
"Umi---umi, pasangin ini lagi, masa jepit kakak di tarik dedek !! Cepet umi!" desaknya cemberut, menunjukkan jika tampilan perfectonya diacak-acak sang adik bayi. Matanya sudah berkaca-kaca karena gaya putri harus berubah hancur jadi orang gila karena rasa gemas dan tarikan tangan sang adik.
Ehekkk---ehekkkk! Panji tak kalah menangis mengadu, berjalan hati-hati menghampiri ibunya, dan ternyata celananya basah, Eyi lupa jika bocah itu belum ia pasangi pampers.
"Kenapa sayang-sayangnya umi, sebentar sayang!" Eyi masih dengan tampilan make up yang setengah-setengah. Alis baru ia buat satu, rambut masih belum ia keringkan.
"Ini umi, liat?!" suaranya sudah bergetar sedih, tapi tak bisa membalas sang adik, yang hanya bisa ia lakukan adalah mengusek-usek wajah yang hampir menangis ke pakaian Eyi.
"Abangg!"
"Abang tolongin Eyi sebentar ih!" senjata terakhir Eyi jika heboh sendiri.
Lelaki yang masih santai dengan kaos rumahnya itu masuk ke dalam kamar, "kenapa dek?" ia tertawa melihat penampakan istrinya yang masih belum beres berdandan.
Tangan Eyi merapikan rambut cimoy dengan sisir, "itu tolongin gantiin celana Panji, basah. Kayanya pipis di pojokan tuh!" tunjuknya ke pojok kamar.
"Sekalian aja dipasangin pampers," lanjutnya melirik sekilas jam dinding, "udah jam segini...nanti keluarga Alvian keburu datang," jelas Eyi.
"Aww! Umi pelan-pelan ih! Ini kepala bukan kelapa," Cimoy meringis saat sisir yang Eyi kenakan aga sedikit kasar.
"Eh, maaf nak! Yang mana yang sakit?!" ia mengusap-usap bagian kepala cimoy.
"Sini jagoan abi! Kemon kita bungkus pusakanya biar ngga rembes kemana-mana!" Rayyan mengangkat Panji untuk menggantikan celananya.
Sementara di lain kamar
"Huwekkk!"
Faranisa masih mengalami morning sickness, dan kehamilan kali ini cukup parah. Bahkan nasi saja sering tak masuk ke dalam mulutnya, ia lebih senang menggantinya dengan jagung dan papeda sebagai pengganti karbo.
Al Fath memijit-mijit tengkuk sampai ke punggung Fara, "ngga usah ikut keluar aja dek, nanti kamu muntah-muntah di luar,"
Fara sontak menggeleng, "engga ah! Fara mau liat calonnya dek Ra, abang Saga mana?"
"Saga di luar sama abi," jiplakan abba dan abi, Saga anteng duduk di teras bersama abi Zaky sambil nyeruput susu dan kue buatan umma.
"Fara oke kok bang, cuma mesti sedia yang seger aja! Fara pengen jeruk bang," pintanya.
"Makan dulu, baru dikasih..." Al Fath mengusap perut Fara yang belum begitu terlihat membuncit.
"Abang janji jangan ngeluarin taring disana," Fara mewanti-wanti, setelah Zahra dan Eyi menelfon Faranisa di timur, ia tau kejadian pertukaran jodoh itu dan diminta untuk menjinakkan Al Fath begitupun Eirene yang menjadi tim penjinak Rayyan, Zahra hanya takut kalau-kalau kedua abangnya itu keluarin taring singanya.
Dewa sudah siap dengan stelan kemeja dan jasnya, ia bercermin...tak ada yang lebih gugup ketimbang hari ini...ia akan menyerahkan semuanya hari ini pada Sang Maha Kuasa, meminta Zahra pada keluarganya secara baik-baik. Mungkin jalan Dewa akan sedikit berguncang karena ulah sang adik sebelumnya yang pasti akan memancing emosi keluarga Zahra, tapi apapun itu ia harus siap. Dewa percaya semakin sulit jalan yang ia hadapi maka ia semakin yakin jika Zahra memang berharga patut diperjuangkan.
Tanpa permisi ataupun ijin, Syailendra nyelonong masuk saja ke kamar Dewa, terbiasa untuknya bersikap begini.
__ADS_1
"Weheyyy! Mimpi ketiban apa gue semalem, ngga kepikiran lo serius sama cewek Wa," ujarnya mencibir setengah tak percaya, pria itu bersandar di meja yang ada disana, Dewa meliriknya, "iya! Lo yang sekarang mesti buka lowongan buat gantiin posisi gue nemenin lo jadi playboy!"
