
Dewa berjalan dibantu Ganesha, sementara Ica keluar dengan merangkul Zahra dari samping di depan mereka, keduanya mengobrol begitu akrab, siapa saja dapat melihat keduanya haha--hihi bareng, bahkan pemandangan itu mampu membuat Dewa melebarkan senyuman hangat. Meskipun tidak dipungkiri, raut momy Ica masih memperlihatkan beban hati sebesar gunung.
"Cie, Ji...calon mama mertua idaman," cibir Kara terkekeh dari belakang, "udah gue bilang kan Ji dari awal, Zahra emang cocoknya sama Dewa, kayanya lo salah jodohin. Gue cuma kasih saran jangan terlalu keras sama anak-anak, coba tanya dulu satu-satu, baiknya gimana, maunya gimana, kalo Ganesh juga memang udah klop ya mau ngga mau Dewa sama Ganesha saingan."
"Emangnya kamu pernah ketemu by?" tanya Milo di sampingnya.
"Waktu makan siang apa malem ya, kok gue lupa sih Ji?!" Kara malah balik bertanya. Jihad tertawa kecil, "itu tandanya lo udah tua Ra, mana Lendra belum merit."
"Tenang Ji, gue ngga takut Lendra ngga merit. Ga ada sejarahnya klan Aditama ngga laku, iya ngga by?" Milo menaik turunkan alisnya pada Kara.
"Banteran ngga laku juga, paling-paling juga nge-bully, terus diadopsi jadi pacar kaya gue dulu!"
Jihad dan Milo benar-benar sudah tertawa keras melihat wajah kecut Caramel, membuat 4 manusia di depannya menoleh, "hey bapak-bapak! Ngga usah katro, ketawa keras ngga tau tempat, kaya jalan nenek moyang!" sewot Ica.
"Tenang ! Nanti aku beli !! Cafe Kean sama owner-ownernya sekalian cuma biar bisa ketawa-ketiwi di sini..." jawab Jihad.
"Daddy emang best!" seru Dewa.
"Cih, calon ayah mertuamu jangan di dengerin Ra..aga kurang se ons!" jawab Ica mencibir suaminya sendiri.
"Udah! Udah! Ini emak bapak malah pada berantem, jangan sawan ya sayang...maaf kalo calon mertuamu pada minus akhlak, karena cuma tante yang waras!" jawab Kara pada Zahra.
"Pacar adopsi," gumam Jihad masih menggelengkan kepalanya.
"Gila kan Ji?" desis Kara.
"Aku bukan ngadopsi by, tapi..." Milo tersenyum menyeringai membuat Kara menautkan alisnya. Tiba-tiba saja papi Syailendra itu menggendong mami Lendra layaknya sekarung beras imitasi dan membawanya seraya berlari mendahului yang lain.
"Eh! Eh! Armiloooo! Susuuuu!" teriak Kara, jika Lendra disini mungkin ia yang akan ngamuk karena kelakuan kedua orangtuanya itu bikin anak-anak muda ileran.
"Ji, Ca, gue duluan! Udah dapet mamihnya Lendra," seru Milo. Zahra terkekeh kecil nan geli melihat betapa kedua orangtua Lendra sangat romantis, ia lantas melirik ke arah kedua adik kakak kembar itu, tapi bukan Ganesh yang ia lihat melainkan Dewa.
Dewa masih tertawa melihat keduanya. Dan kini Jihad berjalan di samping Ica.
"Bang, kenapa lo ngga bilang kondisi lo sama gue?"
"Gue dikeroyok orang, terus nabrak pembatas jalan karena dikejar..." jawab Dewa membuat Ganesha memutar bola matanya, "telat bang."
Dewa tertawa sumbang, "terus kalo gue bilang lo bakalan langsung datang buat nolong?"
"Gue emang ngga bisa datang waktu lo lagi dikeroyok, tapi gue pasti langsung nyamperin lo," jawab Ganesha.
"Ya udah lah. Lagian gue udah sehat lagi, nanti gue kasih tau dari toa masjid biar satu kampung tau gue abis dikeroyok!" balas Dewa.
"Nesh, inget! Waktu udah habis, dan sampai saat ini ternyata lo belum mampu balikin keadaan project. Miracle masih mangkrak dan ngga ada perkembangan, kasus sudah terlalu lama. Lo ngga bisa lagi lindungin bokap, Cya!" Dewa berbisik memperlambat langkah mereka. Ganesha tau jika abangnya sudah bertindak sejak jauh-jauh hari, ia ingat betul dengan pengakuan ayah Cya saat mereka bertemu di Kalimantan baru-baru ini.
"Nesh, akhir-akhir ini papa selalu merasa ada orang yang ngikutin,"
__ADS_1
Ganesha hanya terdiam, ia yakin satu hal pasti. Jika prasangka ayah Cya adalah benar adanya, dan itu sudah pasti orang-orang yang Dewa kirim.
Dewa melihat kegelisahan adik kembarnya itu, "*wake up brother*! Bukan ini yang Cya mau, di atas sana Cya pasti mewek liat lo kaya gini, Nesh! Dia pasti pengen lo bahagia, menemukan seseorang yang baru dan sayang sama lo! Lo orang yang merugi brother, memilih terperosok di masa lalu dan ngga berusaha buat keluar, cukup sampai sini lo kecewain daddy sama momy. Cukup sampai sini lo terus rugiin diri lo sendiri sama orang lain!" Dewa bahkan telah menusuk-nusuk dada adiknya itu dengan telunjuk.
