My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
DEWA CINTA


__ADS_3

Miki memang asisten yang patut diacungi jempol. Syailendra memang tak pernah salah memilih modelan buntelan kentut untuk menjadi seketarisnya.


Ia mengekor Sadewa ke villa, ia tak mau tau ingin mencoba menginap di villa yang katanya jadi tempat syuting sinetron yang terkenal di era-nya, Dugong In Love.


Ia membanting stir berbelok ke arah kanan, mengikuti mobil atasannya.


"Lo mau nginep disini?" tanya Dewa.


"Iya atuh pak Dew...pasti bu Cut juga ngga akan keberatan, soalnya Miki ngga akan pernah minta gendong!" ujarnya berseloroh.


Mendengar suara mesin mobil parkir di carport, Zahra berjalan keluar dari dalam.


"Bu Cut!" Miki memang jarang bertemu dengan Zahra, tapi Dewa tak tau mereka bisa sedekat ini, apakah Zahra memang berbakat buat hidup bareng manusia 2 dunia begini? Padahal dengan Melody saja Miki malah seringnya bertengkar.


"Hay bang Miki," sapanya.


"Aduh ibu, abis sakit kok jadi kurusan...katanya kan lagi hamil, apa si pak Dew ngga ngasih ibu makan? Karunya teuing!" serunya berusul. (kasian banget)


Zahra tersenyum, "bang Miki kenapa bisa disini, pasti suami aku yang nyuruh ya?" tebaknya tepat sasaran. Sadewa memang tak pernah membiarkan orang sekitarnya hidup dengan tenang. Senang betul ia mengusik dan mengganggu kehidupan damai orang lain.


"Tah eta! Ibu tau, masuk atuh ah! Panas, angin lagi...kasian atuh pacar aku baru juga mau sembuh," ajak Miki tertawa mengerlingkan matanya pada Zahra, sementara Dewa dan mamang mereka tinggalkan di luar.


"Heh! Heh! Heh!" tegur Dewa nyolot.


"Kurang aj ar, yang suaminya siapa, yang atasan siapa malah seenaknya masuk pake gandeng bini orang?! Bawain ! !" Dewa masuk membawa beberapa keresek belanjaan.


Miki yang sudah duduk bersama Zahra harus kembali bangkit karena atasannya itu minus akhlak, padahal tadinya ia mau curhat pada Zahra tentang terdzoliminya ia saat belanja tadi, harus menjadi babysitter Sadewa, mana ngos-ngosan disuruh dorong-dorong troli, sampe kurus badannya karena mesti nyanggupin kemauan calon bapak sableng itu.


"Abang ih, kasian bang Miki...udah datang jauh-jauh malah disuruh gotongin belanjaan," bela Zahra.


"Ga tau tuh bu, bawaan orok kayanya bu. Nanti anaknya lebih deket sama aku, soalnya bapaknya seneng ngerepotin Miki!" ujarnya sambil manyun-manyun.


"Enak aja! Anak gue anti sama orang yang makannya ngabisin jatah sarapan orang sekampung!" balas Dewa.


Dewa masuk ke dalam rumah membuka masker dan membalikkan pad topinya ke belakang, "aku ke kamar mandi dulu, cuci muka sama tangan," ujar Dewa sekalian mengganti pakaiannya.


Mamang, Miki, disusul bi Wiwin membawa segambreng belanjaan Sadewa, sementara Zahra memperhatikannya.


"Abang belanja apa aja, banyak amat? Kamu borong supermarket?" tanya Zahra mulai membuka dan mengeluarkan barang belanjaan Dewa.


"Persediaan selama kita disini," jawabnya menggeser keresek yang tengah di bongkar Zahra san berjongkok di depannya.

__ADS_1


"Emangnya kita mau berapa lama tinggal disini, isolasi 2 minggu juga cukup bang..."


"Kalo kamu suka, kamu betah, kita bisa tinggal selamanya. Villa ini aku hadiahkan buat kamu," ucapnya menatap dalam Cut Zahra.


Zahra membalas tatapan dalam Sadewa, "tapi ini salah satu properti milik JILO Corp. Yang biasa disewain," jawab Zahra.


Dewa menggeleng, "ini milik aku, milik daddy pribadi dan daddy udah kasih ke aku...Ganesh juga punya."


Entah kenapa sejak kejadian belakangan ini Sadewa semakin tak ikhlas jika Zahra harus kembali menjadi seorang perawat, ia seperti ingin menjauhkan Zahra dari Jakarta.


Zahra menyentuh rahang tegas Dewa, "apa yang mau abang bilang? Aku tau abang punya maksud lain," Zahra kini mengusap pipi Dewa dengan jempolnya lembut.


"Aku tau bukan uang yang kamu cari, aku tau berapapun harta yang aku tawarkan buatmu, kamu akan menolak. Tapi hati aku mengatakan berat buat ikhlaskan jalan profesi yang kamu ambil, maaf aku belum bisa seperti kakak-kakak ipar kamu, aku masih terlalu egois buat jadi nomor 2...apalagi setelah ada 'dia disini'." Dewa mengusap perut rata Zahra dan mengecupnya.


