My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
PERTAMA KALI KECEWA


__ADS_3

Zahra keluar dari dalam lift dengan hati yang menaruh amarah. Entah karena ini pertama kalinya ia mengalami masalah begini, atau memang hormon kehamilan yang naik turun, ataukah justru perpaduan keduanya? Yang jelas kini hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Langkahnya sedikit berat menuju ruangan Dewa. Ia ingat betul dengan ucapan ketiga karyawan di lift tadi, dan seorang karyawan sebelumnya. Ia memang seorang perawat yang menomor2 kan Sadewa. Dewa seorang presdir, tampan, humoris, wajar jika ia akan dengan mudahnya mendapatkan seorang simpanan, belum lagi kerjasama yang begitu dibutuhkan untuk kesejahteraan karyawan tak mungkin ditolak Dewa, bukan tak mungkin Dewa akan selalu bersama perempuan itu, memang realita tak selalu selaras dengan apa yang dimpikan.


Disinilah janji setia pernikahan mereka diuji.....


Nafasnya sampai memburu, tangannya bergetar hingga membuat dirinya berkeringat. Rupanya memang benar kata para penceramah, menaruh penyakit hati itu bikin capek dan saat ini ia merasakannya.


Ayunan kakinya mengambang, terkesan Zahra urungkan saat ia dengan tiba-tiba menangkap sosok sang suami yang berjalan bersama seorang wanita begitu akrab, meskipun disana ada dua orang yang sepertinya asisten si perempuan.


Tapi interaksi keduanya yang hangat membuat hati yang sudah berasap itu semakin memantik kobaran api. Memang benar psikolog bilang, ada begitu banyak faktor kenapa menikah harus dilakukan saat usia matang, beberapa alasan diantaranya adalah usia dewasa memicu seseorang akan memiliki pemahaman yang lebih mendasar dan bijak, otak dan hati yang akan lebih balance dalam memutuskan tidak mengedepankan emosi juga ego.


Zahra menghela nafasnya dalam-dalam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sebenarnya ia adalah tipe gadis yang lebih memilih memendam terlebih dahulu masalah. Tapi percayalah, itu buruk! Karena masalah hanya akan menumpuk hingga akhirnya nanti akan meledak pada waktinya jika si pasangan tak paham dan tak peka, layaknya bom waktu. Momy dan umi benar, selama apapun mereka hidup bersama pasangan, mereka akan tetap saling belajar memahami karakter masing-masing, belum ada pasangan yang benar-benar mengenal satu sama lain. Apalagi dirinya dan Dewa yang masih seumur jagung, argghhhh! Kenapa manusia diciptakan dengan pemikiran yang rumit, hal seharusnya sederhana saja harus dicerna dengan rumit, karena hati ikut mengambil peran.


Wanita dengan blazer hitam dan dalam 4n merah itu nampak cantik, berkharisma dan...sexyyy. Zahra lantas melirik tampilannya sendiri, mendadak ia merasa tak pede hingga memilih diam di balik tembok.


Matanya semakin memanas manakala melihat si wanita dengan santainya menepuk bahu Dewa dan berdiam lama disana, katakanlah ia dan Sadewa memang berbeda circle pertemanan, berbeda lingkungan pergaulan. Mungkin bagi Zahra ini adalah hal yang tak wajar, namun bagi Sadewa ini adalah hal wajar.


Seharusnya Zahra tau sejak awal dan tak terkejut jika menemukan interaksi Sadewa seperti itu. Otaknya mengatakan jika ia tak boleh negatif thinking dahulu, tapi hatinya memerintah lain, ia berdenyut dan meminta sang mata untuk menangis demi mengobati rasa sakit denyutan.


Zahra melongokkan kepalanya, Dewa sudah tak ada di sana. Ia bergegas jalan menuju ruangan Miki.


Ceklek


Miki yang sedang berada di mejanya mendongak, "bu Cut?"


