
Tenggorokan Zahra mendadak kering demi melihat siapa saja donatur yang dimaksud. Dengan perwakilan abi Zaky, Daddy Ji dan om Milo mereka bersalaman tanpa bersentuhan.
Zahra menyapukan pandangan pada satu persatu orang yang hadir disana, sungguh dukungan mereka tak pernah surut untuknya. Tiba-tiba saja matanya memanas demi melihat umi yang sejak tadi menatap Zahra nanar penuh rindu dan kini bergeser jatuh pada sosok pria berjas dengan rambut yang diikat satu ciri khasnya. Sorot mata yang tajam namun menyiratkan kerinduan yang mendalam itu milik Sadewa Putra Alvian.
Zahra mendadak sesenggukan tak tertahan melihat orang-orang yang hadir, ia bukan prajurit atau petarung yang kuat untuk tak menangis saat ia begitu merindukan mereka. Jarak mereka begitu dekat, namun tak bisa untuk saling merangkul, memeluk ataupun meraih.
"Ra, kenapa?!" Ineke, Ilham dan Mawar menghampiri Zahra yang sudah berbalik badan berjongkok.
"Lo sakit?"
Zahra menggeleng, "itu!" tunjuknya ke arah para donatur.
Mereka mengalihkan pandangan, "ya ampun! Kok gue baru sadar, itu keluarga lo kan?!" seru Mawar diangguki Ineke.
Di ujung sana Dewa tersenyum di balik maskernya, ia tau jika salah satu perawat yang berbalik badan itu adalah Zahra-nya.
"Lo emangnya ngga tau, kalo keluarga lo donasi?" tanya Ilham, Zahra menggeleng, "jangankan tau Ham, udah hampir 2 hari gue ngga kasih kabar...gue cuma bingung harus ngomong apa," jawabnya, Zahra kembali bangkit.
"Eh itu dipanggil pimpinan buat serah terima barang," colek dokter Arfan. Mereka segera beranjak, dan semakin memperpendek jarak.
Rasa rindu yang tertahan dan menumpuk ini hanya bisa diungkapkan dengan air mata.
"Zahra," gumam umi.
"Ini prof. Dr. Vano pimpinan satuan gerak cepat co vid di sini..." dokter Vano mengangguk dalam.
"Ini dokter Arfan, pimpinan tim di bangsal suspect," begitupun dokter Arfan yang mengangguk dalam seraya tersenyum.
Hingga terakhir pimpinan rumah sakit memperkenalkan Zahra pada keluarganya sendiri, "ini Ns. Cut Zahra, S. Kep. Perawat muda berdedikasi tinggi dengan gelar Ners, ketua tim perawat bangsal suspect, barak A dan B."
Tatapan nyalang nan rindu, Zahra ia lemparkan pada orang-orang di depannya, "alhamdulillah abi bisa liat kondisi kamu langsung dengan mata kepala abi sendiri..."
"Alhamdulillah Zahra baik-baik saja..." ucap Jihad. Sementara umi sudah menangis disana, bukan Zahra tak mau menghampiri dan memeluk mereka semua melainkan tak memungkinkan untuknya.
"Alhamdulillah abi, daddy. Maafin Zahra belum bisa kasih kabar dan pulang ke rumah," lantas tatapannya kini berpindah ke arah Dewa, "abang..."
"Ngga akan pernah aku biarin kamu kedinginan," gumamnya pelan dan tak terdengar. Seperti inikah mencintai, merasa tersiksa melihat orang tersayang menderita? Rasanya sakit melihat Zahra yang tertidur meringkuk tanpa alas, tanpa selimut di pojokan ruangan.
Pimpinan daerah dan rumah sakit cukup terheran dan bengong karena tak tau siapa Zahra sebenarnya.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Maaf pak, suster Zahra ini putri saya...menantu pak Alvian," jawab abi Zaky.
"Oalah!" ia tertawa renyah. Tapi di luar dugaan, mendadak badannya menghangat. Seseorang telah memeluknya, hingga sepersekian detik ia terhenyak, "abang! Abang ngga boleh gini, aku---" Zahra mencoba menjauhkan dan mendorong Dewa dari dirinya.
"Aku rindu..." bisiknya.
"Pak, maaf..." para perawat cukup kebingungan bertindak, ingin memisahkan Dewa adalah suaminya, tidak dijauhkan takut jika pakaian hazmat Zahra terpapar virus.
"Pak, maaf!" tegur pimpinan dokter dan rumah sakit. Namun bukannya mengendur, pelukan Dewa semakin mengerat.
"Bolehkah aku egois minta kamu pulang, Ra..." gumamnya pelan penuh permohonan.
"Abang jangan kaya gini, lepasin aku!" usahanya berontak begitu sulit karena Dewa tak berniat melepasnya.
