
"Sayang, udah sampe disini kok ngga kasih tau?" Dewa segera menghampiri Zahra, lalu menangkup wajah Zahra saat melihat ada yang tak beres dengannya, "kamu kenapa? Kamu abis nangis? Iya nih abis nangis! Kenapa? Sakit?! Apanya, bilang aku?" tanya Dewa khawatir.
Zahra menatap Dewa nyalang, menunjuk dadhanya, "hati aku yang sakit."
Oke, Dewa mengerti...dia bukan manusia bo doh. Dipeluknya Zahra disana tanpa peduli disana masih banyak yang melihat.
"Maafin aku, maafin candaan Bianca juga.." ucap Dewa.
Bianca tersenyum mengerti, jika sikap impulsifnya menyakiti Zahra, "oke sekarang gue paham. Kenapa Sadewa sekarang tahan godaan. I'm so sorry..."
"Zahra...Cut Aisyah Zahra Bi, dia ibu dari calon anak-anak gue, my lovely wife..." tukas Dewa.
"Sorry Zahra, gue kira Sadewa masih kaya dulu...rupanya kamu yang udah bikin dia insyaf!" tawanya dan Dewa.
"Ah gara-gara lo nih Bi! Bini gue mewek nih! Lagi sensi kayanya, soalnya biasanya ngga kaya gini...bawaan calon little Sadewa di perut!" tanpa malu ataupun ditutup-tutupi Sadewa bahkan mengakui jika Zahra sedang mengandung.
"Wohooo! Congrats!" Bianca berseru.
"Gue kira lo ngga akan pernah bisa serius sama cewek Dew, bahkan sekelas gue juga ngga bisa bikin lo berlutut..."
Tapi rupanya Zahra masih enggan untuk mendongak dan menyapa Bianca, jujur saja ia malu! Baru sadar jika ia menangis di depan umum, dan sekarang hatinya saja sedang menertawakan tingkah kekanakannya.
"Euhhh pak Dewo! Bisa-bisanya bikin ibu Cut mewek ah! Meni udah reuwas, alias terkejut Miki, soalnya baru pertama kali liat ibu kaya gini!" Miki menghampiri, sementara Ganesh lebih memilih kembali.
"Oke, salam kenal Zahra. Pantes sih! Sadewa luluh, lo cantik, polos, lugu!" tawanya memuji yang terdengar seperti cibiran.
"Gue serius Zahra, lo tenang aja...gue udah tunangan ko! Jadi candaan gue yang tadi ngga usah dianggap ya. Kalo gitu, gue pamit Wa, Miki..."
Diangguki Dewa dan Miki.
Zahra kini mengurai pelukan di tubuh Dewa, "kamu cemburu?" tanya Dewa dengan hidung kembang kempis bahagia.
"Enggak!" sengaknya menyeka air mata yang tersisa.
__ADS_1
"Boong banget!" tawa Dewa.
"Aku kesel sama kamu! Aku kesel sama Miki! Aku kesel sama karyawan kamu! Aku kesel sama Bianca! Yang udah bikin dadha aku nyeri siang ini, bikin nav suu makan ku ilang, kepala nyut-nyutan! Aku mau pulang!" Zahra menatap mendelik sinis, jika yang tadi itu rasanya cemburu, maka Zahra tak mau lagi merasakannya. Jika yang barusan terjadi adalah kesalahpahaman, maka selamanya ia tak mau mengalaminya lagi. Ia hanya mau jadi putri bungsu Ananta yang begitu dilindungi bahkan untuk urusan hati.
Miki mengerutkan dahinya dan bergumam, "naha jadi urang? Kenapa jadi aku, aku salah apa?"
"Oke kalo Bianca aku tau dia salah apa. Kalo aku? Coba bilang aku salah apa, Miki salah apa? Karyawan, karyawan aku salah apa?"
Zahra hanya mendesis, "pikir aja sendiri!" ia hendak melengos tapi Dewa menahan lengan istrinya itu, "aku bukan tipe lelaki peka, sensitif, dan seneng mikir. Aku juga ngga mau berlama-lama membiarkan masalah. Masalahnya disini maka harus selesai disini juga," jawab Dewa kini serius.
Oke, sekarang masalahnya sudah ranah rumah tangga, Miki memutuskan untuk pergi dari sana. Dewa menarik Zahra untuk ke dalam, tak etis membicarakan masalah rumah tangga di luar ditonton banyak orang, maka yang ia lakukan adalah membawa istrinya ke ruangannya. Zahra sempat menolak namun akhirnya jawaban yang keluar dari mulutnya adalah, terserah! Ngga tau! Begitulah perempuan, dan mungkin dari sekian kata-kata manis yang selalu keluar dari mulut Zahra, kedua kata inilah yang bikin Dewa malas.
