
"Inhale Ca, exhale...tarik nafas panjang...keluarin besok," ucap Kara mengusap punggung Ica.
"Si alan! Mati gue Ra," desis Ica membuat Milo, Kean dan Kara sendiri tertawa.
Dugh!
Jihad mendorong pelan kepala istri Armillo itu yang masih tertawa, tidak suami tidak istri sama-sama somplak di waktu yang tidak tepat.
"Ya kan tadi katanya lo mau mati rebahan?" tanya Kara.
"Kalo aku mau mati di pelukanmu by," jawab Milo mendekat.
"Dimana-mana mati ya di kubur lah!" jawab Kean datar, membuat Ganesh dan Dewa menahan tawanya. Milo memperhatikan sosok gadis perawat yang menjadi rebutan si kembar, meneliti Zahra dari atas hingga bawah.
"Cantik! Selera kalian bagus Wa---Nesh...om sekarang yakin kalo kalian berdua normal kaya Lendra sama om," imbuh Milo, Kean menyemburkan tawanya begitupun Zahra, melihat ayah Lendra. Kini ia tau jika Lendra bisa begitu karena memang pohonnya pun seperti itu, entah jenis pohon apa.
"Geblek," Jihad menjiwir pangkal hidungnya.
"Ampun gue, nih orang dari dulu ngga robah. Pantes aja si Lendra kaya gitu Ra," gumam Keanu.
"Bukan cuma anaknya doang kak, nih anak satu juga anak buah laki gue jadinya kaya gitu, termasuk Rainathan (anak Raka)," jawab Kara menggeleng frustasi dengan keabsurdan Milo, Keanu tertawa kecil, "guru sesat! Untung anak gue cewek."
"Oh iya. Ngomongin Lendra, anak kamu kemana ini yank?!" tanya Kara pada Milo, wanita itu mengerutkan dahinya mengingat bibit absurdnya bersama Milo yang belum terlihat batang hidungnya sampai siang ini, padahal biasanya dimana ada Dewa dan kekacauan maka disitu Lendra pun hadir. Sayangnya Kara tak tau jika kehadiran Dewa disini berkat putranya yang kini sudah kembali ke tempat proyek bersama Axel, selepas mengantarkan Dewa sampai depan cafe tadi. Jadi kekacauan ini masih ada campur tangan Lendra.
"Kalian berdua duduk! Daddy mau ngomong," Jihad sedang tidak ingin bercanda sekarang pada kedua anaknya itu. Dewa mengangguk bersama Ganesha, namun saat ia akan bangkit.
Grekk!
Ia langsung meringis terjatuh, "Dewa?!" Zahra menghambur menggapai Dewa. Bukan Ganesha yang sudah menggeser kursi ke dekat kedua orangtuanya, tapi Zahra benar-benar memberikan sepenuhnya perhatian pada Dewa, seluruh rasa dan kekhawatiran hanya untuk Dewa, tanpa menghiraukan Ganesha.
"Bang,"
Ica cukup terkejut, begitupun Kara, "eh?!"
Sebagai seorang ibu, tetap saja ia khawatir. Disini mungkin hanya Zahra yang tau dengan kondisi sebenarnya dari Dewa.
"Sini duduk!" Zahra dengan cekatan membawa Dewa duduk, gadis itu duduk melantai tepat di depan Dewa, dengan cekatan menaikkan celana jeans, tapi sayangnya mentok di tulang kering.
"Om, ada gunting? Boleh pinjem?" tanya Zahra diangguki Kean yang langsung mengambil gunting dari laci meja kerjanya.
__ADS_1
"Ini kenapa?!" alis semua penghuni ruangan ini kompak bertaut.
"Aku sobek celananya ya?" Zahra mendongak diangguki Dewa.
"Udah kubilang jangan keluar rumah sakit dulu, kamu belum baikan." Ujar Zahra mengomel.
"Rumah sakit?!" seru Ica.
"Kamu dari rumah sakit?" Ica kini menarik dagu putranya itu bertanya.
"Abang Dewa jawab momy!"
"Abang ngga apa-apa mii, anak jantan!" jumawanya yang memang selalu menyembunyikan apapun, Ganesha mengerutkan dahinya, "lo bilang cuma lagi demam bang?" tanya Ganesha.
"Kamu tau?!" Ica kini bertanya setengah sewot pada Ganesha.
Dengan gerakan cepat Zahra membawa kaki Dewa ke atas pahanya dan menggunting celana Dewa hingga ke atas lutut. Tak lupa ia mengikat rambut panjangnya agar tak membuat risih. Setiap gerakan cekatan Zahra diperhatikan dengan seksama oleh semuanya.
Zahra membuka celana Dewa yang sudah ia sobek hingga terlihatlah kini bekas tindakan operasi disana lurus beberapa centimeter.
Betapa terkejutnya Ica, bahkan matanya membulat sempurna, sebandel-bandelnya Dewa ia tetap anaknya, tetap buah hati dan jiwanya.
