
“Kalian gak apa-apa?” Paman Armin kembali ke tempat pertempuran dengan kereta kudanya.
Aku, kak June, paman Hadwin dan paman Gason sedang duduk lemas di sebelah mayat Black Giant Bisson yang terlihat mengenaskan.
“Kami aman kok tuan Armin. Paling Gason tadi terluka. Tapi sekarang tak apa-apa yang lainnya hanya kelelahan.” Ujar Hadwin.
“Baguslah kalau begitu… loh Alvin kenapa?” tanya paman Armin.
“Aku? Aku ga apa-apa.” Jawabku.
“Mukamu terlihat pucat nak.”
“Benarkah?”
Setelah diberi tahuseperti itu, kepalaku terasa pusing.
Ah benar juga. Aku telah
menggunakan semua manaku di serangan terakhir tadi. Gejala ini kehabisan mana.
“Sepertinya aku kehabisan mana.” Ujarku.
“Yah wajar saja sih.” Kak June menarik tanganku ke pundaknya. “Tidurlah di kereta, sebentar lagi pun kita akan sampai. Setelah sampai kamu pasti akan membaik."
Dibantu kak June, aku naik ke atas kereta kuda. Aku menengok ke arah paman Hadwin dan terlihat dia menggunakan skill [Item Box] dan memasukkan mayat monster itu.
Waw, sebesar apa kapasitas item boxnya? Bisa masuk juga itu monster.
“Alvin.”
“Ya kak?”
“Tidur sini.” Kak June tersenyum.
“Eumm.. kak itu agak..”
“Tidur sini.”
Ugh.. aku ga bisa nolak.
Aku pun tiduran dan menempatkan kepalaku diatas pangkuan kak June.
Ya ampun ini memalukkan! Tapi waw, kepalaku terasa lembut. Dan juga astaga. Dari sini aku dapat melihat kak June dengan jelas!!
“Nah tidurlah Alvinku.” Ujar kak June seraya tersenyum manis kemudian mengelus-ngelus kepalaku dengan lembut.
OH MAY GAD! Sumpah aku merah banget sekarang pasti. Gila! Sebenernya aku beruntung banget ternyata!
Sayangnya efek dari kelelahanku membuatku tidak dapat menikmati wajah kak June yang cantik. aku tidak mampu menahan rasa kantukku. Dan akhirnya semua gelam dan aku pun terlelap.
***
Aku membuka mataku dari tidurku. Aku mendegnar banyak suara bising dan membuatku tidak merasa nyaman.
__ADS_1
“Oh, kamu sduah bangun Alvin?”
Kak June tersenyum melihatku dan ternyata dia masih memangku dan mengelus-elus kepalaku.
Mukaku kembali memerah dan segera bangun dan duduk dengan cepat.
Kak June tertawa kecil melihat tingkahku.
Aku melihat kesekitar. Dan ternyata aku sduah berada di dalam kota yang amat besar dan ramai. Orang-orang berlalu Lalang. Lampu-lampu sihir yang menyala dimana-mana. Dan suara-suara yang muncul dari tiap obrolan orang-orang sekitar.
“Kita sudah di ibukota?” tanyaku.
“Iya benar.” Ujar kak June.
“Eumm… dimana paman Armin dan Hadwin?”
“Mereka tadi mengurus soal monster yang kamu kalahkan nak. Mereka sekarang berada di Guild petualang.” Ujar Gason dari tempat kusir
.”Sekarang kita mau kemana paman?”
“Kita akan ke serikat dagang Heaven Door. Disana kita bisa beristirahat.”
Aku mengangguk paham.
Tak lama kemudian, akhirnya kereta kuda pun sampai di Serikat dagang Heaven Door.
“Sebut saja nama kalian, nanti aka nada yang mengantar kalian. Aku akan kembali ke Guild petualang untuk menjemput tuan armin dan Hadwin.”
“Ayo masuk kak.” Ajakku.
“Sebentar.” Kak June menahan jalanku dengan menggenggam tanganku.
“Ke-kenapa kak?” tanyaku gugup.
“Kita beli pakaian untukmu.”
“Pakaian? Buat apa kak?”
“Aku sudah melihat baju-bajumu selama aku hidup sekamar denganmu. Dan aku yakin sekali kamu akan di tertawakan nanti di akademi. Karena pada dasarnya, yang masuk ke akademi itu anak orang-orang bergelar bangsawan dan orang orang kaya. Dengan bajumu yang seperti itu kamu akan terlihat seperti orang desa.”
“Hmm… aku ngerti sih, sebenarnya ibu memberiku uang untuk membeli baju. Niatnya mau simpan karena rasanya tidak butuh baju baru.”
