My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
TUNGGU AKU, RA!


__ADS_3

"Kamvrett emang lo! Temen ngga ada akhlak, gimana kalo tadi gue langsung tidur terus gue peluk tuh guling jejadian?!" ujar Dewa, melihat sosok pria tampan lainnya mana lagi handukan membuat Sandra menggigit bibir bawahnya, apakah isian bumi cowok ganteng semua? Jawabannya tidak, buktinya saja lelaki gempal yang nempelin Dewa itu, mirip genderuwo kegusur aspal. Tapi lelaki ini gahar-gahar sexy. Hay cowok handukan, mandiin aku dong!


"Apaan lo liatin gue?!" sarkas Dewa pada Sandra.


"Minggat lo semua! Ndra bawa betina lo tuh!" usirnya pada semua. Bagi Dewa sudah tak aneh lagi playboy susu dancow ini selalu ditempelin boneka susan, ia selalu menganggap Lendra kurang waras doyannya bocah yang katanya lebih gemesin.


Sandra mencebik kesal, "baby kamu apaan sih naro aku di kamar orang, kirain kamar kamu?!" sewotnya manyun dengan rambut yang acak-acakan.


Lendra terlihat meringis karena jujur saja, ia memang nakal tapi untuk ngamar bareng makhluk bernama perempuan ia masih takut dikutuk Kara, sang ibu. Apalagi sampai celap-celup, ia takut penyakitan, masih sayang nyawa cuyy! Lagipula ia tak mau berbuntut panjang dikejar-kejar cabe-cabean pengejar harapan palsunya, dengan drama aku hamil anak kamu! Cukup ayah dan ibunya saja yang drama-drama buat punya adik baru, gila saja ayahnya itu, punya adik baru di usia bangkotan seperti ini? Lebih baik ia insyaf jadi playboy.


Tanpa aba-aba, Lendra berlari kabur dari kamar Dewa menuju kamarnya seperti tengah dikejar setan.


"Eh!"


"Baby!!!" teriak Sandra segera turun dari ranjang mengejar Lendra, begitupun ketiga pria ini yang ingin keluar bersamaan dalam satu pintu, baru sampai gawang pintu mereka terjepit bersama, ditambah badan Miki yang begitu memakan tempat membuat Dewa dan Axel terjepit.


"Ndra!"


"Awww!"


"Lo minggir! Badan lo astaga Guffy!" Dewa memukul-mukul punggung Miki.


"Pak Dewo ih, bapak yang awas dulu!"


"Anjay banget biji gue kejepit oy!"


"Syailendra!!! Kamvret lo!"


Hancur sudah pintu kamar hotel oleh kelakuan minus anak Jihad dan Ica beserta kawan-kawan jika begini caranya.


Blughh!


Axel mundur selangkah membuat Dewa dan Miki yang sama-sama tak mau mengalah jatuh ke depan bersamaan.


Sandra yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar Lendra menoleh ke samping demi melihat kedua orang ini terjatuh di koridor hotel. Tapi ada yang lebih ia tunggu-tunggu, melihat lilitan handuk Dewa mulai mengendur sedikit-sedikit. Dewa bangkit dibantu Axel, tapi baru saja ia berdiri, lilitan handuk itu benar-benar melorot, refleks Dewa harus menyelamatkan harga dirinya dari Sandra, ia mendorong Miki yang baru saja hendak bangun ke arah Sandra, agar gadis itu mengalihkan pandangan dan perhatian darinya sementara ia sendiri berlari ke kamar.


Miki yang belum siap terhuyung jatuh nyuksruk menabrak Sandra.


"Pak Dewooo!"


Brakkk!


"Awww!"


Sudah jatuh tertimpa tangga, poor Miki. Emang bos ngga ada akhlak si Dewa.


Lendra dihujani semburan amarah mami Caramel, berdasarkan laporan dari Axel atas kejadian kemarin dan akan menggusur Syailendra pulang hari ini juga.


__ADS_1


"Anak kamu!" desis perempuan cantik ini pada suaminya, Kara memakai kacamata hitam sebesar mata capungnya keluar dari ruangan Milo untuk menjemput secara langsung anak semata wayangnya.



"Wanita gue nih!" Milo terkekeh melihat Kara yang terlihat sexy nan keren baginya saat ia galak.



"Ji, gue mau pacaran dulu, sambil jemput kloningan gue! Lo urus deh tuh sisa kerjaan," ujarnya sebelum menghilang dari ruangan meninggalkan Jihad sendiri.



"Dasar CEO gila," desis Jihad, ia memantau Dewa hanya berdasar laporan Miki dan Axel saja, ia rasa Dewa memang tak sebandel Syailendra, pikirannya lebih bijak dan dewasa dari Syailendra, entah karena terlalu seringnya ia melindungi sang adik, Ganesha. Dewa memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap Ganesha yang sekarang sedang dalam pemeriksaan pihak berwajib, membuatnya jadi dewasa. Tiba-tiba saja ponsel Jihad berdering beberapa kali, sebenarnya ayah 2 putra ini malas untuk sekedar melihatnya paling-paling istri tercinta nan berisiknya yang menghubungi, kalau engga disuruh beliin kerak telor ya bawain martabak bangka.