Zahra membuka topi yang dipakai Dewa dan meraih kepala suaminya itu untuk kemudian mengecup kepala Dewa, "maafin aku."


Keduanya memejamkan mata seolah tengah merasakan perasaan masing-masing, menyelami perasaan bimbang, sayang, dan sebuah tanggung jawab.


Miki menghentikkan langkahnya di ambang pintu dengan keresek besar di tangannya, melihat interaksi keduanya yang sweet namun terasa mengharukan, entahlah! Ia pun tak tau pasti, harus ikut sedih atau senang dengan keadaan atasannya itu.


"Aku tau jawaban kamu tanpa harus kamu ngomong. Ya udah, ngga usah terlalu dipikirin, sekarang....pikirin the little Sadewa yang ada di perut kamu aja. Mungkin aku belum cukup belajar ikhlas aja untuk resiko terbesar mencintai seorang abdi masyarakat," ucap Dewa bangkit.


"Tadi aku beli puding instan sama Miki, mau kubikinin?" tanya Dewa, membuat senyuman lebar Zahra mengembang.


"Hey little Sadewa...mau puding ngga? Daddy bikinin?!" Dewa kembali menunduk menghadap perut Zahra.


"Mau daddy, aku maunya rasa strawberry! Tapi pake fla ya?!" pinta Zahra.


"Siap!"


"Mikiiii!" teriak Dewa memanggil asistennya itu.


"Allahuakbarrr! Salah aing mah datang kadieu teh!" omel Miki.


(Salah gue, datang kesini tuh!)


"I'm coming pak Dew!" teriaknya.


°°°°°°°


Sadewa mengenakan celemek masak, begitupun Miki yang meminjam kaos milik Dewa, mungkin ia harus mengikhlaskan beberapa kaos ukuran extra largenya untuk dipakai Miki, untung saja dulu ia pernah salah membeli ukuran, jadi bisa dipakai oleh sekertarisnya itu.

__ADS_1


Zahra duduk memperhatikan kedua koki dadakan ini kolaborasi masak puding dan fla, sesekali ia tertawa saat keduanya malah berdebat manja dan saling timpuk.


Hanya membuat puding saja heboh dan rusuhnya ngalahin konser Dewa 19.


"Bapak---bapak---bapak, hello! Ini tuh dimasukkin dulu bubuk puding terus di kasih gula sama air, jangan dulu dinyalain apinya, jadi ngadarilen kieu agerna duh ampun! Kocekeun heula!" Zahra tak bisa untuk tak tertawa, Miki jika mengomel selalu keluar bahasa ibu'nya tanpa memikirkan jika Dewa tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan.


"Lo ngomong apa sih, Mik! Coba lo translate, jangan pake bahasa daerah lo lah!" sewot Dewa. Miki berdecak, ingin rasanya ia mencekik Dewa saat ini, udah salah ngotot pula....


"Maksud Miki, ini nih bubuk pudingnya dikasih dulu gula sama air, apinya jangan dinyalain dulu, biar ta obok-obok dulu, ngono to! Biar ini si bubuk agar-agarnya ngga menggumpal!"


"Oh! Bilang dong!" jawab Dewa.


"Mana gue paham bikin kaya beginian, ngga ada di materi bisnis management apalagi agenda kerjaan presdir," jawab Dewa kini menyerahkan tugas membuat puding itu seluruhnya pada Miki, sementara ia hanya memperhatikan dan jadi mandor serta tim icip.


"Ngacung bapak, teu ngarti mah!" gerutu Miki lagi. (interupsi, unjuk tangan)


Kehadiran Miki adalah hiburan tersendiri untuk Zahra, seperti inilah kiranya interaksi mereka di kantor. Zahra mengarahkan ponselnya ke arah Dewa dan Miki, satu jepretan ia simpan di galeri dan ia jadikan postingan.


# Samawah Till Jannah, ❤ my lovely presdir from the mars, Sadewa.


Postingan di akun medsosnya seketika dijempoli oleh hampir seluruh pengikutnya, beberapa komentar menggelitik juga datang mampir.


@ Culina Cute_ suami idaman.


@Nana Minema- Abang godain aku dong.


Dan masih banyak lagi komentar yang memuji Dewa, ada juga yang mengomentari Miki, termasuk Lendra.


@Syailendra_Lendra__ mesranya bapak sama anak 😍


@SalwaZaky19__mantu umi😍


Zahra menghapus semua kesan pertamanya terhadap Dewa. Zahra ingat betul saat ia menganggap Sadewa adalah manusia yang paling ia benci di dunia, trouble maker, belum lagi sederet image buruk yang menempel di diri Dewa karena nyatanya, sosok lelaki itu adalah sang dewa cinta.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2