"Hey bang Mik, abang ngga ikut meeting?" tanya nya. Miki menggeleng, "ada pak Dew-dew, ada pak Ganesh juga disana. Kalo pak Ji ada di ruangannya." Mungkin Miki adalah lelaki yang sangat peka, ia dapat melihat ada gelagat aneh dari istri atasannya itu.


"Ibu, nangis? Alah siah kunaon ibu?! Kepentok kepalanya? Jatohh--jatoh?!" ia bahkan sudah meneliti setiap inci tubuh Zahra saat ini, membuat Zahra mengelak, "engga bang, Zahra ngga apa-apa," tapi matanya tak bisa menipu, ia malah menangis dan memeluk Miki membuat lelaki gempal itu bingung, "ai ibu teh kenapa? Ngomong bu, sok sama siapa, bilang Miki! Biar Miki hajar satu-satu!" Miki mengusap punggung Zahra.


Zahra menegakkan tubuhnya, ia segera mengusap mata dan sekitaran wajah, "sorry-sorry bang, aduhhh jadi melow gini! Bawaan bayi kayanya ya, aku suka jadi lebih sensi sekarang," jawab Zahra mengipasi wajahnya seraya tertawa sumbang.


"Ah ada-ada aja. Kalaupun sensi sampe nangis gini pasti ada sebabnya," jawab Miki. Zahra lebih memilih duduk di kursi dan membongkar paper bag, "kamu udah makan siang belum? Makan sama aku yuk!" pinta Zahra. Miki sampai mengangkat alisnya, tumben. Ada yang tak beres!


Zahra sudah membuka kotak lunch miliknya, "aku suapin ya bang Mik," ujarnya menyerot air ingus.


Miki menahan tangan Zahra, "bilang dulu ada apa?"


"Apanya?" tanya Zahra.


"Itu sampe nangis, Miki mah ngga mau liat ibu nangis. Sok bilang kenapa dulu?"


"Engga, idung aku gatel." Wajah Zahra datar menyikapinya.


"Oh iya, suami aku meetingnya udah selesai belum ya?" tanya Zahra.


Miki meloloskan nafasnya, "udah kayanya bu, soalnya barusan pak Dewa bilang mau anter kliennya sendiri ke bawah..."


Dadanya kembali terpukul keras, Zahra tersenyum miring, "se-istimewa itu ya bang Mik, sampe dianter sendiri. Tumben banget! Dia kan paling anti anter-anter orang?"


Miki mengangguk setuju, "iya sii." Zahra mengangsurkan kotak makan yang sengaja ia bawa untuk Miki.

__ADS_1


"Aduhhh, makasih banyak ibuuu! Paling pengertian ibu kita Cut Zahra ini! Miki mau rujak Aceh lagi bu, aduh itu endolita!" tawa Miki. Setidaknya obrolan dengan Miki dapat meredam sedikit kesal.


"Eh iya. Bang Miki tau siapa klien JILO sekarang yang diajakin meeting sama bang Dewa?" tanya Zahra, yang tau dengan pasti, Miki pasti tau.


"Ya tau atuh bu, masa Miki ngga tau, semua profil sampe masalah pribadi yang jadi klien JILO corp wajib tau! Dia Bianca Felix, usia 27 tahun...penerus tahta Felix corp. Mantan model dan sekarang nerusin usaha keluarganya," jelas Miki.


"Kalo gitu tau dong ya dia pernah ada hubungan sama abang, hubungan manis...kenapa bisa berakhir?" tanya Zahra, seketika Miki terdiam saat tengah mengaduk nasinya mendengar pertanyaan Zahra, kini tatapan Zahra melucuti setengah mengintimidasi layaknya intel, wajarrr, dalam da rah Zahra ada abi Zaky, ada Al Fath, ada Rayyan.


Zahra menyendok nasi ke dalam mulutnya, "bang Miki itu ngga akan bisa boong di depan Zahra."


