My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
SIMBIOSIS MUTUALISME


__ADS_3

Si gendutnya....


Bocah gemoy yang selalu bertengkar dengan Sadewa, kini berjalan anggun dengan pakaian pengantin glamour nan mewah, dengan blink-blink perhiasan nampak elok. Zahra memangkas jarak mereka semakin dekat, wajah cantik Zahra sukses membuat Dewa tersenyum simpul.


"Hay istri," sapa Dewa, seulas senyuman membingkai wajah tanpa cela milik Zahra.


Sepasang bocah yang sering meributkan hal apapun semasa di TK, kini saling menautkan cincin ke jari masing-masing.


"Mak cut," panggil Clemira menyerahkan sebucket bunga.


"Makasih sayang," jawab Zahra menerima. Dewa mulai merasakan gejala panas dingin di tubuhnya melihat kecantikan yang hakiki di sampingnya, ia menarik nafas, inginnya bilang cantik pada wanita yang sudah sah jadi istrinya itu namun menurut Dewa kata cantik saja tak akan cukup menggambarkan Zahra sekarang, ia bertekuk lutut pada Zahra.


...Dan dibawah payung langit biru ini, kedua insan saling berjanji dalam suka maupun duka.......


Sebucket bunga ia lempar ke arah belakang.



Sejak di pelaminan Dewa sudah colak-colek sambalado, ingin rasanya ia mengusir seluruh tamu undangan biar cepet pulang karena sejak tadi mereka duduk berdua tapi moment mereka selalu diganggu oleh tetamu yang hadir. Apalagi saat teman-teman Zahra melesak ke antrean dan saat keluarganya ngikut nyempil buat sesi foto, udah berasa pengen manggil hulk buat gusur mereka.



Diliriknya jam di pergelangan tangan sudah memasuki pukul 3 sore, pantas saja kakinya sudah berubah jadi talas Bogor. Yeah! Pernikahan sekali seumur hidup, karena ia tak mau lagi seperti ini.



Zahra menyenderkan badannya lelah di kursi pelaminan, merasa jika hari ini begitu melelahkan baginya.



"Dibuka aja sepatunya," tak tega melihat Zahra tersiksa, Dewa berjongkok menunduk meraih kaki-kaki mulus nan putih Zahra untuk membuka sepatu yang terpasang indah di kaki Zahra, begini saja sudah bikin Dewa menelan saliva sulit. Padahal ia sudah sering menemui perempuan yang dengan terang-terangan separuh telan jank menggodanya namun bagi Dewa itu justru tak membuat hatinya jadi klepek-klepek.



Jangankan ia, Cut Daliya saja dan Panji sudah sejak tadi digiring Eyi ke kamar hotel untuk istirahat, kedua bocah itu begitu aktif dan pecicilannya hingga tumbang di jam 14.30 WIB.



Al Fath dan Fara lebih memilih pulang dan tidur di rumah keluarga Ananta untuk selanjutnya besok harus sudah kembali bertolak ke timur ikut dengan pesawat militer, sementara Rayyan dan Eirene memang harus pulang mengingat tak membawa pakaian ganti anak-anak. Hampir seluruh keluarga pulang dari hotel setelah makan bersama merapatkan tali silaturahmi kedua keluarga besar Ananta dan Alvian.

__ADS_1


"Kalo gitu umi sama abi pulang,"


"Momy sama daddy juga,"


"Dimanapun nanti kalian memilih untuk tinggal, kalian selalu diterima di rumah baik rumah abi sama umi, atau daddy sama momy..." ucap Jihad.


"Dek Ra, sekali lagi selamat...jadilah istri yang sholeha, apapun itu jadikan suami nomor 1," ucap Al Fath, meskipun dalam konteks ini Zahra tetaplah seorang abdi masyarakat.


"Gue mah ngga punya pesen apa-apa, cuma titip kalo berantem suara lo berdua dikecilin dikit!" Eyi menyikut suaminya.


Zahra sudah mempreteli seluruh pernak-pernik pakaian pernikahan sejak tadi, belum apa-apa badannya berasa pegal semua. Perempuan ini menjatuhkan badannya begitu saja di atas ranjang hotel, memperhatikan Dewa yang menutup pintu kamar dan mengikuti jejaknya membuka jas lalu menaruhnya begitu saja di tumpukan kado pernikahan.


