My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
KELAKUAN SI CICAK PUTIH


__ADS_3

Fara sudah mencengkram kemeja Al Fath kencang hingga berbekas, ia benar-benar takut jika si kalem ini berubah jadi barongsai, nyak Fatimah yang melihat sampai bersuara.


"Ra, kemeja laki lo ngga usah diremes gitu, itu kusut!" Al Fath menoleh melihat Faranisa di belakang.


"Hehe...maaf abang," ia menepuk-nepuk pundak Al Fath.


"Bang, bi..." Rayyan menukikkan alisnya.


Eirene tau Rayyan cukup provokatif, ia mencubit pinggang suaminya agar tak terlalu emosi.


Zahra yang sejak tadi ditunggu-tunggu akhirnya turun, "maaf menyela, bukan keputusan Ganesha saja bi, abang...tapi juga Zahra," gadis cantik dengan pakaian sopan itu turun, membuat siapa saja terpesona apalagi Dewa.


"Zahra,"


"Dek Ra,"


Dewa yang ingin ikut buka suara ditahan oleh Ica, "diem dulu! Jangan ikut ngomong," pelototnya, masalahnya jika Dewa ikut bicara suasana akan semakin chaos.


"Atas nama pribadi, saya meminta maaf pada keluarga Zahra...saya tau usaha dua keluarga untuk mendekatkan saya dan Zahra demi silaturahmi, tapi kenyataan berkata lain...baik saya maupun Zahra merasa tidak cocok,"


"Really?" tanya Al Fath mencibir dengan menyunggingkan senyuman miring.


"Udah gue duga!" saking gemasnya, Eyi menangkap bibir Rayyan, "abaangggg.."desisnya.


"Kamu duduk!" pinta Al Fath meminta Zahra duduk. Ooo....Fara benar-benar sudah mengelusi punggung dan pundak Al Fath, "sabar abang...sabar....tarik nafas dalam-dalam....buang lewat belakang," ujarnya mendapat kernyitan dari Al Fath.


"Ini ada apa sih malah-malah?!"


"Abi Fath! Abi! Jangan malah-malah nanti cepet tua!" decak cimoy sambil berkacak pinggang. Fara tak bisa untuk tak tertawa, ia sampai menghadap ke belakang dahulu demi menahan denyutan di bibir.


"Dek, bawa anak-anak ke taman bermain!" pinta Rayyan.


Eirene mengangguk seraya menarik cimoy dan menggendong Panji, "oke semua yang merasa anak-anak ikut tante Eirene, di taman bermain ada mainan, coklat, permen, sama jelly!!!!" seru Eirene. Tapi pada kenyataannya bukan hanya anak Ara, anak bayi Momo dan cucu keponakan saja yang mengekor, melainkan Lendra, dan Galih.


"Astagfirullah!" Ica dan Jihad menggelengkan kepalanya.


"Lendra!" geram Kara.


"Dilanjut silahkan, biar Lendra sama om Galih yang ikut jaga anak-anak!" ucap Galih.


Kini di ruangan dalam rumah menyisakan keluarga inti saja, karena ujung-ujungnya keluarga dari sisi---dari pinggiran, melipir ke halaman rumah sambil makan-makan kudapan bersama Fara dan Eirene.


Fara berlari kembali membuat mereka melihat tingkah ibu danyon ini, "sebentar iklan dulu!"


"Abang janji dulu jangan meledak kaya granat, jangan teriak-teriak apalagi gebrak meja?!" tanya nya mengacungkan kelingkingnya.


"Dek,"


"Iya---iya, Fara temenin abang Saga," ia kembali berbalik arah.


Salwa menghela nafasnya, "hmmm---sepertinya keinginan kita gagal ya bu Ica? Zahra sama Ganesha nyatanya ngga cocok," ia tersenyum garing.


Ganesha menunduk, "mi...sebenernya..." Zahra baru saja mangap.


"Diem dulu!" Rayyan mendorong jidat Zahra ke belakang.


"Ihhh! Apa sih!" Zahra mencebik, Dewa terkekeh melihat interaksi Zahra dan Rayyan.


"Ya..mau apa dikata kalau memang Ganesha dan anak saya memang tak cocok, kita sebagai orangtua tidak bisa memaksakan," abi Zaky yang sejak tadi diam angkat bicara.

