My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
BELANJANYA CALON DADDY


__ADS_3

Alat itu bergerak memantau setiap inci di dalam rahim Zahra.


"Bisa dilihat pak, itu...kantung kandungan...embrio'nya masih sebesar biji kacang hijau ya, oke...perkiraan usia kandungan baru 4 mingguan,"


Alis Dewa berkerut, ketiga pasang mata penghuni ruangan ini fokus melihat layar monitor, namun sepasang mata hitam Dewa dibingkai dahi mengernyit tak mengerti.


"Ah masa itu anak saya dok? Sekecil itu, mirip ta i toke..."


Plak!


Zahra memukul lengan Dewa yang kalo ngomong ngga pernah bawa saringan. Dokter lelaki itu tertawa kecil, "maunya bapak segede apa? Usianya masih sangat muda,"


Ini bibit seorang Sadewa loh, bukan kutil cicak...ya kali sampe hampir ngga keliatan!


Sadewa bahkan sampai menelfon dokter kandungan kenalan momy Ica takut jika dokter dan alat disini ngga beres namun hasilnya tetap sama saja.



"*Dasar presdir gila*!"



"*Emang! Momy juga sampe bingung dulu ngidam apa sih, kok yang satu hasil janinnya kaya begini modelannya*!"



"*Nutrisi jangan lupa harus dicukupi, Wa*..."



"*Kalian dimana sih, umi ikut*!"



"*Ahhhh, ngga kerasa momy mau punya cucu pertama! Excited banget*!"



"*Jadi nanti susul-susulan dong lahirannya, Fara dulu baru Zahra*..."



Begitulah kiranya obrolan absurd kedua emak Dewa dan Zahra yang berkabar. Namun intinya, keduanya berpesan selama pasangan calon orangtua ini babymoon sambil isolasi nutrisi kehamilan harus terpenuhi.



Di tengah wabah virus yang masih merajalela meski tak separah waktu lalu, dan pemerintah yang mulai melakukan pembatasan aktivitas masyarakat, Sadewa pergi keluar untuk berbelanja.



"Sayang, kamu ngga usah ikut belanja, biar aku sama mamang aja yang belanja keperluan. Kamu mau titip apa?" tanya Dewa sudah memakai topi dan maskernya. Zahra yang asik ngemil pisang goreng buatan bi Wiwin menggeleng, "engga usah. Aku ngga pengen apa-apa," jawabnya sambil ngunyah, mulutnya sampai penuh.



"*Euleuh meni bageur*! Si utun ngga pengen ngidam apa-apa," tangan-tangan tuanya membalikkan pisang yang bertepung di dalam wajan penuh minyak panas.



"Ya udah, aku pergi dulu. Mang kemon!" ajaknya mengecup kening Zahra lama. Zahra tertawa melihat kepergian Dewa, hari gini mana ada suami, bahkan seorang presdir pergi belanja sendiri kebutuhan rumah, terlebih nutrisi untuknya. Allah memang tak pernah salah, ia akan menunjukkan jodoh yang memang istimewa untuknya. Taukah do'a Rayyan waktu itu telah diijabah Allah.



Tapi jika perkiraan Zahra Dewa hanya berduaan saja dengan mamang ia salah, karena nyatanya ia menyuruh Miki pagi-pagi meluncur ke kawasan Bogor. Si gempal melehoy itu subuh-subuh sudah pergi cuma gara-gara atasang somplaknya bilang keadaan genting. Ia bahkan membuat surat jalan agar tak dipersulit melintasi jalanan.


__ADS_1


"Heuuhhh! Dingin, brrr!" Miki sudah menunggu Dewa di tempat yang sudah dijanjikan.



Melihat seorang pria bertubuh gemuk dengan kategori langka sedang berdiri di kap mobil membuat Dewa meminta mamang berhenti sejenak, "mang, tuh! Berenti disitu aja dulu!"



Dewa keluar dari dalam mobil dengan stelan celana pendek selututnya dan kaos juga topi sukses bikin Miki melongo, bukan hanya tampan tapi ia merasa ada yang janggal.



"Pak Dew, bapak nyuruh Miki jauh-jauh kesini pagi-pagi mana pake surat tugas segala ada tugas genting apa?" tanya nya meniupi kedua telapak tangan yang masih terasa dingin, lebih tepatnya menyalurkan hawa hangat dari mulutnya.



"Ketauan lo suka bangun siang. Melek dong lo, ini tuh udah jam 9..pagi darimana! Udah buruan parkirin mobil lo di sana!" titahnya.



"Lah terus kita mau kemana?" tanya Miki semakin mengerutkan dahinya.



Setelah menitipkan mobil pada salah satu rumah yang ada disana, Miki masuk ke dalam mobil Dewa.



"Apa sih, *meni riweuh* gini ah! Lagian bapak mau ketemu klien pake celana sama kaos pak? Nyebut bapak, *eling*! Tapi di agenda kan ngga ada jumpa klien pak," omel Miki ditertawai mamang.



"Bawel lo, *eling* apa sih mang?!" tanya Dewa.




"Bawahan kurang aj ar, emang gue kenapa disuruh sadar sama nyebut. Gue masih waras..." balas Dewa, percuma saja Miki meminta Sadewa sadar dan nyebut, emang stelan bawaan oroknya sudah begini.



