
Zahra tak hentinya tertawa, dosakah ia tertawa? Tapi kalo di tahan perut dan mulutnya sungguh pegal. Suaminya ini benar-benar konyol.
Ia menarik bathrob miliknya dari kamar mandi dan memakai itu lantas memapah Dewa yang berjalan bak manten su nat ke atas ranjang.
"Ini yang harusnya jalan ngang kang siapa sih?" tanya Zahra kembali tertawa. Perempuan yang masih gadis itu melangkah ke arah koper milik Dewa demi mengambil pakaian milik suaminya itu.
"Ck, namanya juga musibah. Kamu ada yang sakit ngga?" tanya Dewa meneliti tiap inci tubuh Zahra, kembali ia meneguk saliva sulit menatap lekukan tubuh Zahra yang selalu sukses bikin otaknya miring ke kiri.
"Untung ngga ada yang luka, kamu pake baju dulu deh..." tangannya terulur memberikan kaos milik Dewa, tapi Dewa tak mau malam pertama berakhir begitu saja, baginya jatuh begitu tak berarti, tak akan sampai bikin ia tumbang masuk rumah sakit atau pan tatnya menghilang. Dewa berdiri dari duduknya dan menghampiri Zahra.
"Karena aku udah jatoh, suster harus obatin aku..." ia menyeringai, tanpa memberikan Zahra kesempatan untuk menjawab Dewa langsung menarik pinggang Zahra posesif dan menyerang bibirnya rakus, seolah itu adalah candu baginya.
Zahra langsung terpejam menerima serangan melenakan itu.
Pluk!
Kaos yang dipegang Zahra teronggok di bawah kaki begitu saja, dan kini tangannya malah sibuk mencari pegangan, menelusuri kulit punggung Dewa, kali ini Dewa tak akan membiarkan Zahra lepas barang sedetik saja. Tali bathrob yang disimpulkan tak kencang itu begitu mudah ia tarik, tak sampai harus menggunakan tenaga dalamnya si wiro sableng.
Dari celah yang terbuka tubuh polos itu mengintip malu namun menantang jiwa kelaki-lakian Dewa. Tangannya menelusup masuk merasakan setiap inci kulit Zahra yang meremang, dan berlabuh di bukit dan lembah. Perempuan itu hampir tak dapat berpijak dengan benar hingga Dewa harus menahan bobot tubuhnya di area pinggang. Tindakan Dewa membuat semua titik syaraff Zahra melemah, "Dhewaaa.." thesahnya.
Apakah sekarang sudah saatnya? Zahra tak bisa berpikir lagi, otak cerdasnya mendadak gelap gulita.
Tangan Dewa memang lihai, barang semenit saja ia meloloskan bathrob dari atas hingga menampilkan si polos mulus, bunyi decapan kissing keduanya membuat Dewa semakin mendominasi, padahal Zahra hanya mengandalkan naluri saja untuk membalas serangan Dewa, selebihnya ia pasrah. Dirasa Zahra yang sudah semakin kepayahan dan merosot, Dewa menggendong Zahra menahan pan tat wanitanya lalu menjatuhkan Zahra di ranjang empuk.
Zahra memalingkan wajahnya ke samping saat Dewa membuka lilitan handuk dan bo xer basahnya. Ia sempat menyugar rambut lalu kemudian mengungkung tubuh indah Zahra yang hampir kacau dibuatnya di atas kasur.
Mulut keduanya tak berbicara, namun mata keduanya seolah sedang mengatakan aku mau kamu.
"Sentuh dia, Ra." ucap Dewa, sontak saja mata Zahra membeliak sempurna, ia tau Dewa tidak sedang meminta persetujuannya karena kini tangan Dewa menuntun tangannya untuk menyentuh dia si arjuna yang siap memproduksi massal calon Dewa dan Zahra junior.
Jantung Zahra terasa berdesir, serr...serr...saat merasakan jika dia telah bangun, berdiri tegak, Zahra sampai menelan salivanya sulit merasakan begitu kuat otot yang nanti akan mendobrak dinding pertahanan dewinya.
"Siap sayang?" Dewa melebarkan kedua kaki Zahra.
"Tunggu Wa, aku..." ia terhenyak hebat hingga melengkungkan punggung saat benda itu mulai memaksa memasuki dewinya, mencoba mendobrak beberapa kali, membuat Zahra mengerang sakit. Ingin rasanya ia merapatkan kaki, tapi Dewa menekan dan mengunci kedua kaki Zahra agar terbuka lebar menerima si arjuna sepenuhnya. Semakin Dewa menekan semakin dewinya diserang begitu dalam, hingga dinding pertahanan Zahra robek.
"Aaah!" Zahra mengaduh dan meringis, Dewa benar-benar melesakkan semuanya hingga tenggelam dalam, membiarkannya diam disana sejenak saat Zahra merasakan jika dewinya cenat-cenut nyeri.
Dewa tersenyum penuh arti melihat pemandangan indah di bawah sana. Zahra dengan dadha yang naik turun tengah meraup nafas serakus mungkin, tak berniat membungkam bibir Zahra, tangan istrinya itu bahkan sudah mencengkram kuat sprei hingga kusut.
