My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
BITTERSWEET (PAHIT)


__ADS_3

"Eh!" Tubuh Zahra terangkat tanpa aba-aba oleh Dewa.


"Abang jangan abang!" ia mengeratkan tautan tangan yang melingkar di badan Dewa sekencangnya sambil meminta untuk tidak dijatuhkan.


"Anget kok sayang...anget, kita berendem berdua..." Dewa menaik turunkan alisnya.


Zahra menggeleng sambil cekikikan, "Abang ih aku udah mandi sampe 2 kali, masa harus basah-bsahan lagi, nanti masuk angin..."


Dewa tetap berjalan ke tepian kolam berusaha menjatuhkan Zahra, namun tangannya tetap kekeh bertaut kencang meski Dewa hampir melepaskan badannya ke air.


"Abang ih, aku jambak nih!" teriaknya sambil tertawa, bahkan tangan Zara sudah benar-benar merambat ke arah rambut Dewa begitupun Dewa yang tergelak bahagia, hingga akhirnya keduanya jatuh bersamaan ke dalam kolam renang.


Byurrrr!


Zahra meraup nafas sebanyak-banyaknya, ia tertawa tergelak meski kini dirinya sudah basah kuyup di dalam kolam berisi air hangat juga kelopak mawar, jangan lupakan lilin aromatherapy yang beberapanya padam terkena cipratan air.


Lelaki itu menyugar rambutnya dan menangkap pinggang Zahra yang melingkarkan kedua tangannya di leher Dewa, untuk kemudian kedua insan ini saling mema gut.


"Pak Dewooo! Gue dilupain disini ih?!" Miki melongokkan kepalanya ke bawah melihat kebersamaan sepasang pengantin baru di bawah sana yang mirip ke bo lagi mandi dengan bibir cemberut, sementara Ganesha? Ia tak berniat melihat sesuatu yang bikin mupeng, ia menepuk pundak Miki, "kamu mau turun apa disini semaleman?"


"Emh--emhhh kamvrettt si Dewa! Gue udah ngerasa jadi ampas tebu aja dibuang, dia lagi manis-manisan di bawah!"


"Balik--balik Ndra! Lo nyiksa batin sendiri," ujar Ganesha. Ketiga lelaki itu kemudian menyerbu lift untuk turun menuju lantai bawah.




"Aahhhh----" Zahra memejamkan matanya saat arjuna milik Dewa terasa semakin menyesakkan rongga dewi-nya dan ditusukan semakin dalam, setiap engsel tulang sudah terasa copot dari tempatnya, badannya berguncang mengikuti dorongan Dewa yang temponya semakin cepat. Keduanya kembali meraih kenikmatan yang hakiki bersama.



Hingga Zahra bisa benar-benar menutup matanya tepat di pukul 2 pagi. Jika ia berharap Dewa akan bangun lebih awal lalu nyediain sarapan plus kembang setaman di nampan ia keliru, lelaki ini masih terpejam dengan punggung kekar yang tak terselimuti, yap! Ia tertidur menelungkup. Zahra mencoret salah satu poin dari daftar 10 hal romantis perilaku pasangan pengantin baru menurut novel genre romantic favoritnya, jangan harap kamu akan dipeluk posesif dengan keadaan naked jika itu Sadewa orangnya, karena nyatanya perilaku pria di sampingnya itu selalu tak dapat di tebak.



Zahra menggeser posisinya agar lebih menempel, berusaha menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Dewa, lalu ditatapnya wajah lelap suaminya itu dengan jari telunjuk yang sudah menari-nari diatas lekukan wajah, jemari itu menelusuri alis tebal yang dulu selalu menukik tajam jika melihat lawan bicara, kemudian turun ke arah hidung bangir yang semalam nakal menyesap rakus aroma tubuh Zahra, lalu turun ke area bibir yang semalam.....Zahra tersenyum geli.



