
Tak sempat berkata, namun air mata itu sudah lolos begitu saja, jawabannya adalah karena rindu yang membuncah....
Terhitung 2 minggu Zahra di rumah sakit, ditambah 1 minggu saat ia masih belum dinyatakan positif.
Seulas senyuman merekah di wajahnya meski tertutup masker.
🌟 1 Jam sebelumnya
Dokter Arfan sendiri yang menyerahkan hasil itu, "gimana nih? Cuti mau diambil, rumah sakit kasih cuti istimewa buat ners yang berdedikasi, sekaligus waktu buat istirahat pemulihan..."
Zahra mengurai tawa renyah, "ambil dong dok,"
"Damnn! Ngga akan ada yang bagi-bagi makanan, hehehe!" tawanya.
"Cepat pulih, sementara istirahat di rumah. Kasian, manten anyar udah LDR, mana kepapar virus...see you Ra," usapan lembut mendarat di bahu Zahra.
"See you dok, makasih!"
Setelah berpamitan dengan rekan sesama perawat dan beberapa pasien, ia berjalan melangkah dengan diantar Mawar yang membawa tas pakaian Zahra. Sebagian lain sudah dibawa sebelumnya ke bawah.
Meski penciumannya belum sepenuhnya pulih, tapi Zahra bersyukur ia menjadi survivor virus. Padahal banyak disana yang gagal melawan wabah virus ini.
"Get well soon ners!" seru para perawat baru mengantarkan Zahra sampai depan pintu bangsal, dikeproki layaknya burung merpati aduan.
°°°°°°°°
Kini pintu gerbang sudah terlihat, rasanya senang dapat menghirup kembali dunia luar setelah sekian lama terisolasi di dalam gedung rumah sakit, setelah hampir gila di sana.
Dan tak ada lagi pemandangan paling menggetarkan kalbu lebih dari melihat wajah suaminya di balik gerbang rumah sakit.
"Cieee, akhirnya bisa manja-manjaan lagi. Udah terlalu lama pisah, sana pulang." Mawar menyenggol Zahra dan menyerahkan tas milik Zahra pada Dewa yang sudah menunggu dan menghampiri keduanya.
"Congrats ners! Gue salut sama lo, Ra...kamu panutan kita semua! ! Masih bisa rawat orang meski badan lo juga sakit..." Mawar memeluk Zahra sekali lagi.
"Baik-baik kalian disini. Please jangan ada yang terpapar lagi setelah ini, jangan ada mbak Ninung lain yang pergi ninggalin kita semua..." Zahra mengusap-usap punggung Mawar, selama bertahun-tahun bekerja di rumah sakit yang sama, dan hampir 1 bulan bersama dalam satu gedung membuat hubungan kekeluargaan mereka semakin erat, dalam suka maupun duka, hingga 2 hari yang lalu dunia medis kehilangan sosok perawat senior yang berpulang, mbak Ninung...sosok senior yang sudah 13 tahun mengabdi menjadi seorang perawat, gugur dalam perang melawan wabah virus ini.
"Gue takut kehilangan lo juga, Ra."
Zahra menepuk-nepuk Mawar, "i'm oke. Udah--udah! Pantang pulang sebelum virus hilang! Selamat berjuang!" seru Zahra memberikan semangat untuk rekannya itu.
"Oke, kalo gitu gue masuk ya. Bang Dewa...saya duluan..." Dewa mengangguk. Mata keduanya masih mengikuti Mawar hingga ia hilang di belokan gedung.
Kini ditatapnya sosok cantik dengan swetter rajut biru langit dan dress putih selutut, ia begitu cantik berkali-kali lipat saat ini meski wajahnya masih sangat pucat.
"Lama amat pelukannya, bagian abang kapan?" tanya nya, keduanya tertawa. Tak peduli lagi jika ini tempat umum, Zahra dan Dewa langsung berpelukan.
"Kita ngga langsung pulang ke rumah ya," bisiknya membuat Zahra mengurai pelukan dan menautkan kedua alisnya.
"Kemana?"
"Ikut aku!"
Dewa membukakan pintu mobil untuk Zahra, bahkan ia mau repot-repot memasang seatbelt melingkari tubuh Zahra.
"Aku bisa sendiri bang," gerutunya seperti biasa.
"Aku pasangin. Gimana rasanya pertama keluar dari rumah sakit?" tanya Dewa, senyuman tak pernah luntur sejak tadi dari wajah keduanya.
"Emhhh, alhamdulillah sejauh mata memandang bisa liat banyak warna lagi! Ngga putih atau ijo melulu," Zahra terkekeh renyah.
Tangan Dewa memang tak bisa diam, ia mengusap rambut Zahra dari puncak kepala hingga bahu, merapikannya dan membawa ke belakang telinga istrinya itu.