"Mau kamu dulu yang mandi atau aku?" tanya Zahra, melihat Dewa yang sedang membuka kancing kemeja satu persatu, ia bukanlah tipe gadis yang langsung panas dingin liat cowok telan jang dada. Banyak modelan dadha lelaki yang sudah ia lihat, mau itu roti kadet, tahu kotak, tahu bulat bahkan roti'O sekalipun sering Zahra temui.


"Kalo mandi sama-sama?" tanya Dewa mulai merambah nakal, senyum seringainya itu loh! Bikin kepala cenat-cenut.


"Dih," cebik Zahra, oke Dewa nakal wajar mereka sudah sah, tapi tolong ya...ini readers idungnya udah kembang kempis sambil bilang bisa aee jambu mo nyet!


"Masing-masing lah biar cepet," jawab Zahra, Dewa mencolek lengan Zahra, oke...sudah berani colak-colek juga nih laki.


"Ngga sabaran nih ye!" goda Dewa sambil menaik turunkan alisnya. Ternyata memang otaknya sudah menjurus ke hal 21 plus, ck...ck!


"Gini aja, kita suit! Kalo aku kalah kita mandi berdua, kalo kamu yang kalah, aku mandi duluan terus nanti kamu..." usul Zahra bangun dan duduk di ranjang.


"Oke!" Dewa yang sudah membuka kemeja atasnya kini menghentikan sejenak dari kegiatan memelorotkan resleting demi tantangan Zahra dan duduk di tepian ranjang berhadapan dengan istrinya itu.


"Siap?" tanya Zahra.


"Oke!" angguk Dewa.


Zahra dan Dewa bersiap mengeluarkan batu, gunting kertas.


Tada!


Zahra tersenyum mengembang saat kedua tangan guntingnya mengalahkan Dewa yang membuat gerakan tangan kertas.


"Yeee! Krekkk---krekkk, kamu kalah!" kedua jemari Zahra membuat gerakan menggunting tangan Dewa.


Bukan Dewa namanya jika kehilangan akal, "aku menang! Kita mandi bareng!" teriak Dewa membuat Zahra tertawa mencibir, "sejak kapan gunting kalah sama kertas? Kamu be go diborong sendiri,"

__ADS_1


"Sejak aku bilang, gunting kamu karatan...jadi kertas aku ngga bisa kamu gunting!" jawab Dewa.


"Apa-apaan, mana ada!" Zahra tertawa tergelak dengan kelakuan absurd Dewa dan menggeplak bahunya.


"Bisa sayang," jawab Dewa.


"Ngga ada," balas Zahra.


"Adaaa---" Dewa menggoda seraya meneruskan kegiatan memelorotkan celananya. Tau akal bulus Dewa tak pernah ada matinya, Zahra memicingkan mata seraya meraih handuk, meski mulutnya sejak tadi membalas Dewa, "ngga ada abang..."


"Ada sayang..."


Srekkkk....


Zahra membuka koper mengambil alat mandi dan baju ganti. Sementara Dewa melakukan hal yang sama, "abang suka ngaco..."


Zahra berlari menuju kamar mandi tapi Dewa pun melakukan hal yang sama, mereka malah bertabrakan di dekat kamar mandi, "ihhh bang Dewa aku dulu! Abang curang!" Zahra bangkit namun Dewa menarik gaun pengantin Zahra dan menggendong perempuan itu, tanpa aba-aba ia membawa Zahra masuk ke dalam kamar mandi namun belum keduanya masuk tangan Zahra menahan dengan memegang gawang pintu kamar mandi. Mendadak rasa takut menyerang saat melihat seringai Dewa.


"Tunggu--tunggu, aku mules ih, aku duluan lah!"


"Ngga apa-apa, aku cebo kin...inget susah senang bersama?" alibi Dewa.


"Tapi bukan cebo kin juga..." Zahra merengut, tangannya masih setia mencengkram gawang pintu.


Dewa sedikit membenarkan posisi lengan yang sedang menggendong Zahra, ternyata istrinya cukup berat.


"Kita simbiosis mutualisme sayang, aku cebo kin kamu...kamu urus junior aku..."


"Dewaaaaa ih mesum!" teriak Zahra.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2