Miki sampai tak percaya jika wanita di depannya itu adalah Cut Zahra, ia lebih seperti seorang penyidik yang mengintimidasi pelaku cab ul.


"Itu dulu bu, waktu pak Dewo masih muda. Udah cerita hebel, bareto alias sudah lama! Kan sekarang pak Dewo udah nikah sama ibu. Emangnya pak Dewo ngga ada ngomong apa-apa sama ibu?"


Itu dia masalahnya, kenapa Dewa tak bicara terlebih dahulu padanya?


Sungguh bukan itu yang ingin Zahra dengar, wanita itu menutup kotak makan siangnya, nav suu makannya sudah melambung tinggi, "Zahra udah selesai, mau anter ini dulu ke daddy sama Ganesh.." Zahra beranjak.


"Bu, jangan salah paham dulu. Cerita mereka mah udah berakhir, udah lama." Miki jadi khawatir dan ikut mules melihat kesalahpahaman Zahra.


"Aduh, kumaha atuh...salah teu nya Miki ngomong?! Aduh, naha jadi misskom kieu, ai si ibu udah liat apa tadi sampe kaya gini, biasana ge teu kieu!" Miki mondar-mandir tak jelas di ruangannya. Sementara Zahra sudah keluar dari ruangannya.


Sampai ia tersadar bahwa ia bo doh, sudah membiarkan Zahra pergi dengan pikiran salah paham.


"Ibuu! Buuu!" teriaknya menyusul Zahra, membuat orang-orang yang ada di lantai ini menoleh karena kehebohan.



"Makasih Ra," Daddy dan Ganesha tersenyum menerima kotak makan siang yang diantar Zahra dari rumah.




Jihad dan Ganesha mengerutkan dahinya, "loh, ngga nunggu suami kamu dulu?"



"Ngga apa-apa dad, Nesh...abang kayanya lagi sibuk sama klien..." Zahra segera beranjak tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.



"Permisi, assalamu'alaikum."



"Ra," Ganesha dan Jihad saling lirik.



"Kenapa? Dewa ada masalah sama Zahra" tanya Jihad.

__ADS_1



Ganesha menggeleng, "Ra!" susul Ganesha, namun Zahra sudah terlanjur masuk ke dalam lift. Dari lift sebelahnya Miki keluar seraya ngos-ngosan, "Miki?!"



"Bapak, pak Ganesh...liat bu Cut engga?"



"Barusan dia turun, mau saya susul!" jawab Ganesha.



Miki merosot di sana, "haduhh pak! Sekarang harus nyusul lagi turun ke bawah, pinggang Miki copot pak, encok! Pingsan lah, langsung!"



"Kenapa?" tanya Ganesha.



"Bu Cut kayanya salah paham sama pak Dewo, tadi sih nangis-nangis, terus tiba-tiba nanyain hubungan bu Bianca sama pak Dew-dew, abis itu malah udahan makannya. Ngga tau tah, kayanya mah abis liat apa sebelumnya, soalnya tumben!" jelas Miki, Ganesha meloloskan nafas berat, "susul---susul!" tariknya di jas Miki ke dalam lift.



°°°°°°


"Thanks Wa, semoga kerja sama kita berjalan lancar. Selancar hubungan kita dulu!" tawa Bianca berseloroh. Dewa hanya mendengus tertawa sumbang, "mau lo itu."



"Kenapa kita ngga balikan lagi Wa? Gue masih single nih! Cocok lah kita di bidang yang sama, lo masih suka cewek cantik olus nyenengin kan Wa?" ucap Bianca.



Zahra membatu melihat keduanya di ambang pintu gedung, hatinya semakin bergemuruh, jika diukur mungkin level amarah Zahra sekarang sudah memuncak, sampai-sampai kepalanya terasa nyut-nyutan.



"Bu Cut!"



Mereka menoleh ke arah dalam, Dewa melihat mata berkaca-kaca itu, mata berlinang milik istrinya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2