My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Teman Baru


__ADS_3

“Makanan disini ternyata enak-enak.”


“Seperti yang dapat di harapkan dari sekolah elite.”


“Hey liat itu ada pudding disana.”


“Enak sekali!”


Aku menghelakan nafas panjang.


Area makan penuh sekali. Mau ambil minum pun rasanya jadi malas. Aku kembali menonton ujian saja deh. Aku akan kembali saat tempat ini mulai sepi.


Aku berbalik dan berjalan menuju samping lapangan. Aku malas untuk kembali naik ke atas. Jadi aku memutuskan untuk menonton dari pinggir lapangan.


Ternyata dari sini aku bisa melihat para peserta dengan jelas. Meski kekurangannya tidak ada tempat duduk disini.


Tidak banyak orang yang berada di area sisi lapangan itu. Dan seperti yang kuduga tidak ada bangsawan di area ini. Hanya ada peserta biasa yang terlihat tertarik dengan kemampuan peserta lainnya.


“Hey lihat itukan cucu dari penyhir agung.”


“Pasti dia berbakat sekali.”


Apa? Cucu dari penyihir agung?


Aku segera menoleh ke arah lima peserta yang melangkah memasuki lapangan.


Hmmm…. 3 pengguna pedang, 1 pengguna pisau, dan 1 penyihir. Ah… pasti dia.


Aku mulai memperhatikan seorang gadis dengan rambut pirang panjang bergelombang.


Dari aliran mana disekitarnya, aku sudah tahu kalau dia amat kuat. Dan energi spiritualnya pun sangat teratur. Dia pasti sudah melatih kemampuannya dengan baik. Ini jadi sangat menarik. Tunjukkuan sihir terhebatmu.


Terlihat kak June mempersilahkan gadis itu untuk memperlihatkan sihirnya. Gadis itu pun berbalik dan mengangkat tangannya ke arah lapangan kosong tempat semua sihir diperlihatkan. Dia mulai merapalkan mantra. Aliran mana disekitar berubah dengan cepat. Berhembus kencang angin dari seluruh ruangan aula menuju ke arahnya.


Betapa terkejutnya aku. Dia mengeluarkan sihir [Bird of Wind]. Sihir angin tingkat tinggi yang memungkinkan penggunanya mengendalikan angin ribut sesuka hati. Ditambah dia berhasil membentuk angin itu menjadi bentuk seekor burung. Itu berarti sihirnya sudah matang dan sempurna. Dibutuhkan pengendalian mana dan energi spiritual type Wind dengan afinitas tinggi agar dapat menggunakan sihir sesempurna ini.


Dan kejadian selanjutnya lebih gila lagi. Dia menggunakan sihir api dan mengkombinasi sihir elemen angin dan api. Dalam sekejap, burung angin itu menjadi seekor burung api yang menghembuskan angin panas ke seluruh sisi dari aula ini. Sihir yang amat gila untuk digunakan oleh seorang berumur 15 tahun. Dan dia terlihat tersenyum saat mengeluarkan sihir itu!!


Tanpa kusadari aku tersenyum dikala keringatku menetes. “Ini menakjubkan.”


Tapi tak lama kemudian burung api itu lenyap seketika. Seluhur hawa panas menghilang begitu saja. Aku terkejut dan melihat ke arah gadis itu.


Kenapa dia terlihat begitu kesakitan? Bukankah tadi dia tersenyum?


“Kamu hebat sekali bisa mengeluarkan sihir seperti itu.”


“Ya benar.”


“Seperti yang diduga dari cucu Tuan Merlin. Benar-benar berbakat.”


“Benar, bakat yang luar biasa.”


Pujian demi pujian dilontarkan oleh para penguji. Tapi gadis itu malah terlihat lebih tertekan. Dia malah terlihat tidak ingin di puji oleh mereka.


Kak June hanya tersenyum tanpa mengatakan pujian pada gadis itu. Dia kelihatan mengerti dengan yang gadis itu rasakan. Saat gadis itu berbalik dan berjalan keluar lapangan, kak June melirik ke arahku dengan senyuman yang penuh makna. Dia seperti menyuruhku untuk melakukan sesuatu.


Aku menghelakan nafasku. Mau ga mau aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa yang salah darinya sih? Kenapa dia terlihat begitu tertekan?


Muncul banyak komentar dari peserta-peserta lain. Apa mungkin para peserta yang memicu rasa tertekannya?


“Uwah… dia hebat sekali. Aku tidak sepadan dengannya.”


“Yah, Namanya juga cucu dari penyihir agung. Bakatnya pasti besar.”


“Curang sekali. Dia sudah ditakdirkan untuk menjadi penyhir yang hebat dengan bakatnya.”


“Kita tidak memiliki tempat disisinya.”


“Enak ya punya bakat sepertinya.”


