
Dewa menghela nafas, "ajari aku untuk meminta maaf. Selama ini aku sering nyakitin cewek tapi ngga pernah tau caranya minta maaf, kesemua cewek yang ngga bisa ikut aturanku maka kutinggalkan, cewek yang bikin aku ilfeel terus bikin aku risih, aku tinggalkan, cewek bawel dan banyak ngatur-ngatur, aku tinggalkan...aku adalah lelaki yang ngga pernah mau ngertiin perempuan...maka ajari aku caranya memahami kamu, karena satu-satunya cewek yang mau kumengerti cuma kamu," ucapnya tulus, ditatapnya retina mata Zahra.
"Aku ngga tau, maunya aku apa...yang jelas aku marah waktu tau dia dekat sama abang. Aku kesel liat dia bisa bikin abang ketawa, aku sakit liat dia sentuh abang, dan aku marah ketika dia godain abang..." Zahra meloloskan semua uneg-unegnya seraya menunduk, padahal Dewa sudah menatapnya dengan seksama.
"Jantung aku deg-degan waktu denger karyawan abang bilang kalo dia mantan terindah abang, kepalaku nyut-nyutan waktu karyawan abang bilang aku cuma seorang perawat yang selalu sibuk dengan duniaku, dan abang pasti butuh yang selalu ada buat abang. Abang akan dengan mudahnya mencari simpanan karena abang kaya, masih muda, tampan, circle pergaulan abang juga luas, abang tipe lelaki humoris...kenapa aku sakit dan mesti mendengarkan kata orang? Karena otakku mengakui semua itu memang nyata adanya..." kini Zahra tak bisa untuk tak menangis sesenggukan, makin lama suara sesenggukan itu semakin lirih di telinga Dewa seiring derasnya linangan air mata yang keluar.
Tiba-tiba Dewa membawa kedua tangan Zahra untuk mengalung di lehernya, lalu ia memegang pinggang Zahra dengan gerakan lambat ia menuntun Zahra untuk menatap padanya.
Suaranya lirih terdengar oleh Zahra,
"Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Ijinkan ku bicara, agar kau juga dapat mengerti,"
"Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tau mengapa, yang kutau inilah cinta."
Kini kedua pasang mata mereka saling menatap sayu penuh cinta, Dewa menuntun Zahra bergerak ke samping kanan dan kiri seolah keduanya sedang berdansa kecil meski hanya diiringi suara pas-pas'annya.
"Cinta karena cinta, tak perlu kau tanyakan...
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta....
Cinta karena cinta, jangan tanyakan mengapa...
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara."
JUDIKA ~ Cinta Karena Cinta
Zahra menenggelamkan wajahnya di dadha Dewa, "maafin aku udah kasih rasa sakit," ucap Dewa.
Zahra menggeleng, "makasih, udah kasih tau aku kalo rasa sakit itu ngga enak rasanya."
Dewa mengusap dan mengecupi wajah istrinya, "bungsunya Ananta belum pernah ngerasain sakit, salut aku sama keluarga Ananta yang sebegitu melindunginya. Aku lapar sayang..." imbuh Dewa, membuat Zahra menyerot ingusnya tersenyum, mata sembabnya membuat ia semakin menyipit, "aku udah sempet makan dua sendok tadi bareng bang Miki...sini aku suapin!" Zahra menariknya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Dewa.
*Zahra akan menemani Sadewa semampunya sampai ia tak memiliki waktu lagi di dunia. Begitupun Sadewa, ia akan mendukung Zahra sampai sisa tenaga penghabisan, sampai ia tak lagi memiliki daya untuk berpijak lagi di dunia*.
"Mau pulang sekarang? Aku masih banyak kerjaan soalnya...aku pulang abis magrib," ucap Dewa, Zahra menggeleng, "aku mau nemenin kamu sampe selesai...mumpung aku masih punya waktu." Kini ia senang duduk di pangkuan Dewa.
"Aku mau belajar bisnis juga, biar aku ngerti sedikit-sedikit ngga cuma nerima untung dari saham punyaku doang," imbuh Zahra. Sadewa melirik Zahra, "kamu? Belajar bisnis juga? Janganlah! Masa kamu semua, nanti kamu ngga butuh aku..." kekeh Dewa.
"Selama ini aku cuma nikmatin uang kiriman dari Ananta group padahal ngga kerja apa-apa, beda sama bang Fath sama bang Rayyan, mereka ngerti dan sering terlibat kalo lagi senggang..." Dewa menarik alisnya sebelah.
"Kamu punya saham?" Zahra mengangguk, "abi yang kasih...katanya takut jika ada sesuatu terjadi, beliau sudah tidak memiliki hutang duniawi... Termasuk jodohin aku,"
Dewa mengangguk mengerti, "kalo kamu belajar bisnis, kamu bisa jadi rekanan bisnis aku juga. Fix, kamu partner bisnis, partner dapur, partner ranjang, partner hidup...wah! Ada kamu lagi, ada kamu lagi!" tawanya membuat Zahra tertawa.
"Biar cuma ada aku di mata kamu, nih!" Zahra menangkup wajah Dewa dan menyatukan wajah keduanya, menatap mata Dewa tanpa berjarak, "keterlaluan kalo jarak segini aku ngga menuhin mata sama pikiran kamu," Kini gantian Dewa yang tertawa.
Ia malah menekan tengkuk Zahra dan menyambar bibir istrinya itu dalam-dalam.
