My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
JANGAN DIPAKSA KALAU TAK MAU


__ADS_3

Dengan ekor mata yang melirik Dewa di samping kanan, Zahra tetap melanjutkan tugasnya.


"Kalau sudah bisa mandi. Sebaiknya mandi, nanti infusannya saya gantungkan di kamar mandi," ucap Zahra lembut ingin membuka setiap kancing pakaian Angkasa membuat pemuda ini begitu terpesona.


"Iya sus, mandinya dibantuin ngga?" kekehnya mencoba menggombali Zahra, dan itu sukses membuat Dewa sebal.


"Mandiin---ntar gue panggil orang se rt buat bantuin lo mandi, biar lebih cepet!" jawab Dewa.


Setiap detiknya bagai bom waktu untuk Dewa, sungguh hatinya sudah berdegup kencang seperti akan meledak macam bom panci, tak ikhlas melihat Zahra meraba-raba badan tak seberapa Angkasa, pemuda itu sudah tersenyum bahagia dan menyeringai pada Dewa. Dewa tau arti seringaian itu tanpa harus mendatangkan pakar mikro ekspresi sekalipun.


"Stop!" pinta Dewa menghentikkan aksi Zahra membuat keduanya menoleh.


"Apalagi kamvrett---kamvrettt," geram Angkasa bergumam.


"Aduhhh, masa perawat gitu bukainnya. Mesti pake perasaan dong, sini aku ajarin!" Dewa meminta Zahra mundur, "kamu minggir, Ra." ia mendorong Zahra pelan, membawa gadis itu ke area aman dari kerusuhan, bila mana nantinya ia akan adu jotos lagi dengan Angkasa dan bikin ruangan VIP ini jadi arena gulat bebas.


"Kamu aga munduran, jauh-jauh. Ini kan pasien, kita kan ngga tau takutnya dia ngandung virus berbahaya!" ujarnya so iyee layaknya dokter.


"Kamu ngomong apa sih, Wa. Ngaco---" Zahra tertawa kecil.


"Virus bahaya, maksud lo?!" sengak Angkasa.


"Ya kali aja kan virus zombie, virus cowok kegatelan itu bahaya buat Zahra!" ia mendorong kepala Angkasa begitu enaknya.


"Gini nih ya Ra, kalo buka baju perjaka tuh ada treat-nya sendiri!" ucap Dewa.


"Eh, tapi---lo masih perjaka atau perjaka label doang?!" Dewa mendengus nyinyir dan kembali mendorong kepala Angkasa dengan enaknya.


"Si alan!" desis Angkasa.


"Alahhh, gue tau ya! Lo sering jajan di taman Lawang sana, mana lo jajannya ban ci!" omel Dewa seolah ingin menjelekkan nama Angkasa di mata Zahra.


"Sembarangan lo kalo ngomong! Awas minggir!" pelotot Angkasa.


"Hahh! Anak bau kencur udah tau begituan lo, mau jadi apa negara kalo anak mudanya kaya lo semua!" hinanya lagi mencerca Angkasa, persis nenek-nenek lagi ngomelin cucunya sampe puas gara-gara knalpot motor, lalu apa kabar dengan dirinya yang sering kelayapan malam dan berbuat nakal.


Zahra tak bisa untuk tidak tertawa dengan sikap Dewa, dimana-mana lelaki ini selalu jadi biang rusuh, dan biangnya dari segala kejadian absurd, bikin orang-orang yanh ada di sekitarnya naik darah, naik pitam dan naik kadar kolesterolnya, "dasar konyol!"


"Eh apaan lo! Mana ada! Pergi lo dari sini! Hushh! Siapa yang mau dibukain baju sama lo, gue tau suster Zahra adalah suster berkompeten, ngga perlu ada lo disini, ganggu lo!" jelas saja Angkasa tak terima, tak sudi sosok suster Zahra diganti suster grandong macam Dewa, apalagi pria inilah yang telah mengirimnya ke rumah sakit sampai babak belur. Usia Angkasa memang lebih muda 2 tahun dari Zahra dan Dewa, tapi sungguh usia mereka tak terlihat dari wajah.


"Sini gue bukain! Kalo suster kan cewek, jadi ngga tau caranya bukain baju cowok yang benar!" kekeh Dewa ia malah sudah bangkit meski kepayahan dari kursi roda sampai Zahra sendiri ngilu melihatnya.


"Wa, kamu bisa diem ngga? Aku ngilu liatnya?! Itu pen di kaki kamu, aduh!" Zahra meringis dengan gerakan tangan siap menahan Dewa dari belakang.


"Ngga apa-apa Ra, aku baik-baik aja." Ujarnya mengangguk singkat begitu pasti kaya slogan produk, Dewa malah semakin memaksa ingin membukakan pakaian Angkasa sampai naik-naik ke ranjang pasien itu.


"Apaan lo, woy! Woy!" Angkasa menolak dan mempertahankan pakaiannya dari Dewa, persis orang yang hendak dile cehkan.

__ADS_1


"Sini, sama gue! Gue bisa juga seka'in badan lo, cuma kaya gini aja gampang lah! Ngga ada bedanya sama gosokin badan ke bo!" imbuh Dewa.


"Wa, apa-apaan lo, woy! Lepasin gue, woyyy! Tolong--tolong! Gue mau di le cehin," tolaknya atas paksaan Dewa membuat Zahra tertawa terpingkal.


