNGA ATAU STRESS


__ADS_3

Dewa sempat bingung dan gugup, namun ia bukan lelaki bo doh, yang teramat bodoh karena tak tau jika salat dzuhur dan ashar dikategorikan ke dalam sholat sirriyah. Entah secara kebetulan atau memang sudah bantuan dari Yang Maha Kuasa, mengamankan harga diri klan Alvian. Atau jangan-jangan ini memang taktik abang-abang Zahra....


"Kok kagak ada suaranya lagi dari si kodew, Ra?" tanya kak Novi.


"Mendadak bisu kali ma,"


"Aduhhhh!" Istri Jian sudah menggigit kuku-kukunya. Ica, Zahra, bahkan Lendra sudah dag-dig-dug, batal sudah solat khusyuk mereka.


Wa, suara lo mana?!!! jeritan hati seorang ibu. Tiba-tiba saja Dewa kembali bertakbiratul ihram dan rukuk. Hanya terdengar suara komat-kamit saja dari Dewa tanpa terdengar suara lantangnya.


Zahra baru teringat saat solat selesai, bahkan ia saja yang sering melakukan solat berjamaah sampai tak ngeuh. Saking ketakutan Dewa salah dan memalukan keluarga Alvian, mereka baru ingat akan hal itu.


Ica tertawa merutuki kebodohannya.


"Astagfirullah!" Zahra sudah beristighfar, mereka melirik pada kedua wanita ini. Satu persatu dari mereka keluar dari ruangan itu menyisakkan Dewa, Al Fath dan Rayyan.


"Gimana?" kekeh Rayyan.


"Saya tau dari kegugupan kamu, tanpa harus mengetes kamu. Saya dan keluarga bukanlah orang yang senang menjatuhkan harga diri seseorang apalagi mempermalukan satu keluarga sebagai bahan bullyan dan perploncoan," jelas Al Fath.


"Ya, cukup lah buat gertak sambel. Sebagai tes psikologi...gue akui lo gentle, betul atau salah yang penting berani dulu!" Rayyan menepuk pundak Sadewa seraya tertawa. Jikalau tes mengetes merekalah ahlinya, bahkan tes psikologi yang jauh berkali-kali lipat lebih sulit sudah mereka alami saat menjadi perwira. Diantara gertakan dan todongan senjata oleh lawan, seorang pemimpin harus mampu menggunakan akal sehat, berilmu, berpikir cerdas juga tenang.


"Sayang--sayangnya abi! Mandi udah soreee! Miii, mandiin kakak sama dedek, mi!" teriak Rayyan pada keluarga kecilnya.


"Ngga mau mandiiii!" jawab Cimoy merengek kabur.


Al Fath bersidekap dada, "kamu punya uang, mampu bayar ustadz atau seorang hafidz, maka belajarlah membaca dengan benar, saya tau kamu orang sibuk, tapi sisihkanlah waktu duniamu untuk urusan akhirat. Bukan bermaksud menggurui, ini hanya petuah dari orang yang sudah berpengalaman..siapapun nanti jodoh kamu, yang menjadi makmum'mu, kamu sebagai imam harus bisa membawa mereka bukan hanya sukses dunia saja tapi pun sukses akhirat," Al Fath si datar memang tak pernah menguarkan senyum sejak tadi, tapi dari nada bicaranya ia terlihat santai meskipun tegas dan lugas.


Dewa semakin merasa jatuh cinta, bukan hanya pada Zahra saja melainkan keluarganya, "love you abang-abang!" gumamnya kembali. Zahra menepuk pundak Dewa sepeninggal Al Fath, "Wa...aku udah takut kamu gagal tau ngga!"


Dewa tersenyum, akhirnya bisa berduaan juga dengan Zahra, "mana ada aku gagal! Abang kamu tuh cuma lagi tes aku, i know that!" jumawanya, padahal tadi saja, ia sudah hampir tremor disana. Jika tentang uang, sudah pasti tidak mungkin, keluarga Zahra tak pernah membawa sangkut paut tentang kekayaan, ataupun seberapa kayanya anda?! Jadi jelas, mereka bukan melihat calon mantu dari materi.



Keluarga Alvian pamit undur diri, meninggalkan kesan saling mengagumi dan tentunya rasa rindu yang harus disimpan untuk bertemu kembali.



