My Lovely Presdir From The Mars

My Lovely Presdir From The Mars
ILMU COCOKOLOGI


__ADS_3

Eyi sudah seperti pengganti umi, segala macam ia bekalkan pada adik iparnya itu, katanya sih begadang itu membutuhkan amunisi makanan biar ngga kekurangan gizi dan biar ngga ngantuk.


"Dek, dek Ra bukan mau camping seminggu di gunung," Rayyan memperhatikan istrinya seraya menyeruput kopi miliknya, ia menggaruk kening yang mendadak gatal...entah karena ketempelan ulat bulu atau apa.


"Abang, begadang tuh bikin laper, biar aja nanti kalo ngga abis dek Ra bisa bagi-bagi sama perawat lain. Nah nanti coba tanya dek, makanan bikinan Eyi enak ngga? Kalo enak apalagi sampe mau pesen, bisa langsung call me aja...kata umi, kalo mau mulai bisnis tuh orang-orang harus tau dulu sama produk yang kita punya, harus tau ciri khas taste yang kita punya!"


"Ohhh, jadi sambil menyelam minum air ceritanya?" tanya Rayyan mengerti bahwa bu chef ini ingin mencoba membuka usaha kuliner.


"Siapa yang nyelem sih bang! Ngaco, disuruh makan bukan disuruh nyelem sambil minum air, kembung dong!"


Zahra tertawa tergelak, efek lelah bikin emak satu ini oleng, "udah tidur sana kak. Cimoy sama Panji aja udah pingsan dari jam 7," ucap Zahra.


"Iya, udah ngantuk ini----biar tugas kuliah nanti abang yang kerjain ya?!" ujarnya melemparkan senyuman manis, ia beranjak dari duduknya setelah memasukkan beberapa kotak makan ke dalam paper bag bekal Zahra.


Pria anak 2 itu mengangkat kedua alisnya, "kok abang? Abang mana ngerti sama prodi kamu, masa anak hukum disuruh ngerjain tugas anak teknik?!"


"Nah, Eyi anak teknik bisa tuh disuruh bikin anak? Kan ngga ada ilmunya?" balas Eyi.


"Oh, kalo itu khusus prodi yang abang ajarin. Abang dosennya, kamu mahasiswi praktikum," jawab Rayyan. Baru saja Eyi hendak membalas, Zahra sudah buka suara terlebih dahulu.


"Udah---udah--- ah! Abang sama kak Eyi nih, kalo debat udah ngalahin hebohnya pengacara sama jaksa!" Zahra menengahi.


"Ya udah, jangan nyalahin nanti kalo isiannya pasal-pasal pembunuhan," ia segera menyambar kunci mbak Vega dari atas lemari.


"Hati-hati, abang jangan banyak mampirnya. Pintu rumah mau Eyi kunci," wanita itu menyerahkan jaket yang tersampir di cantelan pintu kamar.


"Iya cantik, abang masih tetep bisa masuk walaupun kamu kunci. Abang dobrak aja dengan senyap," jawabnya mencolek dagu Eyi saat wanita itu memasangkan jaket dengan ikhlas hati.


Zahra mengalihkan pandangannya, tadi saja berantem sekarang bikin orang yang liat malu sendiri.


Tiba-tiba saja Eyi menyemburkan tawanya mengingat kejadian malam pertama pernikahan, "senyap ya?"


Rayyan memajukan wajahnya hingga dapat berbisik, sapuan lembut aroma mint pasta gigi bercampur aroma kopi menguar di telinga Eyi, "jendela jangan dikunci,"


Eyi semakin tergelak membuat Zahra merengut, "apa sih, jangan bisik-bisik!" gerutunya, kan jadinya kepo.


"Kalo keras-keras kasian sama yang jomblo sayang, biar aja dia jadi hantu penasaran malam ini berteman nyamuk," ucapnya pada Eyi namun cukup bisa di dengar Zahra, gadis itu mencebik kesal membuat Eyi kembali tertawa.


"Si jomblo marah sayang," goda Rayyan.


"Ck, kasian banget cimoy sama Panji, punya bapak sab leng. Anak lo jiplakan lo tuh bang," gerutu Zahra mendelik.


"Cie, ada yang mau punya anak sayang," godanya tak henti-henti.


