
Mobil berwarna merah menyala itu sudah sampai, Dewa dan Zahra menghembuskan nafasnya lelah, rasanya waktu bergulir begitu cepat...tau-tau udah sampe aja ke depan rumah sakit, ngga bisa lebih jauhan lagi gitu jaraknya? Kalo bisa dari kost'an sampe ke RSCM kaya Jakarta ke Papua, biar bisa lebih puas, tepos...tepos tuh pan tat yang penting bisa bareng-bareng lama, kok jatuh cinta rasanya seindah itu, liat badut mampang saja berasa lagi di ulangtahun'in.
Kini tidak lagi hanya diantar sampe depan jalan rumah sakit saja melainkan mobil masuk ke dalam parkiran, kalo bisa bakalan Dewa anter sampe depan pintu bangsal Kenanga sambil digandeng biar Zahra ngga ilang. Rasanya kemana-mana pengen nempel terus kaya kulit sama daki. Aku kulitnya---kamu dakinya, lalu readers? 😂
Zahra tiba-tiba terkikik, "ngga takut ditagih bayar parkir? Atau mau parkir deket ambulans aja? Kamu kan orangnya itungan?"
Dewa tertawa, "kan sekarang udah jadi calon istri...apapun abang kasih, apalagi cuma uang receh buat parkir..."
"Masih belum loh! Belum tentu abang-abangku nerima kamu. Kalo dulu restu turun karena mereka liatnya Ganesha, kalo kamu...kok aku ngga yakin ya?" Zahra tertawa melihat wajah Dewa lebih dekat dengan menyipitkan matanya seolah meragukan, membuat lelaki ini mengangkat alisnya sebelah, "nantangin...jangankan abang-abang kamu sama pasukan tentara'nya, presiden sama anak cucunya aku jabanin! Gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi, abang-abang kamu kan kutakluki!" jumawanya, padahal selevel pratu saja belum karuhan bisa Dewa kalahkan, pake ngeremehin perwira. Untuk rasa percaya diri Dewa yang teramat tinggi, Zahra acungi jempolnya...sepuluh kalo punya!
"Jangan sombong wahai bapak presdir, k.o baru tau rasa! Abang-abangku ngga segan buat matahin leher kamu, Wa..." Zahra dengan usilnya menarik ujung rambut Dewa yang ia kucir satu di belakang.
"Aku ngga sombong, tapi itu kenyataannya...kalo mau nih ya... sekarang juga abang-abang kamu datengin kesini! Aku mau liat sekejam apa? Apakah mirip Hanoman ataukah Rahwana?" Dewa membalas tarikan di rambut Zahra yang belum gadis itu gulung.
"Beneran? Jangankan ngalahin abang-abangku, ajudannya aja aku sangsi..." Zahra memicingkan matanya.
"Kamu ngeremehin aku? Apa tantangannya, paling ngga jauh-jauh dari latihan fisik, kecil! Sehebat apa abang-abang kamu? Paling ngga lebih dari bapak-bapak polisi yang perutnya maju," cebiknya.
"Nih! Kenalin, anak daddy Ji yang jago berantem," Dewa sedikit menegakkan badannya setelah berhasil melepaskan seatbeltnya, Zahra ikut merasa tertantang dengan posisi Dewa.
Zahra melongo tak percaya, "oke...liat aja, kamu jangan mewek kalo sampe abang-abangku ngga kasih kamu kesempatan buat nafas!" Zahra menarik rambut Dewa lebih kencang dari sebelumnya, Dewa kembali membalas dengan menarik rambut Zahra, hingga akhirnya mereka malah saling tarik menarik rambut dan jambak-jambakan, meskipun Dewa tak menggunakan tenaga, tapi tetap saja, aksi keduanya itu membuat heboh di dalam mobil.
"Dewaaa ih! Calon suami apaan yang begini, kdrt!" tangannya masih mencengkram ikatan rambut Dewa. Begitupun Dewa ia tak kalah mencengkram rambut Zahra pelan, "kamu yang duluan, gendut! Mana ada calon istri bar-bar begini, bisa-bisa aku yang kamu siksa..."
Tapi kemudian mereka tertawa bersama mengingat kelakuan masing-masing yang seperti bocah tk. Dewa melepaskan cengkramannya lalu merapikan rambut Zahra dengan sisiran tangan besar miliknya.
"Sekarang ngga akan ada lagi pasien yang minta dimandiin, jadi aman!" ujar Dewa.
"Angkasa pergi bukan berarti pasien abis Wa, masih ada Angkasa-Angkasa lain, masih ada Dewa-Dewa lain..." balas Zahra.
Alisnya mengernyit tanda tak terima, "pasien kurang aj ar mana lagi?"
Zahra terkikik, "hati-hati, jangan terlalu pecicilan di kantor...kaki kamu belum pulih betul,"
"Siap sus!"