"Ya Allah! Ini kenapa?!" Kini mata Ica berkaca-kaca melihatnya, ia ikut turun sejajar dengan Zahra menyentuh luka di kaki Dewa, seketika dadanya terasa berdenyut dengan desiran da rah yang deras.
Jangan kamu ceritain, Ra.
Baik buruk, pahit ketir keluargamu berhak tau!
Dengan sorot mata yang sama sekali tak bergeser sedetik pun dari netra hitam Dewa, Zahra menceritakan semuanya, padahal kini tatapan Dewa telah meredup pasrah.
"Dewa masuk IGD malem-malem beberapa hari yang lalu tante, waktu Zahra lagi tugas, dalam keadaan yang sudah babak belur dengan luka robekan dan retak tulang."
"Bilang sama momy, kamu kenapa bisa gini?!" tanya Ica.
"Bilang sama momy anak mana yang bikin kamu jadi kaya gini?! Dia anak CEO mana?! Atau anak pejabat mana?!" lanjutnya mencecar penuh desakan, rasa kesal dan marah berubah seketika melihat keadaan Dewa. Separah apapun anak-anaknya, naluri seorang ibu adalah melindungi, "dia ngga tau momy sama daddy siapa?! Nantangin anak Menteng!" Ica mendengus. Dewa melirik Ganesha, jikalau kedua orangtuanya tau adik kembarnya itu sedang membiayai pengobatan si pelaku pengeroyokan Dewa kira-kira bagaimana reaksi keduanya?
Ganesha menangkap tatapan sang kakak, dan tak mengerti apa yang terjadi, kenapa Dewa menatapnya seperti itu.
"Ya ampun Wa, ini kaya luka ketabrak bukan sih? Atau hantaman benda tumpul gitu," ujar Kara memutus tatapan keduanya, ia ikut berdecak melongokkan kepalanya melihat luka di kaki Dewa.
__ADS_1
"Kenapa kamu ngga bilang? Kenapa bisa gini?!" tanya Jihad.
"Dewa bisa handle dad, cuma ngga mau momy sama daddy kepikiran aja," jawab Dewa. Ica mengernyitkan alisnya dengan tatapan sendu. Zahra meminta kotak P3K pada Keanu, "om kalo boleh Zahra mau pinjem kotak P3K, ada perban?" luka bekas operasi Dewa belum pulih betul namun sudah kembali lebam dan sedikit lecet. Tanpa disadari tangan momy Ica kini sudah mengusap lembut punggung putra pertamanya itu.
Gadis itu dengan lembutnya membalut kaki Dewa, "kalo bisa setelah ini kamu rawat jalan, bedrest di rumah, Wa. Nanti aku coba ngomong sama dokter Farhan, udah berapa kali aku bilang...kamu belum pulih Wa, bisa ngga sih jangan jadi pasien ngeyel?"
Ica dan Jihad saling bertukar tatapan, keduanya sama-sama tau dan mengerti...apa yang terjadi selama di ruangan ini meskipun baru sebentar mereka disini, belum pernah mereka melihat Dewa seperti ini terhadap perempuan, begitupun tindakan Zahra, sorot mata keduanya yang sama-sama terlihat tulus.
"Sayang, kayanya ini urusan keluarga Ica sama Jihad. Ngga enak kalo ada disini terus, mereka pasti butuh privasi..." bisik Kara pada Milo.
"Iya by, urusan calon mantu sama mertua," angguk Milo.
Lelaki itu memanjangkan tangan dan melihat arloji di pergelangan tangan, "Ji...Ca...kayanya kalian bakalan butuh waktu dan privasi buat omongin ini. Kalo boleh gue saran, mendingan sekarang lo pulang, selesain ini di rumah," ujar Milo diangguki Kara.
"Tumben kan by, aku bener? Udah cocok belum kalo jadi calon mertua?" bisiknya bertanya pada sang istri dikekehi Dewa.
"Haaa, awww!" Milo meringis saat pinggangnya dicubit Kara dari samping.
Jihad melihat ke arah Keanu, "sorry Kean, udah bikin cafe lo ribut siang-siang...thanks juga udah pinjem kantor lo buat ngamanin nih 2 pelaku kerusuhan," ucap Jihad pada Keanu yang sontak saja membuat Ica dan Dewa menoleh bersamaan.
"Kerusuhan apa bang ih, kapan aku rusak properti cafe kak Kean?" ucap Ica tak terima.
"Ngga sadar! Kamu tuh rusak suasana, mood orang-orang yang lagi makan!" desis Jihad.
"Zahra, bisa ikut kita ke rumah?"
Zahra menatap kedua orangtua Dewa bersama dengan si kembar bergantian. Ia meloloskan nafasnya, semua sudah terlanjur terjadi dan sebelum hal ini sampai ke telinga keluarganya, memang ada baiknya ia menyelesaikan semuanya disini.
"Iya om..." ia melirik jam tangan.
"Zahra dinas?" tanya Ica.
Zahra mengangguk, "bangsal lagi sibuk tante, ngga bisa ijin mendadak kalau bukan karena sakit.."
"Oke, kita minta waktunya sebentar."
.
.
__ADS_1
.
.