"Ini gudangnya kalimat absurd, berasa pengen jepret pake karet bo xer.." gumamnya parau. Cukup lama Zahra menikmati pemandangan paginya, ia bergerak menyingkabkan selimut, tidak dengan keadaan polos karena ia telah memakai kaos milik Dewa meskipun melepas kacamata kuda. Zahra turun dari kasur menuju kamar mandi.



Hingga Zahra kembali, pria ini belum juga terbangun. "Heran! Tidur apa sekarat?" gumam Zahra membuka lilitan handuk di rambutnya lalu meraih ponsel di nakas yang sejak kemarin ia matikan.



Logo apel digigit muncul saat ponsel itu dihidupkan. Saat Zahra menghidupkan data selular langsung saja notifikasi meluncur bak hujan, puluhan, bahkan ratusan menyerbu ponselnya. Belum lagi panggilan tak terjawab. Jarinya menskip beberapa pesan yang ia anggap tak terlalu penting.



Namun kemudian alisnya bertaut saat pandangannya tertumbuk pada pesan grup resmi rumah sakit.



❤Tim Tanggap Co vid RSCM❤



*Anda telah ditambahkan*



Matanya bergerak tak cepat namun penuh pengamatan serius membaca informasi dari tempatnya mengabdi.



DEG!



Antara sedih, bangga, dan takut kini meliputi hatinya. Zahra menggigit kuku jari tangannya bingung, diliriknya Dewa yang menggeliat di belakang, membuat gerakan jika ia mulai terbangun.



"Morning cantik," sapanya tersenyum lebar dengan rambut yang setengah semrawut.



"Wa'alaikumsalam abang."



Dewa terkekeh dan menepuk jidatnya, "salah...assalamu'alaikum," dengan gerakan kilat Dewa menarik Zahra kembali untuk bergulung di dalam selimut, membuat perempuan ini ikut terbawa, "abang ih! Stop, ini udah pagi, aku udah mandi!" teriaknya teredam sumpalan bibir Dewa yang memaksanya kembali menyelami dunia surga berdua. Ponsel yang tadi ia genggam sampai tertin dih entah kemana.



"Abang..." Zahra berusaha menjauhkan wajah Dewa dari ceruk lehernya, hingga mau tak mau ia menjambak rambut Dewa bak jambak rambut nenek sihir.



"Aww, aww, sayang..."

__ADS_1



"Abang dengerin aku, aku mau ngomong dulu." Dewa dengan usilnya malah menggelitiki Zahra membuat perempuan ini tertawa merintih, "abang nanti aku pi pis ih!" Zahra membalas dan berontak dengan memukul, menjambak juga mencubiti Dewa, kasur yang sudah berantakan jadi semakin berantakan karena ulah keduanya yang sudah gulat pagi-pagi hingga membuat guling dan bantal berguguran.



"Ngomong aja, kamu mau ngomong minta uang? Minta bunga, coklat, sarapan gado-gado, honeymoon?" tanya Dewa.



"Bukan ih! Denger dulu!" Zahra sampai harus menggigit kuping Dewa agar suaminya itu berhenti sejenak, penampilan yang sudah rapi kini harus kembali semrawut gara-gara Dewa ngajakin perang.



"Abang aku harus tugas," tukasnya, Dewa yang menatapnya manja kini terdiam, bahkan disaat mereka baru saja menikah, Zahra harus meninggalkannya.



Dewa masih terdiam dengan alis mengernyit.



"Rumah sakit semalam kirim list dokter, perawat, Ners dan staf yang jadi tim relawan wabah virus." Ada rasa tercekat di tenggorokan Zahra untuk mengatakan ini, tapi restunya ada di tangan Dewa sekarang.



"Namaku ada disana," lanjutnya berat, Zahra menunduk menatap dada dan leher Dewa yang jakunnya naik turun karena si empunya menelan saliva sulit.