"Abang, jangan samain Dewa sama tentara...dia bukan serdadu perang, abang ngga fair...mana dia baru operasi pasang pen..." sejak kepulangan Dewa sekeluarga, Zahra terus saja mengekori Al Fath dan Rayyan bak anak itik, Saga dan Cimoy saja sampai menertawakan.



"Ma cut udah kaya anak abi, minta jajan!" seru Saga kini mau bersuara setelah tak ada *orang asing*.


Cimoy tertawa setuju.



"Iya nih, udah gede masih mewek, minta digendong abba!" tawa Rayyan menggoda.


__ADS_1


"Abang ih!" rengek Zahra kini menggelayuti tangan Al Fath.



"Mi, nih anak umi kenapa nih?" ujar Fara.



"Tau! Umi ngga sangka, kamu bisa ya selingkuh sama calon kakak ipar, astagfirullah Zahra!" decak Salwa.



"Ih umi, bukan selingkuh..."



"Tapi affair," lanjut Eyi tertawa, Zahra jadi bulan-bulanan keluarganya.



"Lepas dek, abang mau bikinin susu buat kak Fara..."



"Biar dah, biar nyak aja Fath!" jawab nyak Fatimah.




"Aaaaa....abang ngga mau ! Pokonya Zahra ngga akan lepas, kalo abang kekeh ospek Dewa, kalo bisa sampe timur Zahra kaya gini!"



Al Fath beranjak ke dapur, Zahra ikut terbawa membuat kedua keponakannya tertawa terbahak.



"Bungsunya abang," ujar Fara.



"Ray, bantu abangmu kasih pengertian sama Zahra," titah abi Zaky masih duduk anteng di kurai kebesarannya menonton channel tv berita politik.



"Iya bi," Rayyan ikut beranjak ke dapur.



"Dek, lepas tangan bang Fath, dengerin gue kali ini! Basic gue sama bang Fath memang militer, tapi untuk hal ini, lo jangan nelen bulet-bulet tes. Jangan lo kira gue sama bang Fath bakalan nyiksa tuh bocah! Abi itu nyari imam buat lo yang kuat, tangguh, mengayomi, sabar, dan soleh. Minimalnya seperti gue, atau bang Fath...bukan pasal kemampuan tapi rasa tanggung jawab, dengan lo mohon-mohon kaya gini, apa ngga bikin kita ilfeel, lelaki mana yang berlindung di bawah ketek ceweknya? Lelaki gentle itu bakal menerima semua resiko, konsekuensi meskipun ia tak tau apa yang nanti akan dia hadapi...agar dia layak bawa bahtera rumah tangga, coba lo bayangin kalo mental laki lo nanti kaya tempe, ngandelin lo biar ngerengek gini? Dimana sisi gentlenya, pake rok sono!"

__ADS_1



Zahra mulai mengendurkan genggamannya di lengan Al Fath, mengimani perkataan Rayyan.



"Abang sudah melihat beragam jenis laki-laki dek, abang bukan mau cari serdadu, tapi calon adik ipar...kalo cuma cari yang kuat, gampang buat abang...tinggal nyomot temen San dha atau rekan personel Rayyan di detasemen Raden Joko!" Al Fath meninggalkan Zahra menuju ruang tengah lagi, mengantarkan susu hangat untuk Fara.



"Think!" Rayyan mengekor seraya tersenyum miring.



Di belahan punggung bumi lainnya, Dewa menatap langit-langit kamar, menerka-nerka apa yang akan ia hadapi di depan, apakah para pria tangguh dengan badan sebesar-besar hulk? Ataukah rintangan macam benteng takeshi? Who knows.



Hari ini ia dapat tersenyum lebar, lulus tes psikologi, kok rasanya bahagia banget! Ia sampai cengengesan sendiri di kamar.



"Ra, tunggu abang Dewa!" gumamnya tertawa kecil.



Ica menutup perlahan pintu kamar Dewa dengan wajah khawatir, "anak gue jadi stress gara-gara ditolak...gimana ini?!" ucapnya pelan.



Ica segera turun dari lantai 2, "abang! Telfon psikiater deh bang!" Ica duduk di samping Jihad.



"Buat siapa? Buat kamu?" tanya Jihad.



"Bukan! Buat Ganesh! Buat Dewa lah! kan yang ditolak Dewa,"



"Bakwan gue yang oon, Dewa bukan ditolak...tapi sedang dinilai, layak atau tidak, *ngarti kagak lo*?!" nada bicaranya yang semula pelan nan lembut kemudian sengak khas betawi tulen.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2