My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Kelulusan


__ADS_3

"Eumh... Dimana ini?"


Saat aku membuka mataku, aku sudah berada di tempat yang berbeda. Tempat itu terlihat seperti sebuah klinik dan aku tertidur di salah satu kasur disana.


"Hmm? Kok kakiku agak berat?"


Aku menengok ke arah kakiku dan mendapati kak June yang sedang duduk tertidur dengan kepala yang menyandar di pahaku.


Aku sedikit panik karena tidak tau apa yang sedang terjadi. Hingga tak lama kemudian datang seorang wanita yang memancarkan aura kedewasaan masuk ke dalam klinik dengan jas putih seperti seorang perawat. Rambut pirang panjang hingga pinggul dengan mata biru yang indah. Dia tersenyum padaku seraya mendekatiku.


"Kamu sudah siuman ya. Syukurlah." ujar wanita itu.


"Eumm.. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kakak siapa?" tanyaku heran.


"Kalau begitu perkenalkan, namaku Erine Forest. Seorang penyihir penyembuh tingkat tinggi. Salah satu gurumu serta dokter di akademi Goldendawn. Dan kamu sedang dalam perawatan. Kamu sudah 3 hari tak sadarkan diri." jelas wanita itu.


"A-apa?! 3 hari!! Bagaimana dengan ujiannya?!"


Mendengar ucapanku, tiba-tiba bu Erine menarik kerah bajuku dengan kasar.


"Sebelum kamu memikirkan ujian, kamu harusnya lebih memperhatikan kesehatanmu!" seru Bu Erine.


Aku terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa. Tapi sebenarnya aku tidak merasa sakit. Hanya saja tanganku yang agak... Sebentar. Tanganku?


Aku melihat tanganku dan begitu terkejut. Tanganku diperban dengan kain yang cukup tebal dan kondisinya mengerikkan. Aku mencoba menggerakkan jariku namun tak ada respon sama sekali.


"Kamu cukup beruntung karena ada pengawas ujian yang segera membawamu untuk mendapat pertolongan pertama. Jika tidak, kemungkinan kamu sudah kehilangan tanganmu." Ujar Bu Erine dengan kesal.


"A-apa ini bisa disembuhkan?" tanyaku sedikit panik.


"Bisa, namun butuh waktu yang cukup lama. Mungkin sekitar sebulan kamu baru bisa menggerakkan tanganmu itu."


"Begitu ya." jawabku murung.


Bu Erine terkekeh melihatku yang murung. Kemudian duduk di kursi dan memandang ke luar jendela. "Sebenarnya kamu cukup gila dengan menggunakan sihir es untuk menghentikan api gelap itu. Kamu berhasil menghentikannya namun tak berhasil memadamkannya. Ditambah lagi racun yang sudah menyebar ke seluruh tubuhmu. Kamu benar-benar anak yang nekat."


Bu Erine berbalik dan tersenyum padaku. Rambut pirang indahnya itu terlihat berkibar dan membuatku menyadari sesuatu. Telinga Bu Erine terlihat lebih panjang.


"I-ibu seorang Elf?" tanyaku gugup.


Bu Erine kembali tersenyum. "Apa ini pertama kalinya kamu melihat seorang Elf?"


Aku mengangguk cepat.


"Wajar saja sih, akademi ini memisahkan ujian dari setiap ras. Setelah itu orang-orang yang lulus akan disatukan dalam satu akademi. Dan hari ini adalah hari dimana semua berkumpul termasuk kakak kelasmu. Dan besok adalah upacara pembukaannya." jelas Erine.


"Tapi bukannya ujian dilakukan selama seminggu? Bukankah ini baru sekitar 6 hari?"

__ADS_1


"Ada hal yang cukup mendesak sehingga semua ujian dipangkas menjadi 5 hari. Dan hari ini adalah pengumuman kelulusannya."


"Hooh, begitu ya." aku terdiam sejenak. Namun aku merasa tak bisa bersabar lagi. Aku melirik bu Erine dengan tatapan malu. "Anu.. Bu..."


"Ya?"


"Bo-boleh aku menyentuh telingamu?!"


"Heeeeh?!"


Aku memohon pada Bu Erine. Selama hidupku masih di dunia yang lama, aku amat sangat menyukai ras Elf. Rambut pirang indahnya, tubuhnya yang terbilang luar biasa, Dan yang terpenting adalah telinganya. Aku benar-benar ingin menyentuhnya sejak di kehidupan yang lama!!


“Boleh ya bu?“ aku menatap Bu Erine dengan tatapan memohon.


Bu Erine tampak tersipu malu. Entah apa yang ada dipikirannya tapi aku tak peduli. Kalau dia bolehin, aku bakal pegang pokoknya.


"Ke-kenapa kamu ingin menyentuhnya?“ tanya Bu Erine dengan gugup.


"Karena aku menyukainya." jawabku cepat.


Jawabanku membuat Bu Erine semakin tersipu. Telinga panjangnya ikut memerah. Astaga aku benar-benar ingin menyentuhnya.