"Mentang-mentang dah nikah," gumam Zahra.


"Udah ah, malah pada berantem. Nanti anak-anak bangun. Eyi tungguin sekuatnya, kalo keburu tidur bangunin aja," ucap Eyi, bakti seorang istri memang tak mengenal waktu meski lelah mendera.


"Nih, hati-hati kerjanya. Do'a dulu biar tenang hatinya, ngga mikirin calon suami terus," tawa Eyi menyerahkan paper bag, namun kali ini tebakan Eyi salah, bukan calon suaminya lah yang jadi sosok bayangan dalam pikiran Zahra, melainkan....gadis itu mengangguk, "makasih kak. Pasti Zahra makan sampe abis," ia salim pada Eyi dan mengekor ke depan rumah.


Suasana malam sudah menyambut saja, perasaan baru beberapa waktu lalu masih cerah, entah memang gadis ini yang tak kemana-mana lagi selain berdiam diri di rumah sang mayor.


"Pelit amat mayor nganterin adeknya pake motor butut begini?!" Zahra menerima helm dari Rayyan.


"Biar cepet, kalo pake mobil macet. Kaya yang ngga tau ibukota aja, kalo sama anak-anak baru pake mobil biar ngga polusi ma angin. Tapi kan ini cuma nganterin lo doang, yang isinya aja udah polusi masyarakat!" jawab Rayyan tertawa.


Pukkk!


Zahra memukul kakaknya itu.


"Kendaraan apapun kalo yang makenya orang ganteng mah seketika berubah jadi harley," imbuh Rayyan.


"Bang, kak Eyi belom tau kendaraan yang lo punya di Aceh?" tanya Zahra saat mereka mulai melaju melewati blok perumahan Rayyan.


"Tau, tapi dia belum pernah liat. Ngga tau masih inget apa udah lupa, Eyi tuh terima gue apa adanya, bukan ada apanya!" balas Rayyan mengangguk saat mereka keluar dari gerbang markas.


"Gue heran sama calon lo, kemana sih dia?! Calon bini dibiarin kelayapan sendirian, malem-malem lagi, katanya CEO, masa sampe ngga ngerahin anak buah! Jadi ragu gue kasih restu!" omelnya, membuat Zahra berpikiran yang sama dengan Rayyan, ia menunduk... malu sebenarnya.


"Dia sibuk," jawab Zahra singkat.

__ADS_1


"Semahal apa sih bayar supir atau bodyguard?! Gue aja waktu Eyi masih jadi calon, bela-belain sempetin anter kemanapun termasuk lagi pemotretan di sela-sela jam sibuk prajurit gue! Kalo engga, kirim Maliq atau bawahan, kasih aja mereka duit rokok buat ucapan makasih! Ini, katanya CEO, CEO apaan yang kaya gitu! Coba gue pengen ketemu sama calon lo," ujar Rayyan.


"Mau ngapain?" tanya Zahra memiringkan kepalanya demi melihat wajah sang kakak.


"Mau gue ajak maen po ker! Mau gue pites kakinya biar ngga bisa jalan! Gue keluarin isian otaknya, ngga ada ngehargain amanat abi sama umi, niat ngga sih mau merit. Adek gue udah kaya barang ngga laku gini," jawab Rayyan. Tapi anehnya saat Rayyan mengatakan itu tak ada rasa sakit di hati Zahra, memang abang somplaknya itu benar, sikap Ganesha begitu salah tapi Zahra tak merasa kecewa sedikit pun, why Zahra? Apa karena ia pun tak peduli?


"Udah paling bener jodoh pilihan gue sama bang Fath! Sekarang mungkin lo lagi dikawal sekompi!" omelnya persis ibu-ibu yang lagi nawar boxer anak.


"Cerewet lo bang, pantesan cimoy bawel, orang mata airnya aja begini," tawa Zahra.



Motor terhenti di parkiran rumah sakit, dan Zahra turun dari sana mengulurkan tangannya untuk menerima uluran tangan Rayyan.



"Bilangin calon laki lo, si siapa tuh namanya... Gajah Mada," ucap Rayyan.



"Ganesha ! !" ralat Zahra.



