
Aku terbangun dengan tubuh yang berenergi. Walau begitu, aku rasa level energi spiritualku belum meningkat. Aku menghelakan nafasku. Dan seperti biasa, kak June ada di kasurku. Kapan kakak cantik ini menghilangkan kebiasaan pindah saat tidurnya. Untung saja dia tidak menyandar padaku. Dia hanya berada didepanku. Aku tanpa suara keluar dari jebakan mematikan itu. Dan menuju tempat makan.
Aku berlatih pedang seperti biasa. Dan juga meluangkan waktuku untuk melatih energi spiritualku saat istirahat. Sedikit demi sedikit energiku mulai meningkat. Sepertinya, levelku akan naik tak lama lagi. Setelah istirahat, aku berlatih kembali hingga petang. Pelajaran yang aku tunggu-tunggu. Aku akan belajar untuk menjadi alchemist.
“Untuk menjadi alchemist, membutuhkan kontrol yang kuat dalam menggunakan sihir elemen api. Bedanya, elemen api yang digunakan dalam receptarier menguras mana dan energi spiritual agar lebih mudah dikontrol.” Jelas kak June.
Energi spiritual memang lebih mudah diatur daripada mana. Aku merasakannya setelah menggunakan tehnik .
“Jadi, kamu harus mempunyai energi spiritual type flame. Kamu bisa melatihnya dengan sihir dan tehnik yang kamu gunakan saat tadi malam. Dengan melatih sihir type fire, kamu bisa mendapatkan energi spiritual flame. Semakin kuat energi spiritual flamemu, maka warna dari api yang dipancarkan akan berubah sedikit.”
Tangan kak June terangkat sejajar dengan dada. Seketika muncul api berwarna orange pekat. Berbeda sedikit dengan api biasanya.
“Ini warna apiku sekarang. Kamu juga bisa menambah type flame dengan membuat pill dengan material monster core dari type flame. Aku memang seorang alchemist, tapi tidak terlalu mendalaminya. Setidaknya aku mengetahui dasar-dasarnya. Kamu bisa mengandalkanku.”
__ADS_1
Api ditangan kak June lenyap. Mendengar penjelasan kak June, masih ada beberapa yang tidak kumengerti.
“Kak, aku belum tau tentang monster core.” Tanyaku.
"Monster core adalah inti dari suatu monster. Monster core mengandung energi dari monster tersebut. Biasanya itu digunakan sebagai senjata dan bahan pembuatan pill ataupun elixir. Karena monster biasanya sangat kuat, maka harganya cukup mahal dan langka untuk didapatkan.”
“Oh! Aku mengerti.” Aku mengangguk paham.
Aku mengangguk. Tanganku terangkat dan mengeluarkan api-api kecil dan mulai memadat menjadi bola. Setelah itu aku mulai mengalirkan energi spiritualku ke tangan. Aku mengayun-ayunkan tanganku. Mengarahkan api itu kedepan. Dan hasilnya gagal. Api itu hanya berada ditelapak tanganku. Tidak bergerak kearah yang kuinginkan.
“Ugh… ini sulit sekali.” Keluhku.
“Tidak ada yang mudah jika ingin meraih sesuatu.” Kak June menepuk kepalaku. “Kamu pasti bisa kok. Kamukan muridku yang paling jenius.”
__ADS_1
Aku tersenyum senang mendengarnya. Aku pun mencobanya sekali lagi. Mengeluarkan sihir api, memadatkannya, kemudian menggunakan energi sepiritual untuk mengendalikan api itu. Tapi aku kehilangan focus saat mengeluarkan energi spiritualku. Menjadi seorang alchemist benar-benar tidak mudah.
Keseharianku tidak banyak berubah hingga aku berumur 10 tahun. Di pagi hingga siang hari aku berlatih pedang Bersama ayahku. Sesekali aku sparing dengan Mirana untuk menentukan siapa yang paling kuat. Aku biasanya kalah jika tidak memakai sihirku. Tehnik Mirana benar-benar hebat. Apalagi kemampuan nya sudah menjadi . Itu benar-benar membuatku kewalahan. Aku sampai sekarang belum bisa mempelajarinya. Untuk mempelajarinya, aku harus memiliki fisik yang kuat dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan hanya ayah yang menentukan kapan aku mempelajarinya.
Setelah berlatih pedang aku melanjutkan latihan sihirku. Bersama kak June, aku melatih pengendalian apiku. Menjadi alchemist benar benar menyusahkan. Terkadang hamper saja aku menyerah karena tidak membuahkan hasil. Tapi dengan sabar kak June menyemangatiku hingga akhirnya aku mengerti bagaimana menggunakan pengendalian api. Tapi kak June belum mengajarkanku bagaimana meracik sesuatu. Mungkin belum waktunya.
Level sihirku pun meningkat dengan baik dengan ajaran kak June. Aku sudah bisa menyatukan kedua elemen dengan baik. Aku juga mempelajari elemen sihir yang lain. Sehingga banyak variasi sihir yang bisa aku gunakan. Dan ternyata penggunaan sihir tidak begitu sulit. Yang terpenting adalah imajinasi dalam membuat gambaran apa yang akan dikeluarkan. Mantra pun sebenarnya hanya digunakan untuk memberikan focus terhadap sihir yang akan di keluarkan.
Hasil dari pelatihan sihir meningkatkan level manaku ke tingkat 3 level 4. Meski terlihat sedikit, kapasitas manaku meningkat pesat. Tapi karena meningkatnya kapasitas manaku juga, pelatihan dari kak June semakin mengerikkan. Dia selalu saja memaksaku untuk menghabiskan manaku agar kapasitasnya meningkat. Benar- benar melelahkan.
Di waktu istirahat, aku melatih energi spiritualku dengan tehnik yang ayah ajarkan kepadaku. Tapi apa yang aku lakukan terkadang membuat ibuku sedih. Dia merasa kalau aku jadi tidak membutuhka banyak makan. Karena aku tidak ingin melihatnya sedih, saat makan malam aku selalu memakan banyak makanan. Yah sebenarnya memang akunya yang lapar karena seharian latihan tanpa henti.
Di malam hari, kak June mengajariku banyak hal. Seperti menulis, membaca, dan hal hal yang umum. Aku juga mempelajari tentang ras-ras yang ada di dunia ini dengan lebih detail. Mempelajari bagaimana sejarah dunia ini, dan mendengar kisah perjalanan kak June. Kisahnya amat sangat hebat. Mungkin ini karena aku belum pernah keluar dari desaku. Aku hanya banyak berlatih di rumah.
__ADS_1