Mobil melesat menembus jalanan yang sudah terang benderang, "lo udah makan belum?" tanya Dewa, ditawari begitu tentu saja Miki berkata sejujur-jujurnya.



"Belum!"



"Kalo jam segini ada tukang nasi atau bubur yang jualan ngga mang? Kasian nih anak dugong belum sarapan," tanya Dewa. Mamang mengangguk singkat dengan ekor mata yang berkerut karena terkekeh, "ada pak, mau belok dulu buat sarapan?" tanya nya.



"Iya mang!" seru Miki diangguki Dewa.



Dewa hanya bersidekap dada saja melihat asistennya memesan makanan sampai 3 porsi untuk dirinya sendiri, ia sudah tak heran dengan asistennya itu. Bahkan Dewa sudah sempat merokok disana demi mengusir rasa jenuh.



"Yang harusnya nyebut tuh lo Mik, makan ngga pake bismillah tuh begini, kaya kerasukan jin...pantes aja perut lo kaya kantong doraemon, ya begini nih! Kenapa ngga piring-piringnya sekalian lo gares?!" Dewa menggelengkan kepalanya.


__ADS_1


"Lapar pak Dew," jawabnya kembali menikmati.



Dewa dan mamang yang notabenenya sudah sarapan hanya bisa ikut menelan saliva, bukan karena ngiler melainkan ngeri-ngeri sedep liat Miki makan.


Miki semakin mengerutkan dahinya saat mobil masuk pelataran supermarket besar, "kita mau ketemu klien di supermarket pak? Meni antimainstream ketemuannya di depan belanjaan?"


"Terus siapa yang bilang kalo kita mau ketemu klien?!" tanya Dewa. "Turun!" perintah Dewa.


"Mamang tunggu disini aja, nanti kalo butuh bantuan saya panggil..." ucap Dewa diangguki mamang.


Miki turun bersama Dewa, Dewa menggerakkan lehernya macam orang pemanasan hendak olahraga, "oke, ayo belanja!"


"Hah?!!!" Miki sontak menoleh pada Dewa.


"Bapak nyuruh Miki pagi-pagi ke Bogor, mana bilang genting. Ini Miki pake sepatu sama jas cuma disuruh nemenin belanja?!" serunya.


"Emang genting karena gue ngga ada yang bantu. Lo asisten gue jadi gue minta tolong lo, bi Wiwin nemenin bini gue di rumah yang lagi morning sickness, gue ngga mungkin bawa bini, gue ngga mau bini gue sampe lecet-lecet atau kecapean, takut anak gue yang di perut kenapa-napa, makanya gue nyuruh lo." Jelas Dewa kini membuat terang benderang di otak Miki.


"Bu cut hamil?! Ya Allah, alhamdulillah!" seru Miki.


"Makanya buruan masuk," dorong Dewa di badan gempal Miki.


"Ampunnnn punya atasan! Kenapa ngga bilang, jadi Miki ngga usah repot-repot pake jas, pak Dew-dew!" ia menggertakkan giginya saking gemas dengan Dewa, ingin rasanya ia membenturkan kepala atasan gilanya itu ke tembok kalo berani...


"Ya siapa suruh, kan gue ngga nyuruh, udah buruan! Nih daftarnya lo pegang, pokonya jangan sampe ada yang lupa dibeli, karena gue ngga mau sampe balik lagi!" ancam Dewa.


Miki mengusap wajahnya kasar menerima daftar belanjaan yang kesemuanya adalah daftar kebutuhan sehari-hari, ditambah persediaan makanan bernutrisi untuk Zahra.


Dewa dan Miki mendorong troli besar kesana kemari dan menceklis apa saja yang sudah dibeli.


Ternyata belanja lumayan menguras tenaga, Dewa mencoba naik ke dalam troli yang masih agak kosong, "Mik, bawa yang penuh ke depan kasir dulu!" titahnya.


"Kan ini masih banyak pak yang belum dibeli," ujar Miki.


"Ck, bawel! Atasan maha benar Miki, buruan!"


"Iya...iya!" Miki membawa troli penuh ke kasir dan menitipkannya terlebih dahulu disana lalu ia kembali.


"Terus?" tanya nya.


Dewa naik ke atas troli besar itu, "dorong gue! Capek gue kalo jalan," Miki sampai menganga dibuatnya, ada manusia modelan begini.


"Allahuakbar, tobat! Ai si bapak...untung kasep, mun teu ges disuntrungkeun!" omelnya yang jelas-jelas Dewa tak akan mengerti.


(Eh si bapak...untung aja ganteng, kalo engga udah gue jorokkin/dorong sampe nyuksruk)


"Lo ngomel-ngomel yang gue ngga ngerti. Lo lagi nyumpahin gue?!" omel Dewa.


"Engga pak, ya udah yu jalan! Udah kaya bocah aja pak...pak!" tak urung Miki mendorong bocah jejadian itu.


"Semoga tuh anak ngga mirip bapaknya..." do'a sebagai uncle ia langitkan setinggi mungkin.


"Apa lo bilang?!" Dewa menoleh.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2