"Wa..Sadewa!" tegur Daddy Ji, teguran demi teguran dari momy, umi, abi Zaky dan om Milo akhirnya dapat mengendurkan pelukan Dewa. Keduanya saling menatap lama, bahkan di dalam sana, Zahra sudah banjir air mata, "maafin aku belum bisa pulang. Selama aku ngga ada, kamu baik-baik ya..."
"Abang juga nanti harus di tes rapid, PCR, swab...kamu juga harus isoman di rumah karena udah meluk aku," ucap Zahra yang masih berada dalam pelukan Dewa. Zahra berusaha melepaskan tautan tangan Dewa darinya, dan berjalan menuju umi yang masih nampak berkaca-kaca atau mungkin sudah menangis, "umi do'ain Zahra supaya sehat-sehat disini. Umi jangan parnoan buat borong hand sanitizer, yang paling efektif tetep cuci tangan pake sabun dan stay at home..."
Umi mengangguk, "iya nak. Kamu disini jaga kesehatan. Kabari selalu keluarga, itu yang penting! Umi mau kamu telfon minimal tiap hari!" titahnya, Zahra hanya menyunggingkan senyumannya sebagai jawaban, meski tak terlihat karena tertutup masker, tapi sudur matanya menyipit menandakan jika Zahra sedang tersenyum.
Zahra juga tersenyum pada momy Ica, Miki dan yang lain.
"Siap bu Cut!" Miki terkekeh, ia memang belum begitu mengenal Zahra, namun beberapa kali bertemu membuatnya begitu nyaman dengan istri atasannya itu.
"Saya atas nama ketua tim perawat dan para pasien mengucapkan terimakasih banyak untuk keluarga Ananta, Alvian dan Aditama, atas bantuan moril dan materil yang sangat kami butuhkan disini. Insya Allah kami akan amanah dan berjuang sampai hembusan nafas terakhir sesuai sumpah kami," Terakhir Zahra melakukan hormat dengan menempelkan tangannya di dada kiri dan tersenyum hangat untuk semua anggota keluarganya, tak kuat untuk terus berada disini lama-lama.
Zahra melambaikan tangannya pada umi dan yang lain, terakhir ia menautkan jari love untuk Dewa disana kemudian berbalik membawa serta barang-barang yang dibawa oleh donatur bersama perawat lain. Langkahnya semakin menjauh mendekati truk-truk pembawa barang.
Mungkin inilah ujian awal yang Tuhan berikan untuk rumah tangga keduanya, sekuat apa ikatan batin mereka. Sekuat apa hati mereka bertahan, saling menguatkan disaat keduanya berada jauh...
Seorang perawat berlari ke arah Zahra dan membisikan sesuatu hingga sukses membuat Zahra menoleh cepat dan bergegas.
"Mohon perhatian, para perawat yang tempo hari bertugas di IGD bisa diminta untuk cek lab lebih awal?"
Jantungnya seolah sudah lepas dari tempatnya sekarang. Seorang pasien yang tempo hari masuk instalasi gawat darurat datang berobat, ia mengaku sakit biasa namun kemarin nyatanya begitu mengejutkan, kondisinya langsung turun drastis hingga membutuhkan alat bantu pernafasan. Rupanya tadi pagi keluarganya mengatakan jika ia terpapar virus, dengan membawa rekam medis dan surat pernyataan dari rumah sakit sebelumnya.
__ADS_1
"Dia positif co vid...sayang seribu sayang, suster Ninung ikut terpapar dan hasilnya baru saja keluar, positif..." Mia menunduk.
"Bagi perawat yang tempo hari bersama mbak Ninung dan saya di ruang IGD harap melakukan cek lebih awal," Zahra berkata seraya menatap nyalang ke arah depan.
"Beuhh, ada-ada aja, pake boong lagi!" dumel Ilham.
"Tau da! ! Gini nih, yang suka bikin semua susah...kenapa mesti pake disembunyiin juga kalo emang suspect! Jadi semua kena getah, kalo udah gini, gimana coba?!" omel Ineke, pasalnya ia pun ada bersama Zahra dan mbak Ninung.
"Bagi perawat dan nakes yang kontak langsung sama mbak Ninung dan pasien tersebut pun diharapkan melakukan tes lebih awal!"
Tubuhnya melorot di tempatnya berdiri tepat di balik tembok nurse station.
*Semoga aku negatif*, meskipun hatinya tak yakin, pasalnya ia merasakan hal yang aneh pada tubuhnya, entah itu mulai merasa demam, sakit, hidung berair atau lidahnya kelu tak mencecap.
"Ra, gue takut!" Ineke mendekat. Zahra menoleh, ia menghirup dan membuang nafasnya mencoba memberikan ketenangan untuk hatinya sendiri, "ngga apa-apa, kalo memang kita terpapar...bagus dong ketauan lebih awal, jadi bisa kita lawan lebih awal juga?!"
"Ayok, kita cek!" angguk Zahra pasti beranjak menarik tangan Ineke.
.
.
.
.
__ADS_1