“Yah, ibumu itu sudah tau bagaimana berada di sekitar para bangsawan. Sudah sewajarnya dia mengerti dan memberimu uang. Ngomong-ngomong berapa yang kamu dapat dari ibumu?”
“100 koin emas.”
Kak June terkejut mendengar nominal yang kusebut. Kemudian menepuk jidatnya. “Oh tuhan Shiele…. Kamu khawatir banget sih sama anak kamu. Apa dia memberi uang selain itu?”
Aku mengangguk. “Untuk uang jajan dia memberiku 300 koin emas tambahan.”
“Uang itu bisa buat hidup beberapa tahun astaga.” Ujar kak June.
Aku tertawa melihat reaksi kak June. Sebenarnya, keluargaku adalah keluarga bangsawan. Dan seluruh desaku adalah milik ibuku. Dan ayahku sebagai suaminya menjadi tuan tanah dari desaku. Dia berpangkat seorang Earl atau tuan tanah suatu wilayah. Tapi kedua orang tuaku lebih menyukai hidup yang sederhana sehingga uang yang mereka hanya menggunakan sedikit uang dan lebih banyak untuk menyumbangkannya. Panti asuhan tempat Mirana tinggal pun semua di danai oleh kedua orang tuaku. Karena kebaikan mereka, akhirnya seluruh penduduk desa amat menghormati mereka.
__ADS_1
Ibuku memberi uang yang besar karena khawatir aku tidak punya uang. Padahal aku sudah mengerti konsep penghamburan sejak dari dunia sebelumnya. Dulu hidupku lebih buruk dari ini. Dan tentunya aku akan berusaha berhemat meski memiliki uang yang banyak. Karena tujuan yang ingin kucapai akan membutuhkan modal besar. Yah, Alchemist membutuhkan modal yang besar.
“Ibumu itu ya, bahkan setiap kita akan pergi ke pasar dia menitipkan uang dengan jumlah besar padaku utukmu. Dan pastinya aku menolak dan menjelaskan semuanya.” Ujar kak June.
Aku tertawa mendengarnya. “Ibu memang seperti itu orangnya.”
“Ya sudahlah sekarang ayo kita beli pakaian untukmu. Dengan uang sebesar itu kmau bisa membeli baju paling mahal disini.” Ujar kak June.
“Ah gak ah, aku ga mau yang terlalu mahal kak.” Pintaku.
“Iya gampang bisa diatur kok.”
Kak June menarik tanganku dan membawaku menuju ke toko khusus pakaian. Dan aku tidak tau kalau
itu akan menjadi sebuah mimpi buruk untukku.
***
“Jadi, kenapa kamu terlihat lelah nak?”
Paman Armin menepuk-nepuk pundakku. Aku memang terlihat kelelahan dengan menyandarkan kepalaku di meja.
“Kak June benar-benar mengerikkan.” Ucapku.
“Memang apa yang sudah dia lakukan padamu?” tanya Gason seraya menghuapkan sendok ke mulutnya.
“Tadi aku kira aku hanya akan belanja biasa saja. Tapi ternyata….”
Aku menceritakan semua kelakuan kak June ketika aku belanja baju bersamanya.
Aku mengira ini akan jadi belanja yang biasa saja, ternyata tidak. Aku dipaksa menggunakan banyak baju. Setelah mencoba satu, mencoba lagi yang lain. Dan aku masih ingat tatapan kak June yang terlihat seperti seorang yang mesum. Dia sangat bersemangat dan aku tak mampu menolaknya. Bahkan dia memukul perutku saat aku mencoba menolak. Dan gilanya, dia menyuruhku menggunakan pakaian wanita. Dia dengan wajah ketertarikan berlebihan itu membuatku berteriak di toko itu. benar-benar pengalaman yang ingi kulupakan. Tapi pada akhirnya aku hanya membeli satu set baju mewah ala kerajaan gitu. Setidaknya itu yang melegakan hatiku.
“Waw.” Itulah yang keluar dari ketiga paman yang berada satu meja denganku.
Aku menghelakan nafas berat. Sekarang aku lapar namun rasanya tidak nafsu untuk makan.
“Alvin.”
Seketika bulu kudukku berdiri mendengar suara kak June memanggilku.
Kak June menatap kesal.“Oh ayolah. Ga usah kamu pikirkan yang tadi itu.”
“Enak buat ngomong.” Ketusku
"Lagian kamu terlihat imut kok." ucap kak June jail.
"TAU AH!!".ketusku seraya memalingkan wajah dari kak June.
Kak June tertawa kecil. “Iya-iya maaf, sekarang makanlah yang banyak. Besok kita berangkat ke akademi Goldendawn. ”
Setelah itu kak June memesankan makanan untukku. Tapi yang aku rasakan hanya kehampaan.
Sungguh. mengangis pun kutak mampu….
__ADS_1