Ganesha dan daddy memperhatikan keduanya masuk dengan yang satu ogah-ogahan, dan yang satu ngebet terkesan memaksa.
Seolah tau apa yang ada di pikiran Ganesha, Jihad hanya menepuk pundak putra keduanya itu.
"Karena selamanya kita akan terus belajar memahami satu sama lain, meskipun sudah hidup bersama. Kedalaman hati dan sifat manusia itu tak bisa diukur...termasuk daddy dan momy yang terkadang masih mengira-ngira dan meraba-raba keinginan pasangan satu sama lain...apalagi mereka, sama-sama keras. Tapi seiringnya berjalan waktu pernikahan cara mereka menyikapi pertengkaran akan berbeda, biar mereka berdua belajar..." Jihad melangkahkan kakinya masuk pintu lift, ia ada janji temu dengan linge rie Ica.
"Coba bilang?!" Dewa menahan pintu keluar, sementara Zahra sudah mengacak-acak meja dan buku-buku di perpustakaan mini milik Dewa tanpa berkata-kata.
"Apa harus abang ancam dulu biar ngomong?" tanya Dewa.
"Diam tidak akan menyelesaikan masalah..." lanjut Dewa hampir meledak dibuat Zahra, jarang-jarang ia bisa sabar begini menghadapi wanita. Tapi rupanya wanitanya ini senang memancing-mancing di air keruh. Dewa menyeringai lalu mengunci pintu ruangannya.
Dewa mendekati Zahra dan mengunci pergerakan istrinya yang masih asik menarik dan menjatuhkan buku-buku koleksinya secara sembarangan, membuat Zahra terhenyak dan ingin berontak, namun sentuhan lelaki ini membuat bulu kuduknya merinding.
"Abhanggg---"
Si al! Suaranya kini menthesah. Bibir Dewa menyusuri tengkuk dan telinga Zahra, meski terhalang surai indah tetap saja tak mengurangi sensasinya. Tangan Dewa bahkan sudah mengunci pergerakan tangan Zahra seraya mengelus area perut yang terhalangi pakaian. Hembusan nafas Dewa menggelitik membuat lemas.
Dewa kembali menyeringai, "kalo kamu ngga bilang abang ngga akan berenti, biar kita lakuin disini...belum pernah kan coba gaya baru, diatas meja?!" Dewa membalikkan tubuh Zahra.
"Abhangg ngga ngom--mong sam---maa akuhh!" Zahra memejamkan matanya menahan sesuatu yang membuncah saat Dewa menyentuhkan hidungnya di ceruk leher Zahra dan mengecup basah leher putih itu.
__ADS_1
"Bilang apa? Mau meeting?" tanya Dewa menaikkan alisnya, ia menghentikkan serangannya pada Zahra.
Alis Zahra kembali menukik, "abang ngga ngomong kalo kliennya mantan abang, mantan terindah!" sengak Zahra menekankan kalimat terakhirnya membuat Dewa tertawa.
"Oke abang salah, ngga bilang ke kamu kalo klien kali ini adalah Bianca..terus?"
"Mana abang mesra-mesraan sama dia di lorong, pake ketawa ketiwi terus tepok-tepok bahu, dikira komunikata?! Mungkin bagi abang itu hal biasa, tapi bagi aku? Hargai aku! Sekalipun aku ngga ada disitu," ucap Zahra serius, Dewa mengangguk paham, sampai mana batas wajar menurut istrinya.
"Oke abang minta maaf sama dek cut," jawabnya mengecup punggung tangan Zahra, see...playboy mah segampang itu minta maaf, membuat Zahra mencebik, "kayanya buat seorang playboy udah biasa ya minta maaf? Luwes banget, cepet banget! Nanti kaya gini lagi, minta maaf lagi!" sengit Zahra.
Dewa menggaruk tengkuknya, wanita emang makhluk ribet! Ini yang ia tak suka, sayangnya ia mencintai perempuan, ibunya perempuan, anaknya lahir dari rahim perempuan, dan Zahra adalah perempuan.
"Terus abang mesti gimana biar kamu maafin abang?" tanya Dewa menyerah.
"Ngga tau! Pikir aja sendiri!"
See! ! ! Dewa kembali menggaruk tengkuknya, lama-lama tuh tengkuk lecet ia garuk.
.
.
.
.
.
Duhh, si Dew-dew.
Miki said " teh sin ini tolongin bang Dewa! Aduhh ieu diuber-uber ku emak-emak Entun!" 😆😆😆😆
Teh Sin answer, " ken bae lah! Biar si Dewa ngerasain kekuatan super emak-emak yang lagi pada marah,"
__ADS_1