__ADS_1


Ucapan itu membuat Jihad dan Ica tersenyum lega.


"Tapi bi, sebenernya..." Zahra yang kembali akan bersuara kembali dibekap Rayyan, "nih anak enaknya dilempar ke perairan Maj3ne!"


"Abangmmmmpphh mmm!" Zahra melotot berontak.


"Allah ! Kalian berdua bisa diem ngga?!" Al Fath bersuara.


"Nih si playboy cap sarden bang!" Zahra menjewer kuping Rayyan


"Lo," Rayyan ikut memiting leher Zahra.


Al Fath berdiri dan menjewer kuping kedua adiknya, "kalian berdua mau diem, apa abang kirim ke batalyon infanteri di timur?"


Rayyan terkekeh, tentu bukan masalah untuknya jika hanya batalyon infanteri, "lo jangan ketawa, Ray. Lo gue mutasi ke kep. Natuna, 6 bulan biar pisah sama anak istri!"


Kini gantian Zahra yang tertawa, "sokorrr!"


Zaky sudah memijat pangkal hidungnya jika Rayyan dan Zahra disatukan sudah mirip Thomas dan Jenny. Kara dan Milo mengulum bibirnya, ternyata keluarga se menakjubkan ini dalamnya sama dengan keluarga mereka.


"Kalau gitu keputusan abi... mau tak mau Fath sama Ray terima saja. Itu artinya kami berdua bisa mencalonkan junior kami sebagai kandidat untuk dek Ra,"


Rayyan menyeringai, "tul! Siap-siap lo ikutin jejak Eyi sama kak Fara jadi ibu persit,"


"Dih ogah! Ditinggal-tinggal jarang dibelai," tolaknya mencebik.


"Dipikir jadi perawat ngga ninggalin keluarga juga gitu?" debat Rayyan.


"Tapi ngga seintens abang! Bisa sampe berbulan-bulan ninggalin kak Eyi sama kak Fara, untung aja cimoy masih kenal bapaknya,"


"Tapi kehidupan mereka terjamin negara! Banyak keluarga batalyon yang nemenin, ngga kaya kamu sama mayit!"


"Lo bestienya virus!"


Zaky sudah greget dengan kedua anaknya itu, sementara Dewa, Kara dan Milo sudah tertawa termasuk Jihad. Al Fath meraih kue di piring dan menyumpalkan ke mulut Rayyan juga Zahra. Salwa menutup dahinya pusing.


"Diem kan?! Itu kenapa abang suruh kamu diem di kamar, kalo bareng Ray...kamu berdua udah kaya kaleng ketemu tutupnya, berisik! Ini juga bapak-bapak!"


Al Fath meloloskan nafas beratnya, sebenarnya dalam hatinya ada sedikit rasa kesal dan marah namun melihat abi dan umi, harga diri keluarga bukan dilihat dari seberapa kuat mereka menindas orang lain yang membuat orang-orang akan takut tapi semua akan merasa segan dengan klan Ananta karena kebijaksanaannya, "saya mewakili abi dan umi mengucapkan terimakasih atas kejelasan dari keluarga Ganesha, dengan ini...kami jadi lebih leluasa lagi dalam menentukan pilihan untuk Cut Zahra," jelas Al Fath, wajahnya memang selalu datar, tak ada ekspresi senyum darinya, Dari sini Dewa dapat menilai jika abang Zahra yang pertama begitu berwibawa macam ayahnya, dan abang keduanya lebih seperti Zahra yang slengean dan absurd, tapi pun gampang tersulut emosi.


"Tunggu bang!" sejak tadi Dewa ingin bersuara.


Al Fath dan Rayyan melihat sosok yang mirip sekali dengan Ganesha, namun dengan gaya urakan dan rambut gondrongnya.


"Wa," Jihad menahan tangan Dewa.


"Biar daddy,"


"Tapi kedatangan kami kesini juga bukan hanya sekedar perwakilan dari Ganesha, saya selaku ayah dari Sadewa meminta ijin untuk meminang nak Cut Zahra untuk anak kami Sadewa,"


"Ha? Gimana-gimana maksudnya?" tanya Rayyan.


"Kami...." Ica dan Kara menyerahkan semua hampers lamaran berwarna biru dan hijau ke depan mereka, dengan isian barang-barang yang tak main-main harganya.


