My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Pecahan Jiwa Raja Iblis


__ADS_3

>> Sudut Pandang Merlin Wizcraft <<


Tak kusangka serangan sihirku tak mampu menghancurkan portal hitam itu. Apa aku terlalu lemah?


"Ternyata tidak cukup."


"Tidak cukup apaan?! Tadi itu bahaya banget!!" protes June yang terbang muncul dari bawah puing-puing reruntuhan.


Aku tertawa kecil. Yah mendengar ocehannya berarti sihirku memang terlalu besar. Tapi tetap saja seranganku bahkan tidak menggores portal itu.


Portal hitam itu sudah pasti adalah portal yang merespawn atau memunculkan monster-monster yang seharusnya telah disegel. Apabila terus dibiarkan akan muncul lebih banyak monster yang memiliki kecerdasan dan itu amat berbahaya lebih dari magical beast. Magical beast sering disebut monster bagi yang tidak mengetahuinya. Sebenarnya monster dan magical beast itu berbeda. Perbedaan monster dan magical beast terdapat pada bagaimana mereka berkembang menjadi kuat. Apabila magical beast, mereka berkembang seiring waktu. Semakin tua maka semakin kuat. Sedangkan monster dapat berkembang dengan melalui pengalaman. Semakin banyak dia bertarung semakin dia kuat. Dan monster mampu berevolusi setiap sampai di titik pengalaman yang tinggi. Itu akan menjadi sangat menyusahkan karena amat berbahaya bagi orang yang tak mampu mengalahkannya. Dan bila tidak dikalahkan, dia akan semakin kuat lagi dan lagi. Inilah yang paling membuat sulit peperangan melawan ras Demon.


"Sepertinya tidak ada cara lain selain menyegelnya."


Aku pun turun dan menginjakkan kakiku ke tanah. Kemudian aku berjalan perlahan menuju portal itu seraya mengeluarkan tongkat sihirku. Tongkat sihir yang telah menjadi sahabatku selama satu abad lebih. Tongkat yang selalu ada sejak sebelum aku menjadi seorang Grand Magus.


"June, tolong jaga aku. Aku akan merampalkan sihir untuk menyegel portal ini."


June mengangguk. Aku tersenyum membalas persetujuannya.


Aku mulai merampalkan mantra sihir segel tingkat tinggi [High Magic Seal]. Muncul lingkaran sihir dibawah kakiku dan naik memutari tubuhku. Aku memejamkan mataku untuk menambah fokus pada sihirku. Begitu selesai merampal, aku membuka mataku dan meneriakkan sihirnya.


"High Magic Seal!!"


Aku menganggkat tongkatku. Portal itu terlihat bergetar hebat. Aura kegelapan mulai terlihat kacau. Lingkaran sihir muncul dibawah portal itu dan memunculkan banyak rantai cahaya yang mulai menutupi portal itu.


Sekarang aku hanya perlu fokus hingga semua selesai tersegel.


DEG!!!!


"Uhk!!!" rintihku. Aku merasakan rasa sesak di dadaku. Pandanganku terasa kabur. Aku mencoba kembali fokus namun kesadaranku seperti diganggu.


"Pak Wiz!!" teriak June.


"Te-tenanglah..."


Apa ini? Kenapa rasanya sangat menyakitkan.


Aku melihat ke arah portal itu. Portal itu terlihat menyusut dan mengecil. Segelku masih beroprasi dan belum sepenuhnya menyegel portal itu.


Aneh sekali. Biasanya prosesnya tak selama ini.

__ADS_1


"Ghak!!!" aku tersungkur. Kemudian terbatuk-batuk seraya menutup mulutku dan melihat darah di telapak tanganku.


Si-sial... Kenapa kambuh disaat seperti ini?


Aku menatap kembali portal itu. Dan tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.


"Ba-bagaimana bisa..."


Portal itu mengeluarkan aura kegelapan yang dahsyat. Aku berusaha menahannya. Namun rasa sakit memenuhi tubuhku.


"AAAARRRRGGG!!!!!" Aku mengerang keras.


"Pak Wiz!! Kamu tak apa??!!!" June berlari mendekatiku.


"Ti-tidak!!! Menjauhlah!!!" aku kembali mengeluarkan darah. "Aku tak menyangka melihat ini lagi."


Tatapanku fokus ke arah portal yang sekarang telah berubah bentuk.


"I-itu... Pecahan jiwa Raja Iblis..."


