
Matanya lumayan berair karena campuran rasa perih, geli di hidung sampai tenggorokan saat menjalani tes. Sampe berasa lubang idung segede lubang belut di colok-colok tiap waktu kaya terminal listrik.
"Semoga negatif ya ners," imbuh rekan yang memeriksa Zahra.
Zahra mengangguk, "aamiin." Do'a terbesarnya saat ini.
Zahra yang hanya memakai pakaian serba hijau mint khas perawat kini mengambil kembali lipatan baju hazmat yang baru. Sambil menunggu hasil tesnya keluar, ia tak ingin menyia-nyiakan waktu hanya dengan berdiam diri sementara yang lain sibuk. Tapi sebelumnya ia mengambil botol air mineral dan camilan berat sebagai amunisinya, biar ngga oleng kalo kata Rayyan.
Diraihnya kotak makan berisi donat isi selai kiwi dan susu favoritnya itu dari dalam loker miliknya, sebelum makan biasanya Zahra akan menciumi aromanya terlebih dahulu, biar makin berselera.
Ia mencoba menghirup aromanya, namun tiba-tiba alisnya mengernyit, saat penciumannya nihil merasakan aroma selai.
Ia bahkan beberapa kali membaui namun tetap nihil.
"Kenapa Ra, donatnya udah basi? Bau tengik?" tanya Ineke yang baru saja kembali dari tes.
"Coba!" Ineke ikut membaui, "ah wangi gini, wangi vanilla sama kiwi...coba dong, ngiler nih!" pintanya. Zahra mengangsurkan kotak lunch nya, "boleh, ambil aja."
Ineke mengambilnya satu dengan wajah sumringah, "emang nih, kalo cemilannya orkay ngga akan bikin lidah langsung kelu! Lembut gini donatnya Ra, enak suer!" ocehnya.
Namun tidak dengan raut khawatir Zahra, membuat Ineke terheran-heran, "kenapa sih Ra?"
Zahra menggeleng, ia mencoba cara lain dengan mencoba memakan donat miliknya, apakah seenak biasanya? Jantungnya seketika berdegup kencang karena gugup bercampur panik. Secara otomatis kunyahannya memelan seolah sedang merasakan benda asing dan menelitinya, ia bahkan melihat dengan seksama ke arah donat yang sudah digigit olehnya, karena percaya atau tidak kini lidahnya terasa seperti tak bisa mencecap rasa. Ia ingat betul jika saat donat itu masuk ke dalam mulut, maka rasa pertama yang ia rasakan ssharusnya adalah manisnya gula tepung.
Zahra menggeleng, "ngga beres ini." Decaknya mengunyah cepat dan menelannya meskipun nav su makannya mendadak menguap dan ia tak bisa merasakan rasa manisnya cemilan favorit, segera saja Zahra meneguk air mineral.
"Kenapa sih? What's wrong?!" tanya Ineke.
"Ada baiknya lo jangan deket-deket gue, Ke..." Zahra segera memakai masker doubelnya, masih mencoba membalut badan dengan apd lengkap sampai nanti hasil yang ia dapatkan benar-benar keluar. Ia tak boleh panik saat ini...berkali-kali Zahra membuang nafasnya panjang seraya memasangkan selotip, memberikan afirmasi positif pada dirinya sendiri jika ia baik-baik saja.
Terdengar teriakan dari bangsal jiwa, membuat mereka yang ada di sekitarnya ikut menoleh dan penasaran untuk melihat.
"Ada apa sih?"
Beberapa perawat terlihat kewalahan menghadapi pasien jiwa paruh baya satu ini, rupanya ia pasien jiwa yang positif terjangkit virus dan harus segera di pisahkan dari pasien jiwa yang lain.
"Engga! Engga! Jangan sentuh saya! Saya ini Priyai, kalian hanya malaikat maut yang mau jemput saya! Saya turunan siliwangi, siapa saja takut dengan saya!" ia mencoba mengoyak selang infus yang sudah terpasang, begitupun masker yang digunakannya.
"Iya raden iya...tapi jangan kaya gini. Kita ngga ngapa-ngapain! Cuma mau raden ikut kita, ada yang mau nyerahin upeti!" bujuk salah satunya. Terkadang perawat ikut tak warasnya demi pengobatan pasien. Begitu extra usaha para nakes bangsal jiwa.
"Ini yang gue ngga sanggup, Ra. Kalo udah waktunya giliran di bangsal jiwa, aduhhh ampunnn! Harus mupuk sabar seluas samudra, otak tuh dikuras 4 kali lipat, tenaga juga!" ujar Ineke bergidik.
"Diammmm!" tiba-tiba ia berteriak, membuat para perawat yang menanganinya sampai angkat tangan menjauh, harus extra sabar jika kejiwaannya sedang kambuh begini.
Zahra berjalan mendekat, "raden! Assalamu'alaikum!" Zahra mengangguk pada perawat lain sebagai kode untuk mereka pergi.