Bolehkah Dewa egois? Ia sangat ingin mengatakan tidak boleh, ia melarang, tapi apakah mulutnya mampu berkata?



Zahra yang masih berada di dalam selimut dan pelukan Dewa kini melesakkan wajahnya di dada Dewa, sama-sama baru saja meneguk madu pernikahan kini harus dihadapkan dengan kenyataan jika Zahra adalah seorang perawat, tugasnya adalah mengabdi pada masyarakat dan negara.



"Maafin aku," ucap Zahra teredam.



Dewa menatap kepala Zahra nyalang, ia semakin mengeratkan pelukannya di badan sang istri seolah tak ingin melepaskan Zahra.



"Kalo aku bilang ngga boleh apa satu negara bakalan musuhin aku?" tanya Dewa, membuat Zahra mendongak menatapnya dalam jarak yang hanya beberapa centi saja.



"Apa kalau aku bilang ngga boleh, bikin aku masuk penjara? Atau presiden bakalan buang aku keluar negri? Kalau hanya itu aku sanggup untuk larang kamu tanpa berpikir 2 kali,"



"Tapi kalo jawaban kamu atas dasar kemanusiaan, terus aku bisa bilang apa?" senyumnya miris, menelan saliva yang terasa pahit, *it's bittersweet*.



Heyoow gaes, mau ngiklan nih. Udah pada tau anakku yang laen belom siii? 🤔 Iyup! Si Ember sama Jaka Barokah, kalian jahat ihh sama aa Jack Barracknya mimin belum apa-apa udah pada ngakak ngetawain, nanti mimin sumpahin kalian gagal mup un sama aa Jaka 😉



Bagi yang belum yuks mimin tunggu disana 😉 sedikit bab mereka aku ulas disini ya ....



🌟MENGEJAR BAROKAH🌟



Neta melirik jam di tangan yang menunjukkan pukul setengah 4 pagi, rasanya ia tak ingin pulang ke rumah auto kena dakwah 7 jilid dari ibu, kak Syifa dan mas Syarif bikin telinganya lebar cocok dijadiin saripati kaldu jamur. ia memilih tetap setia di kursinya dengan menatap lurus ke arah meja marmer dengan tatapan yang tak bisa dimengerti orang-orang alias kosong. Apakah karena saweran? Rasanya malam ini banyak pelanggan yang ngasih saweran pada Neta, pecahan merah pula, tapi kenapa ia termenung kaya lagi ratapin jodoh orang.



"Mbak, maaf...saya mau sapuin tempat disitu...cuma tinggal ini aja yang belum disapuin..." lagi enak-enaknya ngelamun sesosok pengganggu datang membuyarkan lamunan mengerikannya tentang ilmu bercadar.



Neta menjatuhkan pandangan ke arah sosok pria dengan rambut disisir rapi, ia tebak pria itu memakai pomade sachet yang dijual di warung atau mungkin minyak jelantah, keliatan banget rambutnya klimis mengkilap dan rapi dengan belahan pinggir persis buat foto ktp. Ia kembali meneliti dan menurunkan pandangan seolah sedang memberikan penilaian baju seragam cleaning service yang dimasukkan ke dalam celana dan gesper hitam, pandangannya turun lagi semakin bawah sepatu pantofel bersih minta diinjek, lelaki itu tak berkulit putih malah terkesan coklat manis, tak terlalu tampan juga namun masih bisa ditoleransi dan cukup sopan.



"Oh, sapu aja. Gue ngga ganggu kok!" bukannya beranjak Neta malah menaikkan kakinya ke atas kursi membuat rok rempel mininya terbuka menampakkan pa ha mulus yang terbalut celana pendek, benar-benar pendek menggoda iman persis di bawah belahan nganu.



Jaka mengerjap mengalihkan pandangannya hanya terfokus ke bawah saja, "maaf..." ia segera menyapukan area yang belum terjamah oleh sapu ijuk. Dan dengan segera pergi dari sana, karena kesehatan matanya kini mulai terkontaminasi.