Aku tersadar setelah mendengar komentar komentar yang muncul saat gadis itu keluar dari lapangan.


Dasar penyihir tua, jadi ini maksudnya sulit untuk bergaul. Orang-orang di sekitarnya hanya melihatnya sebagai orang yang berbakat dan memandangnya sebelah mata. Padahal dari sihir yang dia keluarkan, sudah jelas dia melatih kemampuannya hingga ke titik yang menakjubkan itu. Jika begini terus, dia hanya akan menjadi seorang yang membenci hal yang dia tekuni.


Aku menggaruk-garuk kepalaku. Yah bukan berarti aku tidak mau berteman dengannya. Jadi tidak ada salahnya mencoba berteman dengannyakan?


Aku berjalan mendekatinya. Gadis itu berjalan menunduk dan terlihat amat menyedihkan.


“Yo.” Sapaku.

__ADS_1


Gadis itu menoleh ke arahku.


“Kamu hebat sekali ya.”


Perkataanku tidak dia gubris. Hanya terlihat semakin sedih.


Semoga perkataanku yang selanjutnya akan sedikit membantunya.


Aku tidak menyerah dan tetap tersenyum. “Kamu pasti sudah bekerja keras sampai dapat mengeluarkan sihir yang luar biasa seperti itu.”


Begitu perkataanku keluar dari mulutku, isakan tangis terdengar olehku darinya.


“Hiks…”


“Loh? kamu kenapa?” tanyaku panik.


Aduh! Apa aku semakin menyinggungnya? Duh gimana niih?!


“Tidak apa-apa…” ucap gadis itu seraya meneteskan air mata. Namun terlihat kebahagiaan dari senyumnya.


Aku awalnya bingung. Namun begitu melihat senyumannya, aku tersenyum balik. Gadis ini bisa tersenyum semanis ini ternyata.


“Kalau begitu, maukah kamu berteman denganku?”


Gadis itu terkejut dan refleks menutup mulutnya. Air matanya mengalir lebih deras.


“Ya… aku mau…”


Aku tersenyum kembali. “Kalau gitu jangan nangis lagi dong.” Ujarku seraya mengelus-elus kepalanya.


Dia mengangguk pelan.


Aku mengenggam tangannya dan menuntunnya. “Sekarang kita ambil minum untukmu. Kamu pasti haus.”


Dia menganngguk kembali dan berjalan mengikutiku. Tangisannya sudah mereda dan dia tidak terlihat tertekan lagi.


***


Di area makanan, banyak orang berkumpul dan memenuhi ruangan itu. Area makanan berada di dalam satu gedung namun tempatnya berbeda ruangan dengan lapangan. Sehingga kelihatan seperti ruangan khusus untuk makanan. Seluruh makanan dan minuman tersedia disana dalam bentuk hidangan. Jadi para peserta yang menginginkan sesuatu dapat mengambilnya secara langsung.


Sambil berjalan menuju area makanan, aku mencoba berkenalan dengan gadis itu.


“Namaku Aria Wizcraft. Kamu pasti tau marga Wizcraftkan?”


“Tentu siapa yang tidak tau. Tuan Merlin adalah kakekmukan?”


Dia mengangguk pelan.


“Kau tau, tadi pagi sebenarnya aku di teleport oleh kakekmu ke kantornya.”


“HEH?! Beneran?!”


Aku mengangguk.


“Ka-kamu ngapain aja sama kakekku? Kok bisa dipanggil sih?” Tanya Aria dengan amat penasaran.


Aku tertawa melihat reaksinya. “Sebentar aku ambilkan minum dulu. Nanti akan aku ceritakan.”


Aria pun mengangguk dan menungguku mengambil minuman di stand minuman. Untungnya tempat itu tidak terlalu ramai. Stand makanan yang dipenuhi oleh banyak orang.


Aku mengambil dua gelas air jeruk dan berjalan kembali pada Aria.


“Nih minumanmu.” Ujarku seraya menyodorkan air jeruk itu.


“Terima kasih.”


Ketika Aria hendak meminum air jeruk itu, aku menahan tangannya.


“Tunggu sebentar.”


“Ke-kenapa?” tanya Aria heran.


Aku mengisysaratkan untuk memberikan gelasnya padaku. Aria pun menurutinya.


“Pegang sebentar.”


Aku menunjuk air jeruk itu dengan telunjukku. Kemudian aku mengeluarkan sihir air dan membuat bola air kecil di depan telunjukku. Setelah itu aku membekukan air itu menjadi es dan memasukkannya kedalam minuman Aria.


“Nah sekarang pasti lebih nikmat. Minumlah.” Ujarku bangga.

__ADS_1


Aria tertawa kecil. “Dasar kamu, malah menggunakan sihir tingkat lanjut untuk mendinginkan minuman. Tapi hebat sekali kamu sudah bisa menggunakan sihir tingkat lanjut dari elemen air.”