"Se-sekali aja. Aku perbolehkan." ujar Bu Erine seraya mendekat padaku.


Aku menelan ludah. Aku merasa impianku akhirnya tercapai. Aku menganggkat tangan kananku ke arah Bu Erine. Tanganku bergerak pelan menuju telinga panjangnya itu. Namun tiba-tiba tanganku terhenti.


"Apa yang kamu lakukan Alvin?"


"A-anu, ini bukan seperti yang kamu pikirkan June." ujar Bu Erine.


"I-iya, aku cuma mau nyentuh telinga Bu Erine." ucapku jujur. Kenapa aku jujur dasar bodoh.


Tapi Kak June tidak mempedulikan itu. Dia seketika memelukku erat. Terdengar isakan kecil dari kak June.


"Syukurlah kamu baik-baik saja."


Aku tersenyum kecil melihat kakakku yang selalu khawatir kepadaku. Aku pun menyentuh rambut hijau Kak June dengan lembut. "Maaf ya sudah membuat kakak khawatir."


***


"Alvin kamu sudah tak apa-apa?!" tanya Kuro yang datang berkunjung dengan semua teman sekelompokku.


"Yah, sekarang aku merasa baik kok." jawabku.


"Kamu benar-benar membuat kami khawatir kawan!" ujar Shamus dengan senyuman lebar khasnya.


"A-anu.. Ini dariku..." ujar Sherly seraya menyodorkan kotak makanan.

__ADS_1


"Ini untukku?"


Sherly mengangguk cepat. "A-aku pikir mungkin Alvin akan menjadi lebih baik dengan memakan makananku."


Aku tersenyum senang. "Terima kasih Sher, makanan lezatmu pasti membuatku lebih baik."


Sherly terlihat tersipu kemudian mundur ke balik badan Aria.


"Ta-tanganmu tak apa-apakan?" tanya Aria.


"Katanya sih butuh 1 bulan untuk dapat bergerak normal kembali. Lukanya cukup parah."


"Kamu sih nekat banget." seru Kuro kesal.


"Ehehehe, maaf-maaf."


"Yah tapi berkat itu juga ada untungnya sih." lanjut Kuro.


"Untungnya?"


Semua tersenyum lebar. "Kita semua lulus ujian."


***


Hari ini adalah upacara pembukaan akademi Goldendawn. Aku masih tak menyangka kalau aku yang tak sadarkan diri dapat lulus dari ujian itu. Menurut teman-temanku, ujian dipangkas menjadi 5 hari dan target untuk mendapatkan 5 monster corenya dari monster atau magical beast tingkat menengah turun menjadi 3 monster core. Di hari pertama dan kedua kelompokku berhasil mendapatkan 2 monster core. Kemudian ditambah 1 monster core dari kenekatanku mengambil monster core Viper Venom. Dan setelah itu kelompokku mendapatkan 1 lagi monster core. Jadi kelompokku berhasil melewati target yang diberikan.


Sebenarnya masih ada satu monster core yang tersisa. Dan itu ada di dalam [Item Box]ku. Dan karena perhitungannya sudah selesai, akhirnya aku menyimpan monster core ini untuk diriku sendiri. Tapi aku masih bimbang apa itu keputusan yang benar atau salah? Mungkin nanti aku akan konsultasi pada kak June.


Dari sekian peserta, pada akhirnya hanya 80 orang perserta dari ras manusia yang berhasil lulus ujian. Kemudian ada beberapa ras lain yang masuk seperti Elf, Beastman, Dwarf, dan lain-lain. Namun yang aneh tak ada ras Leegel. Ras dari kak June.


Memang sih ga semua ras mendapat kesempatan untuk ujian ini seperti ras Dragonian yang memilih menyendiri dan ras Lizardman yang terbelakang dan hidup di alam bebas. Tapi untuk ras Leegel entah kenapa aku tak pernah mendengar ada alasan khusus untuk ras itu.


Ah sudahlah itu tak penting. Yang penting sekarang aku berada di aula untuk melaksanakan upacara pembukaan bersama dengan seluruh teman kelompokku disisiku.


"Kemudian sambutan dari Ketua Dewan Perwakilan Murid." Seru pembawa acara dengan menggunakan artefak pengeras suara.


"Wah itukah ketuanya?!"


"Cantiknyaa!"


"Benar-benar terlihat elegan!"


Sorakan-sorakan terdengar dari murid-murid. Sepertinya ketua dewan ini amat dikagumi.


Seketika tubuhku merasa terpaku. Aku tak percaya apa yang aku lihat saat ini. Seorang gadis berjalan menaiki tangga menuju panggung dan berdiri dengan sigap.


"Selamat siang semuanya." sapa gadis itu.

__ADS_1


Suara yang amat familiar di telingaku. Rambut merah indah yang selalu saja membuatku ingin mengelusnya. Wajah cantik yang sekarang telah dewasa. Dan jepit rambut yang sama dengan yang pernah aku beli.


"Namaku Mirana Flamesworth. Ketua Dewan Perwakikan Murid."


__ADS_2