Ditariknya dagu Zahra agar berpaling ke arahnya yang nampak gagah diatas, "kamu milikku..."
Perlahan Dewa mulai menggerakan masuk dan keluar arjunanya di dalam sana, memberikan sensasi gesekan geli-geli aneh dan mendorong hingga rasanya sampai ke ulu hati. Lantas Zahra memejam saat Dewa merapatkan kedua belahan bibir dan kembali rakus menjelajahi rongga mulut, yang Zahra rasakan sekarang hanya merasa sedang dibawa menjelajahi lautan perasaan membuncah, bergai rah, dan haus kenikmatan oleh Dewa.
Bunyi peraduan di bawah sana yang semakin nyaring terdengar semakin membuat naluri liar keduanya mendominasi keadaan, benar-benar panas dan menggelora.
Dewa bahkan tak memberikan jeda untuk Zahra bernafas lega, "pelanhhh Wa, pelaann..." kalimatnya begitu sulit dan menthesah saat Dewa terus memompa bagai tak terkendali. Bahkan rintihan yang bercampur thesah basah Zahra seolah menjadi penyemangat untuk Dewa.
__ADS_1
You are my opium...
Semakin ia memompa semakin Dewa candu, seolah Zahra adalah her oin merk pribadinya.
"Dewaaa," Zahra merasakan jika ia akan meledak.
"Sama-sama sayang,"
Pegangan dan cengkraman jemari Zahra mengencang menekan punggung Dewa saat keduanya meledak bersama, sesuatu yang hangat kini berdesir kuat masuk bersama rasa hangat kembalinya kewarasan.
Mereka sudah masuk, berenang bersama ke satu tujuan yang sama, biji bakal baby. Keduanya tertawa renyah bersama meski masih sama-sama menyatu.
I love you...
Love you too....
Dewa menjatuhkan badannya di samping Zahra, rambut yang masih sama-sama basah harus kembali basah, dan kali ini benar-benar sampo'an.
Dewa bukan seorang maniak, yang akan membiarkan Zahra jadi budaknya, namun jika ditanya apa ia menginginkan lagi? Ya! Ia tak akan pernah puas, Zahra adalah kebutuhannya sekarang.
Wangi aroma maskulin yang tadi masih terasa di samping kini tak ada, tangannya meraba-raba ke arah ranjang samping, memaksa Zahra membuka mata demi melihat keadaan sekitar.
"Abang?"
"Abang?" alisnya bertaut.
Kamu bisa keluar kamar sebentar ngga?
"Mau ngapain? Kamu dimana? Ini udah jam 11 malem loh..." jawab Zahra. Tapi Dewa mematikan sambungan telfonnya. Zahra yang menguap kini mengusap wajahnya kasar, kaki-kaki jenjangnya turun dari ranjang, meski terasa jika bagian bawahnya terasa mengganjal sakit tapi tak membuat Zahra mendadak lumpuh, ia tak selebay itu.
Dengan berjalan perlahan ia membuka pintu kamar, kondisi sangat sepi tak ada siapapun tapi ada yang aneh disana, deretan lilin aromatherapy berjejer di sepanjang samping kanan dan kiri koridor lantai kamar hotel dengan taburan kelopak mawar merah di jalanannya.
__ADS_1
"Ini apa-apaan?" Zahra membawa rambutnya ke belakang telinga dan menyusuri jalanan hotel, lilin lilin aroma lily dan kelopak mawar itu seolah menuntun Zahra ke arah kolam renang.
"Abang?!" panggilnya.
Gemericik air kolam renang outdoor dengan semilir angin malam menjadi suasana syahdu.
Zahra mematung dan membeku di tempatnya saat melihat seseorang sedang berdiri meski dengan pakaian casualnya tengah menunggu Zahra bersama hamparan kelopak mawar di atas permukaan kolam renang bersama puluhan lilin aromatherapy lainnya yang menerangi area ini.
Lelaki itu memangkas jaraknya dan meraih tangan Zahra demi membawanya ke arah kolam. Zahra masih merasa takjub Dewa melakukan semua ini untuknya, semua hamparan kelopak bunga tanda cinta itu secara jelas.
"Abang ini ap..." belum Zahra menyelesaikan ucapannya, Dewa meraih wajah Zahra dan mendongakkan ke arah langit malam.
*Spechless*.....
Puluhan lampion kini menari-nari terbang di langit kota Jakarta diatas hotel mereka berada.
"Happy wedding suster Zahra...semoga kita jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," ucapnya.
Netranya berkaca-kaca disana, tak ia lewatkan sedetik pun untuk berkedip melihatnya. Meskipun Zahra tak tau di balik moment romantis itu, Miki, Lendra dan Ganesha menjadi orang yang paling ngenes di rooftop sana.
"Njir banget! Mereka yang romantis-romantis gue yang kedinginan disini!" omel Lendra, angin malam berhembus kencang di rooftop hotel menyerang kulit.
.
.
.
__ADS_1
.
.