
Dewa menghentikkan laju mobil di parkiran sebuah gedung bernuansakan coklat, di dalam sana adiknya Ganesha berada, dijaga ketat oleh para pria berseragam coklat, merenungkan diri jika semua yang telah ia lakukan selama ini salah.
Ia membawa paper bag berisi makanan yang ia beli tadi di jalan.
"Siang pak,"
"Siang pak," jawab si pria dengan pakaian coklat, sederet tanda kehormatan menempel di pakaian kebeserannya.
"Atas nama Ganesha," ucap Dewa menenteng paper bag, ia meloloskan nafas lelah harus datang kembali kesini meski sekarang bukan ia yang ada di dalam sana, berasa seperti flashback ke waktu dimana ia sering keluar masuk ruangan ini karena kenakalan jalanannya yang ujung-ujungnya ia dijewer momy Ica terus di kunciin di kamar mandi. Dengan balasan anggukan, pria berseragam coklat itu beranjak, tak ingin berlama-lama membiarkan Dewa menunggu.
Cerminan dari dirinya keluar dari ambang pintu dengan wajah lusuh, wajah kalem Ganesha menunjukkan ketenangan, setidaknya beban besar yang membelenggunya sudah terlepas. Dewa sempat tak menyangka jika Ganesha si adik kembar kalem harus merasakan rasanya tidur di sel, di BAP, dan sebagainya. Jika dulu ia masuk kantor polisi karena kenakalan, daddy Ji atau om Milo lah yang kemudian akan datang membebaskannya kurang dari 1×24 jam, tapi sekarang Ganesha...entah sampai kapan ia akan disana, sendirian.
"Bang," ia menyunggingkan senyuman setipis uang gaji honorer lalu duduk di kursi kayu sebrang Dewa.
"Nih, gue bawain kue kesukaan lo! Tapi sorry gue ngga bawa nasgor momy..."
Ganesha tertawa mendengus, kini ia begitu merindukan nasi goreng buatan momy meskipun rasanya agak sedikit aneh. Padahal baru 2 hari ia berada disini, "momy gimana?"
"Lo pikir? Ngga mungkin dia lagi dangdutan sambil arisan. Cepet balik lah! Kasian momy kehilangan anak kalemnya, sampe mogok buat arisan, mogok buat ngemil kue bantal sama cakwe langganan," jawab Dewa, Ganesha benar-benar merasakan kerinduan setelah merasa kehilangan.
"Gue baru tau rasanya jadi lo dulu bang," balas Ganesha dengan masih memakai kemeja putihnya.
"Gimana? Enak?!" tanya Dewa tertawa sumbang.
"Lumayan!" balas Ganesha mengehkeh garing dibalas tawa Dewa, "disini masih enak, lo masih bisa denger suara tv."
"Anggap aja sekarang lo lagi merenung disini, gue yakin daddy sama yang lain ngga akan biarin sampe lo pindah ke rutan," balas Dewa.
"Bang, sorry." Ganesha menatap Dewa serius.
"Gue denger dari daddy keluarga Zahra udah terima lo?" tanya Ganesha kini merambah paper bag dan membukanya, hm chessecake. Ganesha menelan saliva, ia rindu semua yang keluarganya sering lakukan untuknya. Ia benar-benar menggelapkan mata sendiri, betapa ia sudah mematikan seluruh kepercayaan dan hati keluarganya sendiri, i'm so sorry.
Dewa menatap pergerakan tangan Ganesha, dan ikut mencomot kue disana, rupanya Dewa membeli dua, dan berniat nyemil bersama Ganesha di kantor polisi, mentang-mentang kembar mesti samaan. Yang enakan dikit kek! Nyemil bareng di ragunan gituh! Atau di Ancol.
"Hm,"
"Segerakan bang," jawab Ganesha.
"Jangan hanya karena gue, lo mesti nunggu lagi buat SAH-in Zahra, kesempatan ngga datang 2 kali, kali ini keluarga Zahra sudah menerima, jangan bikin mereka nunggu lagi, sekali kita udah bikin mereka kecewa itu semua karena gue...sekarang lo juga jangan bikin mereka kecewa untuk kedua kalinya, atau lo sama sekali ngga bisa dapetin Zahra...." kali ini Ganesha benar.
__ADS_1
"Halalkan Zahra secepatnya, jangan nunggu masalah gue kelar! Gue disini do'a yang terbaik buat lo berdua.. " lanjut Ganesha menyendokkan chessecake caramel ke dalam mulutnya.