"Bilang, gue mau ketemu! Mau di Markormar atau di luar? Bang Fath juga nyerahin urusan ini sama gue, biar gue yang wakilin. Bang Fath pengen ngasih salam tempel sampe lebam buat si Gajah Mada!"



"Ganesha, lo pikun ya?!" sengit Zahra.



"Jangan dipikir gue sama bang Fath diem ngga perhatiin dia. Ya udah gue balik, ntar Eyi keburu merem, repot gue kalo harus layanin warung sendiri, Eyi berat sekarang," ia sedikit menghentakkan tangannya ke jidat Zahra.




"Mesum adalah hal wajib setelah menikah wahai umat! Jadi pahala," balas Rayyan.



"Ya mesum lo ngga tau tempat bang, mana yang diajak ngobrol yang belum nikah," gerutu Zahra membuat Rayyan tertawa lepas, memertawakan penderitaan adiknya, persis cimoy tadi pagi.



Zahra memandang kepergian Rayyan seraya menenteng paper bag bekal, tatapannya nyalang mengingat obrolan singkat bersama mama dedeh barusan.



"*Mi, kayanya perjodohan ini ngga akan berhasil*," gumam Zahra. Zahra bergegas, ia baru ingat jika sore tadi Dewa operasi pemasangan pen di tulangnya.



"*Eh, gimana sama Dewa*?"



Gadis itu berjalan cepat, gerakan langkah yang memburu itu refleks atas perintah...*hati*.



Zahra mengganti pakaian dan mencuci tangannya, menaruh paper bag dan tas di loker, bertegur sapa dengan Mawar yang sama-sama baru datang.



"Mbak Ning, pasien Sadewa gimana? Udah masuk ruang tindakan?" tanya Zahra pada perawat yang bertugas sebelumnya.


__ADS_1


Perawat senior berusia diatas Zahra itu mengangguk, "udah Ra, tadi magrib baru keluar, kayanya efek obat biusnya masih ada. Soalnya masih tidur, tapi pihak keluarga belum ada yang datang," jelasnya.



"Percaya ngga sih, pasien disini tuh cakep-cakep tapi pada ngga ditungguin, kaya sengaja gitu dikirim buat cerahin bangsal Kenanga!" tawa Nadine yang baru saja bergabung.



"Tuh, pasien kesayangan nanyain mulu! Suster Zahra udah dateng belum ya?" tiru perawat lain menggoda Zahra.



"Cie, jangan-jangan dia nanti bakalan betah disini gara-gara ada suster Zahra!" senggol Rosa, Zahra hanya mengulas senyuman kaku mendengarnya.



Perawat Nuning memberikan catatan tugas pada perawat shift malam yang kemudian diangguki Zahra dan grup.



Tapi fokus Zahra adalah Dewa, gadis ini ingin melihat keadaannya sekarang, merasa iba atau memang peduli.



"Disaat yang lain kepengen di tunggu sama diperhatiin keluarga, lo malah lebih milih sendiri, Wa. Ada apa sebenernya?"



Zahra berjalan masuk ke dalam bangsal Kenanga, lebih tepatnya ruangan dimana Dewa di rawat.



Hanya ada Dewa seorang tanpa ada siapapun, itu pun ia terlelap damai dengan tangan terlipat di atas perut.



Zahra menghampiri, mungkin jika lelaki ini bangun lain ceritanya. Gadis ini bahkan tak mau untuk dekat-dekat.



"Wa, sorry gue udah nyusahin lo buat antar jemput. Tapi kayanya mulai sekarang gue mau back to nature, gue kayanya ngga cocok sama Ganesha---" ucap Zahra menunduk memainkan kedua telunjuknya, melangkah mendekat hingga hampir tak berjarak dari ranjang.



"Hubungan gue sama Ganesha kayanya bakalan hambar, dingin, ngga akan berhasil, pribadi gue kayanya ngga cocok sama pribadi Ganesha," lanjutnya.



"Ilmu cocokologi dari mana tuh? Terus maksud lo, lo cocoknya sama gue gitu?"



Mata Zahra melotot mendengar jawaban yang dilontarkan mulut yang semula terkatup itu. Matanya perlahan terbuka dan menatap Zahra, "bilang aja lo sukanya sama gue?"



Zahra mengerutkan dahinya, "pede amat," gadis itu tertawa sumbang.



.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2