"Kalo gitu aku masuk kerja dulu,"
Dewa mengangguk tapi saat Zahra akan berbalik setelah membuka seatbeltnya, lelaki ini menarik lengan Zahra dan mengecup pipi Zahra tanpa aba-aba, membuat gadis itu sewot.
"Belum jadi mahrom oon!" Zahra mendorong pelan kepala Dewa refleks karena terkejut, selama ini belum ada lelaki selain abi Zaky, Rayyan dan Al Fath yang memberikan kecupan hangat di pipi ataupun kening Zahra. Jujur saja, kini degupan jantung Zahra sudah seperti kondisi jantung yang diajak olahraga, begitu cepat dan memburu, pipinya merona karena serangan Dewa barusan. Lelaki itu tertawa gemas melihat tingkah Zahra yang salting, polos-polos bubur sum-sum.
Dewa menurunkan kaca mobil, "nanti pulangnya aku jemput,"
__ADS_1
"Nanti pulangnya, kita ke mall dulu Wa...soalnya aku ada janji ketemu kak Eyi sama anak bang Ray," balas Zahra.
"Oke."
"Pak Deww---dewww!"
Lantai gedung kantor berguncang, dari kejauhan sesosok pria gempal berlari menyerbu layaknya badak bercula yang ingin menanduk Dewa.
"Miki kangen pak Dewo!" teriaknya, bahkan para karyawan yang berada di area itu menghindar ke samping agar tak tertubruk Miki.
Grekk!
Dewa yang terlambat menghindar merasa jika ini adalah musibah lanjutan untuknya, bagaimana tidak, pagi-pagi ia sudah dipeluk oleh kingkong trans\*gender. Mana namanya diubah-ubah, sejak kapan ia dipanggil Dew-Dew, sungguh penghinaan untuknya yang lelaki tulen.
"Kenapa bapak ngga bilang kalo kecelakaan pak, tau gitu Miki samperin ke rumah sakit buat urus bapak, mandiin bapak, nyuapin biar kaya pasangan manten!" tawanya membuat Dewa bergidik ngeri, amit-amit gusti! Dunia sudah berada di ujung masa.
"Gue ngga apa-apa, ngga usah lebay!" Dewa menepuk-nepuk jas dan kemejanya lalu berjalan lagi hendak menuju ke ruangannya.
"Babyyyyy!" cobaan hidup rupanya belum berakhir, dimana ada Dewa disana ada kuman. Ia sampai lupa jika telah mengundang calon duri ikan ke kantor, secepatnya ia harus singkirkan Melody jika tak mau dirisihkan oleh gadis itu, demi menghormati dan menghargai Zahra.
Belajar dari pengalaman, secepat kilat Dewa menghindar saat Melody ingin memeluknya dan berlindung di badan Miki, hingga akhirnya tabrakan antara Melody dan Miki tak terhindari menjadi pemandangan heboh yang membuat kantor berasa panggung lenong.
__ADS_1
"Awww!"
"Ihhh, apa sih lo!"
"Hihhh, gue mau meluk Dewa, bukan buto ijo bin kalagondang kaya lo!"
Miki membulatkan matanya, "sembarangan nenek lampir!" ia menarik rambut Melody.
Dewa tertawa, apakah harus ia memecat Melody? Dan kehilangan hiburan macam ini?
"Udah! Udah!" Dewa menarik leher kaos Miki dan membawanya kembali berjalan, "lo berdua mesti akur, lo berdua kan sekertaris gue...jangan berantem mulu!"
"Dan lo Mel, kalo masih mau kerja disini...bersikaplah profesional!"
"Miki, agenda gue hari ini apa?" tanya Dewa tidak menghentikan langkahnya.
"Emhhh, sebentar pak! Hey papan triplek! Tablet punya gue mana? Jadwal agenda pak Dewa ada disitu?" tanya Miki sengit pada Melody seraya mencolek lengan gadis itu.
Melody menarik bibir atasnya nyinyir seraya menepuk-nepuk lengannya, "mana gue tau! Lagian itu tugas lo lah, gue disini kan calon pendamping Dewa, bukan ngurusin jadwal kerjaan, ya kan baby?!" gadis itu tak kehabisan akal untuk selalu menempeli Dewa. Tapi belum juga ia menempel di lengan kekar Dewa, Miki sudah mendorong jidatnya, "hey...tolong ya! Pak Dewa itu sudah punya calon istri, ngga usah ngarep cacing kremi kaya lo bisa bersanding di sisi pak Dewo-nya gue, di dapurnya aja ngga yakin gue..."ujar Miki, Dewa menarik senyuman miring, ia menggelengkan kepalanya, sepertinya Syailendra memang benar...Miki berkompeten.
"Whattt?!!! Baby, apa yang dibilang si kingkong bohong kan?" bak tersambar peluru nyasar pagi-pagi .
.
__ADS_1
.
.