Ganesha meminta maaf karena sudah mengacaukan semuanya, dari layar pipih Dewa, berulang kali bahkan sampai mulutnya berbusa ia meminta maaf pada momy Ica yang kembali sesenggukan melihat Ganesha disana, rasanya badan Ica sudah lemas, yang ingin ia lakukan adalah berlari dan memeluk Ganesha, memohon pada polisi agar memulangkan anaknya, tapi apalah daya, ya kali mesti ngamuk-ngamuk di depan polisi sambil gebrak-gebrak meja dan injak bumi kaya Arya Wiguna, DEMI TUHAN!!!
Dewa menutup panggilan dan pergi dari kantor polisi, jam kunjungan sudah habis.
Jihad sengaja meminta Armillo dan Caramel untuk mendampingi kembali mereka menyambangi kediaman Ananta, kali ini ia memilih tak membawa keluarga besar dan hanya keluarga inti saja, bikin pusing dan heboh.
Zahra tersenyum lebar saat seorang presiden direktur datang menjemput, tidak dengan pakaian khas presdirnya namun dengan pakaian casual, terlihat begitu...Sadewa!
Ia menunggu di luar rumah sakit, mengingat kali ini area rumah sakit atau tempat-tempat umum tidak boleh bergerombol juga terjaga ketat.
Dewa menautkan alisnya, "masa sih?" mendadak Dewa bertingkah kejang-kejang di depan Zahra layaknya zombie, "Ra, aku kena virus!" ia mencekik dirinya sendiri dan terlihat seperti muntah-muntah.
"Eh, kenapa?!" seru Zahra. Dewa berlaku seperti zombie dengan menghampiri Zahra, kini pemuda itu curi-curi ingin mengecup pipi Zahra, bukannya takut atau menyadarkan dengan menyentuh lembut, gadis ini malah mencopot flatshoesnya dan memukulkannya di pundak dan punggung Dewa.
Pukk!
Pukk!
Pukk!
__ADS_1
Dewa mencebik, "bukannya enak dikecup atau di elus-elus malah ditimpuk sendal!" omelnya menghentikan aksi korban series resident evil.
"Mana ada virus kaya gitu, itu mah kamu kesurupan jin sowang!" jawab Zahra menjatuhkan kembali flatshoes dan memakainya lagi.
"Cepetlah, aku udah ngga sabar! Nanti abis isya kita ketemu lagi..jadi sekarang aku jemput kamu, terus pulang. Nanti isya aku datang lagi..." ucapnya menjelaskan, ko bikin pusing?! Zahra mengernyit, namun gadis itu tersenyum hangat setengah merona bahagia, "Ganesha gimana?" ia sudah naik ke atas si kuda besi yang dulu sempat mengejarnya saat berada di angkot, motor ini pula lah yang menyatukan perasaan keduanya.
"Ganesha bilang dia baik-baik aja, salam sayang buat...kita berdua," jawab Dewa berpikir lama, lalu memakai helm.
"Salam sayang buat kita berdua atau buat aku aja?" tanya Zahra tertawa.
Sayang sekali untuk acara kali ini, Al Fath harus absen mengingat ia tak bisa ijin terlalu sering dan seenak jidat, ditambah situasi sedang tidak kondusif untuk melakukan penerbangan. Umi Salwa dan abi Zaky pun terpaksa menunda kepulangannya ke Aceh kali ini, entah sampai kapan.
"Kak Fara! Abang Saga!" mereka melambaikan tangan, peluk cinta untuk mereka.
"Dek, gimana? Di RSCM udah ada suspect?" tanya Al Fath.
"Belum ke detect bang, semoga engga ya.." jawab Zahra sebenarnya tak yakin.
Deru suara mesin mobil terdengar masuk ke dalam rumah, acara lamaran kali ini cukup khidmat tanpa adanya gangguan dari keluarga atau anak bocah, berhubung hanya dihadiri keluarga inti dan waktu yang sudah malam. Malam ini lebih tepatnya menentukan langsung tanggal pernikahan, menurut Al Fath dan abi Zaky, tidak perlu mengulur waktu untuk sesuatu yang kurang berfaedah, jika memang sudah memiliki niatan baik, sebaiknya disegerakan.
Dewa menginjakkan kaki di rumah ini dengan suasana hati yang berbeda, "assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam." Rayyan mewakili abi dan abangnya menyambut mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.