"Otak lo cerdas Nesh, gue yakin pasti ada penyesalan disini. Buruan sadar, jangan sampe semuanya terlambat, gue ngga akan bisa nolongin lo selamanya. Ada saatnya justru gue yang kasih pelajaran buat lo, Nesh!" tajam, menusuk dan menampar..itulah perkataan Dewa sekarang, tapi melihat betapa momy dan daddy percaya padanya, juga pengorbanan orang sekitar terhadapnya, Ganesha benar-benar menyesali semuanya.
Namun kemudian Dewa tersenyum, "but thanks, gue tau lo sengaja titip Zahra buat gue. Jangan pikir gue ngga tau rencana lo deketin Zahra sama gue, Nesh. Gue lebih pengalaman dalam hal beginian!" katanya tertawa kecil.
"Pede amat lo bang," dengus Ganesha.
"Zahra biar sama momy sama daddy, kalian BERDUA!" Jihad menekankan kata berdua bukan tanpa alasan, tapi untuk memberikan waktu dan ruang kedua anak kembarnya saling bicara.
"Yang akur! ! Jangan pada berantem," ujar momy Ica membuat Dewa tertawa, dan Jihad mengerutkan dahinya, "kamu ngga salah, bakwan? Abang justru lebih tenang ninggalin Dewa sama Ganesh ketimbang ibunya sendiri," jawab Jihad.
Zahra menyemburkan tawanya mendengar nama panggilan daddy Ji untuk istrinya, apakah tak ada yang lebih bagus lagi?
"Abang ih! Manggil aku di depan calon mantu ngga ada yang kerenan dikit ?!" ketusnya, Jihad terkekeh kecil dan memasukkan kepala istrinya itu ke dalam jasnya, "karena kamu bakwannya aku, segala tuh ada di diri kamu!"
"Hati-hati!"
Zahra menengok ke belakang pada si kembar sebelum momy Ica benar-benar membawanya masuk ke dalam mobil, Dewa melambaikan tangan pada Zahra, "semuanya bakal baik-baik aja," angguk Dewa singkat. Hingga akhirnya mobil Jihad melaju menjauh, Zahra melihat ke arah luar hingga tatapannya bertemu dengan netra Dewa yang juga melihatnya.
Dewa masuk ke dalam mobil Ganesh sementara Zahra sudah pergi bersama kedua orangtuanya.
Ganesh menarik tuas, dan menginjak pedal gas.
"Jadi, apa lo udah suka Zahra? Udah sayang dia?" tanya Ganesha.
"Gue sayang Zahra, Nesh."
Setiap kata yang diucapkan Dewa, sudah seharusnya Ganesha merasa senang. Dengan begini, bukankah rencananya berhasil?
"Sukur kalo gitu, gue cuma mau titip Zahra. Kalau emang lo lebih menyayangi Zahra dan bisa memegang amanah keluarga Zahra, maka gue ikhlas bang. Gue cuma berharap, sedikit bantuan gue ini setidaknya bisa bikin lo bahagia."
Kedua adik kaka kembar itu saling pandang, "apa niat awal lo nerima perjodohan dengan Zahra?" tanya Dewa.
"Gue cuma mau nyelamatin nama keluarga, tapi setelah melihat kalau orangnya ternyata Zahra, gue teringat sesuatu...yang bikin gue semakin mantap! Seseorang yakin kalau Zahra memang terbaik buat lo, gue turut seneng bang buat lo..."
Dewa melengkungkan bibirnya.
__ADS_1
"Oke. Tapi gue mau nanya satu hal sama lo Nesh," balas Dewa serius.
Ganesha melirik singkat melihat abang kembarnya.
"Apa?"
"Apa lo juga suka Zahra?"
Ganesh seketika membatu, ia mengerjap, genggaman tangannya di stir mobil mengerat. Meski adiknya itu tak menjawab Dewa dapat melihat jawabannya sebagai seorang lelaki.
"Munafik kalo lo ngga suka Zahra, Nesh...dia tipe lo kan? Dia juga wanita yang spesial kalo menurut gue," tembak Dewa.
Ganesh menghela nafasnya dan menghirup nafas dalam, "ngga ada waktu mikirin cinta buat gue sekarang," jawabnya dingin. Dewa melihat itu....Cya masih begitu membayangi, sebagai seorang kakak ia ikut merasa sedih.
"Nesh,"
"Bang, nanti biar gue yang ngomong sama keluarga Zahra. Kalau gue ngga bisa lanjut...gue juga terima nantinya lengser daru posisi CEO.. Gue tau lo sudah tau dimana bokap Cya, kalau memang itu yang terbaik maka gue ikut..."
Ada senyuman lebar dari Dewa, "ini baru adek gue! Welcome back brother!" tepuknya di pundak Ganesha.
"Umi mu ada ngabarin, Ra?" tanya Ica.
"Ya?" Zahra membeo dari bangku belakang.
"Iya, tentang pertunangan kamu sama---" Ica sampai menggaruk kepalanya tak gatal, ia bingung harus menyebut putranya yang mana.
"Anak momy," akhirnya ia melanjutkan membuat Jihad tertawa renyah.
Zahra menggeleng, "belum tante. Umi belum...."
Drrtttt...
"Sebentar tante, ada telfon..." ujar Zahra diangguki Ica.
Panjang umur, baru saja dibicarakan umi Salwa menelfon anak gadisnya itu.
"Assalamualaikum umi,"
(..)
"Ha?! Umi kok ngga bilang dulu Zahra. Abang Fath sama kak Fara juga datang?" serunya terkejut.
Pandangan Zahra langsung menatap ke arah spion depan mobil saat netra mereka bertemu.
"Minggu depan ya?" Ica tertawa.
.
.
.
__ADS_1
.