Syailendra tertawa, "ahhh, ngapain! Lo juga masih bisa lah, Wa! Nemenin doang mah!" jawab Lendra santai.
"Sarav, bisa disuntik mati gue!"
Kedua bahu Syailendra bergetar, ia tertawa tanpa suara, "baru mau merit, tapi lo udah ketakutan, Wa?! Cemen!"
Dewa menoleh dengan tatapan sengak pada Syailendra, tapi kemudian ia nyengir lebar, "ntar gue temenin!"
Keduanya bertos ria, emang dasarnya sableng mah ya sableng aja!
Ica memantapkan hatinya, "abang...kok aku takut ya?! Takut keluarga pak Zaky sama bu Salwa ngga terima, apalagi waktu dulu Dewa sama Zahra pernah berantem, belum lagi ini Ganesha..." nyali Ica mendadak ciut, ia hanya takut nantinya Dewa frustasi terus berpikiran pendek dan bunuh diri melompat di jembatan si manis, padahal airnya surut.
"Assalamu'alaikum!" suara dengan logat betawi asli menggelegar memenuhi seisi rumah, dialah Galih dan Riski. Uban yang sudah menghiasi kepala tak menjadikan keduanya dewasa pada waktunya, sebagai perwakilan keluarga Ica, kedua om sableng ini datang untuk mengiringi Dewa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ganesha yang sedang memakai jasnya.
Ica meloloskan nafasnya lelah, satu lagi minus di tubuh klan Alvian dengan datangnya kakak-kakak minus akhlak, fix! Keluarga Ananta akan menolak lamaran Dewa.
"Ngga usah, orang buayanya baru aja datang!" jawab Ica keluar kamar, Milo dan Kara tak luput ikut.
"Aduhhh, jaga sikap lo Lih, kalo mau boker, pipis, ngomongin mesum sama absrud abisin disini, ntar disana jangan malu-maluin, ini keluarga bukan sembarang keluarga!" timpal kak Novi.
Adik Jihad, Jian pun datang bersama sang istri. Acara lamaran namun macam acara seserahan saja. Tapi di balik itu semua, ini adalah salah satu trik Jihad dan Dewa biar ngga ditolak keluarga Ananta...jadi lamarannya bawa se-rt.
"Udah! Udah! Udah sama-sama tua, jaga sikap disana!"
Jihad melirik arlojinya, "udah siap semua? Sekarang aja, takut macet!"
Rombongan Jihad masuk ke dalam mobil masing-masing membawa serta hampers lamaran.
"Nih bawa!" Dewa menyerahkan hampers barang branded untuk dibawa Lendra, "sekarang gue. Bentar lagi ini nular ke lo!" dengusnya tengil pada Lendra.
__ADS_1
"Kamvrettt!" gerutunya, "CEO disuruh bawa beginian?!"
Sejam berlalu, rombongan mobil Dewa sudah sampai di gerbang komplek rumah Zahra.
Zahra berkali-kali meloloskan nafas berat nan panjang, ia mengajukan ijin untuk hari ini, puluhan chat menyerbu ponsel terutama dari grup Suster Keramas dan bangsal Kenanga, tapi tak ia hiraukan. Tangannya sudah mendingin karena gugup.
*Gimana kalo abi sama umi ngga terima Dewa*?
*Gimana kalo abang Fath sama bang Ray ngga terima Dewa*?
*Gimana kalo mereka marah karena Ganesha*?
Security rumah membukakan pintu pagar setinggi-tinggi gerbang surga.
"Edyannnn, ngga nyangka gue segede ini rumahnya!" decak Galih.
"Ini mah bisa nampung orang se kampung ya ncang?" tanya Dewa, inilah asal muasal gen sengkleknya Dewa.
Galih mengangguk, "betul!"
"Hufff, here we go!" Dewa meloloskan nafas lelah.
"You can do it, brother!" tepuk Ganesha menguatkan.
Jihad melirik anggota keluarganya yang mendadak sepi senyap.
Pintu rumah terbuka demi menyambut keluarga Alvian. Dari dalam muncul seorang wanita cantik berjilbab bersama honey dan Meta.
"Assalamu'alaikum!" Ica turun bersama Jihad dan Kara.
"Wa'alaikumsalam," balas mereka. Honey sampai spechless, "omg umi madame! Ini lamaran apa kawinan, datangnya keroyokan?!"
.
.
.
.
__ADS_1