Jihad merogoh saku, "pak Zaky?" alisnya berkerut melihat panggilan itu.



Jihad menarik nafasnya, butuh hati tenang, pikiran terbuka dan sapaan sopan bicara dengan presiden klan Ananta ini, "Assalamu'alaikum,"



(..)




🍃 RSCM, waktu setempat.


Getaran di ponsel Zahra tak henti-hentinya, namun masih tersimpan rapi di dalam tas di lokernya. Zahra lupa untuk membawa ponsel, belum lagi keadaan hari ini cukup ramai. Bahkan waktu istirahat saja sempat terpotong, karena jumlah pasien bertambah cukup banyak hari ini.


Di luar ruangan IGD, dan setiap pintu masuk rumah sakit kini ditempeli stiker peringatan kawasan wajib memakai masker. Sudah sejak beberapa waktu lalu, di daerah tirai bambu sana sedang mewabah virus asing yang menyerang manusia dengan tingkat kematian cukup tinggi, virus ini menyebar cukup cepat, hingga satu negara itu kini lumpuh terisolasi, membuat dunia dilanda kekhawatiran, kini setiap negara menerapkan protokol kesehatan dan kewaspadaan termasuk tanah air. Hanya saja pihak dalam negri belum membatasi penerbangan dari luar dan dalam negri.


Zahra menurunkan masker kesehatannya dan melepas sarung tangan karet lalu mencuci tangan di wastafel. Gadis itu berjalan menuju lokernya untuk membawa bekal makan miliknya tak lupa mengecek ponsel.


"Wih, tumben banyak amat yang ngehubungin Zahra, ada apa nih?!" Zahra tersenyum, ternyata dirinya begitu penting. Dengan langkah yang sesekali melambat ia berniat makan bersama Rosa.


"Liat apaan Sa?" tanya Zahra bergabung dengan Rosa, Mawar, dan Nadine, disana juga ada Ineke dan suster Mia.


"Liat deh Ra, tuh! Gilaaa yang meninggal udah di angka ribuan," para perawat ini begitu fokus ke layar televisi yang menempel di dinding seraya menikmati waktu istirahat ditemani makanan.


"Ini tuh sebenernya udah dari bulan apa sih, kok gue lupa ya?"


"Ngga ngeuh juga!" tawa Mawar.


"Sedahsyat itu virus bisa sampe luluh lantahin satu negara," decak Ineke kembali menyendok nasinya.

__ADS_1


"Semoga ngga sampai masuk ke Indonesia deh!" seru Mia bergidik.


"Eh, dari kita ada ngirim bantuan ngga sih?" tanya Rosa.


"Ada kayanya, masa iya engga. Tapi cuma sampe perbatasan deh kayanya. Soalnya kan sekarang negara itu udah di isolasi plus karantina, ngga boleh didatengin atau keluar juga sama WHO," balas Nadine.


"Wah kacau, warga kita yang disana gimana?"


"Ya udin, terima nasib lah harus stay at home, ngga boleh kemana-mana. Ngeri tau,"


Zahra membuka bekal yang dibuatkan umi. Rencananya Salwa akan kembali ke Aceh dalam waktu dekat, namun belum pasti kapan. Gadis itu tak terlalu fokus dengan berita yang ditayangkan di layar televisi beserta bisingnya obrolan para teman perawat.


Ia senyam-senyum sendiri seraya mengucap sukur melihat pesan yang dikirim keluarganya dan Dewa.


Sadewadewo🐸


Nikah! Nikah! Nikah! Cewek, lagi ngapain? Nikah yokkk! Restu keluarga udah kukantongi nih! 😁


5 Panggilan suara tak terjawab Umi ❤


7 Panggilan suara tak terjawab Sadewadewo🐸


3 Panggilan suara tak terjawab Bang Fath👨‍✈️


4 Panggilan suara tak terjawab Bang Ray 🐊


Zahra gembrot😍


Yok! 😘


Di lain tempat Dewa tertawa melihat satu kata dari si gendut-nya.




Lendra sudah pulang sejak 2 hari yang lalu, sementara Dewa sendiri harus memperlama kepulangannya sehari lebih terlambat, mau tak mau Dewa menunda kedatangannya kembali ke rumah Zahra bersama keluarga. Pada akhirnya Allah mengetuk pintu para punggawa Ananta untuk memberikan restu, meski sampai sekarang Dewa masih belum percaya, bagaimana bisa? Bukankah mereka akan melakukan serangkaian tes padanya?



*Tunggu aku, Ra*.



"Pak Dew, capcus! Pesawat udah mau take off," Miki beranjak dari duduknya di ruang tunggu bersama Dewa yang menggeret koper.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2