"Aku hampir gila waktu tau kamu positif, apalagi pas denger temen kamu meninggal..."
Zahra menunduk, "maaf..."
Dewa menggeleng seraya mengulas senyuman, "kamu bisa nebus kata maaf dengan ikut sama aku sekarang..." tak mau menunggu lama lagi, Dewa menarik tuas dan menginjak pedal gas. Mobil mewah itu melesat menjauhi rumah sakit.
__ADS_1
Suasana pagi ibukota, dapat ia rasakan kembali. Padahal sebelumnya ia ragu bisa sembuh secepat ini, meskipun belum bisa dikatakan sembuh.
Dewa tidak mengambil jalan arah pulang ataupun rumah keluarga Ananta, tapi mengambil lajur puncak.
"Kita mau kemana?" tanya Zahra.
"Isolasi, hanya kita berdua..." jawab Dewa.
Zahra membuka kaca jendela mobil untuk sekedar menghirup udara pagi kawasan Puncak, dadanya masih menyisakan rasa sesak hingga tak bisa meraup oksigen dengan rakus.
"Mbak Ninung punya penyakit bawaan, aku inget waktu terakhir dia masih ada...dia yang kasih kita push waktu temen-temen udah hampir menyerah sama keadaan," gumamnya terlihat jelas jika wajah Zahra dirundung awan gelap.
"Dan aku ngga bisa janji bakal tabah kalo jadi suaminya," jawab Dewa.
\----
Landscap perkebunan teh membentang meski tak seluas mata memandang, kawasan yang terkenal dipakai untuk liburan dan healing ini memiliki area lebih tinggi dari ibukota. Mobil merah itu memasuki gerbang tinggi yang dibukakan oleh seorang pria paruh baya.
*Titt*!
Dewa menurunkan kaca jendela mobil, "mang.."
"Di tv? Sinetron?" tembak Dewa melengkungkan bibirnya.
"Karena memang suka disewa untuk sinetron dan ftv," lanjut Dewa.
"Iyakah?" Zahra cukup terkejut dengan jawaban Dewa. Perlu Zahra ketahui bisnis properti JILO corp. Bukan hanya dalam per-apartemenan atau hotel saja, di puncak dan beberapa kawasan wisata di Indonesia, mereka memiliki penginapan dan villa untuk disewakan.
Dewa mengangguk pasti, "pantesan kaya pernah liat dimana gituh?!" tukas Zahra menerka-nerka.
Sementara Dewa menurunkan koper miliknya dan Zahra, perempuan ini berkeliling villa, dan berdiam lama di halaman samping.
Ia mendudukkan dirinya di ayunan kayu yang ada di teras, dirasa kepalanya terasa berat dan berputar begitupun perutnya yang terasa dikocok-kocok, "abang! Hape aku mana?" teriak Zahra.
Tak kunjung datang, Zahra kembali berteriak lebih kencang, "Abang!"
"Ab---huwekkkk!" rasa mual itu masih ada dan tak tertahankan.
__ADS_1
Zahra memuntahkan isian perutnya di rerumputan halaman samping.
"Ya Allah, bu..." seorang wanita paruh baya menghampiri Zahra dengan membawa teh manis juga kue, niat hati menyambut istri sang pemilik villa, ia malah menemukan Zahra yang tengah muntah-muntah.
"Masuk angin apa gimana bu?" ia memijit tengkuk Zahra dan mengusap-usap punggungnya.
"Ngga," Zahra menggeleng, "kayanya masih efek virus, bu...maaf ya aku jadi ngerepotin, nanti Zahra bersiin deh..." balasnya.
"Ya Allah ngga usah atuh bu, kan saya yang asisten rumah tangganya. Masa ibu yang bersiin,"
Zahra kembali menggeleng, "takutnya masih ada virus, bu...nanti nular..." jawab Zahra.
"Sayang," Dewa menyerbu dan menghampiri Zahra.
"Kenapa, masih pusing, sakit? Apanya?" tanya Dewa.
"Hape aku mana coba bang?" Zahra sudah menyeka mulutnya saat bibi mengangsurkan segelas air putih.
"Buat apa?" Dewa mengernyit namun lantas menyerahkan ponsel milik Zahra yang sejak tadi ia kantongi.
Beberapa menit ia menunggu jawaban dan seseorang tersebut menjawabnya setelah agak lama.
"Dok, apa gejala muntah-muntah suka bersisa setelah kita negatif?" tanya nya.
(..)
Zahra mendengarkan penjelasan seseorang di sebrang telfon sana, tapi kemudian ia menatap lurus menerawang.
"Aku datang bulan tanggal berapa?" gumamnya pelan.
.
.
.
.
.
__ADS_1