__ADS_1
Zahra memejamkan matanya merasai permainan suaminya, Dewa sedikit memberikan jarak agar ia bisa menggendong Zahra dan menaikkannya ke atas meja, menggeser semua benda yang menghalangi.
*This is love office*!
Sentuhan demi sentuhan Dewa berikan untuk istrinya, dengan agresifnya Zahra memberikan dirinya untuk Dewa yang kini sudah menanggalkan satu persatu pakaian keduanya.
Beberapa pulpen dan alat tulis lain berguncang berjatuhan diiringi dengan thesahan tertahan Zahra. Sensasi membuncah yang terpaksa harus ia tahan kuat-kuat dengan menggigit bibir bawahnya.
"Abang stop abang...udah..." tapi Dewa tak mau mendengar, telinganya sudah ditulikan dengan kenikmatan yang disuguhkan Zahra.
"Abang nanti ada yang masuk, jangan kelamaan..." ia begitu kepayahan.
"Pintunya udah ku kunci," suara berat Dewa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 wib. Miki sudah bersiap untuk pulang, namun sebelumnya ia berniat menyerahkan laporan untuk Dewa. Ia berjalan keluar ruangannya dan menguncinya. Hanya tinggal beberapa langkah ia sudah sampai tepat di depan ruangan Dewa.
Tangannya sudah terangkat di udara namun belum ia ketukan sayup-sayup ia mendengar sesuatu dari dalam, lantas ia menempelkan daun telinganya di pintu ruangan Dewa.
"Alah siah naon eta, ibu cut pake mohon-mohonan segala?!" mata Miki melotot, mendadak ia diserang rasa khawatir, takut jika Zahra sedang di siksa Dewa mengingat terakhir kali ia melihat keduanya sedang bertengkar.
"*Ini aku mulai bengkak abang*..."
"*Ini aku sampe merah-merah gini ih*!"
Miki kembali melotot mendengarnya, "*aduh hariwang*! Laporkeun wae gitu?!" gumamnya. (***aduh khawatir***)
Tok-tok-tok!
"Pak Dew! Bu Cut! Udah atuh kalo ada masalah diselesain baik-baik ahh ulah pake kekerasan, kdrt pak itu namanya!" teriak Miki dari luar mengetuk pintu ruangan Dewa heboh.
"*Aduh kumaha ieu*!" gumamnya hectic.
Zahra sudah tertawa mendengar suara Miki, sementara Dewa merasa jika asistennya itu pengganggu moment-moment menyenangkannya.
__ADS_1
"Berisik si Miki!" decak Dewa.
"Aku bilang juga udah. Nanti aja di rumah!" Zahra sudah selesai memakai kembali bajunya, sementara Dewa hanya memakai kemeja dan box ernya saja, diputarnya kunci pintu.
"Pak Dew," Miki sedikit terkejut saat Dewa membuka pintunya.
"Apa, lo ganggu gue sama bini lagi nengokin anak! Balik lo sono!" Dewa bahkan sudah mengacungkan penggaris besi ke arah Miki dan memukulkannya ke pan tat pria ini.
"Ampun pak! Ampun!!!" Dewa mengejar Miki dengan membawa penggaris besi.
"Abangg ih! Itu malu masih pake celana pendek!" seru Zahra, tapi lelaki ini tak peduli masalahnya di ruangan ini hanya tinggal ada mereka bertiga saja.
"Mik, lo cari karyawan yang ngomongin gue. Sampe Zahra salah paham kaya tadi! Coba liat cctv bini gue ngobrol sama siapa aja, termasuk lift! Abis itu liat trek record mereka, kalo ngga mutu CUT AJA DARI PERUSAHAAN!" bisik Dewa pada Miki.
"Beres pak! Ya udah Miki balik pak!"
Dewa mengangguk, "gue juga mau balik, ngga bener lah kerja ditemenin sama makhluk sexy di ruangan, bawaannya pengen nengok kloningan," tawanya.
"Dasar presdir gelo!" umpat Miki.
Zahra menatap Dewa yang masih berbalut box er merah hitamnya, tak akan ada presdir yang seperti Dewa, "*my lovely presdir from the mars*..."
.
.
.
.
.
Yeeee! Tiba di penghujung bab ya sayang๐ค๐ค terimakasih dukungannya selama ini di karya ini, tiba saatnya rombongan seluruh keluarga Ananta pamit sayang.
Aku tau terlalu banyak kekurangannya, entah itu typo yang selalu ada, ataukah memang alurnya yang tidak sesuai ekspektasi. Jujur genre CEO ini bukan zona nyamanku tapi kucoba dan akhirnya berbeda dari CEO-CEO pada umumnya ๐. Salam sayang juga untuk para perawat, tenaga kesehatan yang sudah dan selalu berjuang untuk kami masyarakat negri ๐๐
Terimakasih aku ucapkan untuk berbagai pihak, terlebih untuk para pembaca hebatku yang sudah mau kirim-kirim vote, sawer aku sama tips koin (thank you so much sistahhh), iklan, bunga, dan segala macam bentuk hadiah untuk karya recehku ini, tak ada balasan yang lebih baik daripada do'a agar para bestie-bestie sehat selalu, dilimpahkan rejekinya, aamiin๐
Rombongan klan Ananta dan author pamit sayang, see you next project.
.
.
.
__ADS_1
.