"Bisa diem ngga lo? Mau diurusin ngga?! Katanya lo belum mandi, biasa mandi di com beran juga manja amat, minta dimandiin perawat!" entah sudah ke berapa kalinya Dewa mendorong kepala Angkasa, untung saja kepala pemuda itu tak copot dari tempatnya.


"Buru sini sama gue! Gue udah biasa rawat kucing momy di rumah! Jadi pasti bisa rawat lo," paksa Dewa.


"Wa!" tolak Angkasa kekeh mempertahankan pakaian yang menempel, sementara Dewa kekeh memaksa ingin membukakan.


"Wa, kalo dia ngga mau jangan dipaksa," ujar Zahra mencoba melerai.


Sontak saja keributan ini memancing atensi perawat lain lagi dan beberapa orang yang melintas dan mendengar di balik pintu Angkasa, belum lagi Angkasa yang berteriak-teriak kaya korban kdrt.


"Ada apa in---astaga!" Mawar dan Rosa sampai menganga melihat kelakuan 2 pasien gila itu diatas ranjang. Sementara Zahra tertawa-tawa. Ia melirik jam di tangan dan kedua teman perawat satu bangsalnya yang sudah berganti pakaian.


"Ra, jam kerja dah abis nih. Cepet ganti baju, biar aja nanti kerjaan di urus sama perawat yang shif pagi,"


"Oke," jawab Zahra meninggalkan ruang Angkasa.


"Kalo gitu saya permisi," pamitnya.


"Eh!"


"Suster Zahra!"


"Ra!"


"Sampe kapanpun lo ngga akan bisa cari-cari kesempatan buat deket-deket Zahra!" ujar Dewa menatap sengit penuh ancaman sebelum ia benar-benar pergi, "Zahra, be mine!"


"Dan sampai kapan pun gue ngga akan nyerah!" jawab Angkasa. Ternyata merk susu itu salah melabelkan slogan, ternyata aku dan kau suka Zahra, bukan suka den coww.


"Ra!" Tahan Dewa berteriak, dengan cepat ia mendorong kursi roda.


Zahra menoleh ke belakang, "kenapa Wa?"


Dewa menunduk, sepertinya sudah tak bisa ditunda lagi. Perasaan ini sungguh menyiksa batin.


"Aku mau ngomong sama kamu, ada waktunya sebentar?" tanya Dewa penuh harap.


Zahra melihat jam di tangannya, "ini udah jam sarapan Wa, sambil sarapan gimana? Kamu ngga boleh telat saralan loh, ada jadwal fisioterapi kan?" tanya Zahra, sebenarnya ia tak yakin apa pasien ini membutuhkan terapi itu, tanpa harus di terapi pun Dewa sudah dapat naik turun ranjang.


Dewa mengangguk patuh, baru kali ini ia bisa semanis ini pada perempuan.


"Aku ngga mau di ruangan Ra, kalo di kantin rumah sakit bisa? Makanan rumah sakit hambar, Ra," keluhnya terkekeh.


Zahra tertawa, "pasien bandel kamu, Wa," ia menepuk pelan punggung Dewa, membantu calon kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Akhirnya kemauan Ganesh, bisa tercapai juga Wa. Perlu selametan ngga sih kita?" Zahra berjalan mendorong kursi roda yang membawa Dewa ke arah kantin rumah sakit, meski dengan tatapan nyalang ke depan.


Dewa mendongak, "buat?" kali ini obrolan mereka lebih sering serius. Tatapan Zahra begitu getir, Dewa merasakan itu.


"Katanya dia mau aku akur sama kamu, karena gimanapun kamu kakak Ganesh, kita bakalan sering ketemu, pertama kali dalam sejarah kita akur...tapi aku ngga yakin kamu ngga nyebelin lagi," dengusnya di akhir membuat Dewa tertawa, "kamu juga nyebelin."


Zahra mendorong kepala Dewa dengan mudahnya dan mencebik.


Drrrttt----


Ponsel Zahra bergetar, "eh bentar deh!"


"Ganesha?" gumamnya membuat Dewa ikut menoleh.


"Hallo Nesh,"


(..)


"Oh, kamu udah pulang?"


(..)


"Oke, nanti kamu ke kost'an aja." Zahra menutup panggilan Ganesha.


"Ganesh?" tanya Dewa membuat Zahra mengangguk, "katanya mau ngomongin masalah acara tunangan, apa aku bisa ambil cuti atau engga, semuanya disesuaikan sama jadwalku sama keluarga."


Seketika ucapan itu seperti hantaman keras di dada Dewa, Tuh anak serius ngajakin sampe ke jenjang pernikahan?!


"Oh iya, Wa...kamu mau ngomong apa?" tanya Zahra. Tiba-tiba saja Dewa meraih tangan Zahra.


"Apa pertanyaan kamu masih bisa kujawab?" tanya Dewa. Zahra mengerutkan dahinya.


"Pertanyaan yang mana?" Zahra balik bertanya.


"Waktu itu kamu nanya siapa kandidat dari klan Alvian,"


Mendadak Zahra mati kutu, ia menghentikkan langkahnya termasuk dorongan di kursi roda Dewa. Dewa membawa tangan Zahra agar gadis itu berdiri di depannya.


"Aku, Ra."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2