"Pecahan jiwa Raja Iblis?!" June terkejut.


"Ya, dan selalu ada kutukan untuk orang yang menyegelnya...Uhuk," Aku kembali terbatuk. "Seperti pahlawan yang kehilangan nyawa saat menyegel Raja Iblis. Sudah lama sekali aku tak merasakan hawa keberadaan Raja Iblis seperti ini."


"Pak Wiz!! Bertahanlah!!"


June terlihat menangis melihatku yang dalam kondisi menyedihkan. Aku terus berusaha untuk fokus. Namun semakin lama, aura kegelapan yang muncul itu mulai merusak tubuhku.


Tanganku terasa akan hacur kapan saja. Urat-urat ditubuhku menjadi berwarna ungu. Seluruh tubuhku terasa menyakitkan. Seperti disetiap inci tubuhku ditusuki oleh jarum yang tajam. Ini terasa amat menyakitkan.


"AAAARRRRGGG!!!!" Aku tak berpikir dengan jernih. Air liur keluar dari mulutku saking terasa amat menyakitkannya siksaan ini. Namun aku harus bisa mengatasinya. Aku harus bisa!!


Seketika saja tubuhku merasakan kesejukan dari belakang tubuhku. Rasanya seperti ada yang mengelus punggungku dengan lembut dan meredakan rasa sakitku.


"Ju-June?" aku melirik ke arah June.


"Aku hanya dapat memberikan sihir penyembuhan tingkat tinggi!! Karena itu pak Wiz berjuanglah!!!" seru June dengan wajah prihatin.


Aku tersenyum kecil melihat wajahnya yang mungil dan masih terlihat seperti anak kecil itu amat terlihat mengkhawatirkanku.


"Terima kasih June."

__ADS_1


Fokusku kembali. Aku mengerahkan semua manaku pada sihir penyegelku. Cahaya putih terang yang membentuk rantai pun kembali menerangi pecahan jiwa itu. Semakin lama, aura kegelapan itu semakin mengecil.


Sebentar lagi ini akan berakhir!


Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang menusuk dadaku. Rasa sakit kembali meliputi tubuhku. Padahal segel itu sedikit lagi berakhir. Aku memaksakan seluruh manaku dan tubuhku untuk menyegel pecahan itu. Aku tak mempedulikan rasa sakit lagi. Yang terpenting pecahan jiwa ini harus tersegel kembali.


"TERKUNCILAAAAAH!!!! HIGH MAGIC SEAL!!!!"


CLANG!!!


Muncul gembok cahaya yang menandakan sihir segelku itu berhasil. Pecahan jiwa itu berubah menjadi bola hitam sebesar kepalan tangan.


Nafasku berat dan terengah-engah. Aku tersungkur jatuh. Pandanganku kabur.


"Seorang Grand Magus terlihat menyedihkan seperti ini. Akan memalukkan jika ada yang melihatku sekarang."


"Tidak, anda tidak memalukkan." June berada didepanku menahan tubuhku yang terlukai tak berdaya. "Anda terlihat menakjubkan saat ini."


Aku tertawa kecil. "Tak kusangka ada hari dimana muridku sendiri membantuku berdiri."


"Itu akan datang cepat atau lambat. Karena umur anda sudah amat tua."


Aku terkekeh. "Aku tak mau mendengar soal umur darimu June."


Tiba-tiba terdengar suara dari sekitar.


"Siapa itu?!!" June berteriak.


Terlihat bayangan hitam yang bergerak dari pepohonan dan lari kabur meninggalkanku dan June.


"Hei tunggu!!!" June berusaha mengejar.


Aku menahan June dengan menggenggam tangannya.


"Tak perlu dikejar! Kelihatannya dia hanya mengawasi kita disini. Aku tau kamu dapat mengalahkannya. Tapi..." Aku melirik ke arah bola hitam yang merupakan pecahan jiwa Raja Iblis. "Ada yang lebih penting untuk diurusi."


June terdiam. Kemudian menghelakan nafas. "Anda benar, masalah ini harus menjadi prioritas utama."


Aku tersenyum. "Aku senang kamu mengerti June. Dan sepertinya aku tak kuat lagi. Akan aku serahkan semua padamu."


June mengangguk pelan.

__ADS_1


Rasa sakit di seluruh tubuhku belum mereda. Pandanganku semakin kabur. Tubuhku terasa amat berat. Dan seluruh pandanganku mulai menggelap dan aku pun kehilangan kesadaranku.


__ADS_2