"Raden, jangan dilepas maskernya. Nanti musuh kerajaan lain tau penyamaran raden!"
Otewe ngga waras, otewe stress, lelah, depresi...otewe gilaaaa! Zahra membatin.
Ditengah kondisi badan yang sudah letih, atau bahkan ia sudah tak bisa merasakan apapun lagi selain kondisi badan yang kian hari kian menurun, otaknya harus tetap berputar dan tenaga semakin terkuras.
__ADS_1
Langkah yang ia ambil adalah beradaptasi dengan halusinasi mereka, menangani dahulu jiwanya lalu pengobatan gejala virus akan lancar.
Dokter dan perawat lain memberikan butiran obat untuk menenangkan moodnya, begitupun kini pria paruh baya yang barusan mengamuk karena hendak dipisahkan dari pasien jiwa lain ini sudah tidur.
Butuh waktu untuk Zahra menenangkan pasien itu, ia berjalan gontai saat merasakan kondisi badannya semakin terasa menurun, lemas...suhu badan yang sepertinya dapat ia rasakan demam.
"Ra, hasil udah keluar..." Ineke berseru di lorong gedung rumah sakit. Zahra ingin berlari, tapi rasanya seluruh persendiannya linu tak tertolong, kepalanya pun sakit.
"Ra, kenapa?" Ineke menyentuh pundak Zahra.
"Gue ngerasa kalo gue terpapar, Ke...tanpa harus ngeliat hasil pun, gue ngerasa kalo gue udah positif..." jawabnya dengan nafas yang memburu, rasanya sesak...
"Ya Allah!" Ineke kini membawa Zahra duduk, meski di lantai.
"Duduk dulu---duduk dulu! Lo jangan sakit, Ra. Disini lo sama mbak Ninung yang sering kasih push buat mood sama semangat kita...barusan gue dapet kabar kalo mbak Ninung malah makin drop," Ineke menangis tersedu-sedu.
Zahra sudah tak dapat mencerna semua perkataan Ineke, ia menyenderkan kepalanya di dinding, "gue mau muntah, Ke."
Zahra membuka faceshield dan semua perintilan masker, kacamata lalu berlari ke arah toilet yang ada di bangsal itu.
"Huwekkkk!"
"Zahraaa..." Ineke sesenggukan membantu Zahra.
Si pejuang medis kini tumbang diatas kasur pasien dengan selang infusan menempel di punggung tangannya.
Ia tersenyum miring, menatap rekan sejawat yang kini tengah mencatat kondisi Zahra.
"Jadi gue terpapar juga ya, lucu njirr!" Zahra bergumam.
Ilham tertawa, "welcome to barak C, pasien kesayangan kita-kita! Ibu ketu akhirnya tumbang juga!" tawa Mia.
"Ada sesak ngga Ra?" tanya dokter Arfan. Zahra menggeleng, "cuma dikit, gue mah setrong dok!"
"Ibu ketu makan dulu, terus minum obat..." pinta Ilham.
__ADS_1
"Thanks, baso ada ngga baso?!" request Zahra, mereka tertawa, "pasien apaan lo, mau kita kasih baso pun, mulut lo ngga akan bisa ngerasain," tepis kak Mia.
Zahra mencoba mendudukan dirinya di atas kasur, bukan ranjang rumah sakit, melainkan kasur yang baru saja diturunkan dari truk tadi, masih diplastikin pula hanya saja terbalut sprei rumah sakit dan itu pun melantai di barak darurat.
"Sebagian pasien udah dikirim ke wisma atlet?" tanya Zahra melihat pasien di barak C yang wajah-wajahnya kini berganti.
Ilham mengangguk, "udah. Yang gejalanya ringan dikirim kesana, yang disini yang gejalanya lumayan ekstrem-ekstrem.."
"Kalo gitu gue kesana dulu, Ra." Zahra mengangguk. Ia tersenyum haru, rekan-rekan kerjanya begitu gesit, cepat tanggap saat dirinya terjangkit. Bahkan tas miliknya sudah tersimpan rapi di samping kasurnya. Zahra menggosok-gosok hidung yang terasa gatal dan berair dengan tissue dan membuangnya ke dalam kresek untuk nantinya dibakar.
Sudah seharian sejak kemarin ia menjadi pasien disini, tapi belum mengabari keluarga, ia masih memantapkan hatinya, hingga akhirnya Zahra memutuskan jika malam ini ia akan memberitahu keluarganya.
Ia mencari ponsel miliknya di dalam tas, memencet tombol on yang menunjukkan baterai ponsel masih ada sekitar 50 persen.
Zahra memantapkan hati dan mengambil nafas panjang, tak susah untuknya mencari nama Dewa.
Zahra memegang ponsel di depan wajahnya.
Ia terkekeh melihat wajah bantal Dewa, "assalamu'alaikum abang,"
DEG!
.
.
.
.
__ADS_1
.