
Lendra didampingi Axel, sementara Dewa bersama Miki.
"Baby...aku ikut! Disimpen di bagasi mobil juga ngga apa-apa deh, atau lipetan koper..." Melody berdecak manyun, badan kerempeng itu nempelin lengan Dewa bak kuman.
"Minggir, calon bini gue aja ngga gue ajak, nah lo yang bukan siapa-siapa ngikut mau ngapain?!"
Miki tertawa, "bawa aja pak Dew, udah gitu tinggal disana kagak usah dibawa balik! Kalo ngga tinggal aja pas di pinggiran tol!" tawanya.
"Berisik lo ikan pesut!" sarkas gadis dengan bedak tebal itu.
Melody memang menyukai dan senang menempeli Dewa, tapi Dewa tak sesarkas itu harus mendorong bahkan kasar pada perempuan. Selama Melody tak macam-macam hanya sebatas goda-goda setan saja ia memaklumi, toh Miki pun selalu menjaganya agar berada dalam zona aman dan nyamannya Dewa.
"Ini cewek nempelin lo, Zahra kagak marah?" tanya Lendra.
"Zahra tau nih orang emang doyan nempelin lengan siapa aja, kaya lumut...Zahra gue ngga akan cemburu sama modelan gini! Tempo hari gue liat lo nempelin lengan si Surya kan? Ngaku lo!" tembak Dewa. Dewa bukan tak tau jika Melody memang senang kesana-kesini memiliki banyak kekasih, ia begitu mengenal gadis ini, tapi setaunya Melody tak pernah sampai senekat para pelakor rumah tangga, tidak---Melody tidak seperti itu.
"Ish!" decaknya kesal ketauan.
"Dewa, gini-gini dulu lo doyan rujak bibir gue!"
Bwahahahahaha! "rekam Miki, kasiin sama Zahra! Berantem-berantem deh tuh dua orang," ujar Lendra.
"Enak aja, kalo dulu gue masih kurang waras. Kalo sekarang semua punya gue adalah milik Zahra! Termasuk si ntong, yang ini pertama dan terakhir buat istri gue nantinya," jumawa Dewa.
Seseorang memang memiliki masa lalu baik itu yang bagus ataupun buruk, mungkin sifat nakal Dewa adalah masa lalu buruk yang sedang ia ubah demi Zahra. Toh, Zahra anteng-anteng saja dengan kehadiran Melody, kenapa harus sampai mengusir ataupun membuang seseorang hanya demi kecemburuan yang tak beralasan. Hubungan mereka adalah hubungan orang-orang dengan pikiran dewasa nan bijak, bukan anak abg baru netes.
"Ya udah! Gue mau selingkuh aja, Wa! Lo jangan nyesel!" ancam Melody.
"Monggo, insya Allah gue ikhlas, ridho lillahita'ala, lagian dari dulu pacar lo banyak!" jawab Dewa.
"Ish! Dewaaa! Ngga mau tau ah, pulangnya bawain gue oleh-oleh!"
"Iyee ntar dibawain,bawa baju kotor!" Miki mencebik.
"Ntar gue bawain cogan buat lo, jaga nih kantor gue baik-baik, kalo ada data yang bocor, atau barang ilang, lo adalah orang yang gue cari pertama kali, lo tau siapa gue Mel," Dewa menepuk-nepuk pundak Melody.
"Iya!" bibirnya kembali manyun, ia ingat betul siapa Sadewa, lelaki yang mampu mencari manusia laknut manapun hingga ke lubang semut, termasuk mengobrak-abrik Angkasa cs, yang terkenal sebagai geng para pemuda pembuat onar.
Langkah Dewa memasuki bandara membawanya semakin meluaskan jarak dari Zahra.
Jas berwarna navy membalut tubuh atletis berkemeja hitam, ia tepuk-tepuk saat sampai di kota tempat dimana Miracle Project di bangun.
"Langsung ke proyek apa ke hotel, Wa?" tanya Lendra. Detak sepatu pantofel membawanya keluar dari bandara setempat.
Dewa menurunkan kacamata hitamnya, "lo kalo mau ke hotel duluan aja, bareng Miki. Gue langsung ke proyek, mumpung masih siang..." jawabnya.
"Biar Miki temenin pa," Dewa melirik dengan sorot mata tegasnya, "yakin? Lo aja barusan abis mabok udara? Jangan sampe ntar di proyek lo pingsan lagi, gue ngga kuat gendong lo!"
"Lo tendang aja, Wa sampe hotel," sahut Lendra.
"Gelindingin aja pak, gitu aja repot!" jawab Miki. Atasan dan sekertaris ini memang beda dari yang lain, jika pada umumnya atasan dan sekertaris akan ada jarak dan terkesan kaku lain hal dengan mereka.
"Bener, ntar gue gelindingin bareng beton, atau ngga gue angkut lo pake escavator!" jawab Dewa.
Axel mengulum bibirnya sementara Lendra sudah menimpali sejak tadi.