“Yah, afinitasku terhadap elemen air sangat tinggi. Dan beberapa tahun terakhir aku memfokuskan diri untuk melatih elemen airku. Dan tanpa kusadari, aku berhasil menggunakan sihir es dengan baik.”


“Waw! Itu hebat sekali Alvin.”


“Hih, coba lihat siapa yang bicara. Kamu juga bisa menggunakan sihir tingkat lanjut elemen angin. Burung tadi itu sihir topankan.” Ujarku dengan senyuman jail seraya mendorong pelan hidung Aria.


Aria terlihat terkejut dan cemberut. “Alvin jahat…”


Aku tertawa melihat ekspresinya. “Maaf ya aku emang jahat.”


Aria memukulku dengan cukup keras. “Bodoh!”


Aku kembali tertawa. Aku tak menyangka ternyata Aria memiliki sifat yang menarik. Dengan mudah aku pun akrab dengannya.


Sambil meminum air jeruk dingin, aku pun menceritakan tentang bagaimana aku bisa bertemu dengan kakeknya. Dia terlihat sangat antusias bahkan beberapa kali memotong ceritaku untuk bertanya. Jujur mengobrol dengannya terasa menyenangkan.


“Jadi kamu peserta yang di pilih kakekku?” tanya Aria.


“Iya.”


“Kamu memperlihatkan sihir ke kakekkukan?”


Aku mengangguk.


“Aku mau liat.”


Aku tertawa kecil. “Mungkin nanti saat kita lulus ujian ini. Aku akan memperlihatkannya padamu.”


“Janji ya?”


“Janji.”


Aria tersenyum senang mendengar ucapanku. Namun seketika ekspresinya sedikit terkejut ketika terdengar suara seruan dari seseorang.


“Woi orang kampung!!”


Aku menoleh kearah sumber suara. Disana aku melihat kerumunan orang dan diantara kerumunan itu terdapat anak angkuh urutan awal dan seorang gadis berambut ponytail yang mengenakan pakaian tak biasa. Pakaiannya terlihat seperti hakama atau baju khas Jepang dari duniaku yang sebelumnya. Dia juga memiliki sebuah pedang katana di pinggangnya. Sebuah pedang bermata satu seperti pedangku.


Anak angkuh itu kelihatannya hendak mencari masalah dengan gadis itu.


“Apa kamu memanggilku?” tanya gadis itu.


“Ya kamu orang udik yang mengenakan pakaian tidak jelas seperti itu.” ujar anak angkuh itu dengan senyuman mengejek.


“Ada apa memanggilku?” tanya gadis itu tanpa menghiraukan ejekan yang dia terima.


“Kamu itu tidak pantas untuk berada disini. Dan sekarang kamu malah makan seenaknya. Ga ngerasa malu apa?”


“Bua tapa malu? Aku tidak melakukan hal yang salah kok.”


Anak angkuh itu tersenyum licik. “Yah, setelah ini kamu akan merasa malu!” tiba-tiba dengan cepat anak angkuh itu menyiram gadis itu dengan minuman yang berada di tangannya.


Tapi tenang saja, ada Alvin disini. Aku sudah mengetahui apa yang hendak anak angkuh itu lakukan. Dan sebelum air itu mengenai gadis itu, aku menggunakan energi spiritualku dan menahan air itu di udara.


“Oh ayolah, kalian ngapain sih?” tanyaku.


Semua orang menatap ke arahku. Anak angkuh itu dengan geram mendekatiku.


“KAMU! JANGAN SOK-“


“Hei, tenanglah.” Potongku. “Petugas sedang melirik kesini. Kamu mau terdiskualifikasi karena hal sepele ini?” ujarku seraya mengkode pada anak itu untuk melihat ke arah kananku. Disana memang ada petugas yang sedang menatap ke arahku dan anak angkuh itu.


Anak angkuh itu mendecakkan lidah dan berbalik pergi. “Akan aku ingat hal ini sialan.” Dia pun beranjak bersama beberapa peserta yang kelihatannya menjadi anak buahnya. Dan kerumunan pun bubar dengan cepat.


”FIuh… untunglah tidak terjadi masalah yang buruk.”


Aku menarik minuman yang hampir tumpah itu ke tanganku dan menjadikannya sebongkah es yang kemudian aku masukkan ke dalam gelas minumanku yang telah kosong.


“Terima kasih ya kamu sudah menolongku.” Ujar gadis itu.


Aku tersenyum kecil. “Tidak mungkin aku membiarkan gadis terkena tumpahan minuman ini.”


“Eh? Gadis?” gadis itu terlihat kebingungan.


“Iya kamu.” Jawabku yang sedikit heran juga.


“Eumm… aku ini laki-laki.”

__ADS_1


WHAT THE F*CK??!!


__ADS_2