"Ingin melamar Zahra untuk Sadewa," ucap Ica.


Rayyan dan Al Fath mengerutkan dahinya saling bersitatap.


"Makanya kalo orang mau ngomong jangan di samber!" ujar Zahra.

__ADS_1


"Seiring berjalannya waktu, saya dan Zahra sering bertemu...saya merasa cocok dan nyaman dengan Zahra, daripada harus berpacaran yang tak jelas dan mengundang fitnah, alangkah baiknya saya langsung meminta Zahra pada keluarga Zahra," ucap Dewa, mendapat jempol dari Syailendra, pantesan dunia sejuk, lah penjahatnya udah jadi ustadz. Meta dan Salwa menggeser kursi samping mereka demi menata barang-barang bawaan keluarga Dewa.


Al Fath memandang abi Zaky, umi Salwa, Rayyan, tante Meta dan kemudian Zahra. Dan suara terbanyak yang ia tangkap dari sorot mata keluarganya adalah...


"Maaf beribu maaf, jika sebelumnya kami langsung memberi restu karena memang Ganesha adalah pilihan umi, dan kami mempercayakan semua harapan, kriteria idaman calon pendamping Cut Zahra dan keputusan keluarga di waktu lalu itu dalam sebuah perjodohan, tapi berhubung pihak Ganesha sudah membatalkan, maka batal pula perjanjian perjodohan."


Zahra menatap nanar Al Fath, "bang, tapi Zahra sayang Dewa," cicit Zahra pada Al Fath.


"Cuma makan sayang itu ngga cukup dek Ra, bagaimana kalau kejadian seperti ini terulang lagi, abang, umi, abi, Ray, tante Meta kan belum tau bagaimana perangai Sadewa?" tanya Al Fath.


"Tapi saya bukan Ganesha bang, meski kami saudara kembar. Saya bersungguh-sungguh pada Cut Zahra," tukas Dewa meyakinkan.


Ica sudah mengira ini akan terjadi sebelumnya, membuat ia kini pasrah saja jika memang keluarga Ananta menolak lamaran Dewa.


"Kasih tau saya, bagaimana caranya agar pihak keluarga Cut Zahra bisa memberi restu untuk saya? Menerima lamaran saya?" tanya Dewa, bukan Dewa jika menyerah begitu saja.


"Jika memang nak Sadewa menginginkan adik saya Cut Zahra, maka harus bersaing dengan kandidat-kandidat lainnya...karena lelaki yang menginginkan adik saya bukan hanya nak Sadewa," jawab Al Fath.


"Best!" puji Rayyan pada kakaknya.


Jihad dan Milo kini menatap Dewa, "gimana bang? Kali ini kamu harus berjuang, karena daddy sama momy tak bisa membantu lagi...hanya bisa sampai sini, bang?"


Jalan Dewa memang tak pernah mudah untuk mendapatkan apapun, tapi itu akan membentuk karakter dirinya semakin kuat dan tangguh.


"Saya terima," jawab Dewa kini memandang serius kedua abang Zahra, kedua orangtuanya dan orangtua Zahra lalu terakhir ia tersenyum hangat pada Zahra.


"Wa," Zahra menatap getir.


"Abang," gadis itu bergumam berganti menatap Al Fath.


Ia mengguncang-guncangkan lengan Rayyan, "bang Ray bantuin Dewa,"


.


.


Fara menggeser posisinya bertumpukan punggung Eyi yang berjongkok dengan maksud agar lebih jelas mendengar percakapan mereka, tapi secara tak sengaja ia menginjak kaki Eyi, "awww...aww...kak Fara, kaki Eyi keinjek kak!"


"Eh sorry--sorry!" Fara tertawa. Sontak saja mereka menoleh serempak.


"Kak Fara sama kak Eyi lagi ngapain disitu?"


Krikk--krikkk...krikkk--krrikkk


Mereka melirik satu sama lain, "eheheh umiiiii! Air tehnya abis mi? Perlu Fara ambilin lagi ngga mi?"


"Abi sehat kan bi? Udah jamnya abi makan vitamin belum mi, biar Fara yang ambilin?!"


"Hehe, abinya Saga ganteng abissss! Joe Tasliem mah kalah!"


Pffftttt---Zahra dan Eyi tertawa. Dasar kakak ipar konyol.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2