Payah! Punya sekertaris yang harusnya ngurusin bos, malah kebalik. Miki ternyata mabuk udara. Lendra tertawa kencang mengingat si badan gempal ini oek---oek di samping Axel persis ibu yang sedang hamil muda, membuat sekertarisnya itu keringat dingin selama perjalanan.
__ADS_1
"Lo istirahat deh Mik, besok-besok kalo terbang balik lo nyetok anti mabok se-pack, biar kagak berisik, malu-maluin...badan gede naik pesawat tepar, ambyar!"
"Jadi berasa paling dosa gue tadi, orang-orang liatin gue persis liat terduga pemer kos4an si Miki yang huwek---huwekkk!" omel Dewa, dibalas tawa ketiganya tentu saja hanya Axel yang tertawa jaim.
"Biar saya yang temani pak," usul Axel. Pemuda datar nan dingin ini menjadi sekertaris Lendra sejak 3 tahun yang lalu, atas perintah Armillo.
"Ya udah, gue ke hotel bareng si Mini, lo ke proyek bareng Axel..." ujar Lendra mengusulkan ide.
Setelah setuju, Dewa menitipkan kopernya di mobil yang Lendra tumpangi, sementara ia dan Axel langsung meluncur ke proyek, yang ada dalam otaknya hanya ingin pekerjaannya disini cepat selesai dan kembali ke ibukota.
Di mobil yang terpisah, Dewa bersama Axel tak sampai berjam-jam, jalanan disini tak semacet ibukota, mungkin si komo ngga lewat sampe sini.
Dari kejauhan saja lahan proyek Miracle terlihat begitu luas, alat-alat berat bertuliskan JILO Corp. sedang mengangkut material berat pengerjaan sebuah kompleks hunian mewah.
Suara alat-alat berat begitu berdentum dan nyaring.
"Selamat siang, selamat datang pak...." ujar manager dan mandor menyambut Dewa, dan menyerahkan helm proyek.
"Siang..."
"Pak, kamar Miki yang mana?" tanya Miki pada Lendra.
"Nih, kunci kamar lo, 108!" Lendra menyerahkan sebuah kartu di tangan Miki.
"Lo tidur, ntar biar kunci kamar Dewa sama Axel gue yang pegang sampe mereka kesini...."
"Thank you pak, gue cipox juga nih, punya bos pada perhatian, gue sayangggg banyak-banyak!" gemasnya ingin mengecup lelaki tampan ini.
"Jijik!" tolak Lendra.
Kebetulan mereka reservasi kamar hotel yang berdekatan, Lendra menggusur koper miliknya seraya mencari kamar.
"109...biar ini kamar si Dewa, punya gue 110, si Axel 111, biar hoki Xel..."
Lendra mengetik pesan pada Dewa.
***Syailendra***
__ADS_1
*Wa, lo kamar 109, Axel 111*.
Miki sudah duluan masuk ke dalam kamarnya.
"Syailendra!" teriak seorang perempuan, tanpa aba-aba...perempuan itu langsung menghambur memeluk Lendra.
"Eh!"
"Lo tega ninggalin tanpa kasih kabar sama gue, emang gue cewek apaan, baru jadian terus lo tinggal-tinggal?!" ia mengerucutkan bibirnya dan memukul-mukul Lendra dengan tas yang dibawanya.
"Sandra? Lo ngapain disini?" Lendra celingukan melihat gadis ini tak membawa koper.
"Nyusulin lo lah! Lo ngga bilang-bilang mau pergi...Lo jahat Ndra, gue tau dari orang kantor."
Inilah cabe-cabean yang dikoleksi Syailendra, yah begitulah sifat buruk si playboy cap susu dancow, ceweknya berantakan mirip TPA.
"Lo sampe bela-belain nyusulin gue?" tenya Lendra tak percaya, Sandra ternyata gadis nekat.
"Apa sih yang gue ngga bisa?!" jawabnya, Lendra mengakui Sandra memang anak seorang konglomerat, kemanapun ia mau maka ia tinggal pergi saja. Dan roman-romannya gadis ini akan menjadi bucin dan korban gamon Lendra selanjutnya.
Melihat pintu kamar Miki yang terlihat akan terbuka, Lendra langsung panik, ia menarik Sandra dan membawa gadis itu untuk masuk ke dalam kamar yang berada di dekatnya.
"Masuk! Buruan, bisa berabe gue kalo ada yang liat lo disini!"
"Tapi Ndra..."
...***109***...
Sandra melihat sekilas nomor kamar tapi menurut saja.
Miki menyembulkan kepalanya keluar, "pak Lendra ngobrol sama siapa?" tanya nya.
"Emhhh, itu house keeping! Udahlah masuk, gue juga mau masuk ke kamar ini...." ujar Lendra yang buru-buru masuk ke kamar nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yang mau nebak-nebak monggo 😂 tapi lanjutannya nasib mereka ada di tangan mimin, tapi jangan harap ini bakalan jadi adegan mengsedih-sedih bikin air mata bercucuran layaknya cerita ikan sapu...karena this is mimin Sin, bukan penulis skenario curahan hati istri tertindas 😂😂