"Hey mas! Tunggu!" tahan Neta, gadis itu memintanya duduk.


__ADS_1


"Duduk dulu bentar, bisa kan?!"



*Dia ngga ganteng, dia juga rapi banget kaya siswa teladan, gue tebak ekonomi dia juga kalangan menengah ke bawah, cocok*!



"Saya?" tanya Jaka menunjuk ke arah dadanya.



"Iya lah, disini ada siapa lagi makhluk hidupnya selain saya dan kamu?! Kecuali kalo kamu ngerasa jadi makhluk halus," jawab Neta, Jaka hanya bertanya satu kata, gadis ini menjawabnya dengan serbuan pasukan kalimat pedas sepedas cimol bojot.



Jaka mengangguk ramah, lantas pemuda itu duduk di sebrang Neta, ia menaruh kedua tangan di antara himpitan pa ha, sementara Neta sendiri tampak mendominasi dengan kaki yang ditumpukkan di kaki lain dan menumpukkan kedua siku di meja.



"Kenalin saya Shanneta Amber, usia 3 bulan lagi 24 tahun, pekerjaan disini DJ, lulusan S1 bisnis management...saya mau nanya, nama kamu siapa?"



"Jaka,"



"Jaka aja? Jaka doang, atau cuma Jaka?" tanya Amber, yang benar saja, ia memperkenalkan diri secara lengkap sampe abis halaman buku tapi pemuda itu hanya cukup nyebut satu kata aja. What the f\*ck! Neta menyambar gelas wine'nya yang tersisa seperempat gelas sloki, mendadak haus!



"Jaka Barokah,"



*Byurrrrrr*!



Apa-apaan nih!



Jaka mengusap wajahnya yang basah tersembur wine dari mulut Neta.



"Eh maaf---maaf!" Neta yang merasa tak enak hati berusaha menolong Jaka mengelap wajah serta pakaian seragamnya yang basah. He to the looo! Hari gini masih jaman nama Jaka Barokah, bukannya itu nama warteg? Atau nama toko material bangunan?



Neta berdehem untuk menelan dalam-dalam segala cibirannya atas Jaka, ia yang sedang membutuhkan Jaka saat ini.



"Ngga apa-apa," jawabnya datar. Ngga banyak ngomong terkesan baik, sip lah! Ngga akan banyak ngatur gue nantinya!



"Oke gini mas Jaka," Neta semakin memperpendek jarak dengan mengubah posisi duduk.



"Jaka saja, kalo mau a Jaka..saya orang sunda."



Neta mengangkat kedua alisnya, "oke whatever lah! Mau mas, aa, ii, ee juga terserah. Langsung ke intinya aja ya..."



"A Jaka, saya punya penawaran buat a Jaka..." Neta berdehem, kerongkongannya terasa gatal manggil aa.



"Saya mau nawarin nikah kontrak sama a Jaka.." lain halnya Neta yang sudah harap-harap cemas menawarkan hal itu, Jaka terlihat kalem saja di tempatnya tanpa ada reaksi berlebih.



Sudah bisa ditebak jawaban Jaka si manusia lempeng bin lurus, "Maaf, sepertinya mbak sedang mabuk." ia beranjak dari kursi, Neta memang minum tapi ia masih sadar sampai detik ini, semut yang berjalan ngangkutin sisa kue aja dia liat.



"Hey kamu! Yang bajunya kelewat rapi kaya siswa teladan! Will you marry me?! Gue serius!" teriak Neta diantara heningnya pagi, hanya berbalas suara adzan yang sayup-sayup terdengar di langit kota Jakarta.



Subuh-subuh dilamar sama gadis cantik, apakah ini anugrah ataukah musibah?



Help